Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
105. Tundukkan Wajahmu!


__ADS_3

Enam bulan lalu setelah Selena berhasil mengambil buku harian milik Ilena, ia kembali datang ke klub malam Red Devil untuk melancarkan rencana selanjutnya. Ya, Selena tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia mau.


Sejak kecil hidupnya serba berlebih dan apa yang dia inginkan selalu dia dapatkan. Itulah yang membuatnya menjadi gadis egois seperti sekarang.


Selena mengedarkan pandangan mencari sosok Red. Namun sepertinya pria itu tidak muncul. Tentu saja itu bukan masalah besar.


Selena sengaja meninggalkan buku hariannya di meja yang ditempatinya. Dengan santainya ia keluar dari klub dan tinggal menunggu hasilnya.


Malam itu juga pelayan klub menemukan sebuah buku harian. Pelayan itu menyerahkannya pada Grey. Biasanya pria itu tidak pernah ambil pusing dengan barang pelanggan yang tertinggal. karena pelanggan itu pasti akan kembali lagi jika memang barang itu penting.


Grey masih menatap buku harian itu. Ia harus segera menghubungi Red untuk mengecek apakah ini memang buku harian gadis yang dicarinya atau bukan.


Red nampak kesal karena harus di libatkan dalam hal ini.


"Hanya barang yang ketinggalan saja! kenapa harus menggangguku segala!"


Grey menunjukkan buku harian itu di depan Red. Pria itu sangat terkejut namun juga senang.


"Dimana kau menemukannya?!" tanya Red dengan suara menggelegar.


"Gadis itu meninggalkannya, Red. Entah itu sengaja atau tidak. Jadi benar jika buku harian ini adalah milik gadis yang kau cari itu?" tanya Grey menyelidik. Ia merasa sedikit janggal dengan semua ini.


Pasalnya beberapa hari lalu, ia baru saja menerima laporan dari anak buahnya yang kesulitan untuk menemukan gadis Purple itu. Tapi tiba-tiba semua seakan mudah ketika gadis itu ternyata datang ke klub milik Red.


"Red, kita harus menyelidikinya dulu. Jangan sampai ternyata kau salah orang," nasihat Grey.


"Tidak! Aku tidak mungkin salah. Ini memang milik Purple. Aku yakin itu." Red berbinar senang. Ia sudah tak sabar menunggu Purple kembali dalam hidupnya.


Keesokan malamnya, Selena kembali ke klub karena harus mengambil barangnya yang ketinggalan. Ia bertanya pada setiap pelayan yang ditemuinya.


Selena mendesah pelan karena tidak menemukan benda penting dalam hidupnya. Air matanya hampir saja terjatuh.


"Maaf, Nona. Apa kau mencari ini?"


Sebuah suara berat dan maskulin terdengar dari arah belakang Selena. Gadis itu berbalik badan dan melihat seorang Red menyodorkan sebuah buku harian kehadapannya.


Sejenak mata mereka beradu. Red berusaha menelisik lebih jauh apakah benar ini adalah gadis yang dicarinya selama ini.


Selena memutus kontak matanya dengan Red. "Jadi, Anda yang menemukannya?" tanya Selena.


"Sekali lagi terima kasih." Selena mengambil buku harian itu dari tangan Red. Aktingnya harus total hingga akhir. Selena berpamitan dan akan pergi meninggalkan Red yang masih mematung.


"Tunggu!" Suara itu menghentikan langkah Selena.


"Purple! Apa kau tidak ingat aku?"

__ADS_1


Selena tersenyum tipis. Rencananya berhasil dengan sangat mulus.


#


#


#


Selena keluar dari kamarnya. Ia sudah siap untuk menyambut kedatangan Red. Ia menuju ke dapur dan melihat Ilena sedang melakukan pekerjaannya.


Selena memperhatikan penampilan Ilena yang lusuh, dekil dan mengeluarkan bau tak sedap. Ia berpikir jika gadis seperti Ilena tidak akan cocok dengan Red yang sangat tampan dengan segala kekuasaannya.


"Ilena!" panggil Selena dengan lantang.


Ilena terkesiap dan segera mendatangi kakaknya. "I-iya, Kak!"


Ilena mengelap tangannya yang kotor ke celemek yang sedang dipakainya. Selena menatap jijik kearah adiknya itu.


"Apa semua hidangan sudah siap?" tanya Selena.


"I-iya, Kak. Sudah."


"Bagus! Dan satu hal lagi yang harus kau ingat. Tetap tundukkan wajahmu! Aku tidak mau sedikitpun kau mengangkat wajah jelekmu itu! Mengerti?!" tegas Selena.


"I-iya, Kak. Aku mengerti." Ilena menjawab dengan terus menunduk.


"Kumohon jangan sakiti ayah! Bukankah dia juga ayah kakak?"


"Diam! Jangan berani mengaturku! Aku tidak pernah menganggapnya sebagai ayahku sejak dia berselingkuh dengan ibumu yang j4lang itu! Kembali ke dapur dan jangan muncul jika aku tidak memanggilmu!"


Ilena mengangguk dan kembali ke dapur.


#


#


#


Pukul tujuh malam, Red tiba di kediaman keluarga Adams. Red sudah menyelidiki lebih dulu tentang keluarga Selena. Ayahnya pebisnis handal dan ibunya seorang sosialita juga memiliki beberapa bisnis pakaian wanita.


Red sungguh tak mengira jika gadis kecilnya adalah putri keluarga terpandang di kota ini. Gadis dengan segala kesempurnaannya dan membuat Red mabuk kepayang.


"Hai, sayang. Kau sudah datang?" sapa Selena dengan mengecup pipi Red.


"Kau cantik sekali malam ini," puji Red dan memberikan kecupan singkat di bibir merah Selena.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum manis. "Ayo masuk! Ayah dan Ibu sudah menunggu."


Brian dan Sorena menyambut kedatangan Red dan Selena. Mereka langsung mempersilahkan Red untuk duduk di ruang tamu.


Ilena mendorong troli yang berisikan teko teh dan cangkir di bantu dengan Monica, kepala pengurus dapur keluarga Adams.


Ilena terus menunduk sesuai dengan perintah Selena. Ia menyiapkan cangkir untuk masing-masing orang dan Monica yang menuangkan tehnya.


"Terima kasih karena sudah menyambutku dengan baik. Ini ada sedikit hadiah untuk Nyonya Adams." Red menyerahkan sebuah paper bag untuk Sorena.


Sorena tersanjung. Ia menerima hadiah dari Red. Sebuah kalung berlian membuat Sorena berbinar senang.


"Maaf jika hadiahku tidak sesuai dengan harapan Anda. Selena bilang ibunya sangat menyukai kemewahan," ucap Red sambil menatap Selena.


"Ah, tidak. Ini sangat indah. Aku sangat menyukainya. Terima kasih." Sorena menatap Selena sambil memberi kode jika ia setuju dengan hubungan putrinya dan Red.


"Jadi, Selena adalah anak tunggal?" tanya Red.


"Iya, benar Selena adalah putri kami satu-satunya," jawab Sorena cepat.


Ilena yang mendengar jawaban ibu tirinya menjadi sedih. Ia kembali mendorong troli kembali ke dapur.


"Nona, bersabarlah! Jangan dengarkan apa yang dikatakan Nyonya tadi," ucap Monica mengusap punggung Ilena.


"Iya, Bi. Tidak apa. Aku cukup tahu dimana posisiku. Aku memang bukan putri keluarga ini," balas Ilena denagn wajah sendu. "Ayo kita lanjut bekerja, Bi. Sebentar lagi mereka akan mulai makan malam."


Dengan menguatkan hatinya Ilena menata makanan di meja makan. Suara langkah kaki mendekat. Ilena segera menyingkir dan tetap menundukkan kepalanya.


Red menatap gadis muda yang bekerja di rumah keluarga Adams. "Kenapa gadis itu terus menundukkan wajahnya?"


"Sayang, ayo duduk!" Selena mengusap lengan Red dan memintanya untuk duduk.


Mereka berempat duduk dan makan malam dengan sesekali melempar candaan. Obrolan ringan pun terjadi selama makan malam berlangsung.


Ilena hanya bisa menatap pemandangan hangat itu. Ada sebersit rasa iri karena kakaknya mendapatkan pria seperti Red.


"Kakak sangat beruntung mendapatkan pria yang baik seperti dia. Andai saja aku..."


Ilena menggeleng cepat. "Tidak, Ilena! Kau jangan berpikiran terlalu jauh. Saat ini prioritasmu adalah ayah. Ya, aku harus menjaga ayah!"


Ilena memilih kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


#


#

__ADS_1


#


__ADS_2