Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
140. The Destiny


__ADS_3

Dering ponsel White membuat kedua insan yang masih berada di bawah selimut menjadi terganggu. White membuka mata dan menatap layar ponselnya.


Dengan malas White mengangkat panggilan yang ternyata dari kantor kejaksaan. White cukup terkejut. Ia menatap Selena yang masih mengantuk itu karena semalam mereka bermain beberapa kali.


"Baiklah, aku akan segera kesana."


White mengakhiri panggilannya.


"Ada apa?" tanya Selena bingung.


"Ibumu ... ada di kantor kejaksaan. Kita harus segera kesana sekarang," ucap White.


"Ah, malas. Biarkan saja dia disana. Itu memang yang harus dia terima karena tidak mendengar omonganku!" Selena merapatkan selimutnya.


"Selena! Bagaimanapun juga dia adalah ibumu. Ayo cepat! Aku tidak ingin kau menyesal nanti jika kau tidak datang!" White beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Selena akhirnya bangun. Ia masih memikirkan banyak hal. Baru saja ia merasa bahagia karena bisa bersama dengan White. Dan kini ia harus menghadapi kenyataan jika ibunya sedang bermasalah.


Selena mengalah. Ia bangkit dari tempat tidur dan juga menuju kamar mandi yang ada di kamar tamu.


Satu jam kemudian, Selena tiba di kantor kejaksaan dan melihat ibunya yang seperti pesakitan pada umumnya. Itu adalah kesalahannya, begitulah pikir Selena.


"Selena... Dimana adikmu?" tanya Sorena yang melihat Selena hanya datang sendiri.


"Adikku? Siapa adikku? Aku tidak punya adik!" jawab Selena ketus.


"Selena... Bagaimanapun juga Ilena adalah adikmu. Dan kau harus meminta maaf padanya atas apa yang sudah kau lakukan padanya!"


"Lalu bagaimana dengan Ibu? Bukankah Ibu juga tidak pernah menganggapnya sebagai putri Ibu? Jangan sok suci! Hanya karena sekarang Ibu berada disini lalu ibu berpura pura menjadi orang baik!"


"Selena..." Sorena sangat sedih karena Selena bersikap dingin padanya.


Tak lama pintu ruang tunggu itu terbuka. Ilena masuk dan membuat Selena terkejut. Sebelumnya White sudah menghubungi Dharma agar membawa Ilena ke kantor kejaksaan.


Ilena memang selalu mendapat perlakuan tak baik dari ibu dan kakaknya ini. Tapi kini Ilena sudah lelah. Ia ingin hidup dengan tenang tanpa adanya bayang masa lalu ataupun dendam di hati.


"Ilena?! Kau datang, Nak? Kemarilah!" Sorena sangat senang melihat kedatangan Ilena.


Ilena hanya menurut dan dudui di samping Sorena.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Kudengar kau sudah menikah." Sorena membelai puncak kepala Ilena. Suatu hal yang tidak pernah Ilena dapatkan ketika menjadi putri Sorena.


"Aku baik, Bu. Ibu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu bisa ada disini?" tanya Ilena prihatin. Ia tahu jika ibunya memang sedang mengalami masalah karena suami barunya itu. Tapi Ilena tak menyangka jika Sorena harus sampai dibawa ke kantor kejaksaan.


"Maafkan Ibu, Ilena... Selama hidupmu aku tidak pernah menjadi Ibu yang baik untukmu... Maafkan aku..."


Sorena bersimpuh di depan Ilena.


"Ibu, jangan begini. Aku baik-baik saja sekarang. Lupakanlah masa lalu dan hiduplah dengan baik di masa depan."


"Ilena..."


Selena tertegun karena Ilena sama sekali tidak mengutuk mereka.


"Jangan sok baik dan sok suci kau! Tidak perlu berkata manis seperti itu pada kami! Akan lebih baik jika kau mengumpati kami saja dari pada harus memaafkan kesalahan kami!" pekik Selena.

__ADS_1


Ilena menghela napasnya. Ia tahu semua ini memang tak mudah baginya. Dirinya harus bertemu kembali dengan orang-orang di masa lalunya dan ini sangat sulit baginya.


Tapi tak ada gunanya terus meratapi nasib dan juga menyimpan dendam. Semuanya sudah usai.


"Kak, aku tahu kakak tidak pernah menganggapku sebagai adikmu. Tapi aku menerima semuanya. Karena memang semua ini terjadi karena ulah ibuku dan aku adalah putri ibuku. Bahkan semua kesakitan yang dialami oleh Red juga karena ulah ibuku. Aku tak masalah jika harus menerima semua pembalasan dari kalian. Tapi ... apakah semua itu perlu? Apa setelah membalas dendam semua akan kembali seperti semula? Tidak akan! Lalu apa yang kalian dapatkan dari membalas dendam? Hanya sebuah kepuasan yang samar. Kepuasan yang tidak abadi. Setelahnya akan ada penyesalan yang menyertai."


Air mata Ilena luruh. Sungguh ia berusaha menguatkan hatinya untuk bisa mengatakan ini di depan kakak dan ibu tirinya.


"Aku sudah lelah, Kak. Aku lelah, Ibu. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi. Jadi, setelah ini, tolong biarkan aku hidup tenang..."


Selena dan Sorena terdiam. Mereka mencerna semua kata kata yang diucapkan Ilena. Gadis kecil yang selalu mereka kucilkan dan siksa, kini malah membuka hatinya dengan lapang.


"Ilena..."


Sorena menggenggam tangan Ilena.


"Ada satu hal yang harus kau tahu." ucap wanita paruh baya itu.


Ilena menerobos masuk kedalam sorot mata Sorena.


"Maaf jika selama ini kami membohongimu. Selena membohongimu. Harusnya Ibu bisa mencegah semua ini terjadi jika saja dulu ... Ibu tidak membiarkan Selena merebut apa yang harusnya menjadi milikmu."


Ilena mengernyitkan dahinya. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang coba Sorena katakan.


Semua orang yang menunggu di luar ruangan juga harap-harap cemas menanti kata demi kata yang akan Sorena sampaikan. Ruangan itu berkamera pengawas dan juga berpengeras suara. Semua yang terjadi di dalam ruangan itu telah terekam dengan jelas.


"Ibu!" protes Selena.


"Sudah saatnya kau mengatakan kebenaran, Selena. Ilena telah begitu menderita karena kebohongan yang kau ciptakan!"


"Ada apa ini? Kebohongan apa yang kalian bicarakan?" tanya Ilena.


Ilena mengangguk.


"Saat itu, aku tahu jika kau adalah gadis dari masa lalu Red. Makanya aku ... aku berpura pura menjadi dirimu dan berniat merebut Red darimu." jelas Selena.


"A-apa?! Aku adalah gadis masa lalu Red?" Ilena bingung dengan situasi ini.


"Saat remaja dulu Red pernah bertemu dengan gadis kecil yang menyelamatkannya ketika dia hendak bunuh diri. Gadis kecil itu memberinya semangat agar bisa menghadapi hidupnya meski itu pahit."


Tubuh Ilena meremang. Ia merasakan dadanya yang begitu sakit.


"Bertahun tahun Red mencari gadis itu. Dia ingin berterimakasih karena sudah membuatnya menjadi pria yang kuat. Tapi, Red menemukan gadis yang salah. Dia begitu bodoh dengan mempercayaiku begitu saja. Hanya dengan membawa buku harian itu, dia percaya jika aku adalah Purple."


Air mata Ilena makin deras. Semua kenangan masa lalu yang berusaha ia lupakan kini kembali menyeruak.


"Maafkan aku, Ilena. Aku tahu ini sudah terlambat. Tapi setidaknya kini Red sudah tahu jika kau adalah gadis masa lalunya. Jika saja ... dia mengetahui ini dari awal ... mungkin kau tidak akan mengalami semua ini."


Tangis Ilena pecah. Ia menangis sekencang mungkin. Bayangan akan kekerasan yang dilakukan Red padanya kembali hadir. Bagaimana tatapan Red padanya yang penuh dendam karena kesalahan ibu Ilena. Semuanya berputar menjadi satu.


Semua kesakitan yang Ilena rasakan semuanya kembali datang.


"Aaargggghhh!" Ilena memukuli dadanya. Sakit. Sesak. Perih. Semuanya kembali datang ketika dirinya ingin merengkuh sebuah kebahagiaan.


"Tolong hukum aku, Ilena!" ucap Selena.

__ADS_1


Ilena memejamkan matanya. Ia tak ingin berkata apapun lagi. Ia keluar dari ruangan yang begitu membuatnya sesak.


Ilena berlari dan diikuti oleh Dharma dan White.


"Ilena! Tunggu!" seru White.


"Ilena!" seru Dharma.


Dharma berhasil mencekal lengan Ilena.


"Ilena! Kau mau kemana?" tanya Dharma.


Ilena menatap Dharma dan White bergantian.


"Apa kalian sudah tahu semua ini?" tanya Ilena ditengah isakan tangisnya.


"Ilena, dengarkan dulu penjelasan..." White berusaha bicara.


"Cukup! Semuanya sudah cukup, Dokter White! Aku sudah lelah! Aku sangat lelah!" lirih Ilena.


Ilena menatap Dharma. "Kau melakukan ini karena kau kasihan padaku, bukan? Kau tidak mencintaiku dan hanya mengasihani aku!" ketus Ilena.


"Tidak, Ilena! Itu tidak benar..." sergah Dharma.


"Kalian semua sudah membohongiku! Kalian semua sudah menyakiti aku!" pekik Ilena kemudian berlari sekencang yang ia bisa.


Ilena berlari tanpa memperhatikan jalanan di sekitarnya. Yang ia ingat hanya kekecewaan yang kini menyelimuti hatinya.


Ia tak menyangka jika semua orang yang selalu berada disampingnya ternyata tega membohongi dirinya.


"Red, maafkan aku... Harusnya aku tidak membenci dirimu. Harusnya aku kembali bersamamu di saat kau terpuruk. Kita harus saling menguatkan seperti dulu. Aku adalah penyembuh bagimu, bukan? Dan kau adalah penyembuh bagiku. Kita harus selalu bersama untuk bisa saling menguatkan..."


Ilena terus berlari dengan sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir. Ia ingin bertemu dengan Red sekarang juga.


"Ilena, awas!" teriak Dharma yang melihat sebuah mobil melaju kencang dari arah yang berlawanan.


BRAK!


Suara dentuman keras tak dapat lagi dihindari. Tubuh Ilena terpental lalu jatuh ke tanah.


"Ilena!" teriak Dharma dan berlari mendekati tubuh yang bersimbah darah itu.


Mata Ilena menangkap sebuah siluet masa lalunya. Dua orang anak manusia sedang berdebat di bawah guyuran hujan. Anak perempuan kecil itu memarahi bocah remaja yang usianya lebih tua darinya.


Ilena tersenyum melihat bayangan masa lalunya yang kembali menguar. Seiring dengan bayangan yang memudar, mata Ilena mulai terasa berat.


"Ilena!" seru Dharma yang kini memangku tubuh Ilena.


"Ilena, sadarlah!" Dharma menepuk pipi Ilena.


Tetes aliran darah keluar dari kepala Ilena membasahi pakaian dirinya dan Dharma.


"ILENA!" teriak Dharma ketika Ilena akhirnya memejamkan matanya.


...-TAMAT-...

__ADS_1


*😭😭😭😭


mohon maap jika akhirnya harus tragis. Akan ada beberapa extra part setelah ini ya genks. So, stay tuned terus yaa 😘😘😘


__ADS_2