Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
101. Antara Hidup dan Mati


__ADS_3

Bogota, Kolombia


Beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian sadis yang terjadi di rumah keluarga Evans, kini Eryn dan Eldric memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.


Mereka ingin hidup tenang bersama dengan anak-anak mereka. Usia kandungan Eryn sudah menginjak 9 bulan. Sudah hampir waktunya melahirkan.


Pagi itu, Eldric sedang bermain dengan kedua putranya. Noah dan Rue. Rue adalah putra dari Santoz. Mereka memutuskan untuk merawat Rue karena bocah itu tak memiliki siapapun lagi. Bocah yang kini berusia dua tahun itu, hidup bahagia ditengah keluarga kecil Eryn dan Eldric.


"El!" Suara teriakan Eryn membuat Eldric berhenti bermain bola dan menghampiri istrinya.


"Ada apa, sayang?" tanya Eldric panik melihat Eryn kesakitan.


"El, cepat kita ke rumah sakit. Sepertinya aku akan melahirkan," ucap Eryn dengan wajah yang kesakitan.


"Oke! Baiklah. Ayo cepat!" Eldric memapah tubuh Eryn dan membawanya keluar rumah. Ia meminta supir untuk menyiapkan mobil.


Noah dan Rue kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


"Daddy, Mommy kenapa?" tanya Noah.


"Mommy akan melahirkan. Dengar, kau tunggu disini dan jaga adikmu, ya? Kau bisa kan?"


Noah mengangguk mantap. "Iya, Daddy."


Noah dan Rue melihat kepergian ayah dan ibunya. Sebelum masuk mobip, Eryn mengecup kedua putra tercintanya. Ia juga menganggap Rue seperti putranya sendiri.


...###...


Tiba di rumah sakit, Eryn segera mendapatkan pertolongan dari dokter dan tim medis. Eldric menunggu di ruang tunggu dengan harap-harap cemas.


Eldric juga menghubungi Luiz agar secepatnya datang dengan Elza. Hanya Luiz saja yang bisa ia andalkan sekarang.


Carlos dan Rose sudah pindah ke Paris. Sejak kejadian nahas yang menimpa Rose, ia kehilangan bayinya dan mengalami depresi. Carlos sengaja membawanya pergi jauh untuk menyembuhkan trauma Rose. Hingga kini Rose masih dalam perawatan dokter.


Sedangkan David dan Santa masih mengurus hotel Black Diamond. Kondisi Santa yang memiliki bayi kecil tak memungkinkan untuk bepergian jauh. Jadi, Eldric hanya meminta tolong pada Luiz saja.


Sejak menikah dengan Luiz, Elza memang tak memiliki banyak kegiatan selain mengasuh anak-anak panti asuhan. Dia divonis tidak bisa memiliki keturunan karena penyakit kanker yang dideritanya.


Saat diminta Eldric untuk menjaga kedua putranya, tentu saja Elza sangat senang. Mereka segera terbang ke Bogota dengan pesawat jet pribadi milik Luiz.


Dua jam menunggu di depan ruang operasi, akhirnya Eldric mendapat kabar jika bayinya telah lahir. Eldric sangat gembira menyambut kelahiran putri keduanya.


"Dokter!" seru Eldric ketika seorang dokter perempuan datang menghampirinya.


Tatapan dokter itu seakan janggal. Dokter ituu tersenyum seringai kearah Eldric.


"Dokter, bagaimana kondisi bayi dan istriku?" tanya Eldric sekali lagi.


"Bayi Anda selamat, Tuan." Dokter itu menjawab dengan datar dan tanpa ekspresi.


Eldric bingung mengartikan tatapan dokter itu.


"Tapi, aku minta maaf, Tuan. Istri Anda tidak selamat..." Dokter itu tersenyum seringai saat mengatakannya.


"Apa katamu?!" Eldric tersulut emosi.


"Ya, istrimu telah meninggal. Aku yang sudah melenyapkannya," ucap dokter itu enteng.


Bagai tersengat aliran listrik, Eldric tak percaya dengan kata-kata dokter itu.


Tak berapa lama, beberapa orang datang dan juga Luiz yang telah tiba di rumah sakit.


"Dokter Lorna, kami dari pihak kepolisian, ingin menangkap Anda dengan tuduhan kejahatan malpraktek yang Anda lakukan di rumah sakit ini!" ucap seorang petugas polisi.


Dokter itu hanya tersenyum aneh pada para polisi itu. Dengan sigap mereka membawa pergi dokter wanita itu.

__ADS_1


Eldric yang masih tak terima dengan kematian Eryn, ia berteriak sekencangnya. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia tak percaya jika belahan jiwanya kini telah pergi.


"Tidak! Ini tidak mungkin!" teriak Eldric.


Luiz segera memegangi tubuh Eldric dan menenangkannya.


"Black, jangan begini! Kau harus kuat demi anak-anakmu."


"Tidak! Orang itu sudah melenyapkan istriku! Dia harus mati! Minggir! Aku harus melenyapkannya juga!"


Eldric berjalan sempoyongan ingin mengejar rombongan polisi yang membawa dokter Lorna. Namun dengan cepat Luiz mencegahnya.


"TIDAK! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku harus melenyapkannya!" teriak Eldric berkali kali.


Dan pemandangan memilukan itu diksaksikan oleh Noah yang dibawa ke rumah sakit oleh Elza karena mendengar jika Eryn telah melahirkan. Elza tak menyangka jika keputusannya membawa Noah akan membuat hati bocah itu teriris dengan kepedihan yang dirasakan oleh ayahnya.


Noah kecil memang tidak tahu persis apa yang telah terjadi. Ia hanya tahu jika ayahnya kehilangan sosok yang begitu dicintanya. Dan dirinya juga kedua adiknya, kini kehilangan sosok ibu di hidup mereka.


"Itu adalah awal kisah kelamku. Kisah kelam yang membuat aku kehilangan banyak hal. Aku kehilangan ibuku dan juga ayahku.


Aku tak pernah mengira jika hidupku akan berakhir dengan gelap. Di dunia yang bahkan tak mengenal rasa belas kasih terhadap siapapun.


Aku menjelma menjadi sosok berbeda. Aku mengesampingkan hati nuraniku untuk bisa hidup. Aku menghitamkan hatiku sama dengan nama ayahku.


Aku berjuang hingga berada di titik ini. Aku bersumpah aku akan membalas semua orang yang sudah membuat kepedihan dalam keluargaku.


Aku bukan lagi Noah si pria kecil yang penuh cinta. Aku berubah menjadi Red Devil yang ditakuti banyak orang. Aku akan melenyapkan siapapun yang menghalangi jalanku.


Jalanku kini tak lagi terang. Jalanku gelap dan tak berarah."


...###...


Rio de Janeiro, Brazil


Dua puluh tahun kemudian,


Seorang dokter memberi hormat dan menyapa kakak adik itu.


"Tuan baru saja tertidur," ucap dokter pria itu.


"Hmm. Bagaimana kondisinya hari ini?" tanya Red.


"Sudah lebih baik dari hari kemarin."


"Baiklah. Kau boleh pergi." Dokter itu memberi hormat kemudian berlalu.


"Blue, sudah saatnya klub buka. Kau awasi dulu kondisi klub. Aku ingin menemui Daddy."


"Baiklah, Red. Aku pergi dulu."


Red mengangguk dan menatap kepergian adiknya. Ia masuk ke dalam kamar itu dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang terlelap di ranjang berukuran besar itu.


Red duduk di sofa samping ranjang itu. Ia menatap pria yang dulu gagah itu.


"Bagaimana kabar Daddy? Aku harap Daddy bisa kembali seperti dulu. Sudah dua puluh tahun, Dad. Kini aku bisa berhasil seperti yang Daddy harapkan. Apa Daddy senang?"


Red hampir saja menangis. Hanya di kamar inilah seorang Red yang dingin dan bengis bisa terlihat rapuh. Hanya di hadapan sang Daddy.


Red merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Bayangan akan kesakitannya terdahulu tak pernah bisa ia lupakan. Ia memejamkan mata dan berusaha untuk tidur sejenak. Ia menemani sang Daddy yang juga tertidur pulas.


#


#


#

__ADS_1


Noah kecil datang ke sebuah persidangan dimana seorang dokter wanita menjadi tersangka atas malpraktek yang dilakukannya. Ada tiga nyawa ibu melahirkan yang melayang di tangan dokter itu.


Kondisi psikis yang tak stabil membuat dokter itu sengaja melenyapkan pasiennya sendiri. Meski bagaimanapun, hukum harus tetap berjalan.


Noah kecil masih tak mengerti apapun. Ia tak tahu seperti apa hukum akan mengadili orang yang sudah merenggut nyawa ibunya.


Noah keluar dari ruang persidangan. Ia merasa tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan di dalam. Yang ia tahu ibunya telah direnggut paksa dari hidupnya, dari sisinya dan adik-adiknya.


"Bagaimana ini? Bagaimana dengan nasib anak ini nantinya?"


Noah mendengarkan percakapan dua orang wanita dewasa dengan satu anak kecil yang mungkin berusia satu tahun yang sedang menangis.


"Entahlah! Dinas sosial tidak mau menampung anak ini karena dianggap anak seorang pembunuh."


Noah tak begitu jelas seperti apa sosok anak yang sedang dibicarakan karena posisinya yang membelakangi Noah.


Seorang wanita lain menghampiri mereka. "Hei, kita selamat! Kita tidak harus merawat anak ini!"


"Oh ya? Bagaimana bisa?"


"Aku sudah menghubungi keluarganya dan mereka akan membawa anak ini bersama mereka."


"Ah, syukurlah. Semoga saja anak ini tidak menjadi seperti ibunya. Perebut suami orang dan juga pembunuh!"


"Hush! Jangan bicara sembarangan! Anak ini bisa saja mendengarmu!"


"Dia masih kecil, dia tidak akan mengerti dengan ucapan kita."


#


#


#


Suara getaran ponsel di saku jasnya membuat Red terbangun dari tidur singkatnya. Ia mengerjapkan mata dan mengambil ponselnya.


"Halo!" jawab Red dengan suara beratnya.


"Red, kau dimana?"


"Aku di rumah. Ada apa?"


"Selena telah kembali."


"Apa?!"


"Iya, Red. Baru saja aku melihat berita di televisi."


"Baiklah. Terima kasih, Grey."


Red tersenyum mendengar kabar ini. Sudah tiga bulan ia tak bertemu dengan kekasihnya ini.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Red. Pesan dari Selena.


..."Temui aku di apartemenku. Aku merindukanmu, Red."...


Seulas senyum terbit di bibir Red. Ia berpamitan pada ayahnya dan berlalu pergi dari kamar itu.


#


#


#


*Masih abu2 ya genks 😀😀

__ADS_1


-Selamat Berpuasa utk Kalian yg menjalankannya-


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2