Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 110


__ADS_3

Sudah berkeliling satu jam an lebih Dirga masih belum menemukan orang yang jual martabak. Bukannya belum bisa tapi pagi hari jam 8 seperti ini mana ada martabak telor yang buka.


Dena yang duduk disampingnya sedari tadi cemberut tidak bicara. Karena efek suaminya yang belum juga menemukan martabak telor yang dia inginkan.


"Sayang, kita pulang saja ya. Cari martabaknya nanti saja, jam segini belum ada yang buka" pungkas Dirga memperhatikan Dena yang langsung melihatnya.


"Iya belinya nanti saja, Tapi aku tidak mau pulang. Aku mau ke taman" Dengan manja Dena memeluk lengan Dirga yang sedang menyetir.


"Ke taman? nggak usah ya?pulang saja. Kamu pakai baju begini mau ke taman" Dirga memperhatikan kaki Dena yang terekspos karena celana pendek yang ia kenakan.


"Di dalam mobil saja, ayo ke taman" Dena merengek pada Dirga.


"Ya sudah kalau begitu, kita ke taman. Tapi kamu jangan turun dari mobil. Kita di mobil saja" ucap Dirga.


"Ya, aku tidak akan turun. Terimakasih" Dena tampak senang dan langsung mencium pipi Dirga.


Dirga langsung melihat kearah Dena, ada untungnya istrinya itu hamil. Sikapnya begitu manis dan manja.


"Aku suka denganmu yang seperti ini, kamu manis sekali" ucap Dirga menatap manik wajah Dena.


"Dasar tukang gombal buaya kelas kakap" desis Dena tapi dia tersenyum mengatai suaminya.


"Mulai, tapi tidak apa. Aku tidak marah padamu sayang" Dirga menatap Dena yang tersenyum manis.


………………


Mobil Dirga sudah sampai di parkiran khusus mobil yang berada di sebuah taman kota yang letaknya tidak jauh dari rumah Dena. Benar taman itu letaknya lebih dekat ke rumah Dena.


"Sudah disini saja ya, tidak usah keluar"ucap Dirga saat menghentikan mobilnya di situ.


"Iya," singkat Dena memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di taman tersebut.


"Tapi disini nggak asik, aku mau ke sana" ucap Dena berubah pikiran sambil menunjuk keluar mobil.


"Nggak usah, kita disini saja" tolak Dirga melihat Dena serius.


"Aku mau keluar pokoknya"


"Nggak usah keras kepala deh sayang, salahmu sendiri tadi aku suruh ganti baju tidak mau. Kamu tidak boleh keluar, kamu mau mengumbar paha mu" ketus Dirga memperhatikan Dena.


"Aku tidak perduli, pokoknya aku mau keluar. Aku pengen beli eskrim itu" rengek Dena menunjuk kearah orang jualan eskrim.


"Kamu mau eskrim? Kalau begitu aku saja yang turun, kamu disini dulu" putus Dirga.


"Aku juga mau turun," masih keras kepala saja Dena memaksa ingin turun.


Dirga menghela nafasnya,


"Kita pulang saja" kesalnya karena Dena terus memaksa untuk turun dengan pakaian seperti itu. Dia tidak suka istrinya dipandang oleh pria lain karena pakaiannya.


"Kok pulang? aku tidak mau" ucap Dena.

__ADS_1


Dirga hanya diam saja, tidak menjawab perkataan Dena dia malah menyalakan mesin mobilnya.


"Kamu mengabaikan ku? Kamu membiarkan anakmu?" Dena menatap suaminya yang diam membisu.


Dirga masih saja diam,mobilnya kini berjalan menjauh dari taman kota tersebut.


"Aku benci padamu" pungkas Dena


"Terserah, kamu memang selalu bilang begitu padaku kalau sedang marah" Dirga seakan tidak perduli dengan ucapan istrinya tersebut.


Dia masih terus melajukan mobilnya,melihat itu Dena langsung memalingkan wajahnya dengan kesal.


Dirga melihat itu, ia tetap membiarkannya begitu saja. Soal Dena marah akan ia urus nanti.


°°°°°


"Kenapa kita kemari?" ketus Dena saat mobil Dirga berhenti di depan rumah Papanya.


"Sudah turun saja, tidak usah banyak bertanya sayang" pungkas Dirga.


"Dasar aneh, tadi melarang ku turun sekarang malah menyuruh untuk turun" sinis Dena menatap Dirga.


"Ayo, kita turun saja sayang. Kita disini saja daripada di taman. Ini juga rumahmu dulu kan" Dirga langsung turun lebih dulu, kemudian memutari mobil membukakan pintu untuk Dena.


"Aku tidak mau turun, aku mau pulang" tegas Dena sekali lagi saat pintu mobil telah dibuka Dirga.


"Ayo turun sayang," bujuk Dirga lagi.


"Aku bilang, aku tidak mau" masih saja Dena menolak Dirga.


"Turunkan, aku bilang turunkan" Dena meronta minta diturunkan oleh Dirga.


"Diam lah sayang, kalau kamu seperti ini. Itu menyakiti anak kita diperut mu. Kamu tidak kasihan. Lihat perutmu sudah besar, kasihan dia" Dirga menghentikan langkahnya memperhatikan Dena di gendongannya.


Dena langsung terdiam, dia diam saja dalam gendongan Dirga saat ini.


Dirga sendiri tersenyum karena Dena menuruti perkataannya saat ini.


Alasan Dena mengajak Dena ke rumah Marco karena Reyhan bilang padanya. Kalau Papa mertuanya itu ingin mencoba dekat dengan Dena, ia ingin memperbaiki hubungan dengan putrinya.


………………


Dena diam saja, duduk disebelah Dirga. Sementara Marco ada di depan mereka saat ini.


"Bagaimana kabarmu Dena?" Marco memulai pembicaraan lebih dulu karena suasana yang sunyi.


Dena hanya diam saja tidak mau menjawab pertanyaan dari Papanya.


"Sayang,." panggil Dirga.


"Apa?" ketus Dena pada suaminya itu.

__ADS_1


"Papa bertanya padamu, dijawab" lirih Dirga.


"Ada orang kah di situ?" ucap Dena seakan tidak menganggap Papanya.


"Sayang jangan begitu," tegur Dirga.


"Tidak apa Dirga" pungkas Marco masih memperhatikan anaknya yang memalingkan wajah.


"Jaga kandungan mu ya nak. Jaga cucu Papa" ucap Marco sambil memperhatikan wajah Dena.


Dena masih diam saja, tidak menjawabnya.


"Pa, Dena ingin es krim. Aku akan membelikannya dulu ya" ucap Dirga memecah situasi dingin di depannya.


" Dena ingin eskrim? Di rumah ini ada eskrim. Sebentar Papa ambilkan" Marco seakan bersemangat mengetahui bahwa putrinya yang sedang hamil itu ingin eskrim. Dia langsung berjalan pergi ke arah dapur.


"Kamu lihat, Papa sayang padamu" ucap Dirga pada Dena yang diam saja.


"Itu bukan kasih sayang" sahut Dena.


"Aku mau pulang, ayo mau pulang" rengek Dena lagi.


"Kita tidak pulang, malam ini kita menginap disini" pungkas Dirga.


Mendengar itu membuat Dena membulatkan matanya. Apa ia salah dengar saat ini.


"Aku tidak mau" tolak Dena.


"Aku tidak perduli,." ucap Dirga santai sambil mengusap perut istrinya.


"Anak kita perlu tahu siapa kakeknya yang lain" ucap Dirga lagi.


"Dia belum lahir, bagaimana bisa mengetahuinya"


"Tapi didalam sini, dia bisa melihatnya sayang" ucap Dirga tangannya masih di atas perut Dena.


"Bohong," Dena tidak percaya.


"Lagi pula kalau tidur disini, kita tidur dimana? kamarku sudah di rombak oleh wanita ular" ucap Dena lagi.


"Kita tidur dimana saja. Di rumahmu inikan banyak kamar tamu" ucap Dirga enteng.


"Kamu menyebalkan" desis Dena.


"Menyebalkan begini, suamimu kan?"


"Bukan, kamu orang asing"


Dirga tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


"Lihat sayang, Mamamu dingin-dingin begini bisa bercanda sama Papa" Dirga berbicara pada perut Dena.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2