Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 101


__ADS_3

Dirga saat ini masuk kedalam PRAHA DSJ, Dia segera masuk kedalam ruangan Samuel dengan membuka pintunya keras.


"Samuel, bagaimana bisa mereka membatalkannya" sentak Dirga berjalan cepat menuju Samuel yang duduk di meja kerjanya.


Mendengar pintu terbuka dan suara Dirga membuat Samuel langsung berdiri dari duduknya saat ini.


"Dirga tenanglah dulu," Samuel mulai berjalan menghampiri Dirga yang langsung duduk di sofa saat ini.


"Bagaimana aku bisa tenang, itu proyek besar kita. Bagaimana bisa mereka membatalkannya seenak sendiri sementara kita sudah keluar modal banyak untuk membangun hotel bintang lima itu. Enak saja mereka membatalkannya" pungkas Dirga meluapkan kekesalannya.


"Tenanglah dulu, jangan emosi. Mereka sebentar lagi akan kesini meluruskan ini semua" Samuel mencoba menenangkan Dirga.


"Aku tidak bisa sabar terus Sam, itu proyek besar ku"


"Aku tahu, tenang dulu. Kita tunggu mereka datang,"


"Bagaimana kalau mereka tidak datang, mau apa kamu. Aku juga tidak bisa berlama-lama disini, istriku sedang tidak enak badan"


"Kalau mereka tidak datang, kita akan bergerak memberi pelajaran pada mereka" tukas Samuel.


Dirga langsung diam dia mencoba meredam emosinya sambil menunggu orang-orang dari pihak JK datang ke perusahaannya.


Waktu tiga puluh menit sudah berlalu, pihak JK juga tidak kunjung datang. Emosi Dirga tadinya yang sudah meredam kini kembali tersulut karena dia sudah menunggu setengah jam.


"Sudah cukup, jika mereka memang ingin membatalkannya. Oke batalkan saja, jangan beri mereka kesempatan lagi untuk datang memohon pada kita dan sebagian milik mereka tolong ambil semua. Hotel itu sepenuhnya milik kita, Aku pergi sekarang" Dirga sudah tidak sabar dia langsung berdiri dari duduknya.


"Dirga,.." panggil Samuel berdiri mengejar Dirga saat ini.


"Apa?"


"Kita tunggu sebentar lagi ya" ucap Samuel.


"Tidak bisa Sam, mereka sudah membuat kita kecewa. Jika memang membatalkan kontrak seharusnya mereka bilang baik-baik" Dirga langsung mengalihkan wajahnya dan berjalan kearah pintu ruangan itu.


Tanpa di duga saat Dirga membuka pintu dengan kuat dari arah luar ada orang yang membukanya juga sehingga tertarik oleh Dirga dan tanpa sengaja perempuan itu terjatuh di atas Dirga dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh wajah Dirga saat ini.


Bertepatan dengan itu dari arah belakang perempuan tersebut Dena berdiri memperhatikan kejadian di depannya dengan raut wajah datar tak berekspresi tangannya mengepal erat di kedua sisinya.


"Kau nih apa-apaan" Dirga segera mendorong perempuan yang jatuh di atasnya.


Samuel membantu perempuan itu berdiri,


"Kamu tidak apa?" ucap Samuel tampak khawatir.


"Tidak pak, Pa..pak Dirga a..aku minta maaf" perempuan itu tampak takut melihat Dirga yang marah melihatnya.


"Siapa perempuan ini pecat dia,"

__ADS_1


"Dirga dia sudah minta maaf, dia gebetanku. Maafkan dia ya" bisik Samuel di telinga Dirga.


"Wanita tak tahu diri, jika kau bukan orang yang dekat dengan Samuel sudah ku pecat kau" sentak Dirga penuh emosi.


Sementara Dena yang melihat itu tadi, sudah pergi dari situ tanpa sepengetahuan mereka bertiga.


Dirga langsung berjalan dengan kesal sambil membernarkan bajunya yang terlihat tidak rapi.


"Pa..pak Samuel aku minta maaf, aku tidak sengaja" ucap Perempuan itu takut-takut.


"Iya tidak apa, kamu tidak sengaja. Kamu juga tidak mungkin melakukannya, karena kamu milikku" ucap Samuel dan langsung merengkuh pinggang perempuan tersebut.


°°°°°


Dena masuk kedalam rumah keluarga Dirga dengan wajah tak berekspresi pandangannya tajam lurus ke depan.


"Loh Dena kok sudah pulang, Dirga mana?" ucap Sisil yang berpapasan dengan Dena yang baru saja masuk keruang tengah. Dia merasa heran karena tadi menantunya itu berpamitan akan menemui Dirga. Tapi kenapa saat ini Dena malah sudah kembali tanpa Dirga.


"Aku tidak tahu ma, aku ke kamar dulu" jawaban aneh diberikan Dena pada mertuanya. Dia langsung pergi dari hadapan Sisil begitu saja.


Tapi langkahnya langsung berhenti, dia menatap ibu mertuanya lagi.


"Ma, tolong jangan beritahu Dirga dulu ya kalau aku sedang hamil"


"Kenapa Mama tidak boleh memberi tahu Dirga, Dena?"


"Aku ingin memberinya kejutan Ma," ucap Dena berbohong.


Dena hanya tersenyum tipis, dan dia langsung melenggang pergi dari hadapan Sisil tak menoleh kembali.


"Dia sama saja, pria brengsek, pria menjijikkan," gumam Dena tajam, dia terus berjalan menaiki tangga rumahnya menuju ke kamarnya.


Dena melangkah dengan dingin, dia berhenti sebentar saat sudah di lantai atas. Ia mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya.


Sebenarnya itu tadi akan ia tunjukkan pada Dirga tapi apa yang dia lihat. Pria brengsek itu sedang bersama dengan wanita lain,


Dena menggenggam kuat alat itu, dan langsung masuk kedalam kamar miliknya. Dia berjalan ke balkon sambil memegang alat itu dan membuangnya ke tong sampah yang ada di ujung balkon.


"Aku tidak akan pernah memberitahukan semuanya padamu" ucapnya seorang diri.


Dena lalu masuk kembali ke dalam kamar saat ini, karena kepalanya terasa pusing kembali dan perutnya terasa seperti mual dan ia ingin memuntahkannya.


………………


Dirga pulang agak sore, karena dia tadi harus ke PRAHA K-PLUS untuk melihat perkembangan di sana karena tadi ia ditelpon oleh Juna untuk melihat cabang perusahaannya sesekali.


Sebenarnya dia tidak ingin ke sana karena ia khawatir dengan Dena yang menurutnya sedang sakit. Tapi perkataan Juna juga ada benarnya dia harus melihat perusahaannya sesekali saja.

__ADS_1


Dirga segera bergegas masuk kedalam kamar dia khawatir dengan Dena, ia harus melihat istrinya itu bagaimana kondisinya saat ini.


"Sayang,.." panggilnya membuka pintu kamar.


Dia melihat kearah tempat tidur tidak ada Dena di sana.


Dirga langsung mengedarkan pandangannya kearah lain dan pandangannya menangkap Dena sedang berbaring di sofa melihat tv. Dia tidak tidur tapi kenapa tidak menjawab panggilannya.


Dirga berjalan mendekati Dena saat ini.


"Sayang, kenapa kamu disitu, dan tidak menjawab panggilanku" ucapnya sambil terus berjalan mendekat.


Dena masih diam saja tidak menanggapi ucapan Dirga.


"Sayang, bagaimana kondisimu sekarang. Sudah enakan? kalau belum besok aku bawa ke dokter ya?" Dirga berjongkok di depan Dena sambil memegang lembut kepala Dena saat ini.


Dena langsung menepis tangan Dirga di kepalanya. Dia mendudukkan tubuhnya


"Jangan sentuh aku" ucap Dena dingin.


Membuat Dirga melebarkan matanya, melihat Dena yang sepertinya marah padanya.


"Sayang,.." lirih Dirga duduk di samping Dena.


Dena malah berdiri dari duduknya,


"jangan sok romantis padaku dan jangan mendekatiku dengan tubuh kotor mu itu" sinis Dena menatap Dirga tajam.


Tentu saja mendengar itu membuat Dirga semakin terkejut. Karena perkataan Dena tadi seakan sedang sangat marah padanya.


"Sayang kamu kenapa tampak marah begitu padaku?" Dirga berjalan mendekati Dena dan memegang bahu istrinya.


"Lepaskan tanganmu dari bahuku,." sentak Dirga lagi.


"Kamu ini kenapa sih, aku pulang kamu nya malah marah begini. aku capek tahu sayang" ucap Dirga mencoba menahan emosinya.


"Ciih capek, capek meniduri pelacur mu"


"Astaga, kamu ini ngomong apa. Kenapa menuduhku seperti itu?"


"Sudahlah tidak usah di bahas, aku ngantukk" Dena langsung pergi meninggalkan Dirga yang berdiri mematung dengan pikirannya yang tidak mengerti dengan apa maksud Dena.


"Kenapa kamu mau tidur jam segini, ini masih sore"


"Terserah diriku" ketus Dena dan berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan dirinya disitu.


"Baiklah jika itu mau mu, aku akan diam saja sekarang mungkin kamu sedang sakit. Tapi besok jika kamu bersikap kasar lagi seperti ini padaku, aku tidak bisa memaafkannya sayang. Aku suamimu" pungkas Dirga membiarkan Dena yang seakan tidak perduli dengan perkataannya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2