Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
10. Siapa Kau?


__ADS_3

Eryn kembali ke kamarnya lalu duduk di tepi ranjang. Berbagai pemikiran berkecamuk di dalam hatinya. Ia menatap kamar tempatnya tinggal yang baru ia sadari ternyata sangat mirip dengan kamar miliknya dulu. Sungguh Black sudah menyiapkan semua ini untuk Eryn.


"Sebenarnya apa maksudnya mengundangku kemari?" lirih Eryn dengan memegangi kepalanya.


Eryn menatap layar ponselnya yang menghitam. Noah. Eryn ingin mendengar celoteh lucu Noah saat ini. Hanya pria kecil itu yang bisa membuatnya tenang saat ini. Namun hari sudah hampir larut. Pasti putranya itu sudah tidur.


"Tapi tak ada salahnya mencoba." Eryn menekan nomor ponsel Eric. Tersambung dan Eric menjawabnya.


"Halo..."


"Halo, Eric. Kau belum tidur?"


"Belum. Kau sendiri?"


"Aku juga belum. Aku baru saja menata dekorasi. Kau tahu kan, aku lebih suka terjun langsung untuk pekerjaan ini."


"Iya, aku tahu. Bagaimana Brazil? Kau menyukainya?"


"Yeah, begitulah. Oh ya, apa Noah sudah tidur?"


"Iya, dia sudah tidur. Dia tidur di kamar kita?"


"Eh? Apa dia tidak merepotkanmu?"


"Tentu saja tidak. Dia adalah putraku, Eryn."


"Hmm, terima kasih." Mata Eryn menghangat ketika mendengar kalimat terakhir Eric.


"Kau tidurlah. Besok tanggal 30, satu hari lagi tanggal 31. Semoga sukses dengan pekerjaanmu."


"Iya, Eric. Terima kasih. Selamat malam."


"Selamat malam, Eryn."


Panggilan berakhir. Eryn menutup mulutnya. Ia menangis. Untuk kesekian kalinya wanita ini menangis saat berada di tempat ini. Di tempat yang begitu dekat dengan orang yang dicintainya. Berada begitu dekat dengan ayah dari putranya. Namun semua telah berubah. Dan Eryn mulai menyadari itu.


......***......


Black berjalan keluar dari ruang kerjanya diikuti Carlos, si tangan kanan. Matanya tertuju pada sekumpulan orang yang sedang menata tamannya untuk acara ulang tahunnya besok malam.


Black menghentikan langkahnya dan memandangi sekumpulan orang itu. Tidak! Black hanya memandangi satu orang saja. Seorang wanita yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Namun semua itu terkikis oleh ego yang lebih dulu muncul.


"Kau sudah katakan padanya kan, kalau pesta untuk perusahaan akan diadakan di hotel milikku?" tanya Black pada Carlos.


"Sudah, Tuan. Setelah acara di rumah ini, mereka akan mulai menyiapkan pesta di hotel," jawab Carlos.


"Baguslah. Ayo, Carlos." Black tersenyum seringai kemudian melangkah pergi meninggalkan mansion mewahnya.


Sementara, sosok yang sedari tadi diperhatikan oleh Black tidak memperhatikan sekitar. Ia hanya fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


Disisi lain, para kru sedang membicarakan tentang dirinya.


"Santa, apa kau tidak merasakan ada hal yang aneh dengan Mr. Black?" bisik Agli.


"Apa yang aneh?" tanya Santa.


"Kau lihat tadi? Tatapan Mr. Black pada Nyonya Eryn sangatlah berbeda seakan ada sesuatu diantara mereka," lanjut Agli.


Sontak Bernard, Caesar, David, Elbo, Frans dan Gilbert ikut nimbrung pada percakapan bisik-bisik kedua orang tadi. Ke tujuh pria itu ternyata sangat suka bergosip tentang nyonya mereka.


"Sudahlah! Kembali bekerja! Apa kalian tidak lihat Nyonya Eryn melakukan semuanya sendiri? Karyawan macam apa kalian ini?" Santa melerai kawan-kawannya. Dan mereka pun segera melanjutkan pekerjaan mereka.


......***......


Malam hari itu, seperti biasa Eryn memeriksa kembali semua persiapan untuk acara besok malam. Ia tak ingin kliennya kecewa karena sudah membayar mahal dan juga membiayai semua akomodasi selama timnya menginap disini.


Eryn melihat semuanya sudah sempurna. Ia pun bermaksud menelepon putranya.


"Semoga Noah belum tidur," gumamnya lalu mendial nomor Matilda.


Eryn sangat gembira mendengar suara merdu Noah. Ia amat merindukan putranya. Suara pria kecil itu membuat Eryn tetap tersenyum meski hatinya ia menangis.


Eryn menyudahi panggilannya dengan Noah. Ia akan kembali ke kamar namun sayup-sayup ia mendengar suara seseorang di belakang taman mansion.


Karena penasaran, Eryn pun menghampiri sumber suara itu. Eryn hapal suara itu. Itu adalah Black.


Eryn hendak menyapanya, namn yang terjadi adalah ia melihat pemandangan yang tak biasa. Black dengan brutalnya memukuli seseorang hingga orang itu terkapar. Yang membuat Eryn menutup mulutnya adalah ketika dengan santainya Black menembak orang yang sudah terkapar itu hingga tewas.


Sontak Black pun menatap Eryn yang ternyata melihat sisi lain dari dirinya.


"Bereskan dia, Carlos," titah Black dan segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengangkat mayat yang tergeletak tadi.


Eryn masih mematung di tempatnya ketika Black mendekat padanya sambil menghapus noda darah di wajah dan tangannya dengan sapu tangan. Eryn mengatur napasnya.


"Kenapa Nyonya? Hal seperti ini sudah biasa di negara ini. Kau jangan terkejut," ucap Black santai.


Eryn memberanikan diri menatap Black. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Aku? Aku adalah El-Black, Nyonya Evans. Siapa yang tidak mengenalku? Terutama dunia bawah. Mereka semua takut kepadaku."


Mata bulat itu berkaca-kaca. "Kenapa kau harus membunuhnya?" tanya Eryn dengan mata yang penuh dengan air mata.


"Karena mereka adalah pengkhianat. Dan hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat adalah hukuman mati."


Eryn menggeleng pelan. Air matanya telah luruh membasahi pipi mulusnya.


Ada rasa tak biasa ketika Black melihat Eryn menangis. Gadis yang dulu kecil kini telah menjelma menjadi wanita dewasa.


"Ini memang rumahmu dan kau bebas melakukan apa pun, Tuan Black. Maaf sudah mengganggu kegiatan Anda." Eryn segera berlalu dengan berjalan cepat.

__ADS_1


Tiba di kamarnya, Eryn langsung merebahkan diri dan menangis disana. Hancur sudah hatinya melihat pria yang dulu penuh cinta berubah menjadi seperti monster.


Hingga akhirnya Eryn lelah dan terlelap dengan air mata yang mulai mengering.


.


.


.


Black membersihkan diri usai kejadian yang membuat hatinya sesak. Ya, melihat Eryn menangis membuatnya merasa menjadi pria yang jahat. Meski pada kenyataannya dirinya kini telah menjadi seorang penjahat.


Tak ingin terus merasa bersalah pada Eryn, Black pun bertandang ke kamar Eryn secara rahasia. Ia melihat wanita itu telah terlelap dengan masih sesenggukan.


Black duduk di tepi ranjang dan menatap lekat wajah cantik itu. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Eryn dan membelainya lembut.


Raut wajah Black berubah sendu ketika mendengar rintihan dari bibir Eryn.


"Apa dia mimpi buruk?" Black melihat pelipis Eryn yang berkeringat. Ia segera menghapusnya dengan sapu tangan miliknya.


"Tidak! Jangan pergi, El..." gumam Eryn lirih.


Black bisa melihat jika wanita ini telah melewati hal buruk. Ia pun ikut merebahkan diri dan memeluk Eryn erat berharap wanita itu berhenti meracau dalam tidurnya.


Tak lama setelah Black memeluknya, Eryn mulai tenang dan napasnya mulai teratur. Black mengecup kening Eryn lama dan dalam.


"Tidurlah! Aku disini. Aku disini, Ryn. Aku tidak akan meninggalkanmu."


Kemudian Black pun lupa jika dirinya harusnya kembali ke kamarnya. Ia malah terlelap bersama Eryn dan masih memeluknya.


Sementara di dalam kamar Black, Rose menunggu kedatangan pria itu. Sudah satu jam berlalu dan Black belum datang. Rose mulai gelisah. Ia pun keluar kamar dan mencari keberadaan Black.


Rose bertemu Carlos yang akan menuju kamarnya.


"Nona Rose, apa yang Nona lakukan disini?"


"Ah, tidak ada. Hmm, Carlos, apa kau melihat El? Dia belum kembali ke kamarnya. Apa dia masih ada pekerjaan?"


"Setahuku tidak ada, Nona. Tuan Black sudah menyelesaikan pekerjaannya sedari tadi. Kalau begitu aku permisi dulu, Nona."


"Ah, iya. Terima kasih, Carlos."


Rose melangkahkan kakinya hingga ia tiba di depan kamar Eryn.


"Apa kau ada di dalam, El?"


Rose memandangi pintu kamar Eryn dengan sendu.


...B e r s a m b u n g...

__ADS_1


*Hmm, kira2 mas Black jadi balas dendam gak ya?


__ADS_2