
"Arkhh, Sakit bodoh" ucap Dirga saat Dena mengolesi salep di pundaknya.
"Sudah,." ucap Dena lalu berdiri dari duduknya.
"Tidak, ada lagi kan?" tambahnya memperhatikan Dirga yang memegangi pundaknya sendiri.
"Tidak," singkat Dirga. Setelah mendengar jawaban dari Dirga Dena langsung berjalan ke kamar mandi meninggalkan Pria itu yang saat ini melihatnya dari belakang.
Dirga merebahkan dirinya secara perlahan di kasur menahan nyeri yang mulai merasuk kedalam tubuhnya saat ini.
Padahal tadi tidak nyeri sekarang terasa nyeri, kalau tahu bakal begini untuk apa tadi dia menolong Dena. Dasar otak dan gerakannya tidak singkron. Menyebalkan saja. Kesuh Dirga.
Hp Dirga bergetar, dan Dirga langsung mengambilnya di nakas melihat pesan dari Samuel.
"Woy, Clubing yok" begitulah isi pesan dari Samuel barusan.
"Clubing, Clubing..pala mu Sam. Gak tau gimana sakit pundak ku sekarang" ucap Dirga didepan Hp miliknya tanpa membalas pesan dari Samuel.
Dirga menaruh kembali Hpnya di meja merebahkan dirinya untuk lebih rileks lagi. Matanya kini sesekali melihat dua koper Dena yang berada di sofa dan ia juga terbayang Dena yang kesusahan saat membuka koper serta memilih baju.
"Apa aku suruh dia buat naruh baju-baju miliknya di lemari ku" gumam Dirga memikirkannya.
Tak lama Dena baru saja keluar dari kamar mandi, dengan sudah berganti pakaian. Dena tidak melihat kearahnya sama sekali perempuan itu berjalan kearah sofa lalu mendudukkan dirinya di situ.
Perempuan itu lalu melihat Hp dan dia langsung merebahkan tubuhnya menyelimuti tubuh itu. Lalu memiringkan tubuhnya untuk tidur membelakangi Dirga yang melihat dirinya dari atas kasur.
Itu semua tidak lepas dari perhatian Dirga,
………………
"Pa..Pa..Papa jangan, Jangan jual itu Pa..Itu punya mama, jangan pa," ucap Dena sendu sambil terisak dalam tidurnya.
Dirga yang tadinya tidur mendengar itu segera bangun, ia merasa terkejut mendengar suara wanita menangis. Ia kira hantu ternyata saat ia bangkit dari kasur dan mendengarkannya dengan seksama lagi ternyata itu berasa dari sofa dimana Dena tidur saat ini.
Ia langsung mendekat kearah sofa menghampiri Dena.
__ADS_1
"Woy, Perempuan matre, woy" ucap Dirga yang memastikan Dena tidur atau tidak.
Dirga semakin mendekat kearah Dena melihat perempuan itu yang ternyata tidur. Ia berjongkok di depan Dena melihat perempuan itu yang terisak.
"Pa, Papa itu punya mama pa?" tangis Dena dalam tidurnya.
Dirga yang berada di situ melihat semuanya, melihat wajah perempuan yang ia benci basah dengan air mata. Entah kenapa hatinya rasanya sakit melihat perempuan itu menangis dalam tidurnya saat ini.
Secara spontan ia mengusap lembut wajah Dena membersihkan bekas air mata itu.
"Kau mimpi apa?Apa yang membuatmu menangis seperti ini?" ucap Dirga lalu mengusap lembut pipi Dena.
Karena usapan itu Dena merasakan ada sesuatu yang memegang wajahnya membuatnya langsung tersentak bangun dari tidur. Apalagi saat dia membuka matanya, ia melihat Dirga yang sedang memegang wajahnya saat ini membuatnya terkejut.
"Apa yang kau lakukan.?" ucap Dena langsung terduduk melihat Dirga yang seperti sedang tertangkap basah.
"A..aku, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya membangunkan mu, kau menggangguku saja mengerti. Kau ternyata selain perempuan matre, dingin dan perempuan aneh juga ya. Tidur bisa menangis" desis Dirga langsung berdiri melihat Dena yang duduk di sofa mendongak melihatnya.
"Apa yang kau maksud menangis?" lipatan-lipatan kecil muncul di dahi Dena saat ini. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Dirga.
Dena menyentuh wajahnya, menuruti perkataan Dirga. Saat ia menyentuh wajahnya kini, wajahnya basah seperti orang yang habis menangis. Apa benar tadi dia menangis?
°°°°°
Daniel berjalan di rumahnya, ia tidak sengaja mendengar ibu tirinya Soraya sedang bertelpon dengan seseorang membuat dirinya harus menguping pembicaraan itu dari balik tiang tembok besar di taman.
"Reyhan, kau pulanglah sayang. Kau mau hak mu menjadi milik kakak-kakakmu yang menjengkelkan itu" ternyata Soraya sedang bertelponan dengan Reyhan adik tiri dari Daniel dan Dena. Dia hanya selisih 3 tahun saja dari Dena dan Daniel.
"Apa kau tidak mau pulang?Kau tidak menginginkan harta milik Papamu?Kau gila" ucap Soraya kesal dengan jawaban putra kesayangannya yang saat ini sedang ada di Jerman.
Soraya mematikan panggilannya ia sangat kesal serta marah saat ini. Bagaimana bisa putranya itu mengatakan hal bodoh yang akan membuat masa depannya sendiri hancur.
"Wow, Wow,.Ternyata kau di tentang anakmu sendiri" ucap Daniel sambil bertepuk-tepuk tangan dari arah belakang Soraya menampakkan dirinya dari tembok besar itu.
"Kau?Sedang apa kau disini?" kaget Soraya melihat Daniel yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya.
__ADS_1
"Baru saja, tentu untuk menguping dirimu" ucap Daniel enteng.
"Sepertinya anakmu itu, tidak mirip denganmu.?Mirip dengan siapa ya dia?Mirip Papa atau mirip pria yang kau sembunyikan" Daniel melipat tangannya di depan dadanya saat ini. Melihat Soraya dengan tatapan meledek perempuan itu tampak mengepalkan tangannya kuat menahan emosi.
"Mulutmu anak pelacur,."kesal Soraya menatap Daniel tajam.
"Anda tidak salah mengatai Mama saya, Pelacur teriak pelacur. Aku heran kenapa Papa masih mempertahankan mu sebagai simpanan hingga sekarang. Padahal Mamaku sudah tidak ada sedari lama tapi kenapa Papaku tidak pernah mengesahkan dirimu menjadi istrinya, apa dia hanya menganggap mu pelacur, dan pikir sekarang siapa yang pelacur sebenarnya?Kau atau Mamaku" ucap Daniel menantang dia tidak merasa takut dengan manusia ular di depannya.
Daniel lalu pergi meninggalkan Soraya sendirian yang meluapkan emosinya kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa tadi. Karena perempuan yang sudah tua tapi tidak mengakui tua itu setiap di depan Daniel ia merasa terintimidasi dengan tatapan tajam pemuda yang baginya cukup mengerikan seperti Marco suaminya. Daniel memang mewarisi gen Marco sekali.
………………
Marco sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang kerjanya saat ini. Melihat dengan seksama ada yang salah atau tidak pekerjaan nya saat tengah fokus dengan pekerjaannya Soraya masuk dengan membuka keras pintu kerjanya.
Membuat pandangannya teralihkan menatap kedatangan istrinya.
"Ada apa kau terlihat marah begitu?"
Soraya hanya diam mendudukkan dirinya kasar di sofa ruangan tersebut.
"Kalau tidak ada yang penting keluarlah, aku sibuk" ketus Marco karena ia merasa terganggu.
"Apa kau dulu tidak pernah mengajari anak-anakmu sopan santun" ucap Soraya menahan emosinya yang naik turun.
"Maksudmu,"
"Ah, tidak jadi. Kau juga nanti akan membelanya, aku pergi saja" Soraya merasa telah salah kalau mengadu ke Marco. Suaminya itu pasti akan selalu membela Daniel, tidak mungkin tidak.
"Ya sudah sana, mengganggu saja" Ucap Marco kembali fokus dengan pekerjaanya.
Soraya sendiri membuang mukanya kesal, niatnya untuk mengadukan ke suaminya memang salah.
°°°
T.B.C
__ADS_1