
Reyhan tampak senang, dia mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja makan sambil bersenandung riang. Dia benar-benar senang saat ini.
Membuat tiga orang lainnya yang berada di tempat yang sama dengannya menatap aneh.
"Diam lah, kau berisik sekali" tegur Daniel dengan ketus menatap adiknya yang makan tepat di depannya saat ini.
Reyhan yang tadi asik mengunyah makanan langsung melihat kakak dinginnya yang menatap tidak suka.
"Suka-suka ku, anggota tubuhku juga yang melakukannya. Kenapa kak Daniel sewot sekali" pungkas Reyhan kembali makan mengabaikan ucapan ketus Daniel tadi.
"Hei, perempuan ular. Suruh anakmu itu diam ini meja makan bukan panggung pertunjukan" desis Daniel menatap Soraya yang duduk di sebelah Reyhan.
"Kak Daniel, kenapa kau menegur mamaku. Dia dari tadi diam saja" entah kenapa Reyhan tidak suka mamanya di sebut wanita ular.
"Kenapa kau tidak terima?aku kasar pada Mamamu." tantang Daniel menatap tajam Reyhan.
"Jangan berbicara ketus begitu pada anakku" sentak Soraya.
"Ciih, anak dan ibu sama saja" sinis Daniel.
"Sudahlah kalian bertiga, ini makan malam dan di meja makan. Tolong jangan berdebat saat sedang makan" tegur Marco yang menghentakkan sendok dan garpu nya di meja.
Daniel hanya dia saja , begitu juga dua orang di depannya yang langsung terdiam.
"Reyhan, ini meja makan. Benar kata Daniel tadi ini bukan panggung pertunjukan. Jika kamu sedang senang jangan ungkapkan saat makan mengganggu. Apa yang membuatmu senang begitu?" ucap Marco menatap putra bungsunya.
"Kakakku Dena hamil Pa, bagaimana aku tidak senang. Sebentar lagi aku punya keponakan" pungkas Reyhan.
Sontak saja Marco dan Daniel langsung menatap Reyhan.
"Kau serius?" ucap anak dan ayah itu serempak.
"Iyalah,"
"Dia tidak bilang padaku" ucap Daniel
"Bagaimana bisa bilang, kau saja jarang menemuinya. Salah sendiri kemarin aku ajak tidak mau" ucap Reyhan.
Marco hanya terdiam, dia mendengarkannya saja. Dari lubuk hatinya ia senang mendengar kabar gembira ini. Itu artinya sebentar lagi dia memiliki cucu.
……………
Dena sedari tadi masih tidur setelah makan malam tadi dia tidur kembali karena kepalnya terasa pusing dan badannya terasa lemas. Entah kenapa setiap kali perutnya terisi pasti begitu.
Apa memang begini kalau hamil muda, kenapa hamilnya begitu ektrim bahkan kalau di pikir-pikir dia jadi manja sekali dengan Dirga.
Dena membuka matanya, melihat Dirga yang duduk di sampingnya sambil membuka laptop. Entah seketika moodnya merasa tidak senang melihat Dirga sibuk dengan laptop.
__ADS_1
"Tutup," ucap Dena yang langsung menutup laptop Dirga begitu saja membuat Dirga terkejut.
"Kamu apa-apaan sih sayang, aku sedang panggilan Video dengan Juna dan calon klienku" ucap Dirga berusaha menahan sabar.
"Aku nggak suka, jangan sibuk sendiri." ucap Dena manja.
"Aku nggak sibuk sendiri sayang, aku kerja"
"Teruskan saja, aku tidak mau tidur di kamar ini. Aku malas melihatmu" ucap Dena tiba-tiba saja marah.
Dia langsung bangkit dari kasur dan akan berjalan pergi.
Dirga yang tadinya berusaha mengontrol diri untuk tidak emosi. Langsung ikut turun dari tempat tidur, dia mengunci pintu dengan segera menghadang langkah Dena.
"Kamu jangan kayak anak kecil kenapa?dikit-dikit marah" ucap Dirga agak keras di depan Dena.
Dena menatap Dirga dingin,
"Oh kamu, ngomong keras sama aku. Ya sudah aku tidak mau sama kamu, kamu pikir aku mau sering marah begini. Aku juga tidak tahu, ini gara-gara anakmu ini, kenapa kamu marah padaku. Kamu tidak suka dengan sikapku maka gugur saja anakmu ini yang ada di perutku" ucap Dena lantang di depan wajah Dirga.
Seketika wajah Dirga mengeras,
PLAKK
Emosinya memuncak begitu saja,
"Kamu ini kalau ngomong dikontrol, sadar itu anak kamu juga. Kamu tega mau gugurin dia, dia itu buah cinta kita mengerti" bentak Dirga dengan emosi yang meluap.
"Aku benci padamu," Dena langsung melenggang pergi dari hadapan Dirga saat ini dia menuju ke pojok kamar duduk dengan menekuk lutut disitu seperti anak kecil menangis sendiri.
Dirga sendiri mengusap wajahnya kasar, dia sudah salah barusan. Seharusnya ia lebih bisa mengontrol emosi, sungguh menyesal dia telah menampar istrinya barusan.
"Sayang,.." lirih Dirga penuh penyesalan. Dia berjalan mendekati Dena yang duduk di pojok kamar dengan menunduk.
"Sayang aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu. Maaf kan aku ya" ucap Dirga ikut berjongkok mensejajarkan dirinya pada Dena.
Dena tidak menjawab, dia hanya diam menangis sambil menunduk.
"Maafkan aku sayang, aku mohon maaf kan aku. Sini kamu boleh menamparku balik, cepat tampar aku" Dirga mengambil tangan Dena agar menamparnya.
"Lepas, aku benci padamu." sahut Dena menatap tajam Dirga. dan kembali menunduk lagi.
"Ayolah jangan begini. Aku minta maaf" Dirga tampak semakin menyesali apa yang dia lakukan tadi.
"Ayo dong sayang, kalau kamu begini terus kasihan anak kita loh" ucap Dirga berusaha membujuk Dena.
Dirga menatap Dena yang sedari tadi hanya diam di depannya sambil menunduk,
__ADS_1
"Sayang.." panggilnya pada Dena yang terus menunduk tak bersuara.
"Kamu tidur," Dirga menyenggol pelan lengan Dena. Benar saja Dena sudah tidur, baru beberapa menit lalu istri dinginnya itu menatapnya tajam eh sekarang dengan cepat sudah tidur.
"Astaga, ternyata tidur dia" ucap Dirga sambil menahan tubuh Dena yang akan limbung.
Dengan segera saja, Dirga menggotong tubuh Jihan dan memindahkannya ke tempat tidur. Membaringkan istrinya itu secara perlahan di kasur dan tak lupa menyelimutinya.
"Sayang, hamil mu ini mungkin agar membuatku tidak sering emosi. Tapi aku malah menamparmu tadi maaf kan aku ya," ucap Dirga mengusap kepala Dena yang tidur.
"Aku janji, besok-besok aku akan berusaha menahan emosiku. Aku akan memberitahumu perlahan-lahan. Tidak emosi seperti tadi" ucap Dirga.
"Maafin Papa ya, tadi Papa sudah menampar mama kamu" ucap Dirga di depan perut Dena tak lupa ia mengecup lembut perut itu.
………………
Dirga duduk sendiri di meja makan, dia tadi turun untuk mengambil minum sambil merenungi kesalahannya tadi karena telah menampar Dena.
"Astaga," kaget Sisil saat melihat Dirga yang duduk di kegelapan meja makan seorang diri.
"Dirga, kamu sedang apa nak disini?" ucap Sisil yang terkejut melihat putranya.
"Aku sedang menyesali apa yang ku lakukan tadi ma" pungkas Dirga menjawab pertanyaan mamanya dengan lesu.
Sisil tampak penasaran dia menarik kursi didepan Dirga.
"Apa yang kamu lakukan sampai merasa menyesal begini" ucap Sisil.
"Aku tadi menampar Dena"
"Astaga Dirga, kenapa kamu menampar istrimu"
"Maaf ma, habisnya tadi dia bicara sembarangan"
"Apa yang dia ucapkan, sehingga membuatmu menamparnya"
"Dia masa bilang aku suruh menggugurkan anak yang ia kandung. Dia sering marah juga sekarang ma. Apa mungkin pengaruh hormon hamil ya ma"
"Kamu seharusnya tidak emosi begitu, ya memang itu pengaruh hormonnya saat hamil makanya begitu. Kamu jadi suami harus sabar jangan mudah emosi. Cobalah ngertiin dia, jangan emosi"
"Iya aku coba ma, "
"Bagus, sana tidur. Nanti Dena terbangun mencari mu lagi,"
"Ya,"
"Ya sudah kalau begitu mama mau ke kamar. Ingat kamu harus sabar ngadepin istri kamu" Sisil segera pergi dari hadapan Dirga setelah ia berpesan begitu pada anaknya.
__ADS_1
°°°
T.B.C