Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
85. Selalu Bersamamu


__ADS_3

...Yakinlah akan satu hal...


...Jika aku selalu denganmu...


...Jika aku selalu mencintamu...


...Jangan pernah ragu...


...Kembalilah padaku,...


...Karena aku selalu bersamamu......


...***...


Gerakan kecil dari sebuah tangan yang ia genggam membuatnya berbinar senang. Dengan sigap pria itu memanggil dokter dan perawat. Ia yakin jika belahan jiwanya telah kembali.


Mata yang tertutup itu mulai membuka. Perlahan tapi pasti.


"Nona Eryn, Nona Eryn! Apa Anda bisa mendengarku?" ucap seorang dokter yang memeriksa kondisi Eryn.


Matanya memang terbuka, namun semuanya masih belum normal. Bayangan orang terkasih mulai muncul di matanya.


"El..." lirihnya.


Dokter segera memanggil Eldric. Dengan sigap pria itu kembali menggenggam tangan Eryn.


"Iya, aku disini. Aku disini, Ryn..."


Wajah pucat itu mulai mengembangkan senyumnya.


"Eldric..." Lirihnya lagi.


"Iya, ini aku."


"Kau kembali..." Buliran bening menetes dari sudut mata wanita yang baru saja sadar dari komanya.


"Iya, ini kembali. Maaf karena aku datang terlambat..."


Eryn tersenyum. Ia menggeleng lemah.


"Istirahatlah dulu! Aku ada disini. Aku tidak akan pergi lagi."


"Terima kasih..."


Eldric menemui dokter dan bertanya tentang kondisi Eryn.


"Nona Eryn sudah melewati masa komanya. Sekarang tinggal masa pemulihan saja. Tolong jaga dan perhatikan dia," jelas dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Sekali lagi terima kasih." Eldric menjabat tangan dokter itu.


Berita tentang kembali Eryn dari koma, sudah menyebar di kalangan tim Eldric. Mereka menemui Eryn dengan hati yang gembira. Sudah lama mereka tidak bertemu. Kini mereka sedang melepas rindu.


"Nona!" sapa Santa.


"Santa!" seru Eryn gembira. Kondisinya sudah membaik dan besok sudah diperbolehkan pulang.


"Terima kasih kalian sudah membantu El."

__ADS_1


"Jangan sungkan, Nona. Kita adalah saudara, bukan?" goda Carlos.


"Bagaimana kabar Rose? Kenapa dia tidak ikut kemari?"


"Tidak! Aku memintanya untuk tetap tinggal disana hingga urusan kami selesai," jawab Carlos.


Eryn menatap satu persatu teman yang kini menjadi saudara baginya. Karena dirinya memang tidak memiliki saudara.


"Nona Eryn, kau harus datang ke pesta pernikahan kami," celetuk David dengan memeluk bahu Santa.


"Ish, kau! Apa-apaan sih? Jangan dengarkan dia, Nona," tolak Santa.


"Sudahlah, jangan mengganggu Nona Eryn. Ia baru saja sembuh. Meski kalian tidak meminta, aku yakin Nona Eryn akan tetap datang ke pernikahan kalian!" sahut Agli.


Eryn tersenyum. "Selamat ya untuk kalian..."


Eldric mendekati brankar dan memeluk wanitanya. "Kalian keluarlah dulu sana! Biarkan Eryn beristirahat!" usir Eldric.


Eryn sangat bahagia melihat keceriaan yang terpancar di wajah mereka. Rasanya lama sekali tidak merasakan hangatnya sebuah kebersamaan.


#


#


#


Pesta pernikahan Ga Eun dan Joon akan segera digelar. Meski masih belum bisa menerima kenyataan jika dirinya harus meninggalkan Eryn yang kini telah kembali bersama Eldric, namun sebisa mungkin ia pasrah dengan takdir yang akan dijalaninya. Dia yang berbuat, harus berani bertanggung jawab.


Dilihatnya dirinya kini telah siap dengan setelan jasnya berwarna putih. Ia menatap nanar dirinya sendiri.


"Joon..."


"Kakak?" Joon langsung bersimpuh dan meminta maaf pada kakaknya itu.


"Maafkan aku, Kak. Aku bersalah. Aku banyak melakukan kesalahan!" ucap Joon penuh sesal.


"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Kini kau harus menanggung buah dari semua perbuatanmu."


Pundak Joon bergetar menandakan jika ia sedang menangis.


"Bangunlah! Ini adalah hari pernikahanmu. Berbahagialah dengan Nona Ga Eun. Mungkin dia adalah jodohmu!" Hyun Woo memegangi kedua bahu adiknya.


Pintu kamar Joon diketuk. Seorang pelayan datang menginterupsi. Ia meminta Joon untuk segera keluar dan menunggu di altar.


"Ayo!" ajak Hyun Woo dengan mengulas senyum. Ia menguatkan adiknya agar bisa menerima takdir yang ada.


Para tamu undangan sudah tak sabar menanti kedatangan sang mempelai wanita. Suara alunan musik mulai terdengar dan masuklah mempelai wanita bersama dengan ayahnya.


Ga Eun berjalan dengan anggunnya dan menyapa para tamu undangan. Matanya tertuju pada wanita yang amat ia benci kemarin tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia adalah Eryn. Wanita itu kini bersanding bersama Eldric, suaminya.


Ga Eun merutuki kebodohannya karena sudah menilai buruk tentang Eryn. Ia tersenyum kearah Eryn dan dibalas dengan ulasan senyum juga dari wanita itu.


"Sayang, apa kita perlu menikah lagi?" bisik Eldric.


Eryn mencubit pinggang Eldric. "Untuk apa? Kita sudah menikah dan tidak perlu menikah lagi. Itu akan membuang-buang waktu saja, El..."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berbulan madu saja?" usul Eldric.

__ADS_1


"Kalau itu boleh juga!" Eryn tersenyum dan memeluk lengan Eldric.


#


#


#


Eldric memenuhi undangan Se Naa untuk bisa mengantar Se Hoon ke peristirahatan terakhirnya. Meski noda hitam memenuhi catatan hidupnya, namun semua ini bukan salahnya. Ambisi dan kekuasaan membuatnya buta untuk melihat kebaikan seseorang.


Seorang wanita paruh baya menangisi kepergian Se Hoon. Ia adalah ibu yang telah melahirkannya. Wanita itu sudah kembali membuka mata setelah koma selama hampir satu tahun lamanya.


"Bibi, aku turut berduka cita. Aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan Se Hoon lebih cepat," ucap Eldric.


Wanita itu menatap Eldric. "Harusnya aku yang meminta maaf karena ulah putraku. Dia pasti menyusahkan kalian ya?"


"Tidak, Bi. Semua itu bukanlah masalah."


"Terima kasih karena sudah memaafkan putraku."


Eldric mengangguk. Ia menatap Se Naa.


"Apa rencanamu selanjutnya, Se Naa?"


Gadis itu menatap nanar. "Entahlah. Yang pasti aku akan memimpin Se-Kang Grup mulai besok. Banyak hal yang harus kubenahi."


Eldric mengangguk. "Kau pasti bisa, Se Naa. Terima kasih karena sudah membantuku untuk kembali bersama orang-orang yang kucintai."


"Tidak masalah. Lalu, apa rencanamu setelah ini? Apa kalian akan kembali ke Meksiko?"


Eldric tersenyum. "Aku masih belum tahu. Semua tergantung Eryn. Aku tidak akan memaksanya untuk ikut denganku. Apalagi ayahnya ada disini."


"Baiklah. Semoga berhasil ya! Aku yakin hati Paman Kim pasti akan luluh." Se Naa menyemangati sahabat barunya itu.


"Thank you," balas Eldric yang mulai menjauhi kerumunan para pelayat.


#


#


#


Kini Eryn dan Eldric sedang duduk bersama dengan Tuan Kim. Ditemani oleh Noah yang sibuk berceloteh karena menonton film kartun kesukaannya.


Tuan Kim sangat bahagia dengan semua hal yang terjadi baru-baru ini. Ia melihat senyum putrinya yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Jadi, setelah ini kalian akan tinggal disini kan?" tanya Tuan Kim.


Eryn dan Eldric saling pandang. Sebenarnya Eryn sudah memutuskan sesuatu yang cukup besar dalam hidupnya.


"Ayah... Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"


"Apa itu, Nak? Jika mampu aku akan mengabulkannya." Tuan Kim tampak antusias.


Eryn mendekati ayahnya dan menggenggam kedua tangannya.


"Aku... Ingin ikut dengan Eldric. Aku ingin kembali ke Meksiko bersamanya," ucap Eryn dengan hati-hati. Ia tak ingin melukai hati ayahnya itu.

__ADS_1


#tobecontinued


__ADS_2