Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 28


__ADS_3

Plakkk


Terdengar tamparan yang sangat keras diruang tengah lebih tepatnya didepan kamar tamu saat ini.


Dirga melihat itu terkejut, tidak menyangka Dena akan menampar Mamanya sendiri. Benar Dirga mengira Soraya adalah Mama dari Dena.


Dirga langsung berjalan mendekati Dena menarik mundur perempuan itu yang menurutnya tidak sopan menampar mama nya sendiri.


"Lepaskan.." Dena memberontak paksa, dari pegangan Dirga.


"Hei, tenanglah. Kau tidak sopan sekali menampar mamamu sendiri" ucap Dirga seperti orang bodoh menurut Dena.


"Siapa yang kau bilang mamaku, kau tadi tuli tidak mendengar apa yang kau ucapkan" sentak Dena menatap Dirga tidak suka.


Dena akan mendekat lagi ke arah Soraya, perempuan itu dengan memegangi wajahnya yang ditampar Dena mundur secara perlahan karena tidak menyangka perempuan muda didepannya akan berani menampar dirinya seperti ini.


Dirga lagi, lagi menahan Dena agar tidak mendekat ke Soraya.


"Aku bilang lepaskan aku, kau jangan ikut campur urusanku dengan perempuan ular itu. Asal kau tahu dia bukan Mamaku dia wanita simpanan yang tak tahu diri" Dena melepaskan paksa dirinya mendorong Dirga agar pegangan tangan pria itu terlepas darinya saat ini.


"Dia,Dia bukan mama mu" ucap Dirga yang akhirnya sadar.


Dena tidak menggubris itu, saat dia sudah terlepas dari Dirga, ia berjalan lagi kearah Soraya.


"Kau mau apa anak pelacur," ucap Soraya menyembunyikan ketakutannya pada Dena.


Dena berjalan sambil tersenyum sinis pada Mama tirinya tersebut.


Lalu saat sampai di depan Soraya, ia menarik perempuan itu mencengkeramnya kuat dan menghempaskan nya ke lantai. Emosinya kini sudah tidak terkendali, menghadapi perempuan ular itu.


Dirga semakin bingung harus bagaimana dia sekarang,


"Kau..kau berani berbuat seperti ini padaku" ucap Soraya yang sudah terduduk dilantai.


Dena berjalan semakin mendekati Soraya dilantai.


"Hei perempuan matre, jangan seperti ini" ucap Dirga yang akan mendekati Dena namun langkahnya berhenti karena ucapan keras perempuan itu.


"Kau tidak usah ikut campur urusan keluargaku" ucap Dena sangat keras pada Dirga yang langsung berhenti di tempatnya. Ia berpikir benar juga ini bukan urusannya tapi kenapa ia ingin ikut campur saja.


"Kau, kau wanita ular perusak..Siapa dirimu hah. Kenapa kau membuang semua milik mamaku, apa belum puas kau merebut papaku dari dia. Kenapa!!!?? " ucap Dena bergetar dan diakhir kalimat ia membentak Soraya didepan mukanya.


"Salahkan mamamu kenapa aku seperti ini, dan kau bocah ingusan yang terlahir tanpa senga..."


Plakkk


Dena menampar Soraya lagi, yang masih terduduk di lantai. Dia sudah geram dengan mulut ular perempuan itu.


"Dena..." Suara hentakan keras membuat tiga orang itu langsung melihat siapa yang berbicara keras tersebut.


"Honey, Honey," Soraya merasa menang, ia langsung berdiri berlari kearah Marco bersembunyi di belakang suaminya.


Marco berjala cepat mendekat kearah Dena yang sudah berdiri mengontrol emosinya.


"Apa apaan kau Dena," bentak Marco didepan putrinya.


Dena tidak gentar, ia mengepalkan kuat tangannya menatap Papanya tajam, sekilas ia juga menatap Soraya yang seperti menang sendiri.


"Kau bilang aku apa-apaan. Istrimu itu yang apa-apaan, wanita pelacur seperti itu masih kau pertahankan saja" ucap Dena tanpa takut di depan Papanya.

__ADS_1


"Jaga mulutmu Dena, kau tidak malu suamimu melihat ini" ucap Marco mencoba mengendalikan emosinya


"Kenapa aku harus malu, dirimu yang seharusnya malu. Kau menjual anakmu sendiri,"


"Dena, Papa bilang jaga ucapan mu"


"Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Aku sudah menuruti apa mau mu, tapi kenapa kau membiarkan istri murahan mu itu membuang semua milik mamaku"


"Apa maksudmu,?" Marco tidak mengerti dengan apa yang dimaksud anaknya itu.


"Jangan pura-pura bodoh Pa, Seorang Marco Alexander Sharman tidak mungkin bodoh dan tidak tahu" ucap Dena semakin lantang.


"Papa peringatkan sama kamu, jaga cara bicaramu. Bisa lebih sopan" tegas Marco masih mencoba untuk menahan emosinya. Karena ada Dirga menantunya yang melihat semua ini.


Dena hanya diam dia berjalan mendekat kearah Soraya.


"Kau kemari lah, aku akan membuat wajahmu rusak" Dena menarik Sora yang ada dibelakang Papanya.


Tapi tubuhnya langsung di dorong keras oleh Marco.


Dirga yang melihat itu terkejut merasa tidak percaya. Dia langsung menghampiri Dena yang terhempas ke lantai.


"Papa sudah bilang padamu, jaga sikap dan cara bicaramu mengerti" ucap Marco penuh penekanan.


Dena diam saja ia berdiri dengan dibantu Dirga,, tapi ia menghempaskan tangan Dirga mendorong pria itu.


"Aku tidak akan menjaga ucapan ku dan sikapku didepan kalian berdua yang sama-sama licik" desis Dena berjalan mendekati Papanya menantang.


"Aku benci dengan Papa sepertimu, berikan surat rumah yang dulu, dan surat kesepakatan Panti berikan padaku. Aku tidak percaya lagi dengan pria bajingan penipu seperti papa"


Plakkk


Dena tersenyum sinis, dia mendekat lagi pada Papanya.


Soraya yang berada di belakang Marco merasa puas dengan itu.


Dena tidak takut,


"Kau menampar diriku yang kesekian kalinya, aku tidak takut dengan Pria brengsek seperti anda" lagi Marco hendak menampar Dena kembali.


Dirga yang melihat itu hendak mencegahnya tetapi sebelum itu Dena terlebih dahulu. Menangkis tangan Papanya.


"Jangan kira aku gadis bodoh seperti beberapa tahun lalu Pa, aku mau sekarang juga serahkan surat rumah yang dulu dan surat perjanjian panti padaku. Aku tidak percaya dengan dirimu lagi, dan aku tidak akan takut dengan ancaman mu. Aku bilang serahkan sekarang juga" teriak Dena keras di depan wajah Papanya dia masuk terus memegang tangan Papanya kuat.


Marco diam, melihat sekilas kearah Dirga yang merasa bingung dengan kondisi di depannya saat ini.


"Dirga bawa pulang istrimu" ucap Marco menghempaskan tangan Dena lalu ia berjalan pergi tapi langkahnya langsung di cegat oleh Dena.


"Aku bilang serahkan surat itu Pa, aku tidak ingin apa yang mamaku punya hilang lagi..Itu punya mamaku, peninggalan satu-satunya mamaku, pelacur mu itu sudah membuang semua peninggalan mamaku yang ada di kamarku. Dan aku tidak ingin kehilangan lagi apa yang mamaku tinggalkan, aku mohon berikan itu padaku sekarang" Dena menangis terisak di depan Papanya,


Marco serasa terenyuh melihat anaknya itu yang seperti frustasi. Tapi ia gengsi untuk menunjukannya.


"Dirga, Papa minta tolong bawa istrimu pulang" lagi-lagi Marco menghempaskan tangan Dena dan pergi begitu saja. Soraya yang melewati Dena tersenyum penuh kemenangan melihat anak suaminya seperti itu.


"Aku bilang berikan itu padaku," ucap Dena dengan keras hendak berjalan menyusul Papanya.


Tapi ia langsung ditahan oleh Dirga yang berdiri didepannya saat ini.


"Kita pulang," ucap Dirga datar.

__ADS_1


"Minggir dari hadapanku, kau tidak usah ikut campur dengan urusanku" Dena mendorong tubuh Dirga. Tapi pria itu terlalu kokoh berdiri sekarang sehingga tidak bergeser sama sekali.


"Aku bilang pulang" ucap Dirga memegang lengan Dena dan menariknya paksa.


Dena menghempaskan tangan itu, dia hendak berjalan lagi menyusul Papanya.


Tapi gagal, tiba-tiba saja Dirga memanggul Dena layaknya kantung beras. Dena memberontak dengan itu semua.


"Turunkan, Turunkan, aku. Aku harus meminta apa yang mamaku tinggalkan" ucap Prisia menangis sambil memberontak di panggulan Dirga.


Dirga tidak menanggapi dia terus memanggul Dena keluar dari rumah besar mertuanya. Memasukkan Dena paksa kedalam mobil. Dan dia memakaikan sabuk pengamannya juga, Dena masih tetap memberontak.


"Kau diam lah, kita pulang" ucap Dirga tajam dengan sorot mata penuh intimidasi. Dena terdiam di mobil, nafasnya naik turun memendam emosinya.


………………


Dirga menghentikan mobilnya di dekat taman yang sepi.


Dia melihat kesamping nya saat ini yang diam dengan pandangan kosong.


Dena melihat kearah Dirga.


"Pria brengsek" desisnya menatap Dirga.


"Apa?" Dirga langsung melihat Dena tak percaya.


"Kau pria brengsek, yang seperti Marco. Ceraikan aku sekarang" ucap Dena dingin tak berekspresi.


"Apa?" Dirga semakin terkejut saja.


"Kau tuli" ucap Dena.


"Kita pulang," tidak memperdulikan ucapan Dena. Padahal maksudnya baik menghentikan mobil disini agar perempuan disampingnya bisa menenangkan diri tapi balasannya perempuan itu malah bicara ngelantur.


Jujur dia tidak mengerti sebenarnya permasalahan apa yang ada di keluarga perempuan itu. Kenapa ia tampak membenci papanya sendiri tadi, dan Ia juga kaget ternyata Mama yang ia tahu mama perempuan matre bukanlah Mama kandungnya.


°°°°°


Dena langsung turun dari mobil Dirga saat mobil itu sudah berhenti didepan rumah, pria tersebut.


Dia masuk kedalam rumah pria itu begitu saja, tanpa melihat kemana-mana tujuannya hanya kamar saat ini. Sampai-sampai ia tidak sadar kedua mertuanya duduk diruang tengah memperhatikan dirinya dengan cemas.


"Den..." belum sempat Sisil memanggil Dena sudah terlebih dahulu berjalan cepat menaiki tangga.


Dena masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar itu dengan keras merasa amarahnya begitu memenuhi dirinya saat ini.


Ia terduduk di lantai, tanpa terasa air matanya jatuh.


"Ma..Mama apa yang harus aku lakukan sekarang, untuk mengurangi rinduku padamu. Perempuan ular itu membuang semua foto dan barang milikmu. Aku..Aku harus bagaimana untuk melampiaskan rinduku padamu" ucap Dena terisak menangis di lantai.


"Argghh," teriak Dena frustasi,


Tanpa diduga Dirga yang sudah berada di luar kamar mendengarnya. Ia menguping suara tangis Dena dari dalam kamar.


Entah kenapa Dirga merasa cemas, membuatnya langsung masuk kedalam kamar. Melihat Dena yang terduduk menangis meraung.


Dia tidak tahu harus berbuat apa, membuatnya hanya berdiri terpaku dari jauh melihat Dena.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2