
Eryn menyiapkan segala kebutuhan Eric yang kini sedang membersihkan diri di kamar mandi. Meski Eryn menikahi Eric hanya sebagai status untuk putranya, namun wanita itu benar-benar mengabdi pada Eric sebagai seorang istri, kecuali urusan yang satu itu. Memang Eric sendiri yang mengatakan jika dirinya tidak akan menyentuh Eryn jika wanita itu tidak mengizinkannya. Hingga enam tahun berlalu, mereka menjalani pernikahan dengan biasa dan datar.
Eryn tak menolak dirinya satu kamar dengan Eric. Karena mereka memang suami istri. Namun untuk merasakan sentuhan seorang pria, sampai detik ini Eryn masih belum bisa melakukannya.
Eric keluar dengan memakai mantel handuk di tubuhnya. Ia terkejut melihat Eryn yang masih terjaga.
"Kau belum tidur?"
"Belum. Ini kusiapkan baju tidurmu," ucap Eryn sambil menyerahkan baju tidur milik Eric yang sudah ia siapkan.
"Terima kasih." Eric menuju ruangan ganti miliknya.
Eryn menunggu Eric dengan harap-harap cemas. Ia bingung bagaimana memulai percakapan mengenai tawaran yang diterimanya siang tadi.
Eric keluar dengan sudah memakai setelan piyamanya. Ia tersenyum melihat Eryn yang masih setia menunggunya.
"Tidurlah! Kau pasti lelah kan?"
Eryn mengangguk kemudian naik ke atas tempat tidur diikuti Eric.
"Ada apa? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Eric.
"Umm, sebenarnya ... Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Eryn ragu.
"Apa itu?"
"Aku mendapat tawaran untuk merancang sebuah acara ulang tahun pemilik perusahaan di Brazil."
Eric terdiam menatap Eryn. Ia menunggu wanita itu melanjutkan ceritanya.
"Aku belum menerimanya, karena kupikir aku harus bicara dulu denganmu. Tempatnya cukup jauh dari sini." Eryn ganti menatap Eric.
"Kurasa ini adalah hal yang bagus."
"Eh?"
"Kau bisa melebarkan sayapmu. Ini adalah sebuah peluang untuk kau meluaskan jaringan bisnismu juga."
"Entahlah..."
"Aku mendukungmu, Eryn. Kau bisa pergi. Kapan acaranya berlangsung dan apa nama perusahaannya?"
"Tanggal 31 oktober. Namanya EB Company. Apa kau mengenalnya?"
"Hmm, iya. Itu perusahaan besar di Brazil yang berpusat di Sao Paulo. Apa dia merayakan ulang tahun sekaligus merayakan Halloween?"
"Entahlah." Eryn mengedikkan bahunya.
"Kau terima saja tawarannya. Bayarannya juga pasti besar kan?"
"Tapi... Bagaimana dengan Noah? Aku akan meninggalkannya selama dua minggu." Eryn masih ragu karena memikirkan Noah.
"Ada Matilda yang menjaganya. Kau masih bisa menghubunginya lewat panggilan video," jawab Eric enteng.
"Lalu ibumu? Apa katanya jika aku meninggalkan rumah selama itu?"
__ADS_1
"Ibuku sedang pergi ke luar kota bersama bibi Erica. Kau tahu kan jika mereka sudah pergi, itu bisa berbulan-bulan lamanya. Asal aku selalu memberinya uang, ibu tidak akan bicara macam-macam."
"Eric...."
"Pergilah! Aku mendukungmu! Kau harus bisa membuktikan pada dunia jika kau mampu. Mengerti?"
Eryn mengangguk. "Terima kasih, Eric."
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur."
Eric merebahkan tubuhnya begitu juga dengan Eryn. Ia menyelimuti tubuh mereka berdua.
Eryn tidur membelakangi Eric. Pria itu tidak menyia-nyiakan situasi. Ia segera memeluk pinggang Eryn kemudian terpejam.
Ya, situasi seperti ini diizinkan oleh Eryn. Bagaimanapun juga Eric adalah suaminya. Dan Eryn harusnya bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Tapi sekali lagi, Eric tidak pernah memaksanya.
Eric menghirup dalam-dalam aroma wanita yang ia cintai. Kecintaannya pada Eryn membuatnya rela untuk bersabar.
Eryn memegang tangan Eric yang melilit tubuhnya. Kemudian ia memejamkan mata dan menuju alam mimpi.
......***......
Hari ini Eryn bersiap akan terbang ke Brazil bersama beberapa karyawannya. Dan anehnya, untuk Eryn dan Santa menggunakan pesawat yang berbeda dengan karyawan lain. Awalnya Eryn ingin menolak, karena ia tak ingin dibedakan dengan para karyawannya. Tentu saja ia bisa sukses berkat kerja keras karyawannya juga.
Namun karena para karyawannya itu sangat tahu siapa Mr. Black pemilik EB Company, mereka malah memaksa Eryn untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh tuan yang membayar mereka.
Eryn duduk santai berhadapan dengan Santa. Menurutnya pesawat jet ini masih bisa muat dengan semua karyawan yang ia bawa.
"Santa, sebenarnya siapa sih Mr. Black itu?" tanya Eryn.
"Astaga, Nyonya! Apa Nyonya tidak tahu siapa itu Mr. Black?" Santa terheran.
"Siapa yang tidak tahu EB Company. Perusahaan itu merajai hampir semua bisnis, Nyonya. Properti, club malam, cassino, manufaktur, lalu apa lagi ya?"
Eryn tercengang dengan penjelasan Santa.
"Bagaimana seseorang bisa sehebat itu?"
"Kemarikan telingamu, Nyonya!" perintah Santa.
Eryn dengan patuh memajukan tubuhnya agar dekat dengan Santa. Santa pun membisikkan sesuatu kepada Eryn.
"Kudengar gosip, dibelakang EB Company ada geng mafia paling terkenal yang membantu bisnis mereka."
"Hah?!" Eryn terkejut.
"Sssttt! Itu hanya gosip, Nyonya. Untuk kebenarannya aku tidak tahu, hehe." Santa menggaruk tengkuknya.
"Tapi Nyonya jangan terkejut. Di Brazil banyak sekali bisnis dunia bawah. Jadi, mungkin saja semua rumor itu benar," lanjutnya.
Eryn terdiam setelah mendengar penjelasan Santa. Kini ia merasa bimbang. Apakah keputusannya untuk terbang ke Brazil adalah hal yang bagus atau tidak?
......***......
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 9 jam, Eryn dan krunya tiba di sebuah mansion besar bergaya klasik yang di tutupi dengan tembok besar di sekelilingnya. Eryn sempat terkagum-kagum melihat seluruh isi mansion. Dalam ingatannya, dulu ia pernah ingin membangun mansion dengan model klasik seperti ini.
__ADS_1
Seorang pria datang menyambut kehadiran mereka.
"Selamat datang, Nyonya Evans. Selamat datang di mansion milik Mr. Black. Semoga Nyonya dan para kru senang selama tinggal disini." Itu adalah Enrique. Orang yang menemui Eryn beberapa waktu lalu.
"Tuan Enrique, terima kasih atas sambutannya. Kurasa timku akan sangat senang berada disini. Oh ya, apa acaranya akan diadakan di tempat ini?"
"Oh, untuk masalah itu, Nyonya bisa berdiskusi dengan Carlos. Dia adalah tangan kanan Mr. Black. Sebaiknya Nyonya dan para kru istirahat terlebih dahulu. Malam nanti Carlos akan menemui Nyonya. Dan jika beruntung, Nyonya juga akan bertemu dengan Mr. Black secara langsung. Kalau begitu saya permisi. Pelayan disini akan mengantarkan Nyonya ke kamar." Enrique pamit undur diri.
"Misterius sekali orang itu. Seperti apa dia sebenarnya?" batin Eryn.
"Mari Nyonya, sebelah sini!" ucap seorang pelayan.
Eryn mengikuti langkah pelayan wanita itu. Eryn mendapatkan kamar khusus sedangkan Santa dan ke tujuh kru yang Eryn bawa berada di kamar yang berbeda.
Malam harinya, Eryn makan malam bersama para krunya. Tak nampak sama sekali orang yang bernama Carlos ataupun orang yang dipanggil Mr. Black itu.
Usai makan malam, ternyata sosok bernama Carlos benar-benar datang menemui Eryn.
"Nyonya Eryn?"
"Iya. Saya sendiri."
"Perkenalkan, aku Carlos. Mari kita berdiskusi tentang acara ulang tahun Mr. Black."
Eryn mengikuti langkah Carlos menuju sebuah ruang rapat. Mansion ini benar-benar besar. Pemiliknya sudah dipastikan sangatlah kaya.
Carlos mempersilakan Eryn dan krunya masuk. Mereka duduk berhadapan dengan Carlos. Pria itu membawa sebuah map yang berisi rancangan acara yang diinginkan oleh tuannya.
Carlos sedikit menjelaskan tentang konsep acara besar nanti. Namun secara tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap bersama dua orang pengawalnya memasuki ruang rapat itu. Sontak semua beralih pandangan kepada pria itu. Kru Eryn berbisik-bisik dan menebak jika itu adalah Mr. Black yang terkenal itu.
"Apa aku mengganggu?" Suara bariton pria itu membuat Eryn mematung. Suara yang sudah lama tidak ia dengar.
"Tuan Black? Anda ada disini?" Carlos memberi hormat.
"Kau lanjutkan saja, Carlos. Aku ada urusan penting malam ini. Ah, aku lupa mengucapkan selamat datang kepada Nyonya Evans dan para krunya. Semoga Anda suka tinggal disini, Nyonya Evans." Black berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Sementara Eryn masih diam membeku. Kepalanya berdenyut melihat sosok yang baru saja datang dan pergi itu.
"Baiklah, mari kita lanjutkan," ucap Carlos.
"Tunggu, Tuan Carlos. Aku ingin bertanya, apa itu tadi yang bernama Mr. Black?" tanya Santa. Gadis 22 tahun itu sangat penasaran dengan sosok yang terkenal itu.
Carlos tersenyum. "Benar, Nona Santa. Dia adalah Mr. Black. Pemilik EB Company dan juga mansion ini," balas Carlos dengan melirik kearah Eryn.
Tubuh Eryn limbung dan akan terjatuh. Santa segera memeganginya.
"Nyonya! Anda baik-baik saja?"
"Sa-Santa, kau lanjutkan saja diskusinya. A-aku agak kurang sehat. Aku akan berisitirahat di kamarku. Aku serahkan semua padamu. Permisi, Tuan Carlos." Eryn sedikit membungkukkan badan dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Dari kejauhan, seseorang memandangi Eryn yang berjalan tergesa dengan memegangi dadanya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Eryana Kim. Atau sekarang kau sudah berganti nama menjadi, Eryn Evans."
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...
*Wah, sudah ketemu. Apa yang akan dilakukan si Black ya?😨😨