
Marco menyeret Soraya masuk kedalam rumahnya membantingnya ke sofa ruang tengah rumahnya saat ini.
"Kau ini seperti orang yang tidak waras saja" ucap Marco membentak Soraya yang kaget karena baru melihat Marco semarah ini dengannya.
"Kau membentak ku honey" ucap Soraya tidak percaya.
"Ya, kenapa..?Aku membentak mu karena kau memang sudah gila" ucap Marco tegas melihat Soraya.
"Aku seperti ini karena anakmu itu sudah mempengaruhi anakku. Gara-gara dia Reyhan menjadi benci padaku?" pungkas Soraya.
Marco menghela nafasnya menatap Soraya jengah.
"Sudahlah kau tidak usah banyak bicara, dan kau jangan macam-macam dengan Dena" ancam Marco.
"Apa yang kau maksud pa?Apa yang dia lakukan pada Dena" ucap Daniel yang tiba-tiba saja muncul didepan mereka berdua.
"Tidak ada" Sahut Marco dan langsung pergi.
Sementara Daniel masih menatap Soraya,
"Apa yang kau lakukan pada kakakku," Daniel berjalan mendekati Soraya yang acuh saja dengannya.
Soraya akan bangkit dari duduknya mengabaikan Daniel tapi Daniel kembali mencengkram tangan Soraya dan menghempasnya ke sofa lagi.
"Kau kurang ajar ya bocah ingusan" ketus Soraya menatap Daniel yang tersenyum sinis padanya.
"Dulu kau boleh menyebutku bocah ingusan, sekarang kau jangan pernah menyebutku seperti itu mengerti. Dan aku peringatkan padamu, jangan pernah kau menyentuh kakakku maka kau akan merasakan akibatnya, anakmu itu juga akan merasakannya" ucap Daniel mencengkram dagu Soraya kuat dan dia langsung mendorong Soraya ke senderan sofa.
Daniel berdiri menatap Soraya memberikan senyum licik kearah Soraya. Ia segera berjalan pergi menaiki tangga masih dengan tatapan mengejek Soraya.
"Dasar bocah tak tahu diri, aturan waktu itu aku membunuhmu dan kakakmu. Gara-gara kedua orang tua itu.." geram Soraya kesal melihat Daniel yang seperti mengejek serta tidak takut sama sekali dengannya.
………………
Dena mendorong tubuh Dirga pelan agar melepaskan pelukannya saat ini. Dirga pun melepaskannya dia menatap Dena yang menunduk.
"Kau bingung dengan perasaanmu atau kau ragu dengan diriku?" ucap Dirga menyentuh dagu Dena agar melihatnya.
"Dua-duanya" jawab Dena singkat.
"Aku bingung dengan perasaanku sendiri, dan aku juga ragu dengan rasa cintamu padaku. Aku takut dirimu bakal seperti Papaku yang meninggalkan Mamaku" ucap Dena lagi menatap sendu Dirga.
"Sepertinya aku sudah pernah bilang padamu jangan samakan diriku dengan Papamu mengerti" ucap Dirga tegas.
"Aku berbeda, atau kau memang tidak ada niat menyukaiku karena dirimu menyukai Dewa. Jika memang tidak ada niat aku tidak perduli, aku akan membuatmu melupakan dia entah itu dengan cara baik-baik atau dengan paksa" lanjut Dirga merasa menggebu tidak terima kalau Dena memang masih suka dengan Kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu menyebut kak Dewa dengan kebencian, dan kenapa kau mengira aku menyukai kak Dewa sekarang" ucap Dena dingin.
"Karena aku benci dengan Dewa, dia selalu mengambil semuanya tidak menyisakan nya untukku. Jadi aku juga tidak rela kalau kau mencintainya. Jika memang begitu aku akan membuatmu hamil anakku terlebih dahulu, agar kau tidak dimiliki dia" ucap Dirga dengan nada yang mengerikan.
"Maksudmu? kau akan menghamili ku" ucap Dena polos sekaligus terkejut mendengar Dirga yang berbicara seperti itu.
"tentu saja, kau istriku dan suatu saat kau pasti akan hamil anakku. Tapi kalau kau masih menyimpan rasa pada Dewa aku akan mempercepatnya agar dirimu segera hamil anakku"
Dena yang mendengar itu merasa merinding sendiri, entah kenapa dia merasa berdegup kencang di hatinya. Antara takut dan entah perasaan aneh menjalar dalam hatinya.
"A..aku mau tidur" ucap Dena gugup dan berdiri dari kasur.
"Kau mau kemana? tidur disini, aku sudah bilang padamu kalau mulai saat ini kita berbagi tempat tidur yang sama" pungkas Dirga langsung menarik Dena jatuh ke tempat tidur. Dan mengangkat Dena sedikit agar posisi tidurnya benar.
"Apa yang kau lakukan?" kaget Dena.
"Memposisikan tidurmu agar lebih baik" ucap Dirga enteng.
"Aku mau tidur di sofa saja," Dena merasa gugup sendiri dengan sikap Dirga yang berubah lembut seperti sekarang.
"Kau memang keras kepala, apa kau memang ingin aku segera membuahi dirimu" ucap Dirga asal dan langsung membuat Dena terpaku dalan posisinya sekarang..
"Aku tidur," gugup Dena dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Dirga yang malah tersenyum melihat sikap Dena sekarang.
Dirga tampak sudah dimabuk kepayang dengan istri yang awalnya dia benci tapi entah sekarang perlahan mulai mengisi hatinya. Dirga terus saja melihat punggung Dena yang membelakanginya.
Dena yang belum tidur mendengar itu, tak sadar bibirnya tersungging mendengar ucapan Dirga barusan.
°°°°°
Tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar Dirga dan juga Dena. Saat ini sudah pagi, selingsing sinar mentari bahkan sudah mencoba menembus masuk kedalam kamar kedua orang itu tidak bisa masuk juga karena tirai yang begitu tebal.
Sementara sepasang suami istri sedang tidur saling berpelukan satu sama lain seakan tidak terganggu sama sekali.
"Dena, Dirga bangun nak. Dena.." panggil Sisil berkali-kali sambil mengetok pintu kamar Dirga.
Dena yang mendengarnya, langsung menggerakkan tubuh. Tapi seperti ada yang aneh dengan tubuhnya saat ini, kenapa tidak bisa digerakkan.
Perlahan Dena membuka matanya dan melihat apa yang membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Saat matanya sudah terbuka lebar dia melihat wajah tampan Dirga tepat di depannya tengah memeluk dirinya.
Dena mengamati wajah tampan itu, Dirga memang begitu tampan sekali kulit putih, hidung mancung. Dena tergerak menyentuh hidung Dirga yang begitu mancung, dia mengusap lembut hidung itu.
"Dena, Dirga. Apa kalian masih belum bangun, Dena bangun nak diluar ada Daniel ingin bertemu kamu" ucap Sisil yang masih terus berteriak dari luar kamar.
__ADS_1
Dena menoleh kearah pintu masih dengan tangan yang memegang hidung Dirga.
"Mama mengganggu kita ya?" ucap Dirga tiba-tiba dan memegang tangan Dena yang berada di hidungnya.
Sontak saja Dena terkejut mendengar Dirga yang bicara. Secara cepat ia segera menyingkirkan tangannya dari hidung Dirga.
"Ma..mama memanggil" ucap Dena langsung gugup dan akan bangun dari tempat tidur.
Dirga langsung menjatuhkan kembali Dena dengan tangannya yang masih memeluk Dena.
"Biarkan saja, aku akan membuatmu jatuh cinta dulu" ucap Dirga dan langsung mencium Dena yang terbaring.
Dirga berada di atas tubuh Dena saat ini mencium Dena yang entah kenapa menerimanya saja tanpa menolak seperti biasa.
Dirga yang merasa Dena menerima dirinya semakin melancarkan aksinya, ciumannya turun ke leher jenjang Dena mencium leher itu, menghisapnya kuat meninggalkan bekas kepemilikannya di sana. Tentu saja itu membuat Dena menjadi terangsang dengan mendesah pelan.
Sehingga semakin membuat Dirga merasa ingin melanjutkan adegan panasnya saat ini. Dia mulai turun ke bawah. Namun sebelum itu..
"Dena, Daniel menunggumu dibawah nak" ucap Sisil sekali lagi dari luar kamar.
Dena yang mendengar suara keras Sisil tersebut langsung tersadar dengan apa yang merasuk dalam dirinya saat ini. Dia melihat Dirga yang masih berada di atasnya.
"Mama memanggilku" ucapnya dan dia menahan tubuh Dirga yang akan menggigit lehernya lagi.
"Biarkan saja" Dirga yang masih mabuk dengan nafsu ingin terus melanjutkan apa yang dia lakukan.
"Aku tidak mau," ucap Dena sambil mendorong Dirga sedikit kuat agar terjatuh dari tubuhnya.
Dena langsung turun dari tempat tidur, dan akan berjalan membukakan pintu.
"Benarkan bajumu" ucap Dirga saat menatap Dena yang akan keluar tanpa memperhatikan penampilannya saat ini. Dimana bekas Dirga menggigit Dena di lehernya tadi terlihat jelas.
"Begini," ucap Dirga saat dia bangkit berdiri di depan Dena membenarkan rambut Dena yang terurai agar menutupi leher Dena. bekas apa yang dia lakukan tadi.
"Tutupi ini, nanti kau akan malu kalau digoda Mama" ucap Dirga lembut.
"Sudah sana, mama pasti menunggumu apalagi kembaran mu itu yang tidak sabaran" tambah Dirga.
Dena sendiri hanya diam sambil terus memegangi bajunya merasa sudah benarkah bajunya saat ini.
Dia juga mencoba mengontrol hatinya yang berdegup kencang dengan perlakuan lembut serta manisnya Dirga.
Sepertinya dia telah jatuh cinta dengan suaminya sendiri sekarang. Dena menatap Dirga sesekali dan dia langsung berjalan pergi keluar dari kamar.
°°°
__ADS_1
T.B.C