Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 109


__ADS_3

"Halo?" ucap Dena saat mengangkat telpon Dirga. Dia penasaran siapa masa lalu itu.


Tidak ada jawaban, panggilan langsung terputus begitu saja.


Dena melihat lagi Hp milik Dirga itu. Entah kenapa ia kesal sendiri sekarang, remasan kuat pada Hp itu seakan menandakan ia tengah emosi.


"Orang tidak jelas, menyebalkan" Dena membanting Hp milik Dirga begitu saja. Rasa marah serta rasa curiga langsung bersarang di kepalanya saat ini.


"Itu pasti perempuan selingkuhannya,." gumam Dena dengan sorot mata tajam nan dingin menatap Hp yang telah hancur dilantai.


"Aku tidak mau hidup bersamanya lagi, dia seperti Papa sama saja. Sebelum terlambat, aku harus mengakhiri ini" ucap Dena berbicara sendiri.


Dia langsung berdiri dari duduknya saat ini, berjalan kearah lemarinya. Dia menunduk perlahan dan mengambil kopernya yang berada di situ.


Segera saja ia mengukuti baju-bajunya yang ada di dalam lemari. Saat sedang mengambil baju-bajunya itu pintu kamar terbuka.


Dirga membuka pintu kamarnya, dan dia tampak terkejut melihat Dena yang memasukkan baju-bajunya kedalam koper.


"Sayang kamu sedang apa? kenapa kamu memasukkan baju-bajumu kedalam koper" Dirga berjalan cepat menuju Dena saat ini.


Perempuan itu diam saja tidak menjawab dia masih terus memasukkan bajunya kedalam koper.


"Sayang jawab, aku bertanya sama kamu" Dirga menarik lengan Dena kuat memaksa perempuan itu menatap Dirga.


"Lepas, aku mau pergi dari sini" mendengar itu mata Dirga langsung melebar.


"Apa maksudmu pergi dari sini" ucap Dirga dengan tajam.


"Aku tidak ingin hidup denganmu lagi" ketus Dena menatap Dirga dingin.


Tentu saja Dirga semakin terkejut sekaligus bingung. Kenapa Dena marah padanya sekarang.


"Sayang kenapa kamu begini padaku?" bentak Dirga.


"Kamu pria brengsek seperti Papa. Kamu punya selingkuhan kan? sebelum kau meninggalkanku, lebih baik aku pergi dulu" Sentak Dena melepaskan tangannya dari Dirga.


"Jangan bicara sembarangan sayang, siapa yang menyelingkuhi mu" pungkas Dirga menghadapkan tubuh Dena paksa kearahnya.


"Kamu bisa marah begini denganku apa sebabnya? dan kenapa kamu menuduhku selingkuh" tegas Dirga.


"Siapa Masa lalu? itu selingkuhan mu kan?"


Dirga sekarang tahu penyebabnya., dia sekilas mengedarkan pandangannya ke lantai melihat Hpnya yang sudah tak berbentuk berserak di lantai.


Pasti karena sebuah panggilan Dena seperti ini.


"Dia Clara," sahut Dirga.

__ADS_1


"Jadi selingkuhan mu mantanmu. Belum bisa move on ceritanya, dan aku kau jadikan pelampiasan nafsu semata" sinis Dena.


"Jangan berpikir begitu kamu salah paham" ucap Dirga mencoba meyakinkan Dena.


"Pantas aku ajak berhubungan tidak mau. Pasti sudah bosan kan denganku, pasti tidak enak bermain dengan wanita hamil, makanya masa lalunya dijadikan pemuas lagi" lagi-lagi kata-kata sinis keluar dari mulut Dena.


"Sayang, Aku tidak begitu" bentak Dirga tidak terima.


"Lepas aku mau pergi" Dena menghempas tangan Dirga dari bahunya.


"Kamu tidak percaya padaku, aku tidak ada hubungan lagi dengan Clara. Itu aku beri nama masa lalu agar dulu aku tidak mengingatnya. Dan soal cinta aku mencintaimu kan aku sudah bilang" tegas Dirga melihat Dena yang mulai menutup kopernya.


"Sayang aku mohon jangan pergi, kamu sedang hamil sekarang. Jangan sering marah begini, itu bahaya buat anak kita" ucap Dirga memohon sambil menghalangi Dena.


Dena sendiri hanya diam saja sambil menurunkan kopernya.


Dirga berjalan cepat menghampiri laci kamarnya. Tanpa di duga dia mengambil pistol dari dalam laci itu.


"Sayang, Kamu mau pergi? Maka kamu harus siap melihatku tiada" ancamnya sambil mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.


Sontak saja Dena yang melihat itu langsung menghentikan langkahnya dia menatap Dirga terkejut.


"Apa yang kamu lakukan?" ucapnya dengan keras melihat Dirga.


"Aku tidak bisa kalau kamu pergi dari diriku, lebih baik aku mati kalau kamu pergi. Tanpa dirimu aku sama saja telah mati" tukas Dirga menatap Dena yang semakin khawatir.


"A..aku, aku tidak akan pergi. Aku tidak bisa melihatmu mati" ucap Dena terbata dan langsung terisak seketika.


Dirga segera menurunkan pistolnya dan memasukkannya kembali kedalam laci.


Dia berjalan mendekat kearah Dena dan langsung memeluknya.


"Makanya itu jangan tinggalkan aku, kamu percayalah padaku. Dan pegang kata-kataku, aku tidak seperti Papa Marco, aku tidak akan mengkhianatimu" pungkas Dirga sambil memeluk Dena


Sementara Dena entah kenapa dia menangis terisak-isak sampai sesegukan. Padahal itu semua tidak terjadi tapi dia menangis,


………………


Setelah kejadian menegangkan tadi, Dirga duduk di samping Dena yang sedang tidur pulas setelah menangis.


"Hamil ini kamu sering salah paham padaku sayang." ucap Dirga mengusap lembut kepala Dena.


"Aku tidak akan mengkhianatimu, Sepertinya kamu memiliki trauma tentang pengkhianatan Papa Marco dulu. Apa aku harus mengajakmu ke psikolog" Dirga berbicara sendiri di depan Dena yang sedang tidur.


Kenapa Dirga ada pikiran membawa Dena ke psikolog?Soalnya setiap kali ada hal aneh tentang Dirga atau wanita yang dekat Dengan Dirga pasti Dena akan berpikir yang macam-macam.


Dirga hampir lupa kalau dia belum memindahkan pistolnya ke tempat lain. Bisa-bisa disalahgunakan seseorang. Dirga langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia kan memindahkan pistolnya tadi.

__ADS_1


Sesampainya di laci tadi Dirga mengambil pistol tersebut dan berjalan keruang wardrobe. Dia Sana terdapat brankas, dia akan menaruh pistolnya disitu.


°°°°°


Dena bangun dari tidurnya, matahari sekarang juga sudah menyingsing. Dia melihat kesamping, kosong. Tidak ada Dirga disitu,


"Dirga.." teriaknya dengan keras. Pintu kamar mandi terbuka dengan keras.


"Ada apa sayang?" Secepat kilat Dirga dengan celana pendeknya dan bagian atasnya terekspos tidak mengenakan baju. Segera menghampiri Dena yang duduk ditempat tidur sambil menatapnya.


Dena diam saja sambil memperhatikan Dirga,


"Ada apa? ada yang sakit" Dirga menaikkan tubuhnya ketempat tidur mendekat ke Dena.


Tiba-tiba saja Dena langsung memeluk Dirga saat ini. Dia menangis secara tiba-tiba.


"Aku kira kamu kemana? Aku kira kamu pergi meninggalkanku" pungkas Dena memeluk erat Dirga sambil menangis.


"Hei, kamu ngomong apa? aku nggak mungkinlah ninggalin kamu. Jangan menangis ah" Dirga melonggarkan pelukannya pada Dena. Melihat Dena dan menghapus air matanya.


"Maaf soal semalam, aku telah merusakkan Hpmu dan menuduh mu selingkuh" lirih Dena merasa menyesal dengan apa yang dia ucapkan semalam pada Dirga.


"Tidak apa, aku tidak mempermasalahkannya. Aku mandi dulu ya, tadi aku belum sempat mandi karena kamu teriak memanggil namaku"


"Nggak usah mandi, disini saja." Dena tidak mau melepaskan pelukannya pada Dirga.


"Ya sudah aku disini" ucap Dirga.


"Sayang, aku mau martabak telor" pungkas Dena melihat Dirga.


"Martabak telor?Pagi-pagi begini nggak ada martabak telor sayang. Nanti ya agak siang"


"Nggak mau,aku maunya sekarang. Ayo beli sama aku" ucap Dena memaksa.


Dirga menghela nafas bingung kemana jam segini harus mencari martabak telor.


"Ayok," Dena melepaskan pelukannya pada Dirga dan mulai bangkit dari tempat tidur.


"Iya ayok. Aku pakai baju dulu. Kamu juga ganti baju. Masa mau keluar cuma pakai celana pendek sama baju kebesaran begitu"


"Aku nggak mau, aku mau gini aja"


"Ya sudah" dengan terpaksa Dirga mengijinkan Dena memakai baju itu daripada nanti Dena malah marah padanya.


Dirga segera beranjak dari tempat tidur mengambil bajunya dan juga celana panjang yang akan ia kenakan.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2