
Dena berjalan masuk ke kamarnya di saat Dirga sedang mengenakan kemeja miliknya. Sekilas Dena bisa melihat perut kotak-kotak milih Dirga. Sebenarnya Dena sedikit kaget tapi dia menyembunyikan karena, ia melangkah dengan santainya menuju lemari pakaian yang otomatis dia langsung bersebelahan dengan Dirga yang menatap dirinya.
Dirga menghadap juga ke lemari pakaian, ia mengambil dasi miliknya. Dan sekilas ia memperhatikan Dena yang berada di sebelahnya sedang memilih-milih baju.
Selesai mengambil dasi Dirga langsung mengulurkannya pada Dena.
"Pakaikan," ucapnya sambil mengulurkan dasi tersebut.
Dena melihat kearah Dirga yang mengulurkan dasi padanya dan seakan sekarang menginstruksi dirinya untuk segera memakaikan dasi tersebut.
"Cepat pakaikan, aku sudah kesiangan" ucap Dirga lagi pada Dena karena tak kunjung mengambil dasi itu.
"Pakai sendiri, aku sibuk" tolak Dena dengan nada dinginnya.
"Sibuk apa?Cepat pakaikan. Aku tidak bisa memakai dasi" kukuh Dirga masih tetap memaksa Dena untuk memakaikan dasinya.
Dena mengambil kasar dasi itu dan langsung mendekat kearah Dirga.
"Mendekat lah" suruh Dena.
Dirga menuruti perkataan Dena, ia langsung mendekat kearah istrinya itu. Dena langsung memasangkan dasinya tersebut pada Dirga. Tak butuh waktu lama untuk Dena memasangkannya.
"Sudah," ucapnya datar dan langsung menjauh dari Dirga dan kembali mencari baju miliknya yang ada di dalam lemari.
"Kau mau kemana?Kenapa memilih baju?" heran Dirga melihat Dena yang sedari tadi memilih-milih baju
Dena berbalik menatap Dirga,
"Aku akan ke rumah Papa ku baru setelah itu aku akan ke rumah kakek nenekku" datar Dena, lalu mengambil baju asal dari lemari tersebut dan dia langsung berjalan pergi meninggalkan Dirga yang berdiri diam melihatnya.
"Dia bilang akan ke rumah Papanya?kalau dia bertengkar lagi dengan Papanya dan Papaku tahu. Bisa-bisa aku yang dimarahi oleh Papa, apa aku harus ikut dengannya" ucap Dirga bingung sendiri.
…………………
Dena berjalan keluar dari rumah Dirga sambil menenteng tas kecil yang tersampir di bahunya saat ini. Dia kali ini menggunakan gaun berwarna putih di atas lutut dan dengan rambut yang di kucir kebelakang membuat Dena begitu tampak mempesona. Apalagi kulitnya yang begitu putih membuat dirinya sangat cantik sekali.
Dirga yang berdiri di samping mobilnya melihat itu seakan terpana melihat wajah Dena yang juga tampak bersinar terkena matahari. Dia begitu terbuai dengan penampilan Dena yang menakjubkan seperti ini membuat imannya tergoda, apalagi bagian leher jenjang Dena yang kini begitu terekspos membuat Dirga menelan ludahnya.
Dena sempat berhenti karena melihat Dirga yang berdiri di depannya, sambil menatapnya penuh nafsu menurut Dena. Dena berusaha mengabaikan tatapan itu ia terus berjalan hendak melewati Dirga yang melihatnya sambil bersender di mobil.
"Naik mobilku, aku akan mengantarmu" ucap Dirga saat Dena hanya melewati saja.
__ADS_1
Dena menghentikan langkahnya mendengar ucapan Dirga.
"Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri" ucapnya namun tiba-tiba saja tarikan tangan Dirga membuatnya kaget.
"Kau susah sekali ya diajak bicara?Ayo naik" ucap Dirga langsung menarik Dena masuk kedalam mobilnya dengan paksa.
Setelah memasukkan Dena kedalam mobilnya dengan paksa Dirga juga langsung masuk kedalam mobil.
"Kenapa kau seenaknya sendiri menarik orang" ketus Dena melihat Dirga.
Kali ini Dirga yang diam seperti Dena biasanya. Dia tidak menanggapi ucapan ketus serta dingin yang di ucapkan Dena. Terserah perempuan itu mau bicara apa, yang penting dia cari aman sekarang.
………………
Di rumah keluarga Sharman, Marco tampak tidak sabar karena harus menunggu Dena yang tak kunjung datang. Padahal putrinya itu mengatakan akan berangkat bersama dengan dia dan yang lain untuk ke rumah orang tuanya.
"Daniel dimana sebenarnya kakakmu itu, kenapa belum datang juga, ini sudah jam sembilan lewat" ucap Marco sambil memperhatikan jam yang melingkar di tangannya.
"Sudahlah Honey, kita tinggal saja Dena. Buat apa kita menunggu dia" rayu Soraya pada Marco.
"Tentu saja kita harus menunggunya, dia yang paling di tunggu nenek dan Kakekku. Kalau dia tidak ada kau wanita simpanan sepertimu tidak boleh ke sana oleh mereka" sinis Daniel sambil tersenyum smirk melihat ibu tirinya yang tidak suka.
"Honey, lihat anakmu" adu Soraya pada Marco.
"Huh, menyebalkan" dengus Soraya lalu mengalihkan pandangannya.
"Telpon kakakmu Daniel" perintah Marco yang benar-benar sudah tidak sabar dengan Dena yang tak kunjung datang.
Baru saja Daniel akan menelpon Dena, orang itu sudah muncul berjalan didepannya bersama dengan Dirga.
"Tak perlu menelpon diriku, sudah tidak sabar ingin mendapatkan bagian mu?" ucap Dena kasar pada Papanya.
Marco hanya diam, ia tidak ingin bertengkar dengan putrinya saat ini. Dia beralih melihat Dirga yang berjalan di belakang putrinya.
"Kamu menemani Dena, Dirga?" tanya Marco melihat kearah menantunya itu.
"Iya Pa, tidak apakan aku ikut dengan istriku"
Marco tampak bingung bagaimana harus menjawabnya. Bagaimana kalau Dirga melihat keluarganya yang tak harmonis nanti, jelas Dirga akab melihatnya nanti. Karena pasti pertemuan ini memperoleh perdebatan.
"Pa, bolehkan" ucap Dirga lagi karena tidak mendapat tanggapan dari Marco.
__ADS_1
"Te..tentu saja boleh" ucap Marco
Dena dan Daniel hanya melihat Papanya itu dengan sinis, mereka juga seakan tersenyum meledek pada Marco karena tidak bisa berkutik pada tambang emasnya Dirga.
"Kalau begitu ayo kita pergi, kita menggunakan satu mobil saja." ucap Marco sesuai keinginannya.
"Kenapa harus satu mobil" heran Dena dan Daniel hampir bersamaan.
"Biar kakek dan Nenekmu tahu kita baik-baik saja" balas Marco.
"Baik-baik saja dari mana mereka juga sudah tahu. Jangan berakting yang memalukan" ucap Dena datar.
"Sudah kamu diam lah, ikuti mau Papa apa susahnya. Kau tidak malu berdebat dengan Papa terus di depan suamimu" ucap Marco pada Dena.
Dirga yang sedari tadi semakin merasa ingin tahu lebih dalam keluarga Dena merasa aneh sendiri di tengah-tengah keluarga itu yang sepertinya tidak saling akur satu sama lain.
"Ayo kita menuju mobil, pakai mobil yang Lexus. Daniel kamu yang menyetir" perintah Marco dan langsung berjalan pergi. Soraya tentu saja langsung berlari kecil mengikuti Marco seperti anak anjing yang kelaparan kasih sayang.
Sementara Dena memandang Dirga, yang menatapnya penasaran ingin tahu.
"Ayo cepat," ucap Daniel karena melihat kakaknya saling pandang-pandangan dingin dengan Dirga. Entah apa yang ingin dua orang itu utarakan.
Dena langsung mulai berjalan begitu juga Dirga yang juga mengikuti di belakang Dena layaknya bodyguardnya saja.
Mereka semua sudah berjalan kearah mobil yang sudah siap di depan rumah.
Daniel langsung berjalan masuk ke kursi pengemudi.
"Dirga kau saja yang di depan, biar aku yang di belakang bersama Soraya dan Dena." ucap Marco pada Dirga.
"Baiklah pa," Dirga langsung menuruti perkataan Marco ia segera berjalan pelan ke kursi sebelah Daniel menyetir.
Mereka semua kini sudah naik kedalam mobil. Marco dan Soraya duduk di kursi penumpang yang berada di tengah. Sementara Dena duduk sendirian di bangku belakang,
Itu memang keinginannya. Daripada dia harus duduk di samping Soraya si wanita menyebalkan itu.
Tadi Marco sempat menawari Dena untuk duduk di tengah, tapi Dena menolaknya.
Kini mereka akan pergi ke rumah orang tau Marco, entah apa yang akan mereka semua lakukan di sana.
Dilihat dari semua ini, hanya keluarga Marco saja yang mengetahuinya.
__ADS_1
°°°
T.B.C