Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 107


__ADS_3

Dena bangun dari tidurnya saat ini masih terlalu pagi untuk bangun seperti biasa saat dia terbangun seperti ada yang mengikatnya siapa lagi kalau bukan lengan Dirga yang melingkar di perutnya saat ini.


Dena langsung melepaskan tangan itu dari dirinya, lagi-lagi mual kembali terasa dengan cepat ia berlari kearah kamar mandi. Membuang sisa makanan yang ada di dalam perutnya.


Ini sudah hampir setengah bulan ia sering mual begini dan padahal kehamilannya juga sudah memasuki 4 bulanan. Tapi rasa mual dan ingin muntah terus saja hinggap,


Dena terus-terusan memuntahkan isi perutnya dengan suara yang cukup keras. Dirga terbangun mendengar hal tersebut dia melihat kesamping nya yang sudah tidak ada Dena di situ.


"Kamu muntah lagi,.." ucap Dirga saat masuk ke kamar mandi. Duduk berjongkok disebelah Dena.


"Diam lah, aku pusing. Tubuhku lemas sekali" ucap Dena lemah dia tiba-tiba saja merengkuh tubuh Dirga karena seakan badannya lemas tak berdaya.


"Sayang kamu kenapa?" Dirga tampak begitu khawatir dengan kondisi Dena tersebut.


"Badanku lemas," lirih perempuan itu.


"Sini," Dirga langsung membopong Dena keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru dan ia segera membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur.


"Kamu sih makanya jangan marah-marah terus" masih sempat Dirga mengomeli istrinya.


Hueek


Dena kembali ingin muntah tapi, tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Sayang kamu tunggu disini, aku akan menemui Mama" melihat itu membuat Dirga semakin khawatir dengan kondisi Dena saat ini.


"Sebentar, kamu diam disini" gugupnya. Dia bingung harus apa, mengatasi ini dimana Dena terus merasa mual.


………………


Dokter baru saja keluar dari dalam kamar Dena dan juga Dirga dikuti oleh Sisil serta Doni.


"Terimakasih dok, sudah memeriksa menantu saya" ucap Doni mengulurkan tangannya dan dibalas oleh dokter paruh baya berkacamata tersebut.


"Iya sama-sama pak Doni, kalau begitu saya permisi dulu" Dokter itu langsung pergi dari hadapan Sisil dan juga Doni.


"Ayo kita ke bawah Pa, biar Dena sama Dirga" Sisil mengajak suaminya untuk turun kebawah.


"Ayo" Doni dan Sisil segera berjalan menuju kearah tangga untuk kebawah.


Sementara di dalam kamar Dirga menemani Dena yang sedang tidur dan ada infus yang melekat ditangan perempuan itu.


Benar Dena saat ini harus di infus untuk menambah cairan pada tubuhnya. Cairan tubuh Dena begitu sedikit karena perempuan itu terus saja muntah.

__ADS_1


Dirga terus memegangi tangan Dena di samping istrinya.


"Aku sedih melihatmu lemas begini" gumam Dirga. Sesekali meniup dahi Dena.


Dirga perlahan mulai membaringkan dirinya, disebelah Dena. Menaruh tangannya diperut sang istri yang mulai terlihat buncit. Mengusap perut itu dengan lembut.


"Ayolah, anak Papa jangan buat Mamamu begini terus. Apa kamu tidak kasihan" ucap Dirga terus mengusap perut istrinya.


Dena menggeliat, dengan cepat Dirga langsung mendekatkan tubuhnya pada Dena agar Dena tidak terlalu menggeliat jauh sehingga mengganggu tangannya yang di infus.


"Dirga.." lirih Dena membuka matanya.


"Iya, ada apa?kenapa kamu bangun. Tidur lagi saja ini masih malam"


"Aku kenapa?" ucap Dena dengan lemah.


"Kenapa tanganku di infus?" Dena melihat tangan kirinya yang sudah terpasang infus.


"Itu untuk penambah cairan sayang, kamu lemas tadi bahkan pingsan membuatku takut" pungkas Dirga menjelaskannya.


"Apa iya," Dena seakan tidak percaya.


"Iya, sudah kamu tidur saja lagi. Ini masih malam. Apa ingin aku peluk lagi" ucap Dirga.


"Aku mau dicium" ucap Dena.


"Oh istriku mau dicium." Dirga langsung mencium bibir Dena sambil ********** begitu dalam.


"Sudah ya,nanti aku bisa kebablasan. Kamu kan sedang tidak enak badan sekarang. Tidur sayang, aku usap perutnya"


Dena mengangguk pelan, dan menyusupkan kepalanya mendekat ke dada bidang Dirga.


°°°°°


Pagi Hari Daniel datang ke rumah orang tua Dirga, tidak sendiri dia bersama Reyhan ke rumah itu. Sebenarnya ia akan datang sendiri karena merasa ada sesuatu dengan Dena membuat dirinya khawatir tak tenang memikirkan kembarannya.


Tapi bocah tengik itu terus memaksa untuk iku, membuatnya kesal sendiri. Dan saat ingin menggunakan mobilnya sendiri entah kenapa ban mobilnya tiba-tiba bocor membuat dia terpaksa menerima tumpangan dari adik tirinya tersebut.


Sampai di rumah orang tua Dirga , Daniel langsung pergi begitu saja meninggalkan Reyhan yang masih berada di dalam mobil.


"Hoi kak, ngucapin terimakasih kek.Sudah di beri tumpangan juga" teriak Reyhan dari dalam mobilnya saat ini.


Daniel tentu saja tidak perduli dengan itu, ia malah tetap berjalan masuk kedalam rumah keluarga Suherman.

__ADS_1


Daniel berjalan masuk layaknya rumahnya sendiri tanpa ragu masuk kedalam.


………………


Daniel menaiki tangga, setelah diberitahu oleh Dewa kalau Dena berada di kamarnya. Dengan cepat dia menaiki tangga karena tadi Dewa memberitahunya kalau Dena sedang sakit.


Pantas sedari kemarin ia selalu memikirkan kembarannya, sudah begitu lama juga ia tidak menemui Dena. Ia malah fokus dengan dunianya sendiri, jujur rasa bersalah saat ini menggelayangi hatinya.


Seharusnya ia lebih perduli lagi pada kakaknya, padahal dulu kakaknya itu selalu ada untuknya.


Dia membuka pintu kamar Dirga dan Dena begitu saja tanpa mengetuk. Daniel masuk begitu saja kedalam kamar itu.


Langkahnya terhenti jantung seakan berhenti melihat kakaknya yang terbaring dengan selang infus ditangannya. Dengan begitu cepat dia berjalan mendekati Dena.


"Kakak, ada apa denganmu" ucapnya getir melihat Dena dengan perutnya yang sudah terlihat kalau sedang hami terbaring.


Daniel menggenggam tangan kakaknya erat, entah perasaan takut ada dalam hatinya. Kenapa kakaknya seperti ini, dalam kondisi hamil lagi.


Pintu kamar mandi terdengar terbuka,


"Kau ada di sini?" ucap Dirga saat melihat Daniel yang sudah duduk di samping istrinya yang tidur.


Daniel langsung melihat kearah Dirga, dia segera berjalan menghampiri kakak iparnya itu.


"Apa yang terjadi pada kakakku,?Kau jadi suami tidak becus mengurusnya" ucap Daniel begitu sinis.


Dirga yang tidak mengerti, kenapa Daniel tiba-tiba saja marah padanya saat ini.


"Kau bicara apa sih, diam lah Dena sedang tidur." Dirga mencoba memperingatkan Daniel.


"Kau tidak lihat kakakku begitu, kenapa dia bisa sakit. Sampai terjadi apa-apa dengannya, tunggu saja apa yang akan aku lakukan"


"Kau lebay sekali sih, istriku hanya kekurangan cairan dia sehat tidak sakit mengerti. Itu biasa terjadi pada ibu hamil" pungkas Dirga tidak terima bila di salahkan Daniel.


"Apa?" Jujur Daniel terkejut mendengarnya. Ia kira kakaknya itu sakit.


"Siapa yang bilang Dena sakit, sehingga membuatmu marah begini padaku"


"Siapa lagi kalau bukan Radewa, dia yang bilang" ucap Daniel dan dia kembali mendekati kakaknya yang masih tidur.


"Kakakku?" ucap Dirga, saat mendengar itu dia merasa heran kenapa Dewa mengatakan itu pada Daniel.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2