Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 114


__ADS_3

Dena duduk menonton Tv bersama Dirga, pria itu tidur dipangkuan Dena sambil terus menciumi perut istrinya yang sudah terlihat besar karena usia kehamilan yang sudah lima bulan. Dia mengusap lembut perut sang istri,


“Sayang, besok atau kapan kita ke dokter yuk. Kita lihat jenis kelamin anak kita,” pungkas Dirga memperhatikan Dena yang fokus pada televisi.


Dena langsung menunduk melihat Dirga yang tidur di pangkuannya,


“Boleh,” jawabnya singkat dan kembali fokus pada layar televisi.


“Aku tidak sabar menunggumu lahir malaikat kecilku” gumam Dirga kemudian mengecup perut Dena sekali lagi. Sungguh ia begitu gemas dengan perut istrinya yang semakin buncit. Tap anehnya padahal usia kandungannya baru lima bulan tapi kenapa perutnya sudah begitu besar. Batin Dirga dalam hatinya.


“Sayang,..”panggil Dena melihat dirga yang langsung mendongak memperhatikannya.


“Emm,” ucap Dirga.


“Aku mau itu,” Dena menunjuk sesuatu yang ada di televisi. Dirga langsung melihat apa yang ditunjuk Dena saat ini.


“Kamu mau jagung bakar seperti itu?” Dirga memperhatikan istrinya yang langsung mengangguk girang.


“Di kulkas ada jagung, nanti aku suruh mbok pinem atau nggak mama yang membakar kannya untukmu ya?” ucap Dirga pada Dena.


“Aku tidak mau, aku maunya kamu yang bakarin jagung buat aku” ucap dena penuh harap.


“Hah,” Dirga langsung mendudukkan tubuhnya menatap istrinya.


“Aku nggak bisa bakarnya sayang,” ucapnya lagi memelas.


“Aku tidak mau tahu, aku ingin kamu yang membakarnya untukku” keras kepala Dena yang biasanya keluar lagi. Dia kukuh menyuruh suaminya sendiri yang membuatkan jagung bakar untuknya.


“Mulai,” gumam Dirga mengusap wajahnya kasar.


“Kamu bilang apa?” ucap Dena yang mendengar apa yang dikatakan suaminya barusan.


“Tidak aku tidak bilang apa-apa” bohong Dirga.


“Kamu masa tidak seperti Papa Doni, Kata Mama Papa Doni dulu romantis padanya sering menuruti Mama saat hamil. Kenapa kamu tidak?” Dena langsung cemberut mengalihkan wajahnya dari Dirga.


“Mama pakek cerita-cerita soal papa, jadi kebawa ke dena kan” gerutu Dirga memperhatikan istrinya yang membuang muka darinya.


“Ya sudah, aku bakar kan jagung. Ini demi kamu sama anak kita ya. Padahal siang-siang begini tahu sayang. Enaknya malam kalau bakar jagung”


“Kenapa kamu bilang mau tapi bicaramu panjang sekali. Kamu tidak ikhlas membuatkannya untukku” raut wajah Dena dan cara bicara Dena berubah menjadi dingin.


“Aku ikhlas sayang ku, ayo. Aku bakar kan jagung” Dirga langsung berdiri mengulurkan tangannya pada Dena. Dena meraih tangan itu dengan semangat,


“Aku cinta kamu,” Ucap Dena begitu girang dan langsung mencium Dirga.


“Ayok buruan..aku sudah nggak sabar” ucapnya lagi setelah mencium suaminya dan menariknya keluar dari kamar.

__ADS_1


............


Reyhan berjalan pelan membuka pintu kamar rahasia tempat Papanya biasa menghabiskan waktu akhir-akhir ini.


Dia sudah tahu kamar itu berisikan apa, karena ia pernah melihat sekilas saat kedua kakaknya berdebat dengan Papanya di dalam kamar itu. Meski begitu hatinya teriris melihat apa yang ada di depannya saat ini. Banyaknya foto keluar bahagia Papanya dulu sebelum mamanya masuk kedalam kehidupan kedua kakaknya.


Hatinya bukan teriris karena marah Papanya masih menyimpan foto lama itu. Melainkan hatinya teriris karena perbuatan Mamanya keluarga Papanya dulu hancur dan kedua kakaknya yang dulu dekat dekan Papanya kini bagaikan dua orang asing.


Reyhan berjalan kearah foto keluarga dimana keluarga itu tampak bahagia.


“ aku tidak pernah tahu dirimu, atau bicara padamu. Tapi aku yakin dirimu baik. Aku minta maaf atas perbuatan Mamaku padamu,.” Ucap Reyhan didepan foto Monica yang tersenyum disebelah Marco.


“Aku minta maaf, karena Mamaku keluargamu hancur dan anak-anakmu yang tak lain juga kakakku kini membenci Papa pasti kamu di sana sedih sekali kan. Aku minta maaf” Reyhan meneteskan air matanya sambil mengusap wajah perempuan yang ia ketahui sebagai ibu dari kakak-kakaknya dan juga istri Papanya dulu. Dia berkali-kali meminta maaf pada foto itu.


“Bolehkah aku memanggilmu Mama juga, jika boleh aku akan memanggilmu Mama Monica. Aku coba ya, Mama Monica semoga dirimu tenang di sana, kau tidak perlu mengkhawatirkan kak Daniel ataupun Kak Dena.. Aku akan melindungi mereka, aku..aku sangat menyayangi mereka meskipun kita dilahirkan dari rahim yang berbeda. Dan Mama Monica kamu tidak perlu khawatir aku akan membuat hubungan papa dan kedua kakakku membaik. Jangan khawatir ya,..Aku harap kau tenang jangan pikirkan lagi Mamaku..Dia sudah aku penjarakan Mama Monic” ucap reyhan berusaha tersenyum walaupun hatinya sedikit sakit saat mengatakan Mamanya sendiri ia penjarakan. Walaupun sejahat apa Soraya dia tetap Mamanya. Hati seorang anak pasti sakit melihat bagaimana mamanya dipenjara.


“Reyhan..” ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


Reyhan yang hapal betul itu suara siapa langsung menghapus air matanya, dan dia berbalik mencoba untuk tersenyum.


“Oh Papa,” ucapnya dengan tersenyum.


Benar itu Marco yang baru saja pulang dari kantor polisi.


“Sedang apa kamu disini,?” heran Marco melihat anak bungsunya bisa berada di ruangan rahasianya. Bagaimana Reyhan bisa tahu?.


“Itu tadi, ada suara tikus disini Pa. Jadinya aku masuk” bohong Reyhan pada sang Papa.


“Iya tikus, eh sudah dulu ya Pa. Aku lupa kalau ada janji dengan teman” ucap reyhan mengalihkan pembicaraan dan dia buru-buru ingin keluar.


“Reyhan” panggilan Marco menghentikan langkah Reyhan yang sudah melewatinya.


“Iya Pa,” Reyhan membalikkan tubuhnya melihat kearah Marco berdiri saat ini.


Marco berjalan mendekati Reyhan saat ini, dia memegang tangan anaknya itu.


“Papa minta maaf ya” ucap Marco pada Reyhan.


Reyhan merasa bingung kenapa Papanya itu harus minta maaf padanya.


“Kenapa Papa minta maaf padaku? Perasaan tidak ada salah denganku” ucapnya.


“Papa minta maaf karena sudah menceraikan dan menampar Mamamu serta memasukkannya kedalam penjara”


Reyhan terdiam sesaat memperhatikan Papanya.


“Papa tidak perlu minta maaf. Itu memang pantas diterima Mama Pa. Dia telah jahat pada kalian dulu, aku tidak masalah jika Papa bercerai dengan Mama. Dan Papa tidak perlu minta maaf Padaku karena Papa tidak pernah melukaiku baik secara fisik atau batin. Jangan pernah merasa bersalah padaku Pa. Tapi pada kedua Kakakku, mereka sangat tersakiti sekali dengan perbuatan Papa dimasa lalu, minta maaf lah terus dengan mereka pa bukan denganku” ucap Reyhan tersenyum kecil sambil melepaskan tangan papanya.

__ADS_1


“Aku pergi dulu ya Pa, aku sedang ada janji dengan teman” setelah mengatakan itu Reyhan langsung pergi meninggalkan Marco yang berdiri diam. Seakan membenarkan kata Reyhan, dia telah banyak melukai hati anak kembarnya. Kini saatnya ia menebus itu.


..............


Dena duduk di Gazebo memperhatikan Dirga yang sedang membakar jagung dengan ditemani oleh Sisil. Berkali-kali Dirga batuk-batuk karena asap bakaran yang terlalu banyak.


“Kamu ini kalau bakar jagung yang bener dong Dirga, jangan kebanyakan arang nya. Malah jadi api dan Asapnya” omel Sisil yang berada disebelah anaknya itu.


“Ya kayak mana ma bakarnya, arang nya sedikit nggak nyala-nyala tadi. Sekarang banyak malah keluar api dan asapnya banyak begini” ucap Dirga sambil mengipasi jagung yang terpanggang di atas panggangan.


“Kamu ini memang nggak bisa apa-apa ya, bakar jagung saja tidak bisa. Itu jangan mengipasi ke sana kasihan istrimu itu loh” melihat Dena yang terkena sap Sisil langsung memukul lengan anaknya.


“Ya ke arah mana Ma. Itu juga asapnya lari ke sana”


“Sayang kamu jangan disitu, kena asap” teriak Dirga pada Dena yang duduk di Gazebo.


“Sudah sana, Mama saja yang membuatkan jagung bakar buat Dena. Kamu suaminya, laki-laki lagi nggak bisa bakar jagung” Sisil mengomel sambil mengambil kipasan bambu dari tangan Dirga.


“Kok jadi Mama, Mama suruh pak sur atau nggak Mbok Pinem yang buatin jagung bakar untuk Dena jangan Mama ah.” Ucap Dirga.


“Tidak apa, Mama bisa buatnya. Memang kamu” tukas Sisil


“apaan sih Ma, dari tadi kok. Marahin aku terus” ucap Dirga tidak terima.


“Ya mama mau marahin siap, Dena? Yang nggak mungkin dong mama marahin menantu kesayangan Mama.”


“Aku tidak mau mama yang membakarnya, aku mau Dirga ma. Biar dia yang melakukannya” teriak Dena saat mengetahui yang membakar jagung bukan suaminya.


“Suamimu terlalu bodoh untuk membuat jagung bakar nak, biar Mama saja ya” jawab Sisil


Mendengar perkataan Mamanya membuat Dirga melebarkan matanya tak percaya. Mamanya sendiri tega mengatakan dirinya begitu.


“Nggak Ma, aku maunya Dirga. Dia mau apa anaknya ileran,” tolak Dena


“Tuh Mama denger, mantu kesayangan Mama bilang apa. Sudah aku saja, temani saja dia Ma.” Dirga mengambil alih kipas bambunya lagi.


“Kamu harus sabar, jangan sering kesel ngadepin istri kamu yang hamil.” Ucap Sisil menasehati Dirga.


“Aku kurang sabar apa Ma, dia semenjak hamil ini aku sabar sama dia. Untuk aku cinta mati dengannya kalau tidak” pungkas Dirga pada Mamanya.


“Hussh jangan gitu, awas kamu kalau nyakitin mantu kesayangan Mama”


“Ya nggaklah, aku cinta sama dia. Ngapain aku sakiti” ucap Dirga membalas terus ucapan Mamanya.


“Ya sudah Mama ke sana dulu temani istri kamu. Kamu yang bener bakar jagungnya” Sisil langsung pergi kearah dena.


Sementara Dirga sibuk berkutat melawan asap-asap, dia harus berjuang membakar jagung demi Dena.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2