
Mobil Dirga yang sekarang di kemudikan Dena berhenti di sebuah Apotik. Membuat Dirga bingung kenapa Dena bukannya pulang malah berhenti di apotik.
"Untuk apa kau berhenti di sini?" Dena tidak memperdulikan ucapan Dirga itu dia malah turun dari mobil dan membuat Dirga semakin heran saja karena perempuan itu masuk kedalam apotik.
Dirga memperhatikan gerak-gerik Dena di dalam apotik, ia semakin penasaran saja apa yang dibeli perempuan tersebut.
Tak lama kemudian Dena kembali ke mobil dengan plastik obat berwarna putih. Membuat Dirga tersenyum, entah kenapa ia merasa itu di beli Dena untuk mengobatinya.
Dena melihat sekilas ke arah Dirga yang tadinya tersenyum tanpa sepengetahuan Dena kini, mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Kau tidak jadi ke kantor?bukannya tadi kau bilang pada Mama mu kau ingin ke kantor"
"Tidak, pulang saja"
"Baiklah," sahut Dena dan langsung menyalakan mobilnya.
Dirga merasa heran, kenapa Dena tidak segera mengobati dirinya sekarang bukankah obat yang baru perempuan itu beli, untuk mengobatinya.
Mobil itu melaju perlahan di keramaian jalan ibu kota, Dirga melihat terus kearah Dena yang hanya diam fokus pada kemudinya menatap ke depan.
"Kenapa kau melihat ku terus" datar Dena tidak mengalihkan tampannya dari jalan di depannya saat ini. Dena sedari tadi menyadari Dirga tengah menatapnya terus-terusan tapi ia hanya mendiamkannya pura-pura tidak tahu. Tapi karena pria itu terus menatapnya membuatnya risih sehingga ia tidak bisa diam lagi.
Dirga langsung glagapan sendiri, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jangan terlalu kepedean, siapa yang melihatmu" ketus Dirga
Dena hanya diam tidak menyahuti lagi,
………………
Mobil Dirga kini sudah berhenti di depan rumah besar orang tuanya. Dirga langsung turun terlebih dahulu, baru disusul Dena yang juga turun dari kursi kemudi.
Saat ini masih siang hari, karena mereka tidak jadi pergi kemana-mana.
Syukurlah, ini bisa menjadi kesempatan Dena untuk pergi ke Panti melihat anak-anak panti yang sudah lama tidak ia temui.
"Ini kunci mobilmu" ucap Dena menyerahkan kunci itu ditangan Dirga.
Dena lalu langsung berjalan pergi tapi bukan pergi masuk ke rumah tetapi ke arah gerbang keluar rumah itu.
Dirga heran melihat Dena yang malah akan keluar.
"Kau mau kemana?" ucapnya melihat Dena yang menghentikan langkahnya menatap kearah Dirga.
"Aku mau pergi dulu, aku ada urusan" ucap Dena tanpa ekspresi.
"Pergi kemana? dan ada urusan apa?" Tanya Dirga serasa ingin tahu akan kemana Dena.
"Bukan urusanmu" tukas Dena.
Dirga terdiam, memang benar ini bukan urusannya tetapi kenapa dia ingin tahu sekali akan pergi kemana perempuan itu.
"Masuk,." Perintah Dirga
Dena diam menatap Dirga, lalu ia berjalan. Membuat Dirga tersenyum menang, menghalangi Dena untuk pergi.
Tapi senyumnya langsung pudar saat Dena membuka pintu mobil yang tidak terkunci mengambil kantung plastik yang berisi obat dari apotik tadi.
"Ini,." Dena menyerahkan kantung plastik itu pada Dirga.
"Jangan pernah memerintah ku, bukannya kau tidak menganggap ku istrimu dan ini bukan urusanmu aku akan kemana" tambah Dena di depan wajah Dirga yang terkejut tak percaya dengan apa yang barusan di katakan perempuan matre itu.
Bagaimana bisa perempuan itu berani dengannya,
"Aku bilang masuk," ucap Dirga penekanan.
__ADS_1
Dena tidak perduli, ia tetap melangkah menjauhi Dirga yang berdiri tak percaya.
"Lihat saja kau akan mendapatkan pelajaran dariku nanti" Teriak Dirga saat Dena sudah berjalan jauh darinya berdiri saat ini.
Dirga merasa kesal sendiri sekarang, melihat kantung plastik putih ditangannya meremas itu dengan kuat. Dia langsung berjalan masuk dengan menggenggam kuat plastik itu melampiaskan emosinya di situ.
………………
Dirga masuk kedalam kamar membanting pintu kamarnya sangat keras. Lalu melempar plastik berisi obat itu ke kasur. Begitu juga tubuhnya yang ia jatuhkan di kasurnya saat ini.
"Perempuan matre itu berani dengan ku ternyata, membuatku merasa terhina saja sekarang. Lihat dan tunggu apa yang ku lakukan padamu nanti" Dirga tersenyum sinis menatap langit-langit kamarnya.
Dan lagi-lagi ia tidak sadar punggungnya terluka, rasa nyeri itu kembali lagi dia langsung berdiri dari rebahan nya memegang pundaknya yang terasa sakit berdenyut sekarang.
"Aish, bodoh kamu Dirga. Kau melukai dirimu hanya demi perempuan matre seperti Dena. Dan sekarang apa balas budinya padamu" kesal Dirga menahan rasa sakit di pundaknya.
………………
Dena sendiri sekarang sudah ada di panti Kasih Bunda ia tidak sendiri ke panti itu tetapi juga bersama Daniel.
Mereka berdua tadi janjian untuk kesini, Daniel yang sepulang dari kantor Papanya langsung menemui kakaknya itu. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, mereka berdua datang dengan membawa banyak makanan, mainan dan beberapa bingkisan sembako.
Anak-anak yang melihat kedatangan Dena dan Daniel langsung berlarian kearah mereka berdua.
"Teh Dena, kak Daniel" panggil anak-anak itu serempak. Menghampir adik kakak yang sudah berada di samping mobil.
"Halo semua, kangen sama kita" ucap Dena sambil tersenyum bahagia. Benar tersenyum, Dena selalu tersenyum setiap bersama dengan anak-anak panti tidak ada Dena yang dingin di depan mereka.
"Zara kangen tidak sama kak Daniel" ucap Daniel menyeimbangkan tubuhnya dengan gadis berumur empat tahun didepannya. Dia langsung menggendong gadis kecil itu.
"Kak Daniel, Kak Daniel aku juga mau di gendong" anak kecil laki-laki mengulurkan tangannya kearah Daniel ia merasa iri ingin juga di gendong oleh Daniel.
"Sini, Sini Temmy sama teh Dena aja ya" ucap Dena hendak menggendong bocah yang bernama Temmy itu.
"Yaudah sini-sini" Daniel langsung menggendong Temmy, dia sekarang menggendong dua bocah kecil yang menggemaskan Dena tersenyum bahagia melihat ini. Pokoknya bagaimanapun, ia akan meneruskan cita-cita mamanya yang menjadi donatur tetap disini.
"Ayo yang lain bantu teh Dena bawa masuk barang-barang yang ada di mobil" ajak Dena kepada anak-anak yang lain.
"Ayok, Ayok" seru mereka semua dan langsung mengambil satu satu barang yang ada di mobil Daniel.
Selesai dengan mengambil barang-barang dari dalam mobil Dena dan Daniel masuk kedalam panti mereka akan menemui bu panti memberikan sedikit uang untuk membantu kebutuhan yang ada di panti.
"Dena, Daniel kalian memang anak-anak muda yang luar biasa" ucap Bu panti saat Dena dan Daniel sudah duduk didepannya menyerahkan sebuah amplop.
"Aih, sama aja lah bu. Kita ini anak biasa" gurau Dena.
"Iya bu, kita ini anak biasa. Kita begini untuk meneruskan apa yang mama suka selama hidupnya dulu" ucap Daniel, benar Mama mereka saat masih hidup dulu senang sekali untuk mendonasikan apapun itu entah barang atau apa yang ia miliki. Mereka mengetahui itu dari kakak Mamanya yang pernah menceritakan pada mereka dulu.
"Kalian berdua memang mirip ibu Monica selama hidupnya dulu ya, andai dia masih hidup pasti bangga dengan kalian berdua" Ibu panti merasa terharu dan tak terasa air matanya menetes saat mengingat Mama kedua orang didepannya.
"Lah ibu kok malah nangis, udah nggak usah nangis bu." lirih Dena
"Kok jadi melow sih" tambah Daniel.
"Hehehe, maaf ya ibu jadi keinget Mama kalian dulu" ucap Ibu Ningsih.
Dena mendekati bu Ningsih duduk di sebelah ibu panti, memeluk perempuan paruh baya itu erat.
°°°°°
Saat ini sudah malam, mungkin sekitar jam delapan malam dan Dena baru saja pulang dari panti, ia diantar Daniel sampai rumahnya.
Kebetulan Dirga saat ini sedang ada di balkon kamarnya menikmati udara malam hari.
Tanpa sengaja ia melihat Dena yang baru saja pulang di antar kan oleh Daniel benar itu Daniel saudara kembar perempuan itu. Ia bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
"Aku langsung pulang ya,." ucap Daniel pada kakaknya yang sudah turun dari mobilnya saat ini.
"Iya, hati-hati" Dena langsung berjalan masuk ke rumah setelah Daniel pergi dari rumah mertuanya.
Dena baru saja masuk kedalam, melihat kedua mertuanya sedang membaca buku di ruang tengah. Mereka langsung melihat kearah Dena sekarang.
"Loh Dena, darimana saja nak?" ucap Sisil berdiri mendekati Dena yang diam melihatnya.
"Dari keluar sama Daniel ma," ucap Dena.
"Oh sama Daniel kalau mama boleh tahu pergi kemana?"
"Maaf ma, aku tidak bisa bilang" Dena tidak mau berterus terang pada ibu mertuanya itu. Baginya untuk apa membicarakan urusan pribadi dirinya ke mereka. Mereka rekan bisnis Papanya pasti mendukung Papanya saat ini walaupun katanya dulu Sisil teman Mamanya.
"Ya sudah, kamu naik ke atas sana. Sepertinya Dirga sedang kesal, kalian bertengkar tadi" ucap Sisil saat Dena hendak berjalan.
"Tidak ma,."
"Mama kira kalian bertengkar. Ya sudah, kamu ke kamarmu sana suamimu nanti menunggu dirimu" ucap Sisil menyuruh Dena untuk naik ke kamarnya.
"Iya ma,." Dena
"Pa Dena keatas ya.." Dena permisi kepada mertua laki-lakinya yang langsung tersenyum membalas Dena.
Dena melangkahkan kakinya menaiki tangga yang akan menghubungkan dirinya ke lantai atas. Dia berjalan kearah kamar Dirga yang juga kamarnya membuka kamar itu perlahan, melihat Dirga yang duduk di sofa tengah menikmati menonton televisi.
Dena tidak perduli dengan itu, ia berjalan mendekat kearah sofa. Bukan berarti ia akan duduk disebelah Dirga. Ia hanya akan mengambil bajunya saat ini yang berada di dalam koper. Memang bajunya masih berada di dalam koper karena Pria itu tidak menyuruh dirinya untuk menaruh pakaiannya di lemari.
"Darimana saja kau jam segini baru pulang?" sebenarnya Dirga malas untuk bertanya tetapi otaknya terus-terusan menyuruhnya.
Dena diam, tidak menjawab itu. Ia masih mengambil bajunya di dalam koper disebelah sofa yang di duduki Dirga.
"Kau tuli, aku tanya darimana kau?" ucap Dirga mencoba menahan emosinya.
"Untuk apa kau ingin tahu, bukan urusanmu aku darimana?" ucap Dena pada akhirnya. Dia lalu berdiri hendak berjalan ke kamar mandi.
"Kamu,.." Dirga memegang tangan Dena erat sehingga menghentikan langkah Dena dan menatap Dirga.
Dirga menarik tangan Dena kuat mendorong perempuan itu ke ranjangnya.
"Mau apa kau?" Dena menjadi cemas dengan apa yang dilakukan Dirga saat ini.
Dirga berdiri di depan Dena yang menatapnya tak mengerti. Ia lalu berjalan mendekati Dena yang berada di atas kasur.
"Aku bilang mau apa kau" bentak Dena pada Dirga yang akan mulai menindihnya saat ini.
Dirga hanya dia saja, ia hampir menindih Dena tetapi ia tegap kembali. Ternyata ia hanya mengambil plastik obat di belakang Dena.
"Obati punggungku" ucap Dirga menyerahkan obat yang ada di plastik kepada Dena yang tak percaya dengan apa yang ia lakukan.
"Obati sendiri, kau bisa melakukannya kan?" Dena tidak mau dan dia hendak bangkit berdiri.
"Kalau aku bisa, tidak akan aku menyuruhmu." ketus Dirga menahan tangan Dena.
"Kau tidak mau, apa perlu aku memperkosa mu dulu, baru kau mau mengobati ku. Gara-gara siapa punggungku terluka, gara-gara dirimu perempuan matre" ucap Dirga tajam melihat Dena yang diam saja menatapnya.
"Duduk," pinta Dena pada Dirga. Terpaksa dirinya mengobati Dirga, bisa-bisa pria itu akan melakukan sesuatu padanya nanti.
Dirga langsung menurutinya dan ia duduk membelakangi Dena saat ini. Dena mulai menyibak kerah baju Dirga. Mengolesi tangannya terlebih dulu dengan salep lalu mengoleskannya ke pundak Dirga yang terluka.
Dirga hanya diam merasakan sentuhan lembut Dena, entah kenapa bibirnya sekarang tersungging senang dengan kelembutan Dena dalam mengobatinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1