Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 84


__ADS_3

Dirga masih memeluk Dena yang hanya diam saja, dan dia melonggarkan pelukannya. Melihat kearah Dena yang tampak bingung kenapa Dirga melepaskan pelukan tiba-tibanya.


"Kenapa kamu tidak menangis" tanya Dirga sambil memegang bahu Dena melihat perempuan itu heran.


"Kenapa aku harus menangis," ucap Dena menatap Dirga.


"Ya tidak apa-apa"


Dena langsung melepaskan tangan Dirga.


"Aku mau ke atas sebentar" ucap Dena pada Dirga.


"Ikut," singkat Dirga, membuat Dena melihat Dirga. Tapi dia langsung berjalan membiarkan Dirga mengikutinya,


"Kenapa kamu dan Papa selalu bersitegang, padahal kan Papa hanya di hasut." ucap Dirga mengikuti di belakang Dena yang berjalan di menaiki anak tangga.


"Aku tidak suka dengan dia, gara-gara dia aku banyak terluka. Dia tidak hanya menyiksa batinku tapi fisikku juga" ucap Dena masih melangkah terus.


"Papa pernah menyiksamu?" ucap Dirga terkejut mengetahuinya.


"Begitulah," sahut Dirga singkat.


"Kau serius, saat kau di siksa. Siapa yang menolong mu? Kenapa dia melakukannya padamu?"


"Kak Dewa, dulu kak Dewa yang sering menolongku." jawab Dena tanpa ragu. Memang saat dia SMP dan saat dia habis di siksa Papanya dia selalu bertemu Dewa dan dewa yang selalu merawatnya.


Dirga terdiam mendengarnya, dia langsung memegang pergelangan tangan Dena.


"Sejak kapan kamu kenal dan kak Dewa. Itukah sebabnya dulu kamu mencintainya?" ucap Dirga terkesan menuntut jawaban.


"Iya.." ucap Dena jujur.


Dirga menatap Dena lekat.


"Lalu sekarang, apa kamu masih mencintainya atau sudah mencintai ku" ucapnya menatap sang istri serius.


"Mencintaimu" jawab Dena singkat.


Dirga tersenyum mendengarnya,


"Bagus,." ucapnya puas.


"Ayo kita jalan lagi, kamu mau melihat apa di atas?" ucap Dirga lagi dengan riang, ia menggandeng tangan Dena.


"Kalau Papa atau siapa yang mencelakai mu bilang padaku aku akan melindungi, serta mengobati mu layaknya seperti yang Dewa lakukan" lanjut Dirga berjalan sambil terus menggandeng tangan Dena.


"Terimakasih," lirih Dena pelan merasakan kehangatan genggaman tangan Dirga di tangannya. Kini dia memiliki pelindung yang melindungi dirinya.


………………


Marco pulang ke rumahnya dalam kondisi mabuk, dia membuka pintu dengan kasar membantingnya dengan keras. Soraya yang mendengar itu keluar dari kamar dengan menggunakan baju tidur berwarna merah. Ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang berjalan sempoyongan.


"Honey kau mabuk,? kenapa kau minum-minum" ucap Soraya berusaha meraih Marco membantunya berjalan.

__ADS_1


"Lepas.." Marco menepis tangan Soraya dengan kuat.


"Kamu kenapa? kenapa kau kasar sekali"


"Aku bilang lepas, minggir lah jangan ganggu aku" ucap Marco mendorong Soraya agar menjauh darinya.


"Honey, kenapa kau begini padaku" ucap Soraya berjalan di samping Marco yang sempoyongan.


"Kau berisik diamlah" Marco terus berjalan bahkan dia melewati kamar yang biasanya ia tempati dengan Soraya. Ia menaiki tangga menuju keatas.


"Honey kau mau kemana?kenapa kau naik keatas" ucap Soraya mengejar Marco.


Marco diam saja dan terus berjalan keatas.


"Berhenti mengikuti ku mengerti" bentaknya begitu keras pada Soraya. Langkah Soraya langsung berhenti dan membuat Daniel yang berada di kamarnya langsung keluar melihat keributan apa yang terjadi.


Dia melihat Papanya yang dalam kondisi mabuk sedang berada di tangga atas dan Soraya berada jauh dibawahnya.


"Honey, kenapa kau bersikap begini padaku" teriak Soraya tidak terima.


Marco tidak memperdulikannya dia terus melangkah jauh pergi, langkahnya berhenti saat ia melihat Daniel yang berdiri di depannya. Marco hanya diam saja, menatap wajah anaknya.


Dia melewati Daniel begitu saja, menuju kearah sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamar Daniel.


"Kenapa kau mabuk Pa?" ucap Daniel melihat Papanya yang melewatinya pergi.


Marco berbalik melihat Daniel tapi dia tidak berkata apapun. Dia malah berjalan terus masuk kedalam ruangan itu.


Soraya mengejar Marco, dia tidak terima suaminya memperlakukannya seperti tadi. Tapi langkahnya langsung terhenti saat Daniel menahannya.


"Minggir lah, aku ingin mengejar suamiku"


"Aku bilang berhenti, jangan mengganggunya" Daniel langsung mendorong Soraya.


"Dasar," kesal Soraya, dan dia langsung pergi. Entah kenapa kalau dengan Daniel dia terkesan takut.


Daniel menoleh kebelakang melihat pintu ruangan yang di masuki Papanya sudah tertutup.


"Ada apa dengan ruangan itu dan ada apa dengan Papa" ucap Daniel merasa penasaran. Jujur dia juga penasaran dengan ruangan yang di masuki Papanya. Selama ini semenjak mereka tinggal di rumah ini, Papanya itu selalu melarang dirinya dan Dena untuk memasukinya. Sebenarnya rahasia apa yang di sembunyikan Papanya di situ. Ia juga baru pertama kali melihat Papanya masuk kedalam ruangan tersebut.


°°°°°


Sepasang suami istri itu baru pulang dari rumah Dena yang dulu, mereka keluar dari mobil secara bersamaan. Saat ini sudah malam, dan mereka baru saja sampai di rumah Dirga.


Dena turun dari mobil Dirga, begitu juga Dirga yang turun. Dia melihat istrinya,


"Sayang" ucapnya tiba-tiba manja. Membuat Dena mendelik bingung.


"Kamu kenapa?" ucap Dena memperhatikan gerak-gerik Dirga.


"Tidak, aku hanya ingin bermanja saja denganmu" sahut Dirga dan langsung menggandeng tangan Dena.


"Kenapa kamu jadi aneh seperti ini semenjak terbentur batu di sungai" heran Dena merasa Dirga menjadi aneh.

__ADS_1


"Aku aneh gara-gara dirimu yang membuatku aneh seperti ini" ucap Dirga memperhatikan intens wajah Dena.


"Sudahlah, aku mau masuk kedalam" Dena mencoba melepaskan tangannya dari Dirga.


"Kamu aku gendong ya," ucap Dirga menahan senyumnya. Karena saat ini dia hanya menggoda Dena.


Tentu saja Dena langsung melebarkan matanya,.


"Kamu memang tidak waras,"


"Begini pun suamimu tahu, seharusnya kamu bersyukur punya suami yang mencintaimu sepertiku ini" teriak Dirga saat Dena malah melenggang pergi meninggalkannya yang sedang bicara.


"Mencintai sih mencintai, tapi aku geli sendiri saat kau terlalu menjadi budak cinta seperti itu" teriak Dena balik melihat Dirga yang ada di belakangnya.


"Kamu mengatai ku apa barusan Sayang" ucap Dirga langsung mengejar Dena yang masuk kedalam rumah. Dia tersenyum sekarang karena bisa membuat Dena sedikit cair.


Di dalam rumah, masih mengejar Dena. Dena sendiri berjalan tanpa melihat kearah Dirga dia membiarkannya saja.


"Sayang tunggu aku kenapa?" protes Dirga karena dia di tinggal.


"Aku tidak mau menanggapi kata-katamu yang menurutku aneh. Kamu aneh sekarang" sahut Dena masih berjalan, dia saat ini menaiki tangga begitu juga dengan Dirga.


"Siapa yang aneh, aku tidak aneh. Aku hanya mengungkapkan apa yang ku rasakan saja" jelas Dirga berterus terang.


"Tapi itu aneh, tidak seperti Dirga yang pertama ku lihat dulu" ucap Dena masih terus berjalan.


"Ya karena aku sudah berubah, aku berubah karena memilikimu seutuhnya."


Dena berhenti, menatap Dirga yang masih berada di tangga bawah yang sedikit berjarak darinya.


"Hahaha, tersipu ya." tawa Dirga berjalan mendekati Dena.


"Nggak," Dena kembali akan melangkahkan kakinya tapi tangan Dirga menahannya, sehingga hampir membuat Dena terpeleset di tangga untungnya Dirga langsung menopang Dena agar tidak terjatuh.


Dirga menahan Dena dengan lengannya, setelah itu ia mengembalikan posisi Dena menjadi berdiri tegak. Tapi tangannya merengkuh pinggang ramping Dena.


"Kenapa kamu harus tersipu malu pada suamimu," bisik Dirga di telinga Dena. Menyibak rambut istrinya meminggirkan rambut yang menutupi leher jenjang Dena.


Dirga mencium leher Dena


"Apa yang kamu lakukan di sini, nanti dilihat orang"


"Biarkan saja, aku hanya ingin mencium mu dan menggigit mu seperti ini" ucap Dirga.


Dirga langsung mengambil tengkuk Dena mendekatkan kearah wajahnya. Dan mencium bibir manis nan ranum istrinya tersebut.


Dena sedikit pelan mendorong Dirga dan membuat ciumannya terlepas.


"Malu di lihat orang" sinis Dena dan langsung melenggang pergi meninggalkan Dirga dengan menahan panas di wajahnya karena rona wajah efek ciuman Dirga yang menghipnotisnya.


Sementara Dirga.


"Kamu selalu membuatku candu Sayang" teriak Dirga sambil tersenyum mengiringi langkah Dena.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2