
Dirga duduk disebelah Dena yang sudah bangun dari tidurnya. Dia memperhatikan sang istri yang saat ini terlihat lebih segar dari pada semalam. Walaupun selang infusnya masih terpasang.
Daniel sendiri duduk di sofa kamar itu, dia terus memperhatikan interaksi kedua orang yang ada di atas tempat tidur.
"Sayang,.peluk" Lirih Dena menatap Dirga yang tengah menatapnya.
"Sini" Dirga mendekatkan dirinya pada Dena dan langsung memeluk perempuan itu.
"Aku mau infusnya dilepas," ucap Dena dalam pelukan suaminya.
"Kenapa dilepas, kamu masih lemas kan? Nanti saja kalau kamu sudah sehat" Dirga merenggangkan pelukannya melihat Dena yang menatapnya manja.
"Aku sudah tidak lemas. ini menggangguku, lepas ya" Dena berusaha membujuk Dirga dengan tatapan memohon.
"Aku tanyakan dulu pada dokter" lirih Dirga dengan berat hati.
"Bagus, aku senang sekarang" Dena tampak senang, dia langsung memeluk Dirga.
"Aduhh" rintih nya tiba-tiba,
Seketika saja Dirga langsung khawatir dia melihat istrinya yang refleks memegangi perut.
"Kamu kenapa sayang,?" Dirga begitu khawatir dengan itu.
"Kamu kenapa kak?" Daniel yang mendengar rintihan kakaknya langsung berlari mendekat.
"Ada yang menendang perutku" ucap Dena polos.
"Hah, itu pasti anak kita sayang" ucap Dirga langsung mengusap perut istrinya.
"Aku keluar dulu" Tiba-tiba saja Daniel pamit keluar dari kamar pasangan suami istri itu. Mungkin esnya tidak tahan melihat romantisme di depannya. Jiwa irinya mungkin muncul.
Dirga dan Dena hanya melihat kepergian Daniel, mereka memperhatikan Daniel begitu saja.
………………
Daniel duduk di kursi samping Kolam renang di rumah keluarga Suherman. Dia tidak sendiri di situ melainkan bersama Doni dengan ditemani dua cangkir kopi di meja.
"Bagaimana kabar Papamu Daniel?" tanya Doni setelah menyesap kopinya sambil memperhatikan wajah datar nan dingin Daniel yang hanya diam.
"Dia baik om," singkat Pemuda itu.
Doni tersenyum sekilas mendengar jawaban singkat dari Daniel barusan.
"Kamu mirip sekali dengan Marco muda ya, persis" ucap Doni memperhatikan Daniel yang langsung melihat kearahnya.
"Jangan samakan diriku dengannya om" Daniel seakan tidak terima disamakan dengan Papanya.
"Bukannya menyamakan tapi sifat kalian memang sama. Kalian sama-sama dingin, Kamu tahu dulu Papamu begitu dingin sepertimu tapi setelah dia menikah dengan Mamamu dia menjadi seorang pria yang tersenyum, sayang serta begitu hangat dengan orang lain" jelas Doni mengingat dulu Marco seperti apa.
"Tersenyum?Hangat dengan orang? mustahil."Daniel begitu tak percaya dengan ucapan Doni itu
"Om serius Daniel, Papamu dulu memang begitu sebelum kakek dan Nenekmu mengacaukan hidupnya dan sebelum Soraya datang" pungkas Doni pada Daniel.
Daniel sendiri hanya diam tidak menanggapinya lagi, dia menyeruput kopi susunya.
__ADS_1
"Om, berharap kamu menjadi seorang pria yang penuh kehangatan dan Om harap kamu segera menemukan wanita yang bisa membuatmu mencair dan menjadi lebih hangat lagi Daniel" ucapan penuh harap dilontarkan Doni.
"Kakakmu sudah menemukan sedikit kebahagiannya, om harap kamu juga. Buang luka masa lalu yang ada di hatimu. Yang membuat dirimu bersikap dingin" lanjut Doni memperhatikan Daniel di depannya.
"Masa lalu ku dan kakakku yang menyakitkan itu tidak bisa dibuang om, aku akan seperti ini dan aku tidak perduli dengan wanita. Harapanku sekarang hanya membuat wanita ular itu menderita. Bahkan jika Papa membela perempuan itu, aku siap menghadapinya juga. Lukaku tidak akan sembuh walaupun ada seorang wanita yang masuk dalam hidupku" tukas Daniel tajam, menatap serius Doni.
Doni terdiam, dia bingung harus bicara apalagi. Sepertinya dengan perkataannya tidak mampu meredam amarah yang telah terpendam lama di lubuk hati Daniel.
°°°°°
Infus ditangan Dena sudah boleh dilepas, itu membuat Dena tampak senang sekali. Karena dia bisa bebas melakukan apapun tanpa harus terkendala dengan infus yang ada di tangannya.
"Sayang aku mau mandi dulu ya?" pungkas Dena yang duduk di sofa bersama Dirga yang menonton tv.
"Apa?" Dirga langsung menatap Dena yang tidur di pangkuannya.
"Tidak usah mandi dulu, kamu baru saja diinfus. Cuci muka saja" larang Dirga.
Dena langsung mendudukkan dirinya menatap suaminya itu.
"Aku mandi," tegasnya menolak larangan dari Dirga.
Dirga langsung memfokuskan dirinya pada Dena.
"Kamu bisa nurut kata suami nggak? Aku bilang nggak usah mandi cuci muka saja" jelas Dirga terus melarang Dena untuk mandi.
"Menyebalkan" sinis Dena kesal.
"Kamu yang lebih menyebalkan sayang" ucap Dirga yang melihat istrinya cemberut.
"Kemana?"
"Ya sudah ikut" Dirga mengambil tangan Dena membantunya berdiri.
Dirga mengambil handuk yang tergantung pada gantungan yang mengarah ke kamar mandi.
"Kamu cuci muka saja ya, aku yang usap. Mau kan?" lembut Dirga perhatian.
Dena hanya mengangguk saja menuruti suaminya. Masuk kedalam kamar mandi.
Dirga membasahi handuk kecil yang ia bawa, dan ia usapkan di wajah Dena.
"Gimana?seger?" tanyanya pada sang istri yang tampak menikmati.
"Iya," lirih Dena.
"Sini" Dirga menarik Dena pelan agar lebih mendekat lagi padanya.
"Bajunya dilepas ya?" Dirga melepaskan baju Dena dengan dibantu perempuan itu.
Tubuh Dena kini terekspos, hanya bra saja yang menutupi buah dadanya. Sedangkan perut besarnya terlihat. Dia masih mengenakan celana pendek.
Dirga kembali membasahi handuk itu, dan mengusapkannya ke tubuh Dena secara perlahan.
"Kamu mandi usap saja, jangan mandi dulu. Kamu masih nggak enak badan kan" ucap Dirga penuh perhatian mengusap tubuh istrinya dengan handuk basah.
__ADS_1
Sementara Dena hanya diam saja saat suaminya itu mengusap seluruh tubuhnya dengan handuk basah. Dia mengamati Dirga yang terlihat begitu mencintainya saat ini.
Tangan Dirga berhenti di perut besar Dena.
"Kamu sehat-sehat ya di perut mama?" ucap Dirga sambil mengusap pelan perut Dena.
"Geli,.." lirih Dena karena merasa geli saat tangan Dirga menyentuh kulit perutnya.
"Geli ya, maaf. Sudah yuk keluar" ajak Dirga
"Eh pakai baju dulu baru keluar" tambahnya lagi saat sadar istrinya tidak mengenakan baju atasan.
"Nanti, aku mau" ucap Dena terhenti.
"Mau apa?" heran Dirga.
"Aku mau kamu menghangatkan ku" ucap Dena memberi kode pada Dirga.
Tentu saja Dirga mengerti apa maksudnya
"Jangan sekarang ya, kamu masih lemas. Aku nggak mau anak kita kenapa-kenapa?" ucap Dirga bukannya menolak. Malah ia sangat menginginkannya tapi bagaimana lagi, ia tidak mau anaknya kenapa-kenapa.
"Ya sudah" Dena langsung memakai kembali bajunya dan keluar dari kamar mandi duluan.
………………
Dena dan Dirga duduk di sofa yang ada di kamarnya. Sedari tadi mereka hanya diam, bukan mereka tapi Dena yang mendiamkan Dirga.
Dirga membiarkannya saja, karena dia ingin membuat istrinya mengerti.
"Kamu tidur sana, aku mau kebawah dulu bertemu dengan Papa" ucap Dirga bangkit dari duduknya memperhatikan istrinya yang diam.
"Ya,." hanya sahutan singkat yang diberikan Dena.
Dirga langsung berjalan kearah pintu kamarnya, sesekali dia melihat Dena yang masih asik menonton ditempatnya mengabaikan dirinya yang berjalan keluar.
Dirga benar-benar keluar dari kamar. Dena baru menatap pintu yang sudah tertutup itu.
"Kenapa denganku? Kenapa aku malah memintanya dulu?" ucap Dena selepas pintu tertutup. Dia mengingat permintaannya tadi di kamar mandi pada Dirga. Jujur entah kenapa dia bilang begitu,
"Apa ini karena dirimu sayang,?" ucap Dena mengusap perutnya sendiri. Apa karena dia sedang hamil ini jadi tidak malu memintanya pada suaminya itu.
Tiba-tiba saja ponsel Dirga yang ada di meja depan Dena bergetar. Dengan segera Dena melihat siapa yang menelpon suaminya sore-sore.
Layar Hp itu menyala menampilkan sebuah nama.
"Masa Lalu"
Nama pemanggil itu membuat Dena mengkerut kan dahi siapa itu yang diberi nama Dirga dengan nama itu di Hpnya.
Dengan segera Dena mengambil Hp itu, dan mengangkatnya.
"Halo?"
°°°
__ADS_1
T.B.C