
Terkadang apa yang kau rasakan dalam hatimu, hanya bisa kau raba dengan hati juga. Merasakan sebuah kehangatan yang selalu di tutupi. Itulah yang Eryn rasakan saat ini. Pria yang selalu menatapnya dengan kebencian dan dendam, kini memberikan sebuah perhatian padanya. Ada secercah harapan dalam hati Eryn. Dia sudah kehilangan segalanya. Setidaknya kini ia memiliki satu orang yang peduli padanya.
Black beranjak dari duduknya dan menghempaskan kain kompres yang dipegangnya.
"Lain kali jangan merepotkan lagi! Pakailah kain kompres itu agar demammu cepat turun!" ketus Black.
"Maaf jika aku merepotkan. Besok aku pasti akan pergi dari sini. Jadi, kau jangan khawatir, Tuan." Eryn menjawab dengan menunduk. Ia merasa sedih karena Black masih saja bersikap dingin padanya.
Black keluar dari kamar Eryn. Sementara Eryn menghela napasnya.
"Sampai kapan kau akan terus bersikap begini, El? Mungkin aku memang tidak akan pernah bisa menggapaimu lagi," lirih Eryn kemudian kembali memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Eryn yang merasa sudah baikan, segera keluar dari kamar dan berpamitan pada Rose. Ia berterimakasih pada Rose karena sudah menolongnya.
"Kau tinggal dimana sekarang? Biar aku antarkan kau pulang," ucap Rose.
Eryn menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Sekali lagi terima kasih."
Eryn berjalan cepat keluar dari mansion besar itu. Ia tak ingin bertemu dengan Black setelah kejadian semalam.
Eryn menghubungi Santa dan meminta maaf karena semalam ia tidak pulang. Saat ini ia akan kembali mencari keberadaan Noah.
...🍀🍀🍀...
Eric akhirnya terbebas dari tuduhan meski ia harus kehilangan cabang perusahaan yang ada di Kolombia. Black membebaskan segala tuntutan yang menjerat Eric. Tujuannya memang hanya satu. Membuat Eric dan Eryn berpisah, dan kini Black telah berhasil.
Ditambah lagi dengan fakta jika Eric telah mengkhianati pernikahannya dengan Eryn. Sebenarnya Black ingin memberi Eric pelajaran soal itu, tapi itu sudah tidak penting lagi, menurutnya.
Black masih membuntuti Eryn yang terus mencari keberadaan putranya. Ia melihat Eryn bertanya pada setiap orang yang ditemuinya.
"Dasar bodoh! Kenapa tidak lapor polisi saja! Dari pada dia harus mencari sepanjang hari seperti itu!" gerutu Black.
Claude, si supir hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Black yang berpura-pura tak peduli.
"Apa kita akan seharian lagi mengikuti nona Eryn, Tuan?" tanya Claude.
Black berpikir sejenak. Ia bingung untuk memilih keputusannya.
"Tuan sudah meninggalkan beberapa rapat penting sejak kemarin," sahut Claude lagi.
"Ada Carlos yang menggantikanku. Kau tidak perlu ikut campur," ketus Black.
"Maaf, Tuan."
Karena kesal melihat Eryn yang bertanya kesana kemari, akhirnya Black turun dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. Ia menarik tangan Eryn dan membawanya menuju mobilnya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" berontak Eryn. Namun Black mencengkeram tangannya erat.
"Masuk!" perintah Black.
"Tidak mau! Kenapa aku harus masuk?" tolak Eryn.
Black mendorong tubuh Eryn masuk ke dalam mobilnya kemudian ia juga masuk.
"Kau! Kau mau bawa aku kemana?" teriak Eryn.
"Jalan, Claude! Kita ke kantor polisi!" titah Black.
__ADS_1
Eryn mengerutkan keningnya. "Untuk apa kau membawaku ke kantor polisi?"
"Tentu saja untuk mencari anakmu!" balas Black.
"Aku tidak percaya pada mereka. Lebih baik aku sendiri yang mencarinya!" Eryn memalingkan wajahnya.
"Baiklah! Bawa aku ke markas, Claude!"
"Eh?" Eryn menoleh pada Black dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa? Kau bilang kau tidak percaya pada polisi, kalau begitu biar anak buahku saja yang mencari anakmu."
Eryn terdiam. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Apakah Black memang peduli padanya dan Noah? Apakah ia mulai menyadari jika Noah adalah anaknya?
...🍀🍀🍀...
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah gudang besar yang digunakan sebagai markas mafia milik Black. Eryn turun dari mobil dan mengikuti langkah Black.
"Tuan Black!" Beberapa orang memberi hormat pada Black.
"Aku punya tugas baru untuk kalian." Black menyerahkan foto Noah pada seorang anak buahnya.
"Kalian cari dan temukan anak itu. Anak itu terakhir terlihat di pinggiran barat kota Meksiko," ucap Black.
"Baik, Tuan!"
Eryn melihat sekeliling tempat itu. Beberapa orang ada yang sedang mengemas n4rk0ba, dan beberapa orang sedang merakit senjata api. Eryn menelan ludahnya melihat pemandangan itu.
"Jadi, ini yang dia lakukan? Pantas saja dia begitu berkuasa," batin Eryn.
Eryn berjingkat kaget karena tangannya di genggam oleh Black.
Eryn mengangguk. Ia menatap tangannya yang digenggam oleh Black.
"El, apa kau sudah kembali?" batin Eryn terharu.
.
.
.
Black mengantarkan Eryn ke rumah Santa. Namun tidak hanya mengantar, bahkan Black ikut turun dan masuk ke dalam rumah kecil itu.
"Tuan, kenapa kau ikut masuk kedalam rumah?" tanya Eryn.
"Cepat kemasi barang-barangmu! Aku tidak suka berada di tempat kumuh seperti ini!" Black mengibaskan tangannya di depan hidung.
"Tuan, aku tinggal disini. Sebaiknya sekarang kau keluar!" Eryn mendorong tubuh Black agar keluar dari rumah Santa.
"Yang benar saja! Ini bukan rumah! Temanmu itu harusnya membeli rumah yang lebih layak!"
"Apa katamu?!" Tiba-tiba Santa datang. Ia baru pulang dari tempatnya bekerja.
"Santa? Jangan dengarkan dia! Aku akan memintanya pergi dari sini!" Eryn mendorong tubuh Black untuk keluar dari rumah.
"Tuan, kumohon pergilah! Terima kasih karena kau sudah membantuku hari ini." Eryn mengatupkan kedua tangannya kemudian berbalik.
__ADS_1
"Tinggallah bersamaku!" ucap Black spontan.
Eryn kembali membalikkan badan dan menatap Black.
"Terima kasih, tapi aku tidak bisa." Eryn sedikit membungkukkan badannya kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Black yang masih diam mematung.
Malam ini, Eryn belum bisa memejamkan matanya. Sedari tadi ia membolak-balikkan tubuhnya namun kantuk tak juga datang.
Ia mengingat kembali permintaan Black tadi.
"Apa kau memang Eldric yang kukenal? Entahlah. Aku merasa kau bukanlah Eldric yang kukenal dulu."
Lama Eryn berkutat dengan pikirannya hingga akhirnya ia pun terlelap di hari yang sudah menjelang pagi.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Eryn terlambat bangun hari ini karena semalaman ia memikirkan tentang Black. Telinganya mendengar sayup-sayup orang yang sedang berdebat.
Eryn bangun dari tempat tidurnya dan mendapati Santa sedang bicara dengan seseorang.
"Hah?! Kau! Apa yang kau lakukan disini?" tunjuk Eryn pada orang itu.
"Nyonya, sebaiknya kau ikuti saja keinginannya. Aku tidak mau rumahku ini dihancurkan gara-gara dia!" tunjuk Santa pada pria yang tak lain adalah Black.
"Tuan, apalagi yang kau inginkan?" tanya Eryn pasrah.
"Ikut denganku dan aku akan melepaskan temanmu ini! Lalu aku juga akan memberikan pekerjaan yang layak padanya," ucap Black dengan angkuhnya.
"Hah?! Benarkah, Tuan?" Santa begitu antusias dengan tawaran Black.
"Tentu saja! Carlos akan mengurusnya."
"Tuan Carlos?" Mata Santa langsung berbinar senang ketika mendengar tentang pria tangan kanan Black itu. Pasalnya sejak di Brasil dulu, Santa memang sudah menaruh hati pada Carlos.
Dengan berat hati Eryn menerima tawaran Black karena Santa terus memohon padanya.
...🍀🍀🍀...
Di tempat berbeda, pesta pernikahan Eric dan Lolita akan segera dilangsungkan. Senyum merekah selalu mengembang di bibir Lolita. Berbeda dengan Eric yang merasa terpaksa dengan pernikahan ini.
Eric kembali mengucap janji suci bersama Lolita. Semua orang bertepuk tangan ketika pernikahan telah selesai digelar.
Tak ada pesta mewah. Hanya pesta sederhana dan Eleanor hanya mengundang kerabat dekatnya saja.
Pesta telah usai dan Eric kembali ke kamar bersama Lolita. Tak ada malam pertama karena Eric langsung meninggalkan Lolita untuk urusan pekerjaan.
Eric menemui anak buahnya yang telah lama tidak ia temui.
"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan datanya?" tanya Eric.
"Sudah, Tuan. Tapi masih ada sebagian yang belum kusalin."
"Bagus. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Enrique." Eric tersenyum puas sambil memegang sebuah disket data di tangannya.
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...
*Hayoo, adakah yg masih ingat dengan Enrique? Siapa yah dia? 😁😁