
Dirga memperhatikan wajah Dena yang tampak penasaran serta ingin tahu syarat apa yang diberikan dirinya pada perempuan itu.
“Syarat apa yang kau berikan padaku?” pungkas Dena mencoba mengikis rasa penasarannya.
“Syaratnya kau harus menerima setiap sentuhan ku tanpa penolakan” ucap Dirga menatap Dena penuh keseriusan dalam ucapannya.
Dena langsung menatap Dirga terkejut menatap tajam pria itu.
Tiba-tiba saja Dirga tertawa dan sesekali dia melihat kearah jalan. Karena saat ini dia sedang fokus menyetir. Karena Dirga tertawa membuat ekspresi wajah Dena kini berganti bingung dengan perubahan sikap pria yang sedang menyetir disampingnya.
“Sudah jangan menatapku seperti itu, aku hanya bercanda. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dalam sebelum dirimu mengijinkan diriku untuk melakukanya padamu” ucap Dirga sambil tersenyum kecil melihat Dena yang masih tidak percaya dia menatap Dirga curiga.
“sudah, jangan menatapku terus” ucap Dirga lagi karena masih melihat Dena yang menatapnya.
“Aku tidak akan memaafkan mu, kalau kau melakukannya padaku” ucap Dena tajam, dia melihat Dirga yang fokus menyetir dan kini langsung melihat kearahnya.
“Aku kan sudah bilang, aku akan melakukannya saat kau memberi ijin” ucap Dirga.
Dena langsung memalingkan wajahnya melihat keluar jendela membiarkan Dirga yang menatapnya.
“Kau merasa kesal denganku?” ucap Dirga karena Dena yang mendiaminya dan memalingkan wajahnya.
“Fokus saja dengan menyetir mu, sebentar lagi kita sampai” ucap Dena dingin, dengan wajahnya yang tidak menatap Dirga.
………………
Daniel datang menemui Heja yang memang saat ini sedang berada di Jakarta. Mereka bertemu di salah satu restauran. Heja tidak sendiri dia datang bersama suaminya.
“Ada apa Daniel? Kenapa kamu ingin menemui Bija?” tanya Heja heran karena tidak biasanya Daniel menemui dirinya secara khusus.
“Aku ingin memastikan sesuatu. Aku harap Bija dan Om Hans mau jujur padaku” ucap Daniel tegas menatap kedua orang didepannya dengan serius.
“Apa yang ingin kamu pastikan?” tanya Hans.
“Soal Mamaku. Kalian berdua pasti mengetahuinya” Daniel melihat Bija yang langsung terdiam.
“Soal itu lebih baik Kamu tanyakan pada bibi mu, Om tidak ingin mencampurinya” ucap Hans berterus terang.
‘Baiklah, Bija..Aku harap dirimu bisa jujur denganku. Aku sudah mengetahuinya jadi jangan coba-coba untuk membohongiku. Aku bukan anak kecil yang mudah menangis seperti dulu,”
“Silahkan kalau kamu memang ingin mengetahuinya, bija juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu sudah besar jadi memang selayaknya kamu tahu. Pasti kamu merasa tidak adil kan jika Dena saja sudah mengetahuinya tetapi dirimu belum.”
“Aku tanya padamu bi, apa benar kakek dan Nenekku terlibat atas kematian Mama dan bukan mereka saja yang terlibat Apa perempuan ular itu juga ikut menghabisi Mamaku? Apa Papa juga ikut melakukannya” ucap Daniel tanpa berhenti bertanya dia terus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.
"Mereka bertiga memang yang melakukannya. Dan untuk Papamu dia tidak ikut terlibat dengan ini semua. Marco hanya termakan hasutan saja. Dia terlalu bodoh sehingga mudah percaya, bukan itu saja Papamu terlalu haus kekuasaan sama seperti kakek mu dulu" jelas Bija mengenang masa lalu yang ia ketahui dari Monica saat sering curhat dengannya.
"Jadi benar kedua orang tua bangka itu terlibat dan perempuan ular. Aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka perbuat" Daniel mengepalkan tangannya di atas meja. Dia benar-benar akan menghancurkan mereka.
"kamu tahu semuanya dari siapa?" Tanya Heja pemasaran.
"Dari rekaman video di koper Dena dan dari Dena" jelas Daniel.
Heja terdiam, dia merasa lega. Akhirnya Dena mau memberitahukan semuanya pada Daniel.
"Syukurlah kalau Dena sudah memberitahumu" sahut Hans.
"Bija, aku akan mulai melakukan apa yang aku lakukan" ucap Daniel terkesan ambigu.
"Apa maksudmu?"
"Aku mengambil hak ku dari kakek, aku akan membuat dia menderita" pungkas Daniel.
__ADS_1
"Kau serius akan melakukannya Daniel?" tanya Heja merasa tidak yakin.
"Tentu, dengan cara itu aku juga sekaligus bisa membuat perempuan ular merasa menderita"
"Kalau kau memang akan melakukannya, om berdoa semoga kau tidak apa-apa" ucap Hans.
"Ya terimakasih doanya" respon Daniel atas perkataan Hans.
°°°°°
Dena sudah sampai dirumahnya dulu, dia berdiri di samping mobil Dirga menatap rumahnya tersebut yang berada di komplek Green House. Seketika kenangan masa lalunya kembali, dimana keluarganya yang bahagia dengan senyum mamanya yang selalu diperlihatkan.
"Kenapa hanya berdiri disini?" tanya Dirga penasaran melihat Dena yang hanya diam saja menatap rumah besar bergaya Eropa tersebut.
"Tidak, ayo masuk" ucap Dena langsung berjalan mendahului Dirga yang melihatnya.
Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk rumah saat ini.
Dena membunyikan bel rumah itu, pintu rumah langsung terbuka memperlihatkan seorang pria paruh baya tetapi masih terlihat muda melihat Dena sambil tersenyum.
"Kamu sudah datang Dena?" ucap Orang itu saat melihat Dena didepannya.
"Ayo masuk Dena, ajak pria yang disebelah mu masuk juga" ucap pria itu lagi.
"Dia suamiku Om Michel" ucap Dena lirih. Ucapannya itu menghentikan langkah Michel, dia langsung melihat kearah Dena.
"Kau sudah menikah?" ucap Michel terkejut.
"Iya," singkat Dena.
Michel lalu melihat Dirga, Dirga juga melihat Michel yang menatapnya. Untuk menjaga sopan santun walaupun dia juga penasaran dengan orang didepannya. Dirga mengulurkan tangannya terlebih dahulu sambil tersenyum.
"Dirga Prakarsa Suherman, Suami Dena Om" ucapnya mengulurkan tangan pada Michel.
"Michel Hartadinata, Om Dena" ucap Michel.
"Ayo kalian masuk kedalam. Kita bicara saja di dalam" Michel bejalan masuk terlebih dahulu baru di ikuti oleh Dirga dan juga Dena.
"Itu Om mu" ucap Dirga setengah berbisik ditelinga Dena.
"Iya,"
"Oh, aku kira siapa tadi" jawab Dirga polos.
………………
"Om, mana foto mamaku?" tanya Dena langsung saat dia sudah duduk di ruang tamu rumahnya dulu.
"Ada dikamar Om. Nanti Om suruh tante mu untuk mengambilkannya" jawab Michel.
"Kamu sudah menikah, tapi kenapa tidak memberitahuku?" tanya Michel memperhatikan Dirga dan Dena yang duduk didepannya.
"Maaf," lirih Dena merasa bersalah.
Dirga memperhatikan Dena yang merasa tidak enak dengan Om perempuan itu.
"Kita melakukannya secara tertutup. Jadi, tidak memberitahu keluarga yang lain" ucap Dirga berbohong menggantikan Dena menjelaskannya.
"Oh begitu" ucap Michel singkat. Tapi dia merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan keponakannya itu.
"Dena, Om mau bilang padamu? Kalau om sudah tidak bisa tinggal di rumah ini lagi" ucap Michel lagi secara tiba-tiba.
__ADS_1
Dena langsung mendongak melihat Michel.
"Kenapa Om?" ucapnya.
"Om dan Tante mu akan kembali ke Australia" jelas Michel.
"Kenapa harus kembali ke sana?
"Om ingin tinggal dengan Nenek dan Kakek mu"
"Oh, dengan Opa dan Oma. Kenapa harus tinggal dengan mereka?" tanya Dena seakan tidak terima dengan keputusan omnya.
"Ya karena kita keluarga. Bahkan mereka menyuruhku untuk mengajakmu dengan Daniel" jelas Michel
"Kenapa baru sekarang mereka ingin mengajakku dan Daniel?Aku kira mereka tidak pernah ingat kalau punya cucu di Indonesia" ketus Dena.
Dirga yang mendengar pembicaraan itu hanya diam saja. Karena ini juga bukan urusannya dia tidak harus ikut campur.
"Bukan begitu Dena, Mereka bersikap seperti ini karena Mamamu dulu saat masih hidup dan pertama kalinya disakiti oleh Papamu. Mamamu menolak untuk kembali ke rumah orang tuanya jadi mereka lepas tangan" ucap Michel menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Dena dan kedua orang tua Monica memang tidak pernah bertemu atau mengenal satu sama lain. Karena selama ini Mamanya tidak pernah mengajak dirinya untuk menemui Opa dan Omanya yang berada di Australia. Mereka merupakan orang Indonesia Asli tapi sudah menetap di sana.
"Begitu, Om tolong ambilkan foto Mamaku. Aku tidak bisa lama-lama" ucap Dena tidak mau ambil pusing lagi.
"Karin,.." ucap Michel saat menelpon seseorang. Yang dia telpon yaitu istrinya.
"Tolong bawa kesini foto Monica sayang" ucap Michel. Setelah itu dia langsung mematikan Panggilannya.
"Dena lalu bagaimana dengan rumah ini kalau Om akan kembali ke Australia" ucap Michel pada Dena.
"Jual saja," ucap Dena dingin.
Membuat Michel terkejut, karena dulu Dena tidak ingin menjual atau membuang rumah ini tapi sekarang kenapa dia menyuruh menjualnya.
"Kau serius?" ucap Michel meyakinkan sekali lagi.
Dena diam tidak menjawab, sebenarnya hatinya berkata tidak. Tapi saat ini dia sedang kesal.
"Om yakin kamu tidak menginginkan rumah ini dijual. Om tadi hanya mengetes mu. Rumah ini akan ditinggali oleh Daniel" ucap Michel.
Dena langsung melebarkan matanya melihat. Michel.
"Daniel,?"
"Iya, dia bilang akan menempati Green House ini"
Walaupun terkejut Dena memutuskan untuk diam saja. Tidak melanjutkan lagi pembahasan ini.
°°°°°
Dena masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Dirga. Dena langsung menuju ke sofa dimana dia biasa untuk tidur.
Sementara Dirga duduk di ranjangnya memperhatikan Dena yang mengeluarkan foto mamanya dari dalam tas kecil yang dibawa perempuan itu sedari tadi.
Dirga memang sengaja tidak ingin mendekati Dena saat ini karena dia ingi. memberi ruang untuk perempuan itu menenangkan dirinya.
"Ma, kenapa hidupmu rumit sekali. Andai dulu kau langsung ikut Oma dan Opa mungkin kau tidak pergi secara mengenaskan seperti ini. Suamimu yang tidak tahu diri dan mertuamu yang bagaikan iblis" ucap Dena menatap kosong foto mamanya yang ia pegang.
"Tapi itu pilihanmu, aku harap kau tenang di sana" ucap Dena lagi mengusap foto itu penuh kerinduan. Itu foto keluarga mereka.
°°°
__ADS_1
T.B.C