Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
74. Firasat Eryn


__ADS_3

Setelah kemarin Eryn akhirnya menerima permintaan Joon, kini pria itu makin memiliki sifat posesif terhadap Eryn. Apalagi Kang Joon tahu siapa yang sedang bekerjasama dengan Eryn.


Kang Se Hoon bukanlah pria sembarangan. Mungkin Eryn tidak mengetahuinya karena ia baru saja pindah kemari. Tapi Joon sangat paham jika apa yang dilakukan Se Hoon bukanlah semata-mata karena pekerjaan saja.


Saat ini Joon sedang menjemput Eryn di rumahnya. Ia tidak akan membiarkan wanita cantik itu berangkat sendiri ke perusahaan milik Se Hoon.


"Joon?" Eryn terkejut melihat kehadiran pria itu di depan rumahnya.


"Hai, kau mau pergi bekerja?" tanya Joon.


"Iya. Tapi aku akan langsung ke gedung Se-Kang."


"Tidak masalah. Aku akan mengantarmu."


"Eh?"


"Ayo, masuklah!" Joon membukakan pintu mobil untuk Eryn.


Tak ingin membuat pria itu kecewa, Eryn pun menyetujuinya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di gedung Se-Kang yang menjulang kokoh dan tinggi itu. Kembali Joon membukakan pintu mobil untuk Eryn.


"Silakan, Nona..." ucap Joon dengan sedikit membungkukkan badannya.


Eryn terkekeh dengan sikap Joon yang dinilainya berlebihan.


"Ayo, aku akan mengantarmu masuk!" ajak Joon.


"Eh? Kurasa tidak perlu, Joon. Aku..."


"Tidak ada penolakan, Nona." Joon menggenggam tangan Eryn dan masuk ke dalam gedung.


Tiba di depan lobi, mereka berdua dengan si pemilik gedung. Siapa lagi kalau bukan Kang Se Hoon.


Eryn menyapa sopan orang yang sudah membayarnya itu.


"Pimpinan Kang!" sapa Eryn.


"Nona Kim, apa kau kini punya pengawal?" tanya Se Hoon dingin.


"Heh?!" Eryn bingung dengan maksud Se Hoon.


Se Hoon memperhatikan tangan Eryn yang saling bertautan dengan tangan Joon.


"Aku mengantar calon istriku, Tuan Kang," timpal Joon.


"Ah, begitu ya..." Se Hoon mengusap dagunya.


Eryn melirik Joon dan melihat pria itu sedang menatap Se Hoon tajam dengan tatapan yang tak bisa Eryn pahami. Tapi yang jelas tatapan itu terlihat tak bersahabat.


"Ada apa ini?" Sebuah suara melebur ketegangan diantara kedua orang yang masih saling bertatapan.


"Kak, ada apa?" tanya Se Naa lagi. Ya, suara itu berasal dari Se Naa.


"Tidak ada," jawab Se Hoon datar.


"Hai, Joon," sapa Se Naa.

__ADS_1


"Hai, juga Nona," balas Joon datar.


Se Naa melirik tangan Eryn yang terus digenggam oleh Joon.


"Ehem! Aku harus membawa Eryn segera. Karena ada pekerjaan yang harus dia lakukan," ucap Se Naa.


"Joon, aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah mengantarku." Eryn melepas genggaman tangan Joon.


"Iya, nanti pulangnya aku akan menjemputmu lagi." Joon mencium kening Eryn di hadapan Se Hoon dan Se Naa. Ia memang sengaja melakukannya.


Setelah Joon melepas ciumannya, Eryn segera pergi mengikuti langkah Se Naa. Ia menoleh ke belakang dan melihat Joon juga Se Hoon masih berdiri di tempatnya.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" batin Eryn bertanya-tanya.


Se Hoon tersenyum mengejek melihat adegan sok romantis tadi di depan matanya.


"Jadi kau sengaja menunjukkan itu padaku?" tanya Se Hoon sinis.


"Iya. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu merebut apa yang harusnya menjadi milikku!" tegas Joon.


"Dengar ya! Kau hanya dokter penjilat yang hanya bisa memanfaatkan situasi. Kau bisa berada di titik ini karena kau pintar menjilat. Harusnya kau tahu diri dimana posisimu!" sarkas Se Hoon.


"Apa kau bilang?!" Joon mengepalkan tangannya.


Kim Beom menginterupsi perdebatan mereka.


"Tuan, kita harus segera pergi. Klien sudah menunggu," bisik Kim Beom.


"Baiklah. Aku sudah membuang waktuku karena sudah meladeni dokter penjilat ini." Se Hoon pergi meninggalkan Joon yang masih mematung dengan kekesalan mencapai ubun-ubunnya.


#


#


#


Eryn menuju aula diadakannya acara akbar besok malam. Hari ini adalah hari terakhir dan Eryn harus memastikan semuanya sempurna.


"Bagaimana? Apa ada yang ingin kau ubah?" tanya Eryn menunjukkan dekorasi yang sudah dibuatnya.


"Hmm, bagus. Tapi ... ada sedikit yang ingin kuubah. Bagaimana kalau di sebelah sana kau ganti dengan warna keemasan?" ucap Se Naa.


"Boleh. Nanti aku akan menggantinya."


Eryn menimang-nimang apakah ia harus bertanya tentang ini atau tidak.


"Umm, Se Naa. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Soal apa?"


"Soal Pimpinan Kang dan juga Joon. Aku melihat ada yang berbeda dengan cara mereka saling tatap. Apa kau bisa beritahu aku?"


Se Naa menghela napasnya. Ia tersenyum.


"Itu hanya cerita masa lalu, Eryn. Kau jangan memikirkannya."


Eryn mengangguk paham. Namun dalam hatinya, ia punya firasat yang tidak bagus soal hubungan Se Hoon dan Joon.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang menghampiri Se Naa dan mengatakan jika wanita cantik itu sudah ditunggu oleh tamunya.


"Eryn, aku pergi dulu ya. Aku percayakan semuanya padamu." Se Naa menepuk bahu Eryn kemudian berlalu.


"Iya, aku akan lakukan yang terbaik."


Eryn segera meminta timnya untuk mengganti dekorasi sesuai dengan keinginan Se Naa. Sudah tidak ada waktu lagi, pikirnya. Karena seluruh timnya juga sedang bekerja, maka mau tak mau Eryn sendiri yang harus turun tangan untuk mengerjakannya.


Eryn naik ke atas tangga dan melepas kain yang sudah terpasang itu dan menggantinya dengan kain berwarna emas sesuai pesanan Se Naa. Karena kurang hati-hati kaki Eryn tergelincir dan membuat tubuhnya jatuh ke bawah.


"Aaaa!" teriak Eryn.


Namun tanpa ia duga seseorang menangkap tubuhnya. Eryn selamat.


Eryn yang tadi menutup matanya sontak membuka mata.


"Hah?!" Eryn menatap sosok yang menangkapnya.


Sejenak mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Tapi tak lama Eryn tersadar. Ia segera melepaskan diri dari dekapan orang itu.


"Maaf. Dan terima kasih sudah menolongku," ucap Eryn canggung.


Orang itu tidak menjawab dan segera pergi dari hadapan Eryn.


"Siapa dia? Kenapa di tempat tertutup seperti ini dia memakai topi dan masker?" gumam Eryn.


"Apa dia salah satu timku? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Eryn memperhatikan timnya satu persatu.


"Tidak! Dia bukan salah satu timku." Eryn segera mengejar sosok pria itu yang menuju keluar aula.


"Jangan-jangan..."


Entah apa yang terjadi dengan Eryn. Namun ia berfirasat jika orang itu adalah orang yang dekat dengannya. Eryn bisa melihat dari tatapan orang itu.


Eryn celingukan mencari keberadaan orang yang berpakaian serba hitam dengan topi dan masker. Namun Eryn tak berhasil mengejarnya.


"Kemana dia? Aku yakin dia lari kesini."


Eryn kembali memutar badan dan mencoba mencari lagi.


"Jika firasatku tidak salah, aku yakin jika dia adalah ... Eldric." batinnya.


Eryn bolak balik menyusuri lorong-lorong gedung untuk menemukan sosok itu. Namun masih nihil.


Eryn menyenderkan tubuhnya ke dinding. Air matanya mulai menetes.


"Apa benar kau masih hidup, El? Kenapa kau tidak langsung menemuiku?"


Eryn memegangi dadanya. Kesedihan yang begitu mendalam kembali ia rasakan.


Dari kejauhan, sosok yang dikejar Eryn menatap nanar wanita yang kini sedang menangis itu. Ingin rasanya ia mendekat dan menghapus air mata wanita itu. Namun semua tidak bisa ia lakukan. Ia harus menunggu waktu yang tepat untuk bisa menunjukkan jati dirinya di depan Eryn dan juga semua orang.


#tobecontinued


*Huhuhu, apakah itu memang Eldric? Lalu ada apa dgn Se Hoon dan Kang Joon? Ikuti terus ceritanya ya!


Terima kasih utk dukungannya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2