Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
42. Terbongkar (1)


__ADS_3

Rose memandangi Eryn yang terlelap setelah mendengar cerita tentang masa lalunya. Rose merasa jika Eryn belum sepenuhnya bisa percaya dengan semua ceritanya. Tapi paling tidak, penyamarannya saat ini tidaklah sia-sia.


Rose keluar dari kamar Eryn dan menemui Matilda. Ia ingin memastikan sesuatu.


"Bagaimana Nona?" tanya Matilda.


"Eryn sudah tidur, Bi."


"Aku sangat bersyukur karena ternyata tuan Eldric masih hidup. Jadi, nona yang sudah menolong tuan Eldric?"


"Bukan, Bi. Eldric selamat karena keinginannya memang sangat kuat. Sama juga seperti saat kemarin dia kembali meregang nyawa. Dia kembali selamat dari maut."


"Jadi, nona Eryn dan tuan Eldric saling mencintai?" Matilda akhirnya mengetahui satu hal yang disembunyikan Eryn selama ini.


Rose tersenyum. "Begitulah, Bi. Cinta mereka begitu kuat. Dan itulah yang membuat Eldric bisa bertahan."


"Jadi, tuan kecil adalah putra dari tuan Eldric?"


Rose mengangguk.


"Astaga! Aku tidak menyangka jika hubungan mereka sedalam itu." Matilda menutup mulutnya.


"Oh ya, Bi. Apa Eryn mengonsumsi obat?"


"Iya. Tuan Eric yang membelinya dari seorang dokter."


"Bisa aku melihat obatnya?"


"Eh?"


"Tolonglah, Bi. Aku janji Eric tidak akan mengetahui hal ini."


Matilda mengambilkan sebuah botol obat yang biasa dikonsumsi oleh Eryn. Rose harus memastikan jika Eric benar-benar memberi obat yang tepat.


Rose masuk ke dalam kamarnya dan segera menghubungi Caesar.


"Halo, Caesar. Bisa kau cari tahu obat apa ini?"


"Oke! Kirimkan gambarnya lewat pesan!"


Rose mengambil gambar botol obat yang dipegangnya lalu mengirimkannya pada Caesar. Rose menunggu hasilnya dari Caesar.


Sebuah pesan masuk. Itu adalah Caesar. Rose segera membacanya.


"Obat itu benar untuk pemulih ingatan."


Itulah pesan yang dikirim Caesar. Lalu ada pesan masuk lagi di ponsel Rose.


"Jika kau masih ragu, kirimkan isinya padaku. Satu kaplet saja dan aku akan mencari tahu obat apa itu."


Rose segera mengambil satu butir. "Ide bagus, Caesar." Rose membalas pesan Caesar.


"Besok temui aku di pasar."


"Oke! Berhati-hatilah. Orang-orang Eric ada dimanapun." Balasan dari Caesar.


"Iya, aku tahu."


Rose tersenyum puas. Ia yakin jika sebentar lagi semua kedok Eric akan terbongkar.


...🌿🌿🌿...


Pagi itu, Eleanor datang ke rumah Eric dan Lolita. Entah kenapa ia ingin menjenguk anak dan menantunya itu. Eleanor cukup terkejut karena ternyata Eric tidak ada di rumah dan tidak mengabari dirinya.


Lolita yang sedang menata sarapan diatas meja, akhirnya mengizinkan Eleanor untuk menyantap sarapan bersama.


"Jadi, kau sendirian? Kenapa Eric tidak memberitahuku jika dia tidak ada dirumah?" ucap Eleanor.


"Eric bukan anak kecil lagi, Bu. Dia tidak harus melapor pada ibu jika dia ingin bepergian."


"Apa katamu?! Berani sekali kau bicara begitu pada ibu mertuamu!" Eleanor tak terima dengan kalimat Lolita.

__ADS_1


"Sudah cukup, Bu! Kau tidak perlu membela putramu itu! Asal ibu tahu, dia pergi bukan untuk mengurus bisnisnya. Tapi untuk menemui perempuan itu!" Napas Lolita terengah setelah mengatakan semua kegundahan hatinya.


"Perempuan? Perempuan siapa maksudmu?"


"Siapa lagi kalau bukan mantan istrinya itu!"


"Tu-tunggu! Apa kau bilang? Maksudmu selama ini Eric masih berhubungan dengan wanita j4lang itu?"


"Iya! Dia masih mencintai wanita itu. Dia meninggalkan aku sendiri disini dan dia bersenang-senang dengan wanita itu!"


Tubuh Eleanor terasa lemas. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Lolita. Lalu perlahan, Eleanor berjalan keluar dari rumah itu. Rencananya ingin menghabiskan waktu bersama anak dan menantunya akhirnya gagal.


Sementara Lolita, ia memukuli dadanya yang terasa sesak. Akhirnya ia mengatakan semua pada Eleanor.


"Sudah saatnya kau tahu, Ibu. Dan semoga saja kau bisa membuat anakmu itu sadar."


...🌿🌿🌿...


Eryn duduk bersama dengan Rose untuk menyantap sarapan mereka. Kali ini Matilda sengaja membuatkan makanan kesukaan putra Eryn, Noah, yaitu sup kacang merah untuk membangkitkan ingatan Eryn. Padahal Matilda sudah diberi peringatan oleh Eric agar tidak melakukan hal yang bisa membuat ingatan Eryn kembali.


"Hmm?" Eryn mengernyit bingung.


Rose melihat reaksi Eryn yang sepertinya mulai merasakan sesuatu.


"Sepertinya aku ingat dengan rasa ini," ucap Eryn.


"Pelan-pelan saja, Nona. Jangan memaksakan dirimu," jawab Rose.


"Iya, Linda." Eryn menghabiskan sarapannya. Ia ingat jika ia harus meminum obatnya agar cepat pulih.


"Bibi, dimana obatku? Aku harus meminumnya setelah sarapan."


Rose melirik Matilda.


"Umm, obatnya..." Matilda tak bisa menjawab.


"Ada apa?" tanya Eryn bingung.


"Apa maksudmu? Itu adalah obat untuk menajamkan daya ingatku, Linda. Tidak mungkin Eric menukarnya kan?"


"Kumohon mengertilah, Nona. Aku akan memeriksanya lebih dulu dan memastikan jika semuanya aman."


Eryn mengalah. Rasanya ia masih tak percaya jika Eric akan menukar obatnya.


.


.


.


Rose mendapat panggilan masuk dari Caesar. Secara sembunyi-sembunyi ia mengangkatnya.


"Halo, Caesar. Bagaimana?"


"Firasatmu benar, Rose. Kemasan obat itu memang benar obat pemulih ingatan, tapi isinya bukan. Sepertinya Eric sudah menukar isinya dengan obat peluruh ingatan."


"APA?!" Rose terkejut.


"Aku akan menggantinya dengan obat yang asli."


"Terima kasih, Caesar."


Panggilan berakhir.


"Ternyata benar firasatku. Eric Evans, kau akan dapat balasannya karena sudah melakukan ini!" Rose mengepalkan tangannya.


.


.


.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rose mendapatkan sebuah paket yang berisi obat asli untuk mempertajam daya ingat. Rose memberikan yang asli kepada Eryn. Rose menceritakan jika obat yang sebelumnya Eryn konsumsi adalah palsu.


"Jika kau tidak percaya juga tidak apa. Itulah kenyataannya, Nona. Eric memang tidak pernah ingin kau kembali pulih seperti dulu," ucap Rose.


Eryn menggeleng pelan. "Tidak mungkin!"


"Kau harus mulai membuka matamu, Nona. Jangan sampai kau menyesalinya. Sekarang kau minumlah obat yang asli. Semoga kau segera pulih, Nona."


Eryn memandangi botol obat pemberian Rose. Ia mengambil satu kaplet kemudian meminumnya.


"Jika memang kau sengaja melakukan ini, Eric. Aku tidak akan memaafkanmu!" gumam Eryn.


...🌿🌿🌿...


Di sisi Lolita, ia masih sendiri di rumah besarnya. Keadaan rumah terlihat gelap gulita karena listrik sedang padam. Lolita meraba-raba mencari lilin atau alat penerangan lainnya.


"Bibi! Tolong carikan lilin!" teriak Lolita.


Namun sialnya, tidak ada siapapun di rumah itu. Pukul lima sore tadi Lolita meminta pelayan di rumahnya untuk pulang.


"Sial! Aku lupa kalau aku memulangkan mereka tadi. Ponselku? Dimana ponselku?"


Lolita terus berjalan dan berusaha menuruni satu persatu anak tangga. Ia ingat meletakkan ponselnya di ruang tengah.


"Sudah hampir sampai!" Lolita berseru gembira.


Namun sayangnya kakinya tergelincir dan membuatnya kehilangan keseimbangan.


"Aaaa!" Lolita berteriak dan jatuh dari tangga. Tubuhnya berguling hingga berhenti di anak tangga terakhir.


Lolita masih sadar. Dengan terseok-seok Lolita menuju ruang tengah. Ia memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Akh!" Tak ada cara lain selain meminta bantuan. Lolita menekan bantuan 911 dan mengatakan situasinya.


Tak lama pertugas datang menyelamatkannya. Mobil ambulans itu menuju ke rumah sakit terdekat.


"Akh! Perutku! Sakit sekali!" rintih Lolita.


"Nona, kau berdarah!" seru seorang petugas.


"Tidak!" teriak Lolita.


"Nona, apa kau sedang hamil?"


"Tolong selamatkan anakku!" pinta Lolita yang wajahnya sudah berubah pucat.


.


.


.


Suatu pagi dikediaman Eryn,


"Apa kau harus melakukannya sendiri, Terapis Linda?"


Sebuah suara mengejutkan Rose yang sedang meracik obat untuk Eryn. Selain obat dokter, Caesar memberi sebuah resep obat-obatan tradisional untuk diminum Eryn.


"Tuan Evans? Anda datang berkunjung?" Rose berusaha setenang mungkin menghadapi Eric. Jika tidak penyamarannya bisa terbongkar.


"Obat apa itu?" tanya Eric menghampiri Rose.


"Ini obat tradisional, Tuan. Agar kondisi kesehatan nona Eryn cepat pulih."


"Dengar, kau tahu aku adalah orang yang tidak suka dibantah. Jadi, aku hanya akan mengatakannya sekali saja padamu..."


Rose mulai cemas. Jarak antara dirinya dan Eric semakin dekat. Tatapan Eric terlihat sangat mengintimidasi Rose.


"Eric!"


#tobecontinued

__ADS_1


*Siapa yg manggil Eric? Eryn kah?


__ADS_2