
@Hotel Salton Pasific
Dena sudah selesai mandi dan kini dia sedang berganti pakaian, mengambil pakaiannya yang ada di dalam koper lalu ia segera berganti saat menemukan sebuah baju yang menurutnya cocok.
Baru saja dia selesai berganti pintu kamar sudah terbuka terlebih dahulu.
"Kau ini lemot sekali ya, kenapa dari tadi belum selesai" ucap Dirga yang membuka pintu dengan marah marah.
Dena membalikkan tubuhnya melihat Dirga yang tampak emosi melihat dirinya. Dena tidak perduli, lalu ia berjalan kearah cermin mengambil sisir di meja rias lalu menyisir rambutnya yang panjang sebahu. Setelah selesai ia menggulung rambutnya dan menguncir rambut tersebut.
"Ayok buruan, lama sekali" bentak Dirga karena ia sudah lama menunggu Dena.
Dena tetap diam saja tidak menggubris perkataan Dirga. Ia langsung berjalan melewati Dirga dan keluar dari kamar.
Dirga langsung menatap kesal Dena yang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.
Dirga langsung buru-buru berlari kecil mengejar Dena.
Lalu ia langsung mengambil tangan Dena menggandengnya. Dena menghentikan langkahnya melihat Dirga, ia langsung melepaskan tangan itu.
"Jangan ke pedaan, saya melakukan itu agar mama saya senang mengerti. Sini tangan kamu, kita harus berakting"
Dena menatap Dirga tidak suka
"Kenapa harus berakting, agar orang lain menganggap baik. Biarkan mereka tahu yang sebenarnya" ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya lagi.
"Kamu mau mama ku banyak pikiran gara-gara ini, kalau mama ku kenapa-kenapa kamu mau tanggung jawab" ucap Dirga.
Dena hanya diam saja,
"Aku heran kenapa orang tuaku menikahkan diriku dengan perempuan gila harta sepertimu" ucap Dirga tajam.
"Kenapa tidak terima?Memang kenyataannya kan kau gila harta. Kalau kau tidak gila harta jelas kau menolak pernikahan ini" Sinis Dirga melihat Dena yang menatapnya tajam.
"Aku sudah menolaknya" singkat Dena.
"Huuuh, kalau kau sudah menolaknya. Pernikahan ini tidak mungkin terjadi" dengus Dirga.
"Sudahlah ayo, kau semakin memperlambat saja" ucap Dirga lalu menggandeng tangan Dena paksa seakan menyeret gadis itu untuk mengikutinya.
………………
__ADS_1
"Waah pengantin baru, baru saja datang" ucap Sisil sumringah saat melihat Dirga dengan Dena yang berjalan kearah mereka semua yang ada di meja makan.
Semua orang yang ada disitu lalu melihat kearah dimana Sisil memandang penuh kebahagiaan.
Radewa melihat Dena yang hanya dia dalam gandengan Dirga. Dia melihat adiknya itu yang menggandeng Dena kuat lalu ia segera mengalihkan pandangannya kembali kearah makanannya yang ada di atas piring.
Daniel mendongak memperhatikan kakaknya yang tampak pucat, ia mengernyit memandang itu. Apa kakaknya sakit batin Daniel.
"Waah, kayaknya semalam habis begitu-begituan ya, makanya telat sarapan bersama" goda Sisil kepada dua orang yang akan duduk di meja makan bergabung bersama mereka.
"Mama apa-apaan sih, jangan goda mereka berdua nanti malu loh mereka" tegur Doni.
"Wiih tumben banget kamu romantis begitu Dirga" ucap Sisil melihat Dirga yang menarik kan kursi untuk Dena duduk.
Dirga tersenyum manis melihat kearah mamanya, lalu senyumnya hilang melihat Dena yang juga melihatnya tak percaya.
"Mau makan apa sayang?" tanya Dirga pada Dena yang tidak mengambil apapun dari atas meja.
"Kamu makan udang saja ya, aku ambilin" ucap Dirga lagi, tentu saja itu semua yang ia katakan hanya sebuah ke pura-puraan saja untuk menutupi yang sebenarnya.
"Dena alergi udang" tukas Daniel membuat Dirga tidak jadi mengambil udang yang tidak jauh darinya.
Dia mengangkat sendok nya sendiri mengambil makanan yang ia mau.
"Dena kenapa kok wajahmu pucat nak?kamu sakit?" tanya Sisil khawatir karena melihat wajah menantunya yang tampak pucat.
Dirga yang mendengar Mamanya bicara seperti itu, langsung melihat Dena yang ada disebelahnya.
"Emm..Enggak tante" gugup Dena.
"Jangan panggil tante, panggil Mama. Kamu kan anak mama sekarang" balas Sisil.
"Kamu sakit Dena?" Tanya Marco melihat putrinya yang diam.
"Ngg.." belum sempat Dena menjawab Dirga sudah memotongnya.
"Iya, dia sakit.." mendengar itu semua membuat semua orang menjadi tampak khawatir
"Sakit karena habis aku unboxing semalam" lanjut Dirga sambil tersenyum malu-malu.
Semua orang yang ada di situ langsung melotot, sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Yaampun Dirga, kalau mainin istri itu yang pelan. Kasihan tuh Dena sampai sakit begitu" celetuk Sisil. Membuat semua orang tersenyum.
Tapi tidak untuk tiga orang di sana. Dena merasa tidak suka dengan kebohongan Dirga barusan ia menatap Pria itu yang tengah menikmati kebohongannya.
"Kenapa sayang, kamu lelah?Kamu pengen istirahat? ayo aku anterin ke kamar lagi" ucap Dirga berpura-pura.
"Semuanya, sepertinya Dena sakit banget. aku akan mengantar dia ke kamar dulu ya?" ucap Dirga memaksa Dena yang akan makan untuk bangkit berdiri.
"Yaudah sana kamu anterin istri kamu ke kamar. Habis itu kamu kesini lagi jangan dikamar unboxing istri kamu lagi kasihan dia masih kecapean karena ulah kamu semalem" senyum tidak lepas dari wajah Doni memperhatikan kedua pasangan pengantin Baru tersebut.
"Iya pa siap, Ayo sayang kita ke kamar" Dirga menuntun Dena berjalan meninggalkan tempat makan itu. Saat sudah jauh dari situ Dena langsung mendorong Dirga agar menjauh darinya.
"Kamu apa-apaan sih, berbohong dengan mengatakan hal menjijikkan" sungut Dena melihat Dirga.
"Mulut, mulutku terserah diriku, Sana kembali ke kamar sendiri. Aku tidak sudi mengantarmu. Aku akan menelpon kekasihku dulu" ucap Dirga lalu melenggang pergi meninggalkan Dena di tempatnya.
Benar alasan Dirga pergi dari acara sarapan bersama itu bukan karena Dena. Tetapi karena ia akan menelpon kekasihnya jadi ia membuat alasan seperti itu.
°°°°°
"Minggir, aku mau tidur" ucap Dirga saat dia masuk ke dalam kamar melihat Dena yang berbaring di kasur. Sambil berselimut diri.
"Aku tidur disini dulu ya, aku..aku ngerasa badanku dingin" ucap Dena.
"Aku tidak perduli, ini tempatku. Tempat mu di sofa sana" Dirga langsung merebahkan dirinya di kasur. Karena ini sudah malam.
Lalu ia melihat kesamping nya, Dena masih berada disebelah dirinya saat ini. Ia menendang tubuh Dena sehingga membuat Dena terjatuh dari tempat tidur.
"Kamu apa-apaan sih" lirih Dena yang tampak kaget karena tiba-tiba ia merasa terdorong sehingga terjatuh. Apalagi tadi ia sudah memejamkan matanya.
"Kau yang apa-apaan, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk tidur di sofa. Kenapa kau masih saja di atas tempat tidur?kau sebegitu inginnya ku sentuh ya?Jangan harap aku akan menyentuhmu" Dirga memperhatikan Dena dengan tatapan merendahkan.
"Bukannya begitu, aku juga tidak sudi kau menyentuhku. Tapi kali ini, ijinkan aku tidur di tempat tidur. Badanku rasanya tidak enak sekarang dan aku merasa kedinginan" ucap Dena seakan memohon.
"Aku tidak perduli, sana tidur di sofa. Jangan ganggu aku, aku ngantuk dan besok aku harus mengemudi untuk pulang ke rumah" Dirga lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tidak memperdulikan lagi Dena yang masih terduduk di lantai menatap Dirga yang membelakanginya.
Dengan lemah Dena bangkit berdiri dan berjalan menuju sofa, mau tidak mau ia harus tidur di sana. Sungguh Dena benar-benar merasa apakah kedepannya ia bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1