Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
37. Rencana Licik


__ADS_3

Roma, Italia


Pagi ini Rose sedang menunggu ayahnya untuk sarapan bersama. Setelah semalam ayahnya menerima tamu di luar jam malam dirinya, ia masih memikirkan tentang Black dan Eryn yang sedang jauh disana.


"Selamat pagi, sayang. Kenapa melamun?" sapa Juan.


"Ayah! Kupikir ayah lupa untuk sarapan bersamaku."


"Tentu saja tidak. Ayah memintamu kemari kenapa malah ayah yang mengingkarinya. Ayo makan!" Juan akan mengambil makanan, namun dengan sigap Rose segera mengambilkan untuknya.


"Ini untuk ayah! Ayah kan sering sakit-sakitan. Jadi, ayah harus makan yang bernutrisi saja." Rose tersenyum manis.


"Terima kasih, sayang. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kudengar kemarin ada fashion week."


"Iya, ayah. Aku mengikutinya. Aku mengenal beberapa desainer terkenal. Dan aku membawa beberapa pakaian rancangan mereka untuk ayah."


"Oh ya? Kau memang sangat baik, sayang."


Rose memberikan senyum terbaiknya untuk Juan.


"Oh ya, ayah. Semalam ... siapa yang datang menemui ayah?" tanya Rose hati-hati.


"Ah itu? Bukan siapa-siapa. Hanya kolega bisnis ayah."


"Tidak biasanya ada yang bertamu selarut itu. Dan ayah menerimanya." Rose berusaha tidak mencurigakan.


"Ah iya, dia baru tiba di Roma di malam hari. Jadi, dia akhirnya datang di waktu yang akan larut."


Rose mengangguk paham. "Ayah kan harus menjaga kesehatan ayah. Lain kali suruh saja tamunya pulang dan kembali esok hari."


"Iya, sayang. Ayah tidak akan mengulanginya lagi." Juan mengulas senyumnya di depan Rose.


Sarapan pun kembali dilanjut. Rose menyantap makanannya dengan sesekali melirik ke arah ayahnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres disini," batin Rose.


Juan menyudahi sarapannya dan berpamitan pada Rose.


"Sayang, ayah harus pergi. Ada urusan penting yang harus ayah selesaikan."


"Ayah!" protes Rose. "Lalu untuk apa ayah memintaku datang jika ayah hanya sibuk dengan pekerjaan ayah saja?"


"Maafkan ayah, sayang. Besok pasti ayah akan luangkan waktu untuk kita. Oke?" Juan mencium puncak kepala Rose kemudian segera pergi.


Rose hanya bisa menganggukkan kepala. Tidak mungkin juga ia menghentikan kegiatan ayahnya yang seorang bos mafia.


Kepergian Juan membuka kesempatan bagi Rose untuk memeriksa ruang kerja ayahnya. Rose segera menyudahi sarapannya dan bergegas ke ruang kerja ayahnya.


Rose memeriksa meja kerja Juan dan beberapa berkas disana. Tak lupa ia juga menghubungi Carlos karena harus meminta bantuan pada pria itu.


"Halo..."


"Halo, Carlos. Akhirnya kau mengangkat teleponku juga!"


"Ada apa, Rose? Kau terdengar panik."


"Carlos, kau harus menolong El."


"Ada apa memangnya? Dia sedang berbulan madu dengan nona Eryn."


"Aku tahu itu. Tapi ada yang aneh disini."


"Apa yang aneh?"


"Eric ada disini, Carlos."


"Apa?! Itu tidak mungkin!"


"Aku juga tahu ini mustahil. Tapi inilah kenyataannya. Pria itu ada di Italia. Dan dia menemui ayahku."


"Apa? Kau jangan bercanda, Rose."


"Aku tidak bercanda ataupun berbohong! Yang jelas saat ini, aku merasa ada yang tidak beres. Kau harus selamatkan El dan Eryn."


"Baiklah, Rose. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


"Iya, hati-hati Carlos."


Panggilan berakhir. Rose kembali mencari sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah map yang tertutup rapat. Rose belum pernah melihat itu sebelumnya.


"Apa ini?!" Rose membuka map itu lembar demi lembar.


Rose menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Tidak mungkin! Ayah?" Rose menggeleng pelan. Dadanya bergemuruh sesak.


Setelah mendapat apa yang ia butuhkan, Rose pun keluar dari ruang kerja ayahnya.


...🌿🌿🌿...


"Eric...?"


Eryn menatap tajam kearah orang yang ada di depannya. Meski dibatasi oleh pembatas kapal, Eryn masih dapat dengan jelas melihat siapa orang yang ada di seberang sana.


Eric mengarahkan pistolnya kearah Eryn. Ia tak menyangka jika Eryn akan memergokinya saat ini. Sudah terlambat untuk menghindar. Pikirnya.


Eric menarik pelatuknya dengan tak ada keraguan didalamnya. Hatinya sudah tertutup dendam dan kemarahan atas Black dan Eryn.


"TIDAK! Eryn!" Black berteriak dan bangkit dari rasa sakitnya. Ia mendorong tubuh Eryn dengan sekuat tenaga.


DOR!


Bunyi tembakan kembali menggema. Kembali tubuh Black terkena peluru dari pistol Eric.


DUAK!


Eryn terlempar dan kepalanya membentur besi kapal. Wanita itu akhirnya tak sadarkan diri.


Tubuh Black yang sudah terkena beberapa tembakan akhirnya tumbang dan jatuh ke laut.


BYUR!


Black mulai kehilangan kesadarannya. Ia banyak meminum air laut. Ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tetap sadar.


"Eryn..."


Hanya satu nama yang selalu ia gumamkan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


Sementara itu, Eric meminta anak buahnya untuk merapat ke kapal milik Black. Eric melompat dan mencari keberadaan Eryn yang tadi terluka.


Eric menemukan tubuh Eryn yang tak sadarkan diri.


"Eryn! Bangunlah!" Eric menepuk pipi Eryn. Darah mengucur deras dari pelipis Eryn.


"Cepat kita kembali ke darat!" teriak Eric dengan membopong tubuh Eryn.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


...🌿🌿🌿...


Tiba di sebuah rumah sakit, Eric berlarian meminta dokter untuk segera menangani Eryn.


"Cepat selamatkan dia, dokter!" seru Eric.


"Tenanglah, Tuan. Kami akan berbuat yang terbaik untuknya," jawab si dokter.


Eric duduk dibangku ruang tunggu. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Eryn sudah melihat wajahku! Dia sudah melihat wajahku!" gumam Eric berkali-kali.


Seorang pria menghampiri Eric.


"Tuan!" panggilnya.


Eric yang sedang tertunduk kemudian mengangkat wajahnya.


"Ada apa, Enrique?" tanya Eric.


"Sepertinya Black sudah tewas, Tuan," lapor Enrique.


"Benarkah? Kau sudah memastikannya sendiri?"


"Sudah, Tuan. Kami bahkan menembakinya setelah dia jatuh ke laut."


"Baguslah! Kau boleh kembali. Kita akan segera mengambil alih seluruh aset Black."


"Baik, Tuan."


Enrique memberi hormat kemudian berlalu dari hadapan Eric. Eric menghela napasnya. Secercah senyum mengembang di wajahnya.


"Akhirnya..." ucapnya penuh bahagia.


"Sepertinya kau sangat senang, anak muda." Sebuah suara pria tua membuat Eric kembali mendongak.


"Paman Juan?"


"Aku tidak menyangka kau akan membunuhnya untuk kedua kalinya hanya karena seorang gadis."


Beberapa perawat membawa brankar Eryn untuk menuju ke ruang perawatan. Eric hanya memperhatikan. Dan mengikutinya dari belakang. Begitu juga dengan Juan yang juga mengikuti langkah Eric.


Tiba di sebuah kamar VIP, para perawat berpamitan keluar. Eric duduk disamping brankar Eryn. Ia memperhatikan wajah pucat gadis itu.


"Apa dia sudah melihat wajah aslimu, Eric?" tanya Juan.


Eric terdiam.


"Karena kau diam kurasa dia sudah melihatnya."


Seorang dokter datang dan memeriksa kondisi Eryn.


"Bagaimana dokter?" tanya Eric.


"Benturan di kepalanya sangat keras. Ada kemungkinan benturan itu akan membuatnya kehilangan ingatan," jelas dokter.


"Maksud dokter, dia hilang ingatan?" Ada sedikit kelegaan di hati Eric.


"Kami belum memastikan hingga pasien benar-benar kembali sadar."


Eric mengusap wajahnya.


"Wah, kau beruntung, anak muda. Jika dia benar-benar kehilangan ingatannya, maka kau selamat," sahut Juan.


Eric menatap Eryn yang masih terpejam.


"Semoga saja, Paman. Maka kita bisa melanjutkan rencana selanjutnya."


"Terserah kau saja. Aku akan mendukungmu, Nak. Kalau begitu, aku harus segera pergi. Aku tak ingin putriku menungguku terlalu lama." Juan menepuk pelan bahu Eric kemudian berlalu.


...🌿🌿🌿...


Satu minggu kemudian,


Kondisi Eryn mulai membaik. Dia sudah sadar dari komanya. Namun seperti yang di prediksi oleh dokter. Eryn kehilangan ingatannya. Ia bahkan tidak mengingat siapa nama dan jati dirinya.


Dokter memeriksa kondisi fisik Eryn yang mulai pulih.


"Pasien mengalami kehilangan ingatan sementara. Jika kita memberinya rangsangan atau hal-hal yang mengingatkan masa lalunya, bisa saja dia akan kembali mengingat masa lalunya," jelas dokter.


"Dokter tenang saja. Aku akan lakukan yang terbaik untuk Eryn," jawab Eric.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter.


Eric menatap Eryn yang sedang melamun.


"Tidak, Eryn! Aku tidak akan membiarkanmu mengingat masa lalumu. Aku sudah berada di titik ini dan aku tidak akan melepaskanmu lagi," batin Eric menggebu.


"Eryn!" panggil Eric.


"Jadi, namaku Eryn?"


"Iya."


"Lalu, siapa kau?"


"Aku Eric. Aku adalah temanmu."


"Teman?" Eryn mengernyitkan dahinya. "Apa itu teman?"


"Teman adalah orang yang dekat dengan kita. Kau mengerti?"


Eryn mengangguk.


"Kau masih harus istirahat disini untuk sementara waktu. Setelah itu, kita akan keluar dari rumah sakit lalu kembali ke rumah."


"Rumah? Aku punya rumah?"


"Iya. Tentu saja kau punya rumah." Eric mengacak pelan rambut Eryn. Sebuah kebahagiaan bahwa dirinya akan menyembunyikan Eryn dari dunia luar sudah terbayang di otaknya.


"Eryn yang dulu telah mati. Kini hanya ada Eryn yang baru," batin Eric berbunga.


...🌿🌿🌿...


Kim Hyun Jeong menunggu dengan harap-harap cemas.Β  Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan putri dan cucunya.


"Bagaimana? Kau sudah menemukan jejak putriku?" tanya Kim Hyun Jeong.


"Belum, Tuan. Tapi kami mulai menemukan titik terang tentang cucu Anda. "


"Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Anak itu terpisah dari keluarganya,Β  Tuan. Sekarang ada yang merawatnya di sebuah perkampungan di Meksiko."

__ADS_1


"Lalu dimana ibunya?"


"Itulah yang aku tidak tahu, Tuan. Sepertinya ada kekuatan besar yang menyembunyikan putri Anda, Tuan. "


"Kekuatan besar?" Tuan Kim mengusap dagunya.


"Jadi, putriku disembunyikan oleh seseorang?"


"Tuan, kisah hidup putri Anda penuh liku." Anak buah Tuan Kim menunduk karena melihat kesedihan dan amarah di wajah tuannya.


"Maafkan ayah, Nak. Kau harus mengalami banyak hal karena ayah tidak bersamamu." Kim mengusap sebuah foto seorang wanita muda bersama dengan seorang anak.


"Kalau begitu siapkan semuanya! Kita akan menjemput cucuku di Meksiko," titah Tuan Kim.


"Baik, Tuan."


Orang itu sedikit membungkuk kemudian keluar dari ruangan Tuan Kim.


...🌿🌿🌿...


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servis area. Cobalah beberapa saat lagi."


Lolita membanting ponselnya karena sejak menghubungi suaminya selalu mesin penjawab yang menjawab.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan? Menyebalkan sekali!" gerutunya.


Lolita memilih kembali tinggal bersama keluarga Eric karena ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya dan bayinya. Ditambah lagi, Eleanor sangat bersemangat meyambut kehamilan ini. Jadilah ia menjadi menantu kesayangan di rumah ini.


"Baiklah, Eric. Jika aku tidak bisa mendapat perhatianmu, maka aku akan mengambil perhatian ibu mertua saja. Aku yakin jika dia membelaku, dia pasti akan membuatmu memberi perhatian padaku!"


Lolita keluar dari kamarnya dan menemui Eleanor dan Erica yang sedang santai di ruang keluarga.


"Pagi, Ibu, Bibi Erica," sapa Lolita ramah.


"Pagi. Kemarilah, Nak. Kau jangan banyak bergerak. Jangan sampai cucuku kenapa-kenapa." Eleanor mengelus perut Lolita yang mulai terlihat buncit.


"Kakak terlalu berlebihan! Bukankah ibu hamil harus banyak bergerak?" sahut Erica.


"Itu benar, tapi jika sudah memasuki masa akan melahirkan. Sedangkan Lolita, kandungannya masih lemah. Dia harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi agar dia bisa melahirkan pewaris yang sehat."


"Apa jenis kelaminnya sudah terlihat?" tanya Erica.


"Belum, Bibi. Mungkin sebentar lagi terlihat," jawab Lolita antusias. Beruntung ia mendapatkan cinta di rumah ini. Sangat berbeda ketika Eryn menjadi menantu dirumah ini.


"Kau sudah menghubungi Eric?" tanya Eleanor.


Lolita menggeleng. "Ponselnya selalu tidak aktif." Wajah Lolita berubah sedih.


"Ya ampun! Anak itu kebiasaan. Kalau begitu biar nanti ibu bicara dengannya."


"Iya, Bu. Terima kasih."


Eleanor meninggalkan ruang keluarga dan mengambil ponselnya. Ia bermaksud menghubungi Eric.


Namun ternyata hal yang sama juga terjadi.Β  Eric tidak mematikan ponselnya. Tentu saja saat ini ia tidak ingin diganggu siapapun termasuk Eleanor.


.


.


.


Rio de Jeneiro, Brasil


Eric tiba di sebuah rumah yang cukup luas bersama dengan Eryn. Disinilah mereka akan tinggal. Eric akan menyembunyikan Eryn ditempat ini agar tak ada yang bisa melacaknya.


Eryn melihat-lihat sekeliling tempat itu.


"Bagaimana? Kau suka tempat ini?" tanya Eric.


Eryn mengangguk. "Tempatnya bagus. Apa ini rumahmu?"


"Bukan, ini adalah rumahmu."


"Oh begitu. Aku tidak menyangka ternyata aku punya rumah yang besar. Aku sama sekali tidak ingat."


"Yeah. Kau akan mengingatnya sedikit demi sedikit. Bukankah dokter bilang begitu?"


Eryn mengangguk. "Eric, apa aku punya keluarga?"


"Eh?"


"Bukankah semua orang memiliki keluarga? Bagaimana denganku?"


"Kau punya keluarga, Eryn. Aku adalah salah satu keluargamu. Dan ada seseorang. Dia akan tinggal bersamamu disini," bohong Eric.


Seorang pria menyeret seorang wanita paruh baya masuk kedalam rumah.


"Nah, itu dia. Dia adalah Matilda. Dia yang akan menemanimu disini," jelas Eric.


Ya, Eric sengaja membawa Matilda karena ia ingin memastikan kondisi Eryn selalu baik-baik saja. Dan orang yang menyayangi Eryn seperti seorang ibu adalah Matilda.


"Nona Eryn..." gumam Matilda.


"Eryn, kau pasti lelah. Kau istirahat saja dulu. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggil Matilda."


Eric mengajak Eryn untuk beristirahat dikamarnya. Sebuah kamar yang cukup luas. Beberapa foto Eryn tergantung di dinding kamar, termasuk foto kebersamaaannya dengan Eric. Ya, Eric sengaja menyiapkan segalanya agar Eryn tidak curiga.


Eric meninggalkan Eryn dan kembali menemui Matilda.


"Jadi, Tuan yang menculikku dari rumah Tuan sendiri?" tanya Matilda. Pasalnya wanita paruh baya itu dibawa paksa tanpa satu orangpun yang tahu. Dan Eleanor? Ia tidak akan peduli meski dirumahnya kehilangan satu pelayan.


"No! Aku tidak menculikmu. Aku membawamu kesini untuk menemani Eryn disini."


"Apa yang terjadi pada nona Eryn? Kenapa dia tidak mengenaliku?"


"Hmmm, dia mengalami amnesia," jelas Eric dengan mengusap dagunya.


"Apa?! Apa yang sudah Tuan lakukan padanya?" marah Matilda.


"Aku tidak melakukan apa pun terhadapnya. Justru kekasihnyalah yang sudah mendorong Eryn hingga ia terbentur dan lupa ingatan."


"Lalu kenapa kau membawanya kemari? Tempat apa ini?"


"Dengar, Bibi. Jangan berani mengatakan apa pun pada Eryn terlebih soal masa lalunya. Tugasmu disini adalah untuk menjaganya dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Aku akan sesekali berkunjung untuk menemuinya disini. Ingat! Jangan mengadu dan lapor kepada siapapun. Karena aku bisa mengetahuinya. Dan kau tahu apa balasan untuk seorang pengkhianat?"


Matilda menggeleng ketakutan.


"Mati! Kau akan mendapat hukuman mati jika kau berani melawanku! Mengerti?" tegas Eric tepat di telinga Matilda.


...🌿🌿🌿...


*Hmm, lalu dimanakah Eldric? Apakah dia selamat? We'll see on the next chapter.


Thank U for your support πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2