Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 72


__ADS_3

FLASHBACK On


Saat Dena disuruh oleh Dirga untuk masuk ke dalam kamar yang berada di ruangan orang yang bernama Samuel itu.


Sebenarnya Dena kesal karena perintah Dirga, dia sendiri bingung kenapa Dirga menyuruhnya untuk masuk ke kamar ini.


Apa yang harus dilakukannya saat ini, dan sampai kapan Dirga menyuruhnya tetap di ruangan ini.


Dena melihat sekeliling kamar memperhatikan kamar itu. Cukup luas juga walaupun ini hanya kamar yang berada di ruangan pemimpin perusahaan. Interior kamar juga begitu bagus apalagi yang membuat Dena terpukau ada lemari pendingin didalam kamar yang berisi berbagai jenis makanan. Dilihat dari interior pasti ini yang mendesain Dirga. Walaupun pria itu jarang datang ke perusahaan.


Saat Dena sedang asik melihat interior serta isi kulkas. Hp miliknya terasa bergetar dari dalam tas yang ia selempang kan di bahu.


Dena mengambil Hp itu dari dalam tas dia mengernyit saat melihat siapa yang menelpon dirinya.


"Perempuan ular" Nama itulah yang tertera di situ.


"Kenapa dia meneleponku" gumam Dena melihat layar Hpnya.


"Halo kenapa kau menghubungiku?" ucap Dena langsung tanpa memberi salam dulu.


"Aku ingin bicara denganmu, temui aku di Rafles Cafe bocah" ucap Soraya.


"Aku tidak mau, untuk apa aku menemui perempuan sepertimu" tolak Dena dan bicara dengan nada sinis.


"Kau harus menemui ku, kalau kau tidak datang rumah kesayanganmu itu akan habis beserta adik kembaran mu mengerti " ancam Soraya pada Dena.


"Kau memang wanita tak tahu diri, lihat kalau kau berani menyentuh rumahku dan Daniel. Kau juga akan mendapatkan apa yang sedari dulu harus kau rasakan." ancam Dena balik dengan sedikit mencibir.


"Tunggu, aku akan ke sana" ucap Dena.


Dena langsung keluar dari kamar itu secara perlahan, agar Dirga tidak tahu kalau dia keluar. Kalau dia bilang pada Dirga pasti pria itu akan banyak bertanya dan ikut dengannya.


Dan benar saja baru ia keluar dari kamar, teman Dirga mengetahui dirinya keluar. Dirga langsung mendatangi dirinya setelah diberitahu temannya.


Sementara rekan bisnis Dirga yang juga ia tahu karena orang itu selalu menolong dan bertemu dirinya. Orang yang bernama Hanafi itu dengan temannya juga melihat kearah dirinya saat ini


FLASHBACK OFF.


………………


Akhirnya Dena pergi bersama Dirga karena pria itu bersih keras untuk mengantar dirinya. Mereka berdua kini sedang berada didalam mobil yang kemungkinan sebentar lagi akan sampai di tempat Soraya mengajak bertemu yakni Rafles Cafe.


Dan seperti biasa juga mereka saling diam didalam mobil tidak ada yang membuka omongan sama sekali.


"Sebenarnya kenapa kau ingin bertemu dengan istri Papamu?" ucap Dirga pada akhirnya karena dia tidak bisa dia terus begini.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia yang menginginkannya" ucap Dena melihat kearah Dirga.


"Terserah, siapa yang menginginkannya. Aku hanya ingin tanya. Ada urusan apa memangnya" Dirga terus bertanya karena dia merasa begitu penasaran.


"Aku juga tidak tahu ada urusan apa. Dia hanya menyuruhku untu datang menemuinya" jelas Dena kembali menatap fokus ke depan.


"Nanti kau turun kan aku di depan Cafe saja, kau tidak usah masuk kedalam" ucap Dena tanpa memperhatikan Dirga.


Membuat Dirga yang tadi sudah kembali fokus menyetir langsung melihat kearah Dena.


"Kenapa kau melarang ku masuk?" ucapnya.


"Ini urusanku dengannya" ucap Dena.

__ADS_1


"Terserah dirimu saja, kalau kau terjadi apa-apa aku tidak mau ikut campur" pungkas Dirga merasa kesal.


Dena sendiri hanya diam tidak menanggapinya lagi, matanya fokus menatap jalanan depan.


………………


Daniel saat ini sedang berada di mobilnya, dia menggunakan mobil sport terbuka. Entah saat ini dia akan kemana yang jelas raut wajahnya begitu sumringah terlihat jelas di wajah dinginnya itu.


Namun tiba-tiba, ban mobilnya terlihat seperti tidak beres sehingga membuat mobilnya sedikit aneh. Dengan cepat Daniel langsung menghentikan mobil miliknya dan turun melihat ban mobil depan yang ternyata kempes.


Dia melihat ban depan mobilnya dengan kesal


"Sial,." ucapnya sambil menendang ban tersebut.


"Kenapa disaat aku ingin segera pergi ke rumah ku untuk melihat rumah itu. Ada saja penghalangnya" kesalnya. Dia mengambil kacamatanya dari dalam mobil karena saat ini begitu panas.


Dia melihat sekitar siapa tahu ada yang membantunya. Tiba-tiba saja saat dia sedang melihat adakah orang yang bisa membantunya sebuah mobil berwarna biru berjalan mendekat kearahnya dan berhenti tepat didepan mobilnya sekarang.


"Kak Daniel,." panggil seorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut yang tak lain adalah Reyhan. Reyhan turun dari mobil dengan tampilan yang begitu modis,rambut yang tertata rapi keatas, mengenakan kacamata hitam, baju yang sesuai dan jangan lupa tindik ditelinga kanannya.


Dia berjalan menghampiri Daniel yang menatap tidak suka padanya.


"Kenapa kau disini kak?" tanya Reyhan secara baik-baik.


"Kau tidak lihat ban ku bocor" ketus Daniel dan dia langsung mengabaikan Reyhan.


"Ban mu bocor?butuh bantuan?"ucap Reyhan menawarkan bantuan pada Daniel.


"Tidak perlu pergilah" usir Daniel pada Reyhan.


"Jangan sok jual mahal, padahal sedang butuh bantuan kan" cibir Reyhan pada Daniel.


Tanpa diduga dari arah kanan Daniel sebuah motor datang dengan begitu kencang. Membuat Reyhan yang melihatnya langsung menarik Daniel dan membuat dirinya yang sedikit terserempet.


Mereka berdua terjatuh ke sisi jalan dimana mobil mereka berhenti tadi, sementara motor yang hendak menabrak Daniel tadi sudah pergi.


"Arkkkhh," rintih Daniel dan Reyhan bersamaan.


Daniel yang mendengar Reyhan merintih langsung melihat ke sebelahnya. Dia melihat Reyhan yang seperti kesakitan di kakinya.


"Kau bodoh,." bentaknya pada pemuda yang terpaut dua tahun lebih muda darinya itu.


"Kau yang bodoh, menyebrang tidak lihat kanan kiri" ketus Reyhan sambil mencoba berdiri tapi gagal.


"Ya kau yang bodoh, kenapa kau menolongku"


"Karena kau kakakku, jika kau bukan kakakku tidak sudi aku menolong mu. Sampai membuat kakiku terasa sakit begini"


Daniel terdiam melihat Reyhan, yang berusaha berdiri tapi tetap gagal karena kakinya cedera ada luka kecil di kaki kiri Reyhan. Kemungkinan juga kakinya pasti terkilir.


"Semakin yakin aku, kalau kau bukan adikku. Mana ada adikku bodoh sepertimu" ucap Daniel. Tapi dia membantu Reyhan berdiri dengan mengalungkan lengan Reyhan di pundaknya.


Reyhan sendiri kaget melihat Daniel yang membantunya padahal pria itu terus berkata sinis padanya.


"Sudahlah kak, bodoh tidak usah teriak bodoh. Kau masih tidak mengerti dengan ucapan ku tadi. Kalau kau bukan kakakku mana mungkin aku menolong mu" ucap Reyhan melihat Daniel yang membantunya berjalan kearah mobil kakaknya itu.


"Masuklah ke mobilku, akan ku antar kau ke rumah sakit. Mobilmu suruh saja orang yang mengambilnya" Dengan wajah kakunya Daniel menyuruh Reyhan untuk masuk kedalam mobil miliknya.


Walaupun dia tidak suka dengan Reyhan tapi dia bukanlah orang yang jahat pada orang yang telah menolongnya. Jadi tidak mungkin ia tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


………………


Dena sudah duduk di depan Soraya saat ini dia menatap dingin mama tirinya tersebut. Begitu juga Soraya yang menatap sinis Dena.


"Ada apa kau menyuruhku kemari?Kau yang menyuruhku untuk datang tapi kau yang membisu" cibir Dena menatap Soraya.


"Kau bisa sopan sedikit" ketus Soraya.


"Untuk apa aku sopan pada orang sepertimu"


"Baiklah, aku tidak ingin berbasa-basi lagi dengan bocah seperti dirimu. Niatku menyuruhmu kesini hanya untuk menyuruh Reyhan pulang. Bujuk dia agar mau pulang ke rumah"


"Aku tidak mau itu urusan kalian. Kau suruh saja sendiri"


"Kau memang keras kepala, apa susahnya bilang pada dia untuk pulang ke rumah. Karena kau telah mencuci otaknya makanya dia tidak mau pulang" ucap Soraya.


"Jangan asal menuduh, anakmu sudah tahu keburukan mu mungkin jadi dia tidak ingin memiliki ibu yang menjijikan seperti dirimu. Jika tidak ada yang penting, aku pergi" Dena sudah akan berdiri namun kata sinis keluar dari mulut Soraya.


"Kalau kau tidak membujuk Reyhan untuk pulang. Kau ingin panti tempat mamamu menjadi Donatur kesusahan" ancam Soraya sinis merasa menang.


Dena malah membalas senyum sinis menatap Soraya.


Dia berjalan mendekati Soraya


"Lakukan saja, kalau kau ingin tahu akibatnya. Kau mau mendekam di hotel prodeo dan diusir dari rumah Papa. Kalau kau mau dan siap silahkan saja" ancam Dena berbisik tepat ditelinga Soraya.


Soraya langsung menatap Dena kesal, dia terkejut bagaimana bisa Dena berani padanya kini. Bahkan balik mengancam.


"Ada bukti apa dirimu bisa memasukkan ku kedalam penjara" ucap Soraya takut-takut.


"Rahasia, sudah tidak ada yang kau bicarakan kan?Ingat ucapan ku ini" ucap Dena Dena dan langsung melenggang pergi.


Soraya mengepalkan tangannya memendam emosinya terhadap Dena yang secara santai berjalan keluar.


Di luar Cafe, Dena sendiri langsung berkeringat. Emosinya sudah berhasil dia tahan,.


Dirga berlari menghampiri Dena yang terdiam di luar Cafe.


"Kau kenapa?Kenapa kau diam saja" ucap Dirga entah kenapa dia terlihat begitu khawatir bahkan dia memperhatikan wajah Dena dengan memegangnya dan menghadapkan kearahnya.


Dena menatap Dirga yang tamak khawatir padanya, Dena memegang tangan Dirga yang berada di wajahnya.


"Lepas," Dena menurunkan tangan itu perlahan.


Saat tangan sudah turun, tiba-tiba saja Dena memeluk Dirga membuat Dirga terkejut. Dia melebarkan matanya, menunduk melihat Dena yang memeluknya erat.


"Terimakasih, Kau selalu ada untukku. Beri aku pelukanmu yang menghangatkan" ucap Dena memeluk erat Dirga.


Dirga yang mendengar itu semakin terkejut saja, ini bukan mimpikan saat perempuan dingin itu bicara seperti ini padanya. Tidak mau terlalu pusing berpikir Dirga langsung membalas pelukan Dena.


Pria itu membalas erat pelukan istrinya, Dena yang kini berada di pelukan Dirga merasa nyaman dan hangat. Benar jika dia sudah merasa nyaman seperti ini. Ini sudah pasti dia mencintai suaminya itu.


"Aku mencintaimu" lirih Dena pelan, dan tidak terdengar Dirga.


Dirga merasa nyaman juga memeluk Dena, rasa khawatirnya tadi langsung sirna saat perempuan itu memeluknya dengan tiba-tiba. Dia berharap hubungannya dengan Dena ada perkembangan yang lebih baik dengan perempuan ini yang mau memeluknya lebih dulu.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2