
Black kembali ke hotel setelah melakukan tugasnya untuk mengeksekusi pengkhianat di kelompoknya. Emosinya masih memburu ketika tiba di hotel. Namun saat di depan pintu kamarnya, ia berusaha menenangkan diri agar Eryn tak curiga padanya.
Black membuka pintu dengan kartunya kemudian masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Eryn telah terlelap di tempat tidur. Black tersenyum melihat wanitanya yang tertidur begitu damai.
Ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan pikiran yang melayang kemana-mana. Ia masih memikirkan tentang apa yang dikatakan si pengkhianat sebelum meninggal.
"Sekali lagi kutegaskan, Tuan. Bukan aku yang melakukan semua kecurangan itu. Aku ... dijebak..."
Itulah kalimat yang dikatakan oleh orang itu sebelum akhirnya napasnya terhenti.
Black keluar dari kamar mandi dan berganti dengan kaus dan celana pendek. Ia naik ke atas tempat tidur dan memeluk Eryn.
"Hmm?" Eryn membuka sedikit matanya karena merasakan ada yang melilit tubuhnya.
"Tidurlah lagi! Maaf aku membangunkanmu." Black mengecup puncak kepala Eryn kemudian mencoba memejamkan mata.
Keesokan harinya, Eryn terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Black ada disisinya.
"Dia sudah bangun?" Eryn mengernyit kemudian turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Ia melihat catatan yang di tempelkan Black di pintu kamar mandi.
"Sayang, maaf aku meninggalkanmu. Aku tunggu di resto hotel untuk sarapan bersama."
Begitulah bunyi catatan yang ditulis Black. Eryn membuka pintu kamar mandi lalu membersihkan dirinya.
Usai bebersih, Eryn akan meletakkan baju kotornya di keranjang. Namun matanya tertuju pada setelan milik Black yang sepertinya pria itu pakai semalam.
Tercium bau aneh dari kemeja milik Black. Eryn mengambil kemeja hitam itu dan menajamkan indera penciumannya.
"Seperti bau darah," gumam Eryn. Ia meraba bagian yang sepertinya agak kotor. Ia mengusap bagian itu dan memastikan jika itu memang darah.
"Sebenarnya apa yang terjadi semalam?"
Eryn meletakkan kembali kemeja Black dan segera bersiap untuk menemui pria itu. Eryn yakin ada yang tidak beres disini.
Eryn keluar dari kamar dan bermaksud menemui Black di resto hotel lantai bawah. Ia sedang berjalan menuju lift. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya ia kenali.
"Bukankah itu Enrique? Apa yang dia lakukan disini?" gumam Eryn sambil melihat kearah Enrique yang sedang bicara dengan seseorang disambungan telepon.
Eryn menggeleng pelan kemudian melanjutkan langkahnya. Di dalam lift, Eryn kembali berpikir.
"Kenapa dia harus bersembunyi ketika bicara di telepon? Apa ada sesuatu yang dia rahasiakan dari El?" Eryn masih berperang dengan dugaannya.
Black sedang duduk berbincang dengan Carlos ketika Eryn mulai memasuki area resto. Black memberi kode pada Carlos dan seketika obrolan terhenti.
Black melambaikan tangan pada Eryn dan menyambut kedatangan wanitanya.
"Pagi, sayang. Maaf aku meninggalkanmu lebih dulu." Black berdiri dan seperti biasa menyambut Eryn dengan sebuah ciuman mesra.
Kini mereka sudah terbiasa bermesraan didepan umum.
__ADS_1
"Duduklah! Kau ingin makan apa?" tanya Black dengan penuh perhatian.
"Umm, garlic bread saja. Dan segelas susu."
"Baiklah. Pelayan!" Black memanggil pelayan dan tak lama pesanan Eryn pun datang.
Wanita itu makan dengan lahap. Black memperhatikan dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Bagaimana kemarin bersama Rose?" tanya Black.
"Great. Menyenangkan! Rose bahkan memberikanku beberapa gaun rancangan desainer terkenal," cerita Eryn dengan berbinar.
"Baguslah jika kau senang. Masih ada beberapa jam lagi sebelum kita akan terbang ke Sisilia. Kau ingin pergi kemana? Berbelanja mungkin? Carlos akan menemanimu," tanya Black.
Mendapat sebuah tawaran dari Black membuat Eryn memikirkan sesuatu.
"Sepertinya ini kesempatanku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi," batin Eryn.
"Boleh, aku akan berbelanja," jawab Eryn tersenyum.
Sementara Carlos hanya bisa menghela napas. Eryn bisa melihat itu. Ada keterpaksaan dalam diri Carlos.
Dari kejauhan, nampak seseorang yang tidak asing di mata Eryn sedang berjalan menuju meja mereka.
"Itu kan...?"
"Halo, apa kabar, kawan?" Pria itu menepuk bahu Black.
"Hai, Luiz. Kau sudah sampai?" tanya Black.
"Tentu saja, silakan," jawab Eryn.
"Halo, Nona. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini. Terakhir kali kau meninggalkan pekerjaanmu dan..."
Black langsung melotot kearah Luiz. Ya, pria yang baru saja datang adalah Luiz Fernandez, sahabat Black.
Luiz mengangkat tangan. "Oke! Maafkan aku, Kawan. Bukan salahku jika aku mempekerjakan kekasihmu. Dia sendiri yang datang padaku," bela Luiz.
"Aku sudah selesai. Ayo, Carlos!" Eryn meneguk habis susunya dan berpamitan pada Black dan Luiz. Eryn tahu kedatangan Luiz pasti bukan kebetulan. Ada sesuatu yang memang tengah terjadi dengan bisnis yang dijalani Black.
...💋💋💋...
Eryn dan Carlos tiba di pusat pertokoan kota Milan. Eryn berjalan dari satu toko ke toko yang lain. Wanita itu hanya melihat-lihat saja tanpa membeli, sehingga membuat Carlos sedikit kesal dibuatnya.
"Nona, bukankah kemarin kau sudah berbelanja dengan Nona Rose? Kenapa kau malah berbelanja lagi?" tanya Carlos yang mengikuti Eryn yang sedang memilih setelan untuk anak laki-laki.
"Ini pasti bagus dikenakan oleh Noah," ucap Eryn sendu.
Carlos tahu Eryn pasti sedang merindukan Noah.
"Nona..."
__ADS_1
"Kenapa anak buah El belum juga menemukan Noah? Sebenarnya apa yang terjadi, Carlos? Apakah ada sesuatu yang besar yang membuat Noah tidak bisa ditemukan?" tanya Eryn menatap Carlos.
"Sesuatu yang besar apa, Nona? Maksudmu seperti Noah diculik? Begitu?"
"Entahlah. Mungkin saja kan?"
"Jika memang putramu diculik, pasti mereka akan menghubungimu dan meminta tebusan. Atau menginginkan sesuatu dari Tuan Black. Pastinya mereka tidak akan menyia-nyiakan hal itu mengingat Noah adalah putra Tuan Black."
Eryn terdiam. Apa yang dikatakan Carlos ada benarnya juga.
"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kenapa kemeja El penuh dengan darah?" tanya Eryn.
Carlos diam. Ia tidak ingin memberitahu yang sebenarnya pada Eryn.
"Katakan padaku, Carlos! Aku mohon! Aku harus tahu apa yang sedang mengintai El. Katakan padaku! Mungkin saja aku bisa membantu kalian." Eryn memohon.
"Dengar, Nona. Jika kau bukanlah wanita yang kuat, maka kau tidak kuizinkan untuk mendengar dan memahami apa pun. Kau tahu seperti apa pekerjaan kami."
"Aku tahu! Dan aku memahaminya! Jadi, tolong katakan!"
Carlos menghela napas. "Baiklah, Nona. Akan kukatakan."
Eryn mengajak Carlos untuk bicara di sebuah kafe.
"Carlos, apa semalam El membunuh orang lagi? Siapa yang dia bunuh?" tanya Eryn antusias.
"Nona, tuan Black tidak akan membunuh tanpa alasan. Ia hanya membunuh para pengkhianat. Menurutnya, pengkhianat tidak bisa diampuni."
"Lalu, siapa semalam yang ia bunuh? Dan apa masalahnya?"
"Dia adalah salah satu pekerja di gudang Amigo kota ini. Dia sudah menyebabkan kerugian pada perusahaan. Makanya..."
"El membunuhnya..." Eryn kemudian tertunduk.
"Tuan Black curiga jika ada pengkhianat di tempat kami. Tapi semua masih belum jelas, Nona."
Eryn mengangguk paham. Ia pun meminta Carlos untuk kembali berkeliling bersamanya.
Sementara itu, Luiz mengajak Black untuk bicara berdua. Ada sesuatu yang ingin Luiz sampaikan kepada Black.
"Ada apa, Luiz? Aku yakin kau pasti membawa sebuah berita," ucap Black memasang wajah serius.
"Begini, Black. Data perusahaan telah bocor."
Black mengepalkan tangan.
"Sepertinya ada yang sengaja membobolnya."
"Kau sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Black dengan mata memerah.
"Belum, Black. Sepertinya ada orang dalam yang mengkhianatimu."
__ADS_1
"APA?!"
...B e r s a m b u n g...