
Flashback ON
Dena dan Daniel kecil dimana mereka saat itu menangis berdua saling memeluk satu sama lain di lorong rumah sakit yang begitu sepi dan dingin hanya mereka saja di situ. Tidak ada orang dewasa lain selain Bi heja yang sedang mengurus administrasi Mama mereka.
Walaupun masih berumur 4 tahun, sifat kedewasaan Dena begitu terlihat tidak wajar bagaiman bisa tidak wajar. Di umurnya yang ke empat tahun itu dia mampu memahami semuanya layaknya orang dewasa dan dari umur 4 tahun itulah ingatannya hingga sekarang masih ia ingat dengan begitu jelas betapa jahat keluarga Papanya.
"Daniel Dena," panggil Bibi Heja yang langsung memeluk kedua anak kecil itu yang sedang berpelukan.
"Ayo nak, kita pulang. Mamamu sudah di luar" ucap Heja dengan air mata yang berderai.
"Mamaku sudah tiada kan bi?" tanya Dena kecil melihat wajah sahabat mamanya.
Heja hanya diam menahan tangis, dia bingung apa yang harus ia katakan pada anak berumur 4 tahun.
Heja tidak menjawab itu, dia melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun keluarga dari Marco suami Monica bahkan dia sendiri tidak melihat Marco datang kesini. Padahal tadi dia sudah menghubungi semua keluarga itu agar mengenai kondisi Monica.
Tapi apa sekarang kenyataanya mereka tidak ada yang datang melihat jenazah Monica. Walaupun bukan dirinya yang mengalami tapi hatinya terasa sesak karena begitu malangnya nasib sahabatnya itu.
"Ayo Dena, Daniel" Heja melepaskan pelukannya, dia berdiri mengajak kedua bocah itu untuk berjalan keluar dari rumah sakit.
Heja naik mobilnya sendiri, dengan kedua bocah itu di dalam mobilnya. Mereka berada di belakang mobil Jenazah membawa Monica ke rumah Green House rumah keluarga kecil Monica.
……………
Heja duduk dipinggir didekat tembok diantara orang-orang yang datang melayat, dia memeluk pilu kedua bocah yang menangis meratapi mayat sang Mama.
Jason berlari masuk kedalam, dengan istrinya dan satu orang anaknya. Mereka menghampiri Heja yang seakan tidak memiliki tenaga lagi memeluk erat kedua bocah yang menangis.
"Heja,." panggil Jason dan istrinya bersamaan.
Heja yang tadi memandang kosong melihat kedua bocah yang ia peluk langsung mendongak melihat kearah Jason dan istrinya.
"Jason, Bianca" lirih Heja penuh kelemahan.
"Bagaimana bisa terjadi, kenapa kak Monica bisa kecelakaan" tuntut Jason meminta penjelasan kenapa kakak iparnya tiada sekarang.
"Aku juga tida tahu Jason, aku terkejut saat mendapatkan kabar dari polisi" ucap Heja berusaha menahan tangisnya.
Bianca dan Jason langsung menatap kedua ponakannya yang menangis sambil memeluk Heja.
"Dena, Daniel sini sama bibi" ucap Bianca merentangkan kedua tangannya memeluk si kembar. Dena dan juga Daniel langsung memeluk bibi mereka.
Bianca merasa kasihan dengan kedua bocah itu, dia memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan Jason yang merasa pilu melihat kedua keponakannya.
"Dimana Kakakmu dan juga kedua orang tuamu aku sudah menghubungi mereka tapi kenapa mereka belum datang kesini" Heja bingung karena tidak melihat kedatangan dari suami maupun mertua Monica.
Jason diam, dia bingung hendak menjawab apa, tadi kedua orang tuanya dia ajak tidak mau malah kedua orang tuanya dengan santai menonton TV sementara kakaknya malah berlibur dengan istri rahasianya dan juga anaknya dari istri rahasia tersebut.
"Aku sepertinya tahu, kau tidak usah menjawabnya" ucap Heja yang ekspresinya berubah dingin. Benar dia sudah bisa menebaknya, pasti keluarga Marco tidak mau untuk datang. Mereka benar-benar jahat sekali, bagaiman bisa mereka tidak memiliki rasa belas kasih.
Dia berjanji, dia akan menceritakan semua perlakuan buruk mereka pada anak Monica nantinya, agar mereka bisa merasakan rasa sakit karena diperlakukan kejam oleh cucunya sendiri. Heja mengepalkan tangannya kuat, pokoknya dia janji seperti itu. Dia tidak terima dengan ketidak adilan yang diterima sahabatnya.
FLASHBACK OF
°°°°°
Keluarga Dirga sudah sampai di rumah duka Maryo, di sana sudah ada Daniel, Marco dan Jason menyambut orang-orang yang datang untuk melayat.
__ADS_1
Marco melihat besannya yang datang langsung menghampiri, menyalimi mereka. Namun ada satu yang membuatnya mengernyitkan dahi heran, anak perempuannya kenapa tidak datang bersama mereka.
Daniel juga yang berdiri didekat pintu menyadari kalau kakaknya tidak datang, memang kakaknya itu tidak ada rasa kemanusiaan membuat dirinya marah saat ini bagaimana bisa kembarannya bersikap seperti itu.
Mereka segera duduk ditempat yang di sediakan.
"Dena tidak iku bersama kalian?"Tanya Marco.
"Tidak, dia katanya tidak enak badan" jawab Doni berbohong,
Marco langsung diam, walaupun temannya itu mengatakan hal tersebut. Dia yakin memang Dena sengaja tidak hadir, dia semakin dibuat penasaran dengan sikap anaknya tersebut.
Daniel yang sudah tidak tahan langsung berjalan menemui mereka.
"Dimana Dena?" ucapnya terkesan dingin dan tidak ada sopan-sopan nya.
"Dia sakit," ucap Dirga berbohong juga seperti papanya.
Daniel terdiam, masa kakaknya itu sakit. Tapi kenapa dia tidak merasakannya, biasanya kalau diantara mereka sakit dia juga ikut merasakannya walaupun mereka sudah dewasa sekarang tapi mereka masih sering merasakan hal yang sama.
"Daniel.." panggil Marco karena anaknya itu terdiam cukup lama.
"Iya," ucapnya langsung tersadar dari lamunannya.
"Aku permisi dulu" Daniel malah pamit pergi masuk kedalam rumah.
"Marco, kami turut berduka ya" ucap Doni setelah kepergiaan Daniel.
"Marco yang sabar ya"ucap Sisil
………………
Daniel tidak bisa seperti ini terus, ia harus meminta penjelasan kembarnya itu.
Seusai pemakaman neneknya Daniel langsung pergi ke rumah mertua Dena. Dia ke rumah itu bersama Doni dan yang lainnya tetapi mereka berbeda mobil.
Daniel segera turun dari mobil saat sudah sampai, dia menutup pintu mobilnya dengan keras.
Bertepatan dengan itu mobil yang dikemudikan Dirga juga baru sampai. Ketiga orang itu langsung turun dari mobil saat melihat Daniel yang berjalan dengan begitu cepat menuju pintu rumah.
Dirga melihat itu, dia juga berjalan cepat menyusul Daniel yang masuk kedalam rumah. ia takut kalau Daniel akan begitu marah dengan Dena.
Sisil dan Doni juga terlihat khawatir, karena kemungkinan dua saudara itu akan bertengkar hebat.
"Ayo pa kita masuk, mama takut kalau terjadi sesuatu dengan mereka nantinya" ajak Sisil dengan sangat cemasnya.
"Ayo Ma, jangan sampai hal tidak diinginkan terjadi" Doni segera menggandeng istrinya untuk masuk kedalam rumah.
Didalam rumah sendiri Daniel langsung berteriak-teriak memanggil kakaknya, dia diliputi emosi tingkat tinggi saat ini.
"DENA..KAK DENA" teriaknya berulang-ulang.
"Kau orang hutan?asal kau tahu disini bukan hutan. Jangan berteriak sembarangan di rumah orang" sinis Dirga dari belakang Daniel.
"Bukan urusanmu" jawab Daniel tak kalah sinis bahkan aura menusuk keluar dari sorot matanya.
"Tentu ini urusanku. Disini rumahku dan kembaran mu itu istriku" ucap Dirga dingin.
__ADS_1
Daniel hanya tersenyum miring melihat Dirga.
"Ada apa kamu datang marah-marah seperti itu padaku" ucap Dena yang baru saja turun dari tangga.
Daniel langsung mendekat dan mencengkram tangan kakaknya.
"Kau ternyata orang yang tidak berprikemanusiaan" desisnya sambil mencengkram kuat lengan sang kakak.
Dena hany tersenyum sinis melihat adiknya, dia menghempas tangan itu.
"Bagaimana lancar acara pemakaman nenek kesayanganmu" tukas Dena terkesan dingin.
Dirga memperhatikan dua bersaudara itu yang salin tatap membuat dirinya mendekat lagi, takut ada apa-apa selanjutnya.
"DENA.."bentak Daniel pada kembarannya sendiri.
"Kau diriku, baru kali ini kau semarah itu padaku. Dan cuma gara-gara nenek tua Bangka yang sudah tiada itu"
"Kak.." Daniel sudah mengangkat tangannya, namun ia urungkan untuk menampar sang kakak. Namun dia sadar tidak selayaknya ia kasar pada Dena.
"Kenapa, kau tidak jadi menamparku?"
Dirga yang melihat itu terkejut dan dia tadi akan menghalau tamparan yang diberikan Daniel untuk Dena. Tapi untung saja Daniel urung untuk menampar.
"Untung kau kembaran ku" dingin Daniel.
"Kak, katakan padaku. Kenapa kau sangat membenci nenek dan kakek. Katakan dengan jujur, kalau kau tidak mengatakannya. Justru aku akan membencimu dan tidak ingin lagi untuk bertemu denganmu"
"Baiklah jika kau memang penasaran."
"Asal kau tahu mereka berdua yang kau sayangi adalah seorang pembunuh mengerti?Mereka telah membunuh Mama, bukan itu saja sebelumnya mereka telah membuat Papa membenci mama sehingga Papa tidak sayang lagi pada kita. Yang lebih kejam lagi mereka tidak datang ke pemakaman Mama. Itu yang harus kau tahu. Jadi untuk apa aku menghormati serta baik pada mereka" Jelas Dena akhirnya tidak ingin menutupi lagi pada sang adik tentang apa yang ia ketahui.
"Kau bohong" bentak Daniel tak percaya.
"Terserah kau percaya atau tidak, tapi kenyataannya memang begitu."
"Kau membohongiku kan, Mana mungkin mereka melakukan semua itu pada Mama. Mereka saja yang menyelamatkan kita atas penculikan perempuan ular"
"Untuk apa aku berbohong padamu, tanyalah ke orang-orang yang dekat dengan Mama dulu. Dan carilah bukti soal mereka yang membunuh Mama kalau kau tidak percaya. Aku sudah memilikinya, tapi aku tidak akan menunjukannya padamu. Pasti kau mengira diriku memanipulasinya"
"Kalau kau masih tidak mempercayainya tanyakan saja pada kedua mertuaku. Apalagi Mama Sisil pasti dia mengetahuinya" ucap Dena sambil menunjuk kedua mertuanya yang baru saja muncul.
Dena langsung naik kembali ke lantai atas sebenarnya dia tidak tega mengatakan hal itu pada Daniel. Kembarannya itu pasti tertekan serta merasa tidak percaya yang dia sayang ternyata yang membuat keluarga mereka hancur.
Jujur saat Dena melihat Daniel tadi, adiknya itu mengeluarkan raut sedih. Dia sungguh tidak ingin melihat kesedihan adiknya, sehingga dia memutuskan saja untuk naik keatas meninggalkan yang lainnya.
Dirga yang berada di situ juga melihat Dena yang berjalan menaiki tangga. Dari tadi dia memang memilih diam tidak ingin ikut campur dengan urusan dua bersaudara.
Dia seakan sekarang saat melihat Dena membuatnya khawatir seketika, dengan cepat dia menyusul Dena yang berjalan menaiki tangga.
Daniel yang berdiri terpaku dengan rasa tidak percayanya menatap Dena yang begitu tak berprikemanusiaan melangkah pergi meninggalkan dirinya dalam kebingungan untuk percaya atau tidak.
Dia langsung menatap kedua orang tua Dirga, benar dia akan meminta penjelasan kepada dua orang didepannya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1