
Saat ini Red tengah menyaksikan pertunjukkan dari Ilena dan keempat temannya. Seperti biasa Ilena tampil memukau para penggemarnya. Bahkan popularitas yang didapatkan Blondy kini beralih kepadanya.
Ilena benar-benar menjelma menjadi gadis yang menakjubkan. Red bisa melihat itu. sedari tadi mata Red tak lepas dari sosok Ilena yang sedang meliukkan tubuhnya diatas panggung. Dua pria kini sedang menatap Ilena. Lalu ditambah satu pria lagi yang juga ikut menatap Ilena. Dia adalah White yang memang sangat penasaran dengan sosok Ilena.
White memperhatikan Red yang sedari tadi terus tertuju pada Ilena tanpa berkedip. Bahkan dulu Red tidak pernah melihat gadis lain selain Selena. Namun kini tampaknya semua benar berbeda. Ada sesuatu dalam diri Ilena yang membuat Red mendekat.
Semua yang dipikirkan White tak ubahnya hanya isapan jempol belaka. Karena sebenarnya pikiran Red sedang berkelana entah kemana. Dengan memandangi Ilena hanya ingin mengalihkan perhatian jika semua yang dia dapatkan adalah salah.
*
*
*
-Flashback-
Setelah Red menerima amplop dan membaca berkas yang ada didalamnya, Red masih agak ragu dengan apa yang dilihat dan dibacanya. Jelas-jelas foto yang terpampang disana adalah gadis yang saat ini menjadi pemicu persaingannya dengan Blue. Gadis yang memberikan sebuah getaran berbeda ketika Red menatap mata teduhnya. Dan ia merasa tidak asing dengan tatapan itu.
"Dia...?"
Red menggeleng pelan. Bagaimana bisa putri dokter Lorna kini ada di klub miliknya dan bekerja untuknya? Gadis yang berani mata setajam elang miliknya. Gadis yang membuatnya candu dengan hanya berciuman dengannya. Tidak mungkin dia adalah musuh yang selama ini Red cari.
Red meraih ponselnya dan menghubungi orang suruhannya tadi. Red benar-benar harus memastikan jika gadis yang ada di foto ini memang benar Babydoll atau Ilena Adams.
Tak lama terdengar jawaban dari arah seberang.
"Halo, Tuan Red. Ada apa?"
"Apa ini, Max? kau yakin tidak memberikan data yang salah padaku?" Tanya Red yang berusaha tetap tenang.
"Benar, Tuan. Gadis yang sedang Tuan cari kini ada di klub milik Tuan. Aku tidak mungkin salah. Jika Tuan masih ingin membuktikannya, maka coba saja cek di panti asuhan tempat dia tinggal selama ini. dan tanyakan apakah ada anak yang bernama Ilena Adams tinggal disana atau tidak."
"Ya sudah. Aku percaya padamu. Terima kasih atas kerja kerasmu, Max."
Red memutus sambungan telepon. Mengusap wajahnya kasar. Ia berpikir sejenak untuk menjernihkan pikirannya.
"Dendam adalah dendam, Red. Tak peduli seberapa dia berarti untuk hidupmu. Dendam harus tetap terbalas." Sebuah suara membisikkan semangat dendam pada Red.
Pria itu sempat terdiam beberapa saat. Ia juga memikirkan bagaimana bisa Selena menutupi ini semua darinya. Dan juga tega sekali mereka menempatkan Ilena di panti asuhan. Ada sedikit rasa iba dalam diri Red. Mengingat pastinya Ilena mengalami banyak kemalangan dan penderitaan selama hidupnya. Bahkan kini ia harus menjadi penebus hutang untuk hal yang tidak dilakukannya.
Jika sudah begini, akankah dendam akan tetap berlanjut?
*
*
*
Pertunjukkan Ilena dan kawan-kawan telah usai. Mereka memberi hormat pada seluruh tepukan tangan meriah yang ditujukan untuk mereka. sejak Ilena hadir mengisi kekosongan formasi penari, kini klub Red Devil semakin ramai dikunjungi oleh banyak orang berduit dan juga berkuasa.
Mata Red yang terus tertuju pada Ilena, begitu juga dengan gadis itu. Ilena sudah rindu dengan sentuhan yang diberikan Red padanya. Ilena seakan memberikan kode khusus untuk Red agar menemuinya lagi di lorong gelap itu. akankah Red menemui Ilena disana?
Blue langsung menyambut Ilena yang turun dari panggung. Ia memberikan sebuah buket bunga untuk Ilena. Gadis itu tersenyum lalu menerima buket bunga itu.
"Terima kasih, Blue." Ilena melingkarkan tangannya ke lengan Blue. Mereka berjalan ke meja VIP milik Blue.
Kini Ilena sudah pintar memainkan perannya. Sebenarnya ia tak ingin besar kepala. Tapi diperebutkan oleh Blue dan Red tentu saja menjadi hal istimewa baginya.
Blondy yang melihat kedekatan Ilena dan Blue masih merasakan sedikit kekecewaan. Padahal dulu Blue tidak pernah berlabuh hanya pada satu wanita saja. Tapi sekarang, Blue hanya ingin bersama dengan Ilena, dan hanya dia saja.
__ADS_1
"Sudahlah, Kak. Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan karena selama ini dia menderita. Tinggal di panti asuhan dan menjadi penebus hutang. Sekarang saatnya Baby merasakan dicintai oleh banyak orang." Sweety berusaha menghibur Blondy.
Blondy mengangguk kemudian berjalan menuju klien yang sudah memesannya.
#
#
#
Red merasa jengah karena melihat kemesraan yang ditunjukkan Blue bersama Ilena di depannya. Entah siapa yang sengaja melakukannya, namun terlihat jelas jika Blue menunjukkan kemenangannya atas Ilena.
Red beranjak dari klub dan menuju ruang kerjanya. Ponselnya berdering dan tertera nama Selena disana. Tunangannya itu pasti meminta bertemu. Dengan malas Red harus datang ke tempat Selena.
Red berpesan pada Grey jika dirinya akan keluar menemui Selena. Grey mengangguk paham. Beberapa kali Selena datang ketika Red sedang tak ada ditempat. Dan sesuai dengan instruksi Red, Grey hanyamengatakan jika Red sedang mengurus bisnisnya di luar negeri.
Red mengendarai mobilnya menuju apartemen Selena. Malam ini Selena menyiapkan sesuatu yang khusus untuk Red. Ia berharap jika kali ini rencananya berhasil untuk menjerat Red.
Beberapa menit berlalu dan tibalah Red di apartemen mewah milik Selena. Gadis cantik itu langsung menyambut Red dengan sebuah pelukan hangat.
"Hai, sayang. Lama sekali tidak berjumpa denganmu," ucap Selena sensual. Ia sengaja membangkitkan gairah Red.
Red memilih untuk merebahkan diri di sofa. Selena tak memiliki pilihan lain selain mengikuti Red. Ia masih bisa bersabar karena ia harus bisa menjerat Red dengannya.
"Mau minum apa? Anggur?" tawar Selena.
"Aku sudah minum tadi di klub. Bawakan saja air putih untukku," balas Red.
Meski sedikit kesal, Selena tetap mengulas senyumnya.
"Ini, Red! Minumlah!"
"Jadi ... pekerjaan apa yang kau lakukan di luar negeri?" selidik Selena.
"Pekerjaan biasa. Kau tidak akan tertarik," jawab Red datar.
Selena menggeram kesal namun tak ia nampakkan. "Kau bisa cerita denganku Red. Bukankah selama ini kita selalu berbagi?" Selena menyandarkan kepalanya di bahu Red. Ia memeluk Red dari samping.
"Red, aku merindukanmu..." Selena mengusap lembut dada bidang Red yang masih tertutup jas dan kemeja.
Red menyeringai. Kakak dan adik sama saja. Begitulah pikir Red.
Tanpa pikir panjang, Red menatap Selena yang seakan haus kasih sayang dan belaian. Ia langsung menarik tengkuk Selena dan mendaratkan sebuah ciuman panas pada gadis itu.
Sebuah desaahan kecil mulai terdengar dari bibir Selena. Gadis itu tak ingin menyia-nyiakan situasi yang telah tercipta. Ia membalas setiap lumaatan Red dengan tak kalah panas. Ia berusaha melepas jas yang melekat di tubuh pria itu.
Red hanya menurut ketika Selena membawanya ke dalam kamarnya.
"Red, bisakah kita...?" pinta Selena dengan mata yang mengabut.
"Tidak, Selena. Sudah kubilang kan kalau..."
Selena tak ingin Red banyak bicara. Ia segera membungkam bibir Red dan mengarahkan tangan pria itu untuk menyentuh aset-aset miliknya.
"Ayolah, Red! Kau harus jadi milikku!" batin Selena dengan makin memperdalam ciumannya.
Selena menjatuhkan tubuh Red diatas ranjangnya lalu dirinya berada diatas tubuh Red. Sepertinya Selena memegang kendali penuh atas Red. Selena membuka dress seksinya hingga menyisakan penutup bagian atas dan bawah saja.
Selena membuka satu persatu kancing kemeja milik Red dan mengusap dada liat pria itu dengan gerakan sensual.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku yang memimpin, Red?" bisik selena di telinga Red.
Tingkat kewarasan Red mulai hilang. Ia mulai menyukai permainan Selena. Namun ketika sebuah bayangan hadir, Red segera mendorong tubuh Selena menjauh.
"Tidak, Selena! Aku tidak bisa!" tegas Red.
"Apa?! Kita sudah bertunangan, Red. Apa salahnya jika melakukan itu?" Selena nampak geram dengan sikap Red yang selalu menolaknya.
"Aku baru ingat jika aku ada pekerjaan. Kalau begitu aku permisi dulu."
Red memasang kembali kancing kemejanya dan merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah Selena. Red segera keluar kamar dan mengambil jasnya yang tertinggal di sofa.
Selena menggeram kesal dan berteriak. "Awas saja kau, Red! Kau selalu saja menolakku. Akan kupastikan kau tidak akan pernah bisa menemukan gadis masa lalumu itu!"
Red kembali melajukan mobilnya menuju klub miliknya. Di tengah perjalanan menuju kesana, Red mendapat panggilan dari rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Yoona, adiknya.
"Halo, ada apa lagi Yoona?" Tanya Red malas. Saat ini ia sedang tidak ingin diganggu siapapun.
"Kak, cepatlah pulang!" suara Yoona terdengar panic.
"Yoona, apa yang terjadi?"
"Daddy, Kak. Daddy...?"
"Ada apa dengan Daddy?!" Red mulai panic karena mendengar tentang Eldric.
"Penyakit Daddy kambuh dan..."
Red tak bisa lagi mendengar kata-kata Yoona. Ia segera tancap gas menuju mansion miliknya.
*
*
*
"Tidak ada lagi yang tersisa dari semua kesakitan ini. Tuhan telah mengambil semuanya dari kami. Tidak kebahagiaan, tidak juga sebuah senyuman. Kami hanya anak manusia yang bisa merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan. Sakit karena kehilangan orang yang dicinta. Namun bahagia karena orang yang kita cintai tidak lagi merasakan sebuah penderitaan."
Beberapa orang menyalami Red dan mengucap bela sungkawa padanya. Di sini, di tanah makam yang dingin ini, seorang anak manusia kembali kehadapan Tuhannya. Sudah tak terdengar suara isak tangis disana. Hanya kesunyian yang menemani.
White menepuk pelan bahu Red seraya memberinya sebuah kekuatan. Red menjawab dengan sebuah anggukan. Kini tinggal Red, Blue dan Yoona disana. Mereka masih berdiri di depan seonggok tanah makam baru.
Duka kembali menyapa keluarga Albana. Orang yang selalu dibanggakan oleh Red kini telah tiada. Orang yang begitu berkuasa di masanya, kini tinggal kenangan saja. Sosok ayah yang memang tidak terlalu dia kenal karena berpisah selama bertahun-tahun. Namun semua itu tetap membekas dihati. Karena Eldric adalah pria yang baik.
Selena menghampiri Red dan mengusap punggungnya. "Red, aku turut berduka ya. Sebaiknya ayo kita pulang! Kau harus beristirahat." Selena bersikap sebaik mungkin pada Red.
Yoona menatap tak suka pada Selena. Sejak awal Yoona menaruh curiga pada Selena. Tapi kakaknya tidak pernah mempermasalahkan karena rasa cinta yang begitu mendominasi.
Tak jua mendapat jawaban dari Red, Selena pergi meninggalkan area makam bersama ibunya. "Susah sekali untuk membujuknya!" sungut Selena.
"Sabar, Selena. Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah. Tunggulah hingga waktu itu tiba," nasihat Sorena.
Selena memutar bola matanya malas. Ia mengajak Sorena agar lebih cepat menuju ke mobil.
Sepeninggal Selena, Red masih berdiri disana. Ia mempertajam sorot matanya dengan tangan yang terkepal.
"Semua ini terjadi karena ulahmu, Ilena! Karena ibumu hidup kami jadi menderita. Ayahku menderita. Sekarang, kau juga harus merasakan penderitaan yang tidak akan pernah engkau lupakan!" batin Red.
#bersambung
__ADS_1