
Dena dan Dirga masih saja duduk di trotoar jalan, mereka menunggu Samuel yang disuruh Dirga untuk menjemput mereka. Banyak pasang mata yang menatap mereka berdua, Dirga merasa malu karena ditatap mereka semua bahkan dia sesekali menutupi dirinya di belakang tubuh Dena.
Bisa-bisa kalau orang-orang mengenal dirinya melihat ia seperti ini apa kabar dirinya nanti dimata rekan bisnisnya.
“Bisa kita berdiri saja” bisik nya pada Dena yang tampak santai dan biasa saja.
“Berdiri tinggal berdiri” datar Dena tidak perduli dengan ucapan Dirga dia hanya melihat kearah lain.
Dirga langsung diam mendengar ucapan Dena. Dia berdiri sendiri akhirnya melihat Dena dengan tatapan tidak suka.
“Ini kemana Samue, kenapa dia belum juga datang” gerutu Dirga melihat kanan kiri menunggu Samuel yang belum juga terlihat tanda-tanda kedatangannya.
Saat menggerutu seperti itu, Dirga langsung memegangi kepalanya.
“Ah, kenapa kepalaku malah pusing dan perutku terasa mual lagi” kesalnya dan berjalan agak menjauh dari Dena untuk muntah kembali mengeluarkannya dari dalam perut.
Selesai muntah Dirga langsung berjalan kearah dena yang menatapnya entah seperti apa. Dirga tidak bisa menjelaskan ekspresi Dena saat ini yang menurutnya seperti biasa hanya datar-datar saja.
“Ini semua gara-gara dirimu. Gara-gara kau aku jadi muntah-muntah seperti ini dan kepalaku terasa pusing. Aku heren denganmu, kau anak orang kaya tapi naik angkutan seperti itu tidak masalah” ucap Dirga melupakan kekesalannya pada Dena.
Perempuan itu langsung berdiri menatap Dirga dingin., dia mendekatkan dirinya pada Dirga. Dirga malah merasa terintimidasi dengan tatapan Dena saat ini. Ia berjalan mundur seiring Dena yang berjalan mendekati dirinya.
“Kau mau apa?” ucap Dirga gugup.
Dena hanya diam, ia semakin mendekat kearah Dirga. Tapi saat sampai tepat di depan Dirga
“Itu temanmu bukan” tunjuk Dena pada Pria yang berdiri di luar mobil berwarna biru melihat kearah mereka berdua saat ini.
Dirga langsung berbalik arah melihat dimana Dena menunjuk dan dia mendapati Samuel berdiri di luar mobil yang tidak jauh dibelakang dirinya melambaikan tangan kearahnya saat ini.
Dirga langsung berjalan duluan menuju mobil Samuel.
“Ayo” ucapnya pada Dena saat dia sudah berada didepan perempuan tersebut.
Dena mengikuti langkah Dirga yang menuju ke orang yang katanya adalah teman dari pria itu.
“Kenapa kau lama sekali? aku jadi tontonan orang gara-gara duduk di trotor dengan perempuan menyebalkan” desis Dirga sambil melihat sinis Dena yang sudah berada disebelahnya.
“Memang kau kira aku pengangguran, sehingga bisa kapan saja dan tepat waktu menjemput dirimu” Samuel menatap Dirga kesal yang berjalan masuk ke mobilnya saat ini.
“Kau pasti Dena istri Dirga kan?” tanya Samuel melihat Dena yang mengalihkan pandangannya kearah lain.
__ADS_1
“Kau jawab saja sendiri” ucap Dena datar dan juga langsung masuk kedalam mobil Samuel, dia duduk di kursi belakang.
Samuel merasa tak percaya dengan ucapan dari istri sahabatnya
“Aku yang bertanya, aku yang disuruh menjawab. Orang aneh, kenapa mereka berdua hampir sebelas dua belas? Apa itu yang dinamakan jodoh, memiliki sifat yang sama” gumam Samuel masih tak percaya menatap Dena yang menurutnya hampir mirip dengan Dirga yang semaunya sendiri dan aneh.
“Hei, ngapain kamu malah ngomong sendiri di luar” ucap Dirga keras melihat Samuel malah seperti berbicara sendiri.
“Ayo buruan pulang, badanku mulai terasa tidak enak sekarang” lanjut Dirga mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil untuk berbicara dengan Samuel yang masih berdiri diluar saja.
………………
Daniel masih berada dirumah Kakeknya dia seperti biasa harus mencuri dengar terlebih dahulu di keluarga Papanya ini. Kenapa semakin kesini, semakin penuh misteri di keluarganya saat ini.
Apalagi perkataan kakaknya semakin membuatnya penasaran saja sebenarnya apa yang tidak ia ketahui selama ini.
Pertama Daniel berjlan kearah kamar tamu dirumah kakek dan Neneknya ini tempat dimana Papanya dan istrinya tidur.
Disitu dia tidak mendengar pembicaraan apapun diantara kedua orang tersebut. Malah ia mendengar suara-suara desahan dari dalam kamar, sungguh menjijikkan batin Daniel saat mendengarnya.
“Sudah tua tapi nasfsu semakin tinggi” ucap Daniel sinis dan menjauhkan telinganya dari pintu kamar.
Selanjutnya ia menaiki tangga rumah kakeknya menuju kamar Omnya Jason. Sama seperti tadi dia mendekatkan telingannya ke pintu kamar yang tertutup, tapi tidak ada suara apapun dikamar itu membuat daniel langsung pergi.
Kini tempat terakhir untuk dirinya mencari informasi tinggal kamar kakek dan Neneknya. Ia harap disitu ia akan menemukan sebuah informasi.
Daniel mulai melancar aksinya, dia mendekatkan telinganya lagi kedepan pintu seperti apa yang dia lakukan sebelum-sebelumnya.
Dan dia mendengarnya
“Pa, apa benar ya yang dikatakan Dena tadi. Kalau aku hanya bisa meminta maaf dan menyesal saat aku sudah menyusul Monica” terdengar pilu suara nenek dari Daniel.
“Kamu jangan ngomong begitu, Dena tadi hanya emosi saja.” Ucap sang kakek berusaha menenangkan istrinya yang merasa bersalah sekali.
“Tapi yang di bicarakan Dena memang benar, kita sungguh bersalah dan terlibat dalam kema...” belum juga Daniel mendengarkan lagi ucapan sang Nenek dari arah belakangnya sudah ada seseorang yang memanggil dirinya.
Sehingga membuat Daniel menoleh kebelakang dan buru-buru menjauhkan telinganya dari pintu kamar.
“Iya Tante,” ucap Daniel glagapan saat melihat sang tante yang sudah berdiri didepannya saat ini.
“kamu sedang apa disitu Daniel” heran bianca melihat Daniel yang tampak sedang menguping.
__ADS_1
“I..itu aku sedang melihat kunci pintu kamar kakek apa rusak” ucap daniel beralasan.
“Aku pergi dulu ya tan” ucap daniel langsung pamit pergi dari hadapan sang tante.
Bianca melihat kepergian Daneil dengan aneh, kenapa dengan daniel melihat kunci pintu, Binca merasa semakin heran saja dengan keponakannya yang satu itu.
………………
Mobil Samuel sudah sampai di depan rumah Dirga, tidak menunggu waktu lebih lama lagi.
Dena langsung keluar dari mobil begitu saja, tanpa mengatakan kata-kata apapun mebuat Samuel yang menengok ke kursi belakang hendak mengajak dena bicara langsung spechless dengan sikap Dena tersebut. Dia pria tampan diabaikan oleh seorang perempuan yang baru pertama ia temui dan itu istri dari sahabatnya.
Samuel langsung menatap kearah Daniel saat dena sudah keluar dari mobilnya.
“Heh, itu istri mu? Kenapa bagai patung begitu? Apa dia tidak bisa bicara? Eh dia tadi bicara padaku, dia bisa bicara. Waah memang tuh perempuan, kayaknya memang bener ya dia menyebalkan. Sudah diberi tumpangan tidak tahu rasa terimakasih sama sekali” Samuel mengoceh sendiri dengan sikap dena tadi, ia mengoceh dihadapan Dirga yang melihat sahabatnya itu.
“Benarkan yang aku bilang, dia perempuan dingin tak tahu terima kasih. Matre lagi, dia menikah denganku hanya ingin kejayaan untuk Papanya” jelas Dirga merasa tidak kaget dengan respon sahabatnya kepda strinya. Dia pasti menebak seperti itu, apalagi respon Juna nanti kalau dia bertemu dengan Dena pasti lebih parah dari respon Samuel sekarang.
“Aku turun ya, Kau mau turun juga tidak. Mampir ke rumahku” ajak Dirga melihat kearah sahabatnya itu.
“Ogah ah, sudah dongkol aku dengan istrimu. Kapan-kapan saja aku mampir” ucap Samuel menolak ajakan dirga untuk mampir kerumahnya.
“Kalau begitu terimakasih, sudah menjemput ku” Ucap Dirga langsung keluar dari mobil Samuel.
“Sama-sama, aku pulang dulu” ucap Samuel dan langsung menjalankan mobilnya pergi dari rumah dirga saat ini.
Setelah mobil Samuel pergi dirga langsung berjalan kearah rumahnya tapi dia tampak sempoyongan sekarang. Efek mabuknya tadi kenapa sekarang kembali lagi, membuat dirga terhuyung hampir jatuh.
Tapi, untungnya saja seseorang menahan tangan Dirga agar tidak jatuh ke depan. Membuat dirga langsung melihat kearah orang itu.
“Kak dewa kenapa kau ada di belakangku"ucap Dirga merasa terkejut melihat kakaknya yang ada dibelakangnya saat ini.
"Aku habis pulang dari kantor"
" Kau kenapa?" ucap Dewa melihat Dirga yang tampak tidak sehat.
"Aku tidak pa-pa, terimakasih" ucap Dirga dan langsung pergi meninggalkan sang kakak yang melihatnya.
°°°
T.B.C
__ADS_1