
...Ketika aku bangun di pagi hari,...
...Aku pikir semua akan terasa semu...
...Dulu aku hidup dalam bayang-bayang yang tidak akan pernah menjadi nyata....
...Mencintai dan dicintai seseorang bukanlah impian yang nyata bagiku...
...Namun kini ku melihatmu berada disisiku. Tersenyum bersamaku. Menghabiskan waktu bersamaku....
...Sungguh tiada lagi hal yang ingin kulakukan denganmu selain ini. Melihat tawamu dan cemberutmu....
...Aku menyukainya....
...Aku menyukai semua tentangmu......
...Wahai pria yang bernama Eldric Albana......
...***+++***...
Satu tahun kemudian,
Seorang wanita cantik sedang duduk di ruang tunggu kedatangan bandara sambil menghentakkan kakinya. Beberapa kali ia melirik jam tangannya. Sudah satu jam ia menunggu namun masih belum ada yang nampak muncul untuk menjemputnya.
Sebenarnya ia sudah menolak untuk merepotkan orang lain, namun pihak yang mengundangnya yang menginginkan pelayanan terbaik untuk penyedia jasa. Ingin rasanya pergi dari sana dan menaiki taksi saja.
"Eryn!"
Sebuah suara akhirnya membuat si wanita cantik sedikit meluruhkan emosinya.
"Maaf, aku terlambat menjemputmu. Di rumah semua orang terlihat sangat sibuk, aku tidak tega meninggalkan mereka."
Eryn menyilangkan tangannya. "Jika tidak tega kenapa tidak biarkan aku naik taksi saja?"
"Tidak! Elza bisa membunuhku kalau membiarkanmu naik taksi."
"Astaga, Luiz. Sejak kapan kau jadi seperti ini?"
Luiz menggaruk tengkuknya. "Sudahlah! Ayo kita ke rumah! Bibi Eleanor sudah menyiapkan segalanya untukmu."
Eryn berjalan bersama dengan Luiz. Pria itu membawakan barang-barang bawaan Eryn.
"Aku tidak menyangka kau akan langsung menikahi Elza begitu dia lulus kuliah." Eryn menggeleng pelan.
"Yah, mau bagaimana lagi. Dia tidak perlu bersusah payah untuk bekerja setelah lulus kuliah. Dia hanya perlu duduk manis dan melayaniku sebagai istri." Kata-kata Luiz seakan menyindir Eryn.
"Tapi, seorang wanita juga perlu untuk menjadi mandiri. Tidak selalu harus bergantung pada pria."
"Itu hanya kau, Eryn. Sepertinya Elza tidak. Dia hanya perlu bersandar padaku!"
Eryn melayangkan pukulan ke lengan Luiz. "Awas saja jika kau sampai mengkhianatinya, huh!"
"Tenang kakak ipar! Aku tidak akan melakukan hal seperti itu!"
__ADS_1
Eryn tersenyum. Ia tahu jika Luiz memang tulus mencintai Elza. Ia bernapas lega karena sudah memenuhi janjinya pada Eric.
"Oh ya, kapan Black akan kemari? Dia harus datang di hari pernikahanku!"
"Dia akan segera kemari setelah pekerjaannya selesai. Kau tenang saja! Penerbangan Kolombia ke Meksiko hanya sekitar 3 jam. Tapi kau sudah membuatku terbang selama hampir 5 jam," sungut Eryn.
"Hehehe, maaf Eryn."
#
#
#
Tiba di kediaman keluarga Evans, Eryn disambut oleh Eleanor dan juga calon mempelai wanita, Elza. Sikap Eleanor kini sudah lebih hangat kepada Eryn.
Elza sangat bahagia karena akhirnya keinginannya terkabul untuk menjadikan Eryn sebagai perancang acara pernikahannya. Meski mereka sudah berbeda negara, namun komunikasi diantara mereka tidak pernah putus.
Eryn melihat Eleanor yang begitu telaten merawat Noah yang sudah lebih dulu datang ke rumah ini. Ia berterima kasih pada Eleanor karena sudah menjaga Noah selama ia tinggal disini.
Elza mengantar Eryn menuju kamarnya. Ia meminta wanita cantik itu untuk beristirahat terlebih dahulu. Pesta pernikahannya masih tiga hari lagi.
"Terima kasih karena kakak bersedia datang dan merancang pesta pernikahanku." Elza berucap dengan mata yang berbinar senang.
Eryn memeluk adik kandung Eric itu dengan erat. "Jangan bicara begitu. Kau adalah adikku. Dan selamanya akan menjadi adikku."
Elza mengurai pelukannya. "Iya, Kak. Kak Eric pasti bahagia karena aku dan ibu kini baik-baik saja berkat kakak."
Eryn menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun. Kalian yang sudah melakukan yang terbaik untuk hidup kalian."
Eryn mengangguk. "Iya. Aku juga ingin mengunjunginya."
"Baiklah. Kakak istirahat dulu. Sore nanti kita ke makam kak Eric."
#
#
#
Sore harinya, Eryn dan Elza pergi ke pemakaman tempat peristirahatan terakhir Eric dan juga ayahnya, Chris. Elza meletakkan buket bunga untuk makam Chris dan Eric. Sesuai dengan permintaan keluarga, Eric dimakamkan di samping makam ayahnya.
Elza mengusap nisan Eric dan Chris. "Ayah, kakak. Maaf aku baru bisa datang kemari setelah sekian lama. Apa kabar kalian? Semoga kalian tenang disana..."
Eryn ikut bersedih melihat Elza yang begitu merindukan sosok ayah dan kakaknya. Eryn memegangi bahu Elza yang bergetar.
"Mereka sudah tenang disana," ucap Eryn.
"Iya, Kak."
Eryn ikut bersimpuh di makam Eric. Ia juga meletakkan buket bunga untuk makam Eric. Memori tentang masa lalunya kembali menyeruak.
"Terima kasih karena sudah membuatku kembali hidup di saat aku terpuruk. Seburuk apapun orang-orang mengenalmu, kau tetaplah dewa penolong untukku. Adikmu akan menikah. Dia sudah menemukan pria yang baik. Aku yakin kau pasti tidak menyangka siapa yang berhasil meluluhkan hati adikmu. Dia adalah Luiz, sang cassanova. Tapi kau tenang saja. Dia sudah banyak berubah berkat adikmu. Tolong restui pernikahan mereka."
__ADS_1
Eryn bangkit dan mengajak Elza kembali pulang. Ia merangkul bahu Elza. Ia menguatkan gadis itu agar tetap tersenyum meski sesulit apapun hidup.
Tiba kembali di rumah, Elza dan Eryn disambut oleh Luiz yang sudah menyiapkan makan malam spesial untuk Elza. Pria itu memang banyak berubah menjadi pria hangat dan penuh cinta.
Luiz bekerja sama dengan Eleanor menyiapkan sebuah kejutan untuk Elza. Gadis itu sampai menangis karena merasa sangat bahagia.
Elza memeluk Luiz dan mendapat tepukan meriah dari orang-orang yang hadir disana. Luiz sengaja mengundang teman-teman dekatnya agar membuat suasana jadi meriah. Hanya Eldric saja yang belum hadir.
"Dia bilang dia akan datang besok," ucap Luiz santai.
Eryn membulatkan mata. "Benarkah? Dia bahkan tidak memberitahuku tapi dia malah memberitahumu?" Eryn kembali melayangkan pukulan pada Luiz.
"Jangan salahkan aku! Dia bilang dia ingin menyiapkan kejutan untukmu."
Eryn terharu. "Kami sudah lama bersama dan dia selalu membuatku berdebar."
Dan kini malah berganti Eryn yang jadi bulan-bulanan para sahabat dengan candaan mereka.
#
#
#
Keesokan harinya, Eryn mendapatkan sebuah pesan dari Eldric jika pria itu akan datang dengan penerbangan pagi dari Bogota. Eryn tersenyum lega. Kini ia sedang sibuk mengurus dekorasi untuk pesta pernikahan esok hari.
Elza menginginkan sebuah pesta sederhana namun berkesan untuk pernikahannya. Ia tidak ingin menikah di hotel mewah milik Carlos. Ia ingin menikah di rumah saja.
Taman belakang rumah di sulap menjadi sebuah altar untuk pernikahan besok. Eryn tak sabar melihat adik kecilnya menikah disini besok.
Ketika Eryn sedang mengatur para pekerja untuk menata meja untuk para tamu, tiba-tiba Elza berlarian menemui Eryn. Raut wajahnya pucat.
Eryn tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Elza membawa Eryn masuk ke dalam rumah. Tampak semua orang sedang berdiri menatap televisi.
"Ada apa ini?" tanya Eryn bingung.
Luiz mengusap wajahnya kasar. Ia meminta Eryn untuk melihat sendiri berita yang sedang disiarkan di televisi.
Tubuh Eryn limbung ke belakang. Tubuhnya terasa melayang. Ia menggeleng pelan melihat dan mendengar semua berita itu.
Tangannya bergetar dan berusaha meraih ponselnya. Ia menghubungi seseorang yang ia cintai. Seseorang yang ia tunggu kedatangannya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Atau berada diluar servis area. Silakan coba beberapa saat lagi."
Ponsel Eryn terlepas dari tangannya. Tubuhnya terhuyung dan segera ditangkap oleh Elza dan Luiz.
"Ini tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" gumam Eryn.
Eryn tak ingin percaya semua berita di televisi yang sedang menayangkan kecelakaan pesawat yang berangkat dari kota Bogota, Kolombia menuju ke kota Meksiko.
"Tidak, El. Ini tidak akan terjadi lagi kan? Untuk kesekian kalinya aku tidak akan pernah percaya semua ini. Untuk kesekian kalinya, benarkah kau meninggalkan aku lagi? Benarkah, El? Apakah aku memang tidak akan pernah bisa meraih kebahagiaan bersamamu?"
BRUK!
__ADS_1
Tubuh Eryn jatuh tak sadarkan diri.