
Dirga masuk kedalam kamarnya, dia melihat kedalam kamat tapi tidak melihat Dena jelas-jelas tadi dia naik keatas. Tapi kemana perempuan itu kenapa tidak ada di kamar saat ini.
Ah, kenapa dia baru terpikir. Dena kan sering ada di balkon. Pasti dia ada di sana, Dirga segera berjalan ke balkon menyibak tirai yang menutupi pintu kaca yang mengarah ke balkon. Benar saja perempuan itu sedang duduk di kursi yang ada di balkon.
Dena diam saja memandang kearah langit, seakan sedang melihat sesuatu yang ada di sana.
"Dia akhirnya bertemu denganmu Ma," gumam Dena sembari menatap ke arah langit.
"Sedang apa kau disini" Dirga membuka pintu kaca yang mengarah ke balkon melihat Dena.
Dena yang mendengar itu langsung melihat ke arah Dirga yang kini berjalan kearahnya.
"Sedang mengutarakan kesenanganku" ucap Dena datar terkesan acuh dan kembali mengalihkan pandangannya.
Dirga berjalan mendekat, menarik kursi yang berada di sebelah Dena, mendudukkan dirinya di situ.
"Sebegitu bencinya dirimu pada nenekmu sendiri?Ternyata kau orang yang lebih kejam dariku" ucap Dirga sinis memandang kearah Dena yang tidak melihat kearahnya.
"Jangan menilai seseorang, kalau kau tidak pernah mengalami apa yang ku rasakan" ketus Dena menatap tajam Dirga.
Dirga terdiam mendengarnya. Dia langsung teringat dengan apa yang di bicarakan perempuan itu tadi saat memberitahukannya pada Daniel.
"Jadi, apa yang kau beritahukan pada adikmu tadi memang benar? Dirga masih tidak percaya,
"Kau kira aku bercanda" ucap Dena dingin. Dia langsung berdiri, percuma saja dia bicara pada Dirga yang sepertinya tidak percaya dengan yang dia alami.
"Kau mau kemana?" tanya Dirga saat melihat Dena yang berdiri.
"Aku akan pergi, percuma juga aku disini dan percuma saja aku bicara padamu yang tidak mempercayainya. Membuang waktuku saja" desis Dena dan melangkah pergi.
Dirga mencengkram tangan Dena menariknya agar duduk kembali.
"Kau kenapa menarik ku?" kesal Dena menatap Dirga.
"Aku belum selesai bicara padamu"
"Apalagi, ku rasa aku tidak ingin bicara lagi. Percuma aku membicarakan semuanya padamu"
"Tunggu, aku ingin bertanya padamu sebentar?"
"Apa?"
"Kau masih muda, dan umurmu baru 20 tahun. Bagaimana kau mengetahui semua yang menimpa Mama mu. Itu membuatku penasaran"
"Aku mengetahuinya dari Bija, dan beberapa ingatan ketika kecil hingga sekarang yang ku ingat" Jelas Dena.
"Sudah, aku akan pergi." tambahnya lagi.
"Aku bilang tunggu," Dirga masih menahan tangan Dena.
"Apalagi?" kesal Dena menaikan nada bicaranya.
"Siapa Bija?" tanya Dirga penasaran dengan orang yang bernama Bija tersebut.
"Sahabat Mamaku, dan yang menguruskan" tegas Dena.
"Sudah, aku harus pergi sekarang" ? lanjut Dena melepaskan tangan Dirga dan berdiri.
"Kau mau kemana?" heran Dirga karena Dena bilang harus pergi. Akan kemana perempuan itu batin Dirga.
"Bukan urusanmu," Dena langsung melangkah masuk ke kamar membuat Dirga berdiri dari duduknya dan melihat kepergian Dena.
………………
Di lantai bawah masih ada Daniel yang duduk di ruang tengah bersama Sisil dan Doni. Dia memang tidak langsung pulang, dia tetap bertahan di rumah mertua Dena.
Dia harus mendapat penjelasan dari Sisil, agar masalah ini tidak berkepanjangan dan agar dia serta kakaknya tidak bersitegang lagi.
"Tante Sisil, atau Om Doni tolong jawab apa yang akan aku tanyakan ini. Jangan sembunyikan apapun dariku" tegas Daniel dengan dingin.
"Daniel, bagaimana ya tante mengatakannya." ucap Sisil sedikit ragu untuk bicara. Tapi bagaimanapun, dia harus mengatakannya. Berhubung Dena sepertinya sudah mengetahui semuanya, jadi menjadi tidak adil untuk Daniel.
"Ceritakan semua padaku Om tante," tuntut Daniel.
Sisil begitu bingung untuk mengatakannya, dia menatap sang suami yang berada di sebelahnya. Doni memegang punggung Sisil untuk menguatkannya agar bercerita pada Daniel.
"Begini,.." Doni membuka suaranya karena istrinya seakan takut untuk bicara.
"Apa yang kakakmu bilang tadi memang benar, Semua permasalahan ini berasal dari Kakek dan Nenekmu sendiri. Mereka tidak menyukai Mamamu, mereka berdua berusaha memisahkan Papamu dengan Mamamu, mereka terus-terusan mengirim Papamu keluar kota dan keluar Negeri meninggalkan mamamu dirimu dengan kalian. Lebih parahnya mereka berdua menghasut Papamu mengatakan kalau Mamamu berselingkuh. Makanya Marco semenjak itu tidak pernah pulang dengan waktu lama dan perilakunya pada dirimu dan kakakmu tidak baik kan" jelas Doni mewakili istrinya untuk bicara.
__ADS_1
"Apa om serius mengatakannya?"
"Aku serius Daniel, untuk apa aku berbohong padamu" jelas Doni meyakinkan Daniel.
"Dan satu lagi, selain itu kenapa kakakku juga bilang Kakek dan Nenek membunuh Mamaku"
"Kalau soal itu aku tidak tahu Daniel, karena aku baru mendengarnya tadi dari Dena saat dia bilang padamu"
Bertepatan dengan itu Dena turun dari tangga, dia melihat ibu mertua dan ayah mertuanya dan juga Daniel.
Namun Dena hanya diam saja, memperhatikannya sekilas.
"Ma, Pa, Aku pergi dulu" pamitnya pada mertuanya.
"Mau kemana nak?" tanya Sisil melihat Dena yang berdiri di depannya.
"Aku mau bertemu kenalanku sebentar ma," jawab Dena tanpa perduli Daniel yang duduk diam memperhatikannya.
"Kalau begitu hati-hati" ucap Sisil dan Doni secara bersamaan.
"Iya Pa, Ma"
Dena langsung berjalan pergi menuju ke luar rumah.
"Kalau soal masalah tentang benar atau tidaknya kakek dan nenekmu membunuh Mamamu, lebih baik kau tanyakan saja pada Dena. Daniel.." ucap Doni membuka suaranya setelah mereka sempat diam tadi karena kedatangan Dena.
"Benar Daniel, lebih baik kau tanyakan pada Dena" ucap Sisil menimpali.
Daniel tampak diam memikirkan sesuatu.
"Om, Tante kalau boleh aku minta ijin masuk ke kamar kakakku dengan Dirga" ucapnya kemudian.
"Kenapa memang?" Sisil tampak penasaran.
"Aku ingin mencari buktinya di koper kakakku, pasti dia membawanya ke rumah ini"
"Kenapa kau tidak tanya saja pada kakakmu" ucap Doni.
"Percuma aku bertanya padanya. Dia pasti tidak akan mau memberitahukannya padaku," ucap Daniel.
"Kalau om dan tante mengijinkannya. Tapi, tidak tahu Dirga, nanti kau ijin saja pada Dirga di atas." ucap Doni.
"Silahkan"
Daniel langsung berdiri, dia akan keatas ke kamar kakaknya. Dia harus mencari bukti itu, kakaknya tadi bilang dia sudah mempunyai buktinya. Bodo Amat jika nanti Dirga tidak mengijinkannya untuk masuk.
………………
Dena sedang berada di sebuah cafe dia duduk sendiri dengan kentang goreng serta jus stroberi yang sudah ada di depannya.
Dia sesekali melihat ke arah Hp miliknya dan melihat kearah lain seperti sedang menunggu seseorang.
"Hai kak," tiba-tiba saja ada seorang pria bertopi hitam melambaikan tangan kearah Dena dan berjalan mendekat.
Dena langsung melihat kearah orang tersebut, dia sebenarnya merasa kenal dan tidak kenal. Tapi dari suaranya itu seperti suara Reyhan adiknya.
"Kau lupa denganku?" ucap Reyhan membuka topinya sembari menarik kursi di depan Dena duduk.
"Kau sudah berapa hari disini?" tanya Dena balik tidak menanggapi perkataan Reyhan.
"Hampir seminggu" jawab Reyhan.
"Hampir seminggu dan kau tidak bilang padaku?"
"Aku sudah mengabari dirimu untuk bertemu. Tapi kau tahu tidak siapa yang datang,?" ucap Reyhan seperti memberikan teka-teki.
"Siapa?" datar Dena.
"Orang yang mengaku suamimu. Kau sudah memiliki suami kak?" Reyhan begitu penasaran dengan jawaban yang akan di berikan Dena.
"Aku terpaksa memiliki suami gara-gara Papamu?" dingin Dena membuang mukanya.
Reyhan malah tersenyum.
"Akhirnya kau mempercayaiku sebagai anak Papa,?" ucapnya melihat Dena.
Dena hanya diam enggan untuk menanggapinya.
"Pantas, dia menjadi suamimu. Aku tidak yakin kalau itu pilihan darimu, tipe-tipe mu kan bukan orang yang kasar melainkan orang yang hangat seperti siapa dulu, Radewa, iya Radewa. Yang selalu bersama denganmu sampai membuatku tidak suka dengannya karena kau selalu mengabaikan ku saat kalian bertemu dengan mengajakku."
__ADS_1
"Sebegitu posesifnya dirimu denganku? padahal aku hanya memanfaatkan dirimu agar Papa bisa selalu mengijinkan ku keluar rumah" Dena menatap Reyhan yang melihatnya.
"Ya mau bagaimana, aku menyayangimu. Kau kakakku meskipun kau tidak pernah menganggap ku adik." ucap Reyhan lirik dan mengambil jus milik Dena seenaknya.
Dena terdiam mendengar perkataan Reyhan, memang benar dulu ia dan Daniel tidak pernah menganggap Reyhan adik mereka bahkan kini pun mereka masih bersikap layaknya orang lain.
"Itu jus ku" ucap Dena dingin.
"Aku tahu, tapi aku tidak perduli karena aku suka jus stroberi. Kita sama kan, walaupun kita tidak kembar. Oh iya bagaimana kabar kak Daniel?".
"Baik"
"Bisa tidak kak, tidak menjawabnya terlalu singkat"
"Terserah diriku"
"Dasar, nggak berubah" dengus Reyhan.
"Hari ini kau tidak datang ke pemakaman Nenek?" tanya Dena.
"Kau bertanya padaku, bukannya kau sendiri juga tidak datang" Reyhan malah balik bertanya.
"Ya aku tidak datang" jawab Dena.
"Kau tidak datang jadi untuk apa aku datang"
"Kenapa?" tanya Dena penasaran.
"Karena kau membencinya dan aku membenci apa yang kau benci?" jawab Reyhan yakin.
"Berarti kau juga membenci Mamamu?"
Reyhan diam sebentar, lalu ia membuka suaranya.
"Ya aku membencinya, karena dia telah merebut Papa dari Mamamu kan. Dan yang membuat dirimu dan Kak Daniel tidak mendapatkan kasih sayang dari Papa"
"Asal kau tahu kak, sebenarnya aku malu untuk menemui mu saat ini. Tapi bagaimana aku merindukan kakakku." ucap Reyhan terkesan sedih.
"Kau, darimana kau mengetahui semua itu" tanya Dena pada Reyhan karena dia merasa kaget kalau Reyhan tahu tentang ini semua.
"Aku sedari kecil memperhatikannya, ditambah 3 tahun lalu saat Mama dan Papa mengunjungi ku di Jerman. Tanpa sengaja aku mendengar mereka bertengkar. Papa mengatai Mama telah merebut dirinya dari suami pertama Papa. Dari situ aku mengetahuinya. Makanya dua tahun terakhir aku tidak pernah menghubungimu kak. Karena aku malu dengan mu," jelas Reyhan.
"Jadi kau pulang ini juga tidak memberitahu mereka?"
"Tidak, makanya aku mohon padamu jangan bilang pada mereka berdua kalau aku pulang ke Indonesia."
"Untuk apa aku memberitahu mereka, itu bukan urusanku"
"Sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan?Kalau begitu aku akan pulang" ucap Dena.
"Tidak, ayo ku antar"
"Kau akan mengantarku, naik apa?"
"Naik mobil lah. Masa naik kuda" canda Reyhan.
"Kau masih dibawah umur, bagaimana bisa kau menyetir mobil"
"Kau lupa kak, umurku sudah 18 tahun sekarang. Tentu saja aku bisa menyetir mobil dan sudah boleh untuk menggunakannya"
"Mobilmu sendiri?"
"Iyalah,"
"Kau sudah sudah bekerja sekarang?"
"Sudah"
"Apa?" entah kenapa Dena penasaran sekali dengan pekerjaan yang dilakukan Reyhan.
"Aku menjadi model, dan diriku juga habis menandatangani kontrak dengan salah satu Brand ternama".
"Kalau begitu ayo pulang," Dena terkesan menjadi tidak perduli. Dia langsung berdiri dari duduknya.
Reyhan hanya tersenyum, dia sudah paham watak kedua kakaknya itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1