Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
41. Forget You, Remember Love


__ADS_3

...Akan ada masanya ketika hati tak lagi berlabuh...


...Akan ada masanya ketika ingatan tak lagi menyertai...


...Namun ingatlah, akan selalu ada cinta yang akan kita kenang...


...🌷🌷🌷...


Eryn masih tak sadarkan diri karena terlalu keras mengingat memori masa lalunya. Matilda memanggil seorang dokter untuk memeriksa kondisi Eryn.


Setelah dipastikan Eryn baik-baik saja, dokter itu segera berpamitan. Matilda menatap wajah Eryn yang pucat.


"Bibi tidak menyangka jika ternyata Tuan Eldric masih hidup," batin Matilda. Ada secercah harapan ketika melihat Eldric yang ternyata masih hidup.


Eryn mulai membuka matanya. Bayangan akan peristiwa di pasar tadi mulai menghantui dirinya.


"Bibi..." lirih Eryn.


"Hah? Nona? Nona sudah bangun?" Matilda membantu Eryn untuk duduk.


"Nona baik-baik saja? Tadi Bibi memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nona."


"Bibi... Apa bibi tahu soal kalung yang ada di foto itu?" tunjuk Eryn pada fotonya bersama Eric.


Matilda bingung harus menjawab apa.


"Katakan yang sebenarnya, Bi. Bibi pasti tahu kan soal kalung itu?" desak Eryn.


"Kalung itu memang selalu Nona pakai. Mungkin sudah sekitar enam tahun Nona memakainya."


"Enam tahun? Lalu dimana kalung itu sekarang?"


"Bibi tidak tahu. Mungkin hilang saat Nona berada di rumah sakit kemarin."


Eryn menghela napasnya. Bayangan pria yang ditemuinya di pasar tadi kembali menyeruak.


"Apa aku mengenal pria itu? Sepertinya dia memang tidak asing. Tapi siapa dia?" batin Eryn.


Sementara itu, Black menyesap rokoknya perlahan dan mengepulkan asapnya ke udara. Saat ini ia sedang menatap pekatnya langit malam dari balkon kamar hotel.


"Sejak kapan kau merokok? Seperti bukan dirimu saja," ucap Rose yang ikut bergabung dengan Black.


"Kau belum tidur, Rose?"


"Belum. Kau sendiri?"


"Aku harus bagaimana, Rose?"


"Apa ini? Seperti bukan Black yang kukenal saja! Yang kutahu seorang Black tidak kenal kata menyerah. Dulu dia berjuang untuk bisa menguasai wilayah Latin. Jadi, sekarangpun kau jangan pernah menyerah. Karena aku akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Rose. Apa kau punya rencana?"


Rose mengangguk. "Agak sedikit beresiko, tapi kurasa ini bagus."


"Apa itu?" tanya Black antusias.


"Aku akan menyamar dan masuk kedalam rumah itu."


"Apa?! Tidak, Rose. Itu terlalu berbahaya. Bagaimana jika Eric mengenalimu?"


"Kita akan melakukannya secara diam-diam, Black. Kau tenang saja! Aku akan menghubungi bibi Matilda agar semuanya lancar."


"Rose..."


"Bukankah sudah kubilang aku akan membawanya kembali pulang kepadamu, Black."


"Terima kasih, Rose." Black memeluk tubuh Rose. Entah kenapa ada rasa yang berbeda ketika memeluk Rose. Seakan merasakan pelukan seorang saudari yang telah lama hilang.


...🌷🌷🌷...


Tiba di Sao Paulo, Eric langsung mengecek semua rekaman kamera pengawas. Eric menggeram kesal karena melihat dua orang menyusup masuk ke dalam perusahaannya.


Eric memarahi para penjaga. Ini adalah hari libur dan dia harus disibukkan dengan urusan penyusup.

__ADS_1


"Siapa orang-orang ini? Untuk apa mereka menyusup kemari?" tanya Eric.


"Sepertinya mereka hanya penjahat kecil, Tuan. Mereka hanya mencuri dua perangkat komputer," terang si penjaga.


"Bodoh! Jika hanya begitu untuk apa kalian sampai meneleponku dan membuatku datang kemari?" marah Eric.


"Maaf, Tuan. Saat itu kami panik. Kami pikir ada data penting yang di curi."


"Dimana Enrique? Kenapa kalian tidak menghubunginya saja?"


"Tuan Enrique tidak menjawab panggilan kami, Tuan."


"Ya sudah! Kembali bekerja! Aku akan kembali lagi besok." Eric segera meninggalkan para penjaga dengan hati yang kesal. Hari liburan yang ingin ia habiskan bersama Eryn kini pupus sudah.


Di tempat berbeda, Bernard dan Elbo tertawa terbahak karena aksinya telah berhasil. Meski hampir saja tertangkap, namun dengan cepat Santa mengalihkan perhatian para penjaga.


Carlos memberi acungan jempol atas tugas yang berhasil mereka lakukan.


"Kudengar Eric langsung terbang kemari begitu tahu kantornya di bobol," ucap Carlos.


"Tapi, Black masih belum berhasil membawa Eryn pulang," lanjutnya.


"Apa yang terjadi? Seharusnya semua rencana berjalan dengan mulus kan?" tanya Bernard.


Carlos menggeleng. "Eryn mengalami amnesia. Dia tidak mengingat Black."


"Hah?! Lalu bagaimana? Kenapa nona Eryn sampai mengalami amnesia?" Santa ikut bersedih mendengar kondisi Eryn.


"Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi yang jelas, Black akan berusaha untuk mengembalikan ingatan Eryn," imbuh Carlos.


Semua orang saling pandang. Wajah mereka terlihat sedih dan kecewa.


...🌷🌷🌷...


Eryn bangun di pagi hari dan mengerjapkan matanya. Ia merasa jika dirinya memiliki ingatan memori tentang pria yang di temuinya kemarin. Tapi ia masih tidak ingat siapa pria itu.


Air matanya tiba-tiba menetes ketika mengingat tentang kenangan itu. Ia memegangi dadanya.


Eryn menggeledah seluruh kamarnya dan mencoba mencari kalung miliknya. Ia yakin jika kalung itu adalah sebuah petunjuk untuk mengingat masa lalunya.


"Nona! Apa yang nona lakukan?" tanya Matilda ketika melihat Eryn yang begitu menggebu mencari kalungnya.


"Dimana kalungku, Bi?" tanya Eryn dengan putus asa.


"Nona... Tolong jangan begini!"


"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi denganku? Semua ini, rumah ini! Rumah ini bukan rumahku kan? Aku tidak merasa kenal dengan rumah ini! Katakan padaku, Bi!"


Tak mendapat jawaban dari Matilda, Eryn segera keluar dari rumah itu. Ia membawa sebuah pistol yang ia dapat dari laci meja milik Eric. Ia mengancam penjaga agar bisa keluar dari rumah itu.


Setelah berhasil keluar, Eryn menuju ke pasar. Tempat dimana ia bertemu dengan Black kemarin. Ia berharap jika pria itu masih ada disana.


Eryn berjalan kesana kemari mencari keberadaan Black. Tubuh lelahnya tidak ia hiraukan.


"Kau mencarinya?" Sebuah suara membuat Eryn sadar. Ia menoleh.


"Kau? Kau bersama dengannya kemarin?" tanya Eryn.


"Ya begitulah. Aku juga tahu tentang kalian." Itu adalah Rose yang mendapat telepon dari Matilda dan langsung menyusul Eryn.


"Siapa dia? Siapa pria itu?" Eryn memegangi kedua bahu Rose.


"Kau sendiri yang harus mengingatnya."


"Aku merasa sesak! Hatiku ... begitu sakit saat mengingatnya. Siapa dia sebenarnya?"


"Aku akan membantumu mengingat masa lalumu. Tapi... Kau juga harus membantuku."


"Apa yang bisa kulakukan?"


"Aku harus masuk kedalam rumah itu sebagai terapismu."


"Hah?!"

__ADS_1


"Kau tahu kan, Eric tidak akan membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah itu. Kecuali kau yang memaksa."


"Kau mengenal Eric?"


"Ya, begitulah. Dia tidak sebaik yang kau pikir. Kau harus hati-hati dengannya."


"Baiklah. Kau akan menjadi terapisku. Aku akan meminta izin pada Eric."


Rose tersenyum dan mengulurkan tangannya. Eryn menyambutnya.


"Namaku Rosalinda, panggil saja Linda."


.


.


.


Terkadang, aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Ingin mencari tahu soal masa lalu? Apakah itu penting?


Bukankah kita hidup untuk masa depan? Lalu kenapa aku mencari masa lalu?


Aku memang tidak mengingat tentangmu. Hanya saja ... sebuah debaran hati menuntunku untuk mencarimu.


Mungkin aku tidak bisa mengingatmu. Namun cinta, aku masih bisa mengingatnya.


Ya, mungkin saja aku mencintaimu. Itulah yang menghubungkan antara aku dan dirimu...


.


.


.


"Eric, aku ingin memakai jasa terapis. Aku ingin segera pulih."


Eryn menghubungi Eric melalui panggilan video.


"Hmm, aku tidak yakin, Eryn. Tapi..."


"Kumohon, Eric. Dia orang yang baik. Dan aku rasa dia bisa menjadi temanku."


Eryn terus memohon.


"Oke! Kau sudah bertemu dengan orangnya?"


"Dia ada disini."


Eryn memanggil Rose yang kini sudah mengubah penampilannya. Memakai rambut palsu dan juga kacamata.


"Halo, Tuan. Namaku Linda. Aku akan menjadi terapis nona Eryn."


Eric memperhatikan sekilas penampilan Linda.


"Kau sudah berpengalaman?"


"Tentu saja, Tuan. Aku punya semua sertifikat sebagai seorang terapis"


"Ayolah, Eric. Tolong kabulkan!"


Eric nampak berpikir sejenak. Eryn ingin segera pulih, namun jika Eryn pulih, maka Eric pasti kehilangan Eryn lagi. Tapi untuk saat ini, penting rasanya untuk menjaga emosi Eryn agar tidak lari darinya.


"Baiklah. Kau boleh memakai jasa... Siapa tadi namanya?"


"Linda, Eric."


"Oke, bye!" Eric mematikan panggilan video.


Eryn tersenyum lega. Ia melirik Rose.


"Linda, sekarang ceritakan tentang masa laluku!"


"Astaga! Kau sangat tidak sabaran!" Rose menggeleng pelan.

__ADS_1


#tobecontinued


__ADS_2