Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 125


__ADS_3

Lima orang saat ini sedang duduk di meja makan pinggir pantai, menunggu sarapan mereka yang sedang dihidangkan oleh juru saji di tempat makan itu.


Sembari menunggu hidangan mereka tersaji disitu, mereka tampak menikmati suasana pantai yang menyegarkan, desiran pantai serta angin yang menghempas meniup dedaunan pinggir pantai membuat suasana terasa ringan. Meskipun diantara mereka tengah terpenuhi pikiran berkecamuk satu sama lain.


“Dena, kamu mau Salmon? Papa ambilkan ya?” ucap Marco membuka pembicaraan melihat anak perempuannya yang diam saja.


Mendengar suara Marco semua orang yang ada dimeja itu mendongak melihat pria tersebut yang menatap Dena.


“Tidak usah, Dirga bisa mengambilkan ku” pungkas Dena langsung melihat kearah Dirga yang duduk disampingnya.


“Ya sudah kalau begitu, Bagaimana denganmu Daniel? Kau mau Salmon juga biar Papa ambilkan” ucap Marco kini beralih menatap Daniel yang tadi diam sambil bermain Hp miliknya.


“Tidak perlu, aku bisa mengambil sendiri” ucap Daniel.


“Kak,.” Tegur Reyhan yang duduk disebelah pria itu. Daniel tidak perduli, dia malah masih fokus dengan Hp miliknya.


“Ya sudah kalau kalian tidak mau Papa ambilkan, Reyhan kamu ingin apa biar Papa ambilkan buatmu” ucap Marco dengan lemah karena kedua anaknya menolak apa yang ingin dia lakukan.


“Salmon juga boleh Pa,” pungkas Reyhan, dia tidak ingin membuat Papanya itu kecewa.


“Aku nanti mau pulang dulu” pungkas Daniel


“Kamu mau pulang lebih dulu kenapa?” ucap Marco


“Aku ada urusan”


“Aku juga mau pulang” ucap Dena begitu saja.


“Kenapa kalian buru-buru begini, Papa ingin menghabiskan waktu bersama kalian” ucap Marco terdengar kecewa.


“Sayang, kita pulang besok saja ya” ucap Dirga pada Dena.


Dena langsung melihat kearah Dirga apa-apaan suaminya itu kenapa malah mengajak pulang besok. Dia ingin pulang ke rumah sekarang karena dia merasa belum siap berbicara banyak dengan Papanya hubungannya terasa canggung.

__ADS_1


“Daniel kamu ada urusan apa sehingga pulang nanti” tanya Marco.


“Papa lupa, kau menyerahiku pekerjaan banyak. Dan hari ini aku ada pembahasan dengan Om Jason. Salah mu sendiri kenapa semuanya kau serahkan padaku” tegas Daniel, entah kenapa moodnya hilang untuk makan. Suasana di meja makan rasanya tidak enak ditambah tadi dirinya mendapat laporan kalau berkas penandatangan proyek yang dia buat hilang di perusahaan milik kakeknya.


“Daniel mau kemana kamu, makan dulu” pungkas Dirga yang melihat adik iparnya itu malah pergi.


“Aku sudah kenyang, dan aku pulang sekarang. Titip kakakku jangan sampai dia terluka” ucap Daniel langsung melenggang pergi dari situ.


“Daniel.” Panggil Dena dan Marco bersamaan. Tapi Daniel tetap saja berjalan pergi menuju pintu keluar tempat itu.


“Asli kak Daniel nurun siapa sih Pa, nurun Papa ya itu. Ngeselin banget, punya kakak gitu amat” gerutu Reyhan yang melihat Kakaknya yang sudah pergi.


“Sudahlah tidak usah memikirkan dia, biarkan saja ayo kita makan” ucap Dirga mencoba mencairkan suasana.


“Pa, ayo kita makan. Sayang kamu makan yang banyak dan Reyhan itu cepat dimakan Salmon yang diberikan Papa” pungkas Dirga sambil memegang bahu Dena menyuruh istrinya itu untuk melanjutkan makannya.


“Sayang,..dimakan. jangan diam saja” ucap Dirga melihat Dena yang hanya diam tidak melanjutkan makannya.


Dena kembali makan meskipun dia hanya diam tidak menanggapi apa yang dikatakan Dirga. Ia saat ini entah kenapa hanya ingin diam saja. Rasanya dia kesal pada suaminya itu yang tidak menurutinya untuk pulang sekarang.


Dena duduk di pasir pantai menatap laut yang terbentang luas didepannya. Dia sendirian saja disitu, ia keluar dari kamar tanpa sepengetahuan Dirga yang sedang ada di kamar mandi. Ia ingin sendiri menatap laut, mencoba mencurahkan apa yang dia rasakan. Jujur semalam ketika dia memaafkan papanya itu bukan dari hatinya sendiri.


Mana ada memaafkan seseorang yang telah membuat dirinya menderita dengan mudah seperti itu. Tentu saja tidak ada, dia melakukan itu tidak sepenuh hatinya.


Tapi mau bagaimana lagi, dia saat ini sedang hamil. Entah mitos atau memang sekedar kepercayaan keluar Dirga atau apa. Dirga bilang kalau dia membenci orang tuanya sendiri maka ia akan susah untuk melahirkan dan Dirga mendapat omongan seperti itu dari Sisil.


Ditambah Dirga mengancamnya akan mencelakai dirinya sendiri kalau dia tidak menuruti apa kata Dirga untuk memaafkan Marco. Memang konyol suaminya itu, sungguh kata tidak masuk akal. Anehnya kenapa dia harus menurut, rasanya kesal sendiri dengan saat ini.


“Kamu sedang apa sayang, duduk disini sendirian?” Dirga datang dan langsung duduk disebelah Dena.


Dena hanya melihat sekilas dan kembali melihat kearah lautan, dia diam saja tanpa bicara pada suaminya itu. Ia masih kesal dan seakan Dirga terus mengaturnya dan membuatnya tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan.


“Aku tanya loh sama kamu sayang,” Dirga memperhatikan istrinya yang diam tidak menjawabnya.

__ADS_1


“Diam lah, aku sedang tidak ingin bicara pada siapapun”


“Kamu marah padaku?” Dirga menatap penuh selidik.


“Pikir saja sendiri”


“Kamu marah soal apa? Soal tadi waktu kita sarapan?” tebak Dirga menatap Dena.


Dena diam saja, dia malas untuk menjawabnya.


“Kalau soal itu aku minta maaf padamu, aku melakukannya agar kamu lebih dekat lagi dengan Papa”


Dena langsung melihat kearah Dirga.


“Tidak perlu kamu melakukan itu, aku tidak ingin lebih dekat lagi dengannya. Kenapa kamu terus memaksaku sih” kesal Dena.


“Aku tidak memaksamu, kamu memang harunya seperti itu. Papa sudah minta maaf berkali-kali padamu. Dia juga ingin dekat denganmu, dekatkan dirimu juga sayang”


“Kamu menyuruhku untuk dekat dengan Papa, aku tanya Padamu. Kau juga kesal kan dan benci dengan Papa Doni, kamu bisa dekat dengannya?”


“Bisa, buktinya aku dengan Papa baik-baik saja. Karena aku sudah memaafkannya yang menurutku pilih kasih”


“Kamu memaafkan dia dengan mudah begitu karena Papa Doni tidak pernah melukaimu. Sedangkan Aku? Marco dulu sering menamparku, memukulku, menyiksaku dan memakiku serta Daniel sebagai anak haramnya Mama. Padahal jelas-jelas kita anaknya tapi dia tidak percaya kalau kita anaknya dulu” berbicara begitu membuat Dena meneteskan air matanya menatap tajam Dirga.


Dirga terdiam melihat istrinya yang berbicara sambil menangis. Dia mendekatkan dirinya hendak menghapus air mata Dena. Namun Dena menepis tangannya kini membuat dia terdiam memperhatikan.


“Aku tahu seberapa besar lukamu karena Papa Marco. Tapi dia tetap orang tuamu sayang. Dan dia sudah menyesalinya, dia ingin mengubah semuanya. Beri dia kesempatan”


“Kamu enak bilang beri kesempatan, aku dan Daniel yang menjalani semua ini susah mengerti”


“Kamu tidak mengerti diriku, kalau bukan karena dirimu yang mengancam ku semalam aku tidak akan memaafkannya. Dan ingat aku melakukannya atas perintah dirimu, jadi jangan paksa terus aku untuk dekat lagi dengan Papa. Beri aku waktu” Dena langsung berdiri dari duduknya berjalan pergi meninggalkan Dirga yang duduk di atas pasir pantai.


“Sayang kamu mau kemana?” Dirga langsung berdiri mengejar istrinya yang berjalan menjauhi pantai.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2