Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 91


__ADS_3

Dena sedang bersama Reyhan saat ini, mereka berdua berada di mobil. Entah kemana mereka berdua akan pergi. Yang jelas tadi setelah sarapan pagi yang cukup terlambat mereka segera berpamitan pada orang tua Dirga kalau dia akan pergi.


"Aku kalau bukan kakak yang mengajak ke sana aku tidak mau" ucap Reyhan sambil menyetir.


"Jangan seperti itu," singkat Dena.


"Ya,." ucap Reyhan.


"Kamu tidak mengecek kakimu terlebih dahulu, bukankah waktu itu setelah perbannya di buka kau harus mengeceknya lagi ke dokter" ucap Dena memperhatikan Reyhan.


"Iya sih, tapi kakiku tidak sakit untuk apa aku mengeceknya lagi"


"Terserah dirimu kalau begitu" Dena langsung mengalihkan wajahnya keluar jendela.


"Kak,.." panggil Reyhan memperhatikan Dena.


Dena langsung melihat kearah Reyhan.


"Kenapa?"


"Kau dan kakak ipar saling mencintai kan?" tanya Reyhan tiba-tiba saja.


"Kenapa kau bertanya begitu padaku?" bukannya menjawab Dena malah balik bertanya pada Reyhan.


"Kalau memang kalian saling mencintai, pertahankan cinta kalian kak. Aku melihat kakak ipar sangat mencintaimu, walaupun dia tampak kasar. Dan aku lihat dirimu masih terlihat kaku dengannya, coba lebih lunak lagi kak. Buka sepenuhnya hatimu serta kepercayaan mu padanya. Aku yakin juga dia beda dengan Papa meskipun sikapnya hampir sama tapi mereka dua orang yang berbeda." pungkas Reyhan, dia memperhatikan kakaknya yang hanya diam terpaku melihat dirinya saat ini.


"Darimana kau yakin begitu?" Dena memperhatikan adiknya tersebut.


"Hanya feeling ku," jawab Reyhan enteng.


Mereka langsung terdiam, Dena kembali menghadap keluar jendela dan Reyhan fokus menyetir.


………………


Mobil Reyhan sudah berhenti didepan rumah Marco. Benar Dena dan Reyhan pergi ke rumah Marco, Dena menemani Reyhan untuk kerumahnya.


Mereka berdua turun dari mobil, sebenarnya Dena malas sekali untuk ke rumah Papanya tapi bagaimana lagi. Dia harus mengantar Reyhan, kalau dia tidak mau maka Reyhan juga tidak mau untuk pulang.


"Kak, kau tidak apa kan?" Reyhan memperhatikan Dena yang berjalan di sebelahnya.


"Tidak," singkatnya berjalan lurus ke depan.


Mereka berdua segera membunyikan bel rumah saat sudah sampai di depan pintu rumah Papa mereka.


Pintu terbuka, dibukakan oleh salah satu pelayan yang ada di rumah itu.


Reyhan dan Dena segera masuk kedalam rumah.


"Rumahnya berbeda ya?" ucap Reyhan memperhatikan seluruh isi ruangan di rumah itu.


"Berbeda?" Dena memperhatikan Reyhan.


"Iya berbeda, lebih sunyi sekarang kak" lirih Reyhan.


"Dimana Papa?" ucap Reyhan lagi.


"Mungkin di atas," Baru saja mereka akan menaiki tangga rumah,

__ADS_1


"Reyhan..." panggil Soraya yang baru saja keluar dari kamarnya.


Reyhan berbalik memandang mamanya dengan jengah. Sementara Soraya berlari senang menghampiri putranya yang sudah ia tunggu-tunggu kepulangannya.


"Reyhan, mama kangen sama kamu tahu. Kenapa kamu baru pulang sekarang" Soraya memeluk Reyhan penuh kerinduan.


Dena hanya diam saja melihatnya,


"Lepas ma, aku pulang bukan karena Mama" Reyhan melepaskan pelukan Mamanya tersebut.


"Apa maksudmu, mama rindu dengan kamu" Soraya tidak mengerti dengan Reyhan.


"Aku pulang karena Papa, aku juga nanti bakal pulang dengan kakakku"


Soraya yang tadi tidak terlalu menggubris Dena sekarang dia menatap anak tirinya tersebut.


"Apa yang kau perbuat pada anakku sehingga dia bersikap begini padaku" sentak Soraya menatap tajam Dena.


"Tanya sendiri pada anakmu, aku melakukan apa" ketus Dena dan dia berjalan dulu naik keatas.


"Ma, stop. Mama seharusnya bersyukur karena kak Dena. Kalau bukan karena dia aku tidak mau masuk ke rumah ini lagi" Reyhan menatap mamanya.


"Reyhan, Mama ini mama kamu. Kenapa kamu malah membela anak perempuan pelacur itu" luapan kesal Soraya ungkapkan.


"Ma.." bentak Reyhan cukup keras di depan Mamanya.


"Kalau mama masih bersikap seperti ini, jangan harap aku akan menganggap mu mama ku. Seharusnya kau malu ma karena telah merebut kebahagian keluarga mereka. Andai aku bisa memilih, aku tidak ingin dilahirkan dari rahim mu" ucap Reyhan menatap sinis Mamanya dan dia pergi begitu saja dari hadapan Soraya yang berkaca-kaca mendengar ucapan anaknya sendiri. Bagaimana bisa Reyhan berkata begitu padanya.


°°°°°


Dena membuka pintu kamar Daniel, niatnya ingin bicara dengan Daniel tapi saat dia masuk dikejutkan dengan Papanya yang tengah tidur di tempat tidur Daniel dan Daniel sendiri berada di sofa kamarnya.


"Kenapa Papa di kamarmu?" Dena berjalan mendekati Daniel.


"Seperti kemarin" sahut Daniel singkat.


"Dia mabuk lagi," dingin Dena sesekali memperhatikan Papanya.


Daniel hanya diam, berarti kalau pria itu diam tandanya ia.


"Papa mabuk?" Reyhan berjalan mendekati kedua kakaknya.


Daniel langsung melihat Reyhan, ini pertama kalinya ia melihat Reyhan setelah mengetahui kalau Pria itu adik kandungnya. Harus bersikap seperti apakah dia sekarang.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Reyhan, mereka berdua hanya diam. Dan Daniel juga tidak ketus pada Reyhan saat pria itu masuk kedalam kamarnya.


"Kak Daniel Papa apa sering mabuk seperti ini?" tanya Reyhan pada Daniel.


Dena memperhatikan Daniel,


"Tidak" hanya jawaban singkat saja yang diberikan Daniel pada Reyhan.


Suasana di antara Daniel dan Reyhan terlihat canggung. Apalagi Daniel ia terlihat canggung sekali harus bersikap seperti apa.


"ada yang ingin ku bicarakan padamu?" Daniel membuka suaranya melihat kearah Dena.


"Apa?" Dena melihat kearah Daniel.

__ADS_1


"Tidak disini" Daniel melirik kearah Reyhan.


Daniel langsung berdiri,


"Kau disini dulu, aku ingin bicara pada Dena" ucapnya singkat pada Reyhan.


Dena berdiri juga, dia melihat kearah Reyhan.


"Reyhan, aku keluar dulu" ucapnya.


"Iya kakak-kakak dinginku" gurau Reyhan.


Mereka berdua langsung berjalan keluar dari kamar Daniel saat ini. Mereka berdiri di luar kamar.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku? tanya Dena saat mereka sudah ada di luar.


"Aku sudah memulai balas dendam ku pada mereka yang telah membuat Mama tiada" ucap Daniel menyenderkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Apa? kau serius.?" Dena terkejut mendengar itu bagaimana Daniel tidak bilang padanya.


"Aku serius"


"Bagaimana kamu melakukannya?"


"Kamu melaporkan kakek dengan bukti yang kita punya ke polisi?"


"Tidak, aku melakukan rencana besar"


"Apa?" Dena semakin dibuat penasaran dengan rencana Daniel.


"Aku akan mengancamnya dengan harta yang ia miliki. Mau kah dia memberikan itu semua untuk ku atau memilih untuk mengaku ke polisi soal perbuatannya" jelas Daniel.


"Kenapa kamu melakukan itu, kenapa tidak kamu laporkan langsung ke polisi?"


"Jika aku melaporkannya langsung pada polisi, itu tidak akan berguna. Bukti itu akan menjadi bahan suap dirinya, dia bisa membayar hukumannya. Tapi beda dengan pengakuan yang akan dia lakukan sendiri, kalau dia mengaku dengan mulutnya maka hukuman itu bisa berat"


"Kamu setuju dengan rencana ku kan kak?" tanya Daniel melihat Dena yang diam.


"Aku setuju, tapi kamu harus berhati-hati. Kakek tua itu tidak mungkin melepaskan hartanya begitu saja dan kamu juga harus berhati-hati kalau kamu mau mengambil semua hartanya karena harta itu sepertinya malah akan membawa bahaya untuk kita. Makanya harus berhati-hati dengan itu"


"Kamu tenang saja, aku akan hati-hati. Saat kita berdua telah berhasil membuat mereka menyesal dan masuk penjara, kita memulai hidup Baru kita. Kita pergi ke Australia ya, bersama Om Michel dan keluarga Mama yang lain. Mereka sudah menerima kita, bahkan dari dulu dia menerima kita sebagai saudara. Tapi Papa selalu menghalang-halangi mereka untuk mengasuh kita"


Dena diam saja dengan ajakan Daniel itu, memulai hidup baru di Australia. Memang itulah yang diinginkan mereka dulu. Tapi kini situasi sudah berbeda, ia telah menikah bagaimana dengan Dirga, pria itu mencintainya dan juga dia mencintai suaminya. Jadi tidak ada alasan untuk dia pergi.


"Daniel,. sepertinya aku tidak akan ke Australia nanti jika balas dendam kita sudah selesai" Dena menatap ragu Daniel.


Daniel langsung menatap Dena.


"Karena suamimu?Kamu mencintai dia begitu dalam?Kalau memang itu pilihanmu semoga kamu bahagia. Aku akan ke Australia sendiri, karena sejujurnya aku sudah tidak ingin tinggal di sini yang penuh kebusukan. Kamu selalu hubungi diriku nanti, bilang padaku disaat kamu tersakiti olehnya"


"Tentu, saat ini kita berjuang bersama menuntut keadilan untuk Mama kita." Dena menatap Daniel begitu juga Daniel.


Mereka berpelukan satu sama lain saling memberi kekuatan.


"Kamu memang kembaran ku, kamu kakakku, dan kamu juga Mamaku pengganti seorang ibu" lirih Daniel terdengar parau karena menahan tangis, dia memeluk erat Dena.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2