
...Ego,...
...Sesuatu yang ada dalam diri kita...
...Hati,...
...Sesuatu yang sulit untuk ditebak...
...Bila ego bicara, akankah hati tetap menyapanya?...
...πΏπΏπΏ...
Mobil sport berwarna hitam mulai memasuki halaman mansion mewah milik Black. Tidak ada percakapan selama perjalanan hingga mobil akhirnya berhenti tepat di depan mansion.
Mata Black sudah memerah karena amarah telah memenuhi seluruh otak dan hatinya. Dengan cepat ia keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Eryn.
Begitu pintu mobil terbuka, Black segera menaikkan tubuh Eryn ke punggungnya.
"Tuan, lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Eryn meronta-ronta dan kembali memukuli punggung Black.
Black hanya tersenyum seringai merasakan pukulan Eryn yang menurutnya tidak terasa sama sekali di punggungnya.
Black langsung menuju masuk ke kamarnya dan membawa Eryn ke kamar mandi. Ia menurunkan tubuh Eryn didalam bathup dan langsung menyalakan keran.
"Aw!" pekik Eryn terkejut karena Black menggosok tubuhnya menggunakan shower puff dengan cukup kasar.
"Tuan! Apa yang kau lakukan?" tanya Eryn yang pastinya tidak akan bisa kabur dari ruang itu.
"Diam dan jangan banyak tanya! Aku sedang membersihkanmu dari kotoran yang menempel di tubuhmu," balas Black santai namun tetap mengintimidasi.
Eryn hanya diam dan tak berani bicara lagi. Sudah cukup dirinya membuat Black marah. Kini lebih baik ia pasrah saja.
Setelah dirasa cukup, Black mengangkat tubuh Eryn keluar dari bathup. Black menatap tubuh Eryn yang mulai kedinginan. Ia melepas dress ketat yang dipakai Eryn dan membuangnya ke sembarang arah.
Eryn memejamkan mata ketika Black melakukan itu. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
Kini ditubuhnya hanya tersisa dua kain yang menutupi bagian-bagian vital milik Eryn.
"Aku membebaskanmu untuk bisa pergi keluar rumah, tapi bukan berarti kau boleh melakukan hal sesuka hatimu. Apalagi menjadi pelayan di klub malam! Apa kau sadar apa yang kau lakukan? Kau membuat pria-pria itu seakan menelanjangimu. Kau tahu itu?"
Suara Black tidak keras namun terdengar tegas dan lugas. Eryn hanya mendengarkan tanpa menjawab. Ia sadar jika dirinya telah melewati batas.
"Berapa banyak pria yang sudah menyentuhmu?" tanya Black dengan tatapan tajam.
"Aku bukan wanita seperti itu!" ucap Eryn dengan mata berkaca-kaca.
"Itu adalah klub malam. Dan kau tahu apa yang bisa terjadi disana?"
"Aku bukan wanita seperti itu!" ucap Eryn sekali lagi. Matanya benar-benar sudah menghangat. Ia akan tetap mempertahankan harga dirinya.
Black menatap tubuh Eryn yang hampir tak berbusana. Lekuk tubuh itu masih tetap sama. Pikirnya.
__ADS_1
Black berjongkok dan melihat sebuah bekas luka di bawah pusar Eryn. Itu adalah bekas operasi sesar yang dijalaninya lima tahun lalu.
Black mengusap bekas luka itu dengan tangannya. "Apakah masih terasa sakit?"
Karena tak mendapat jawaban, Black malah maju dan mencium bekas luka itu. Eryn memejamkan mata merasakan bibir Black menyentuh kulitnya.
Black kembali berdiri dan mengambil baju handuk yang tersedia di kamar mandi lalu memakaikannya di tubuh Eryn.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku! Kau mengerti?!"
Eryn mengangguk.
"Aku akan minta pelayan untuk menyiapkan baju ganti untukmu. Setelah itu kau beristirahatlah!" Black melangkah keluar dari kamar mandi.
"Maaf..." ucap Eryn lirih yang membuat langkah Black terhenti.
"Maafkan aku..." Eryn tak kuasa menahan air matanya.
Black kembali berbalik badan dan menghampiri Eryn.
"Aku ingin menghukummu. Tapi aku tidak tahan jika melihatmu menangis." Black menyeka air mata Eryn dengan jarinya.
"Maaf..." lirih Eryn lagi.
Melihat wajah sayu wanita didepannya membuat Black tak mampu lagi menahan gejolak dalam dirinya. Dengan cepat ia meraih tengkuk Eryn dan mencium bibirnya yang bergetar namun masih memiliki magnet yang luar biasa.
Sebuah ciuman panjang pun terjadi. Eryn membalas ciuman itu. Tak ada kekerasan dan tak ada tuntutan. Mereka saling menikmati dan makin terbuai dengan kegiatan saling mengecup dan bertukar rasa itu.
Black menuntun Eryn keluar dari kamar mandi dengan bibir yang masih saling bertautan. Black merebahkan tubuh Eryn diatas ranjang king size miliknya.
Tubuh atletis dan bidang namun memiliki beberapa bekas luka disana. Tangan Eryn terangkat dan mengelus bekas luka itu.
"Kau banyak terluka?" tanya Eryn.
"Ini sudah menjadi bagian dari pekerjaanku. Kau jangan khawatir. Aku sudah terbiasa terluka."
"Jangan sampai terluka lagi..."
"Aku lebih terluka jika kau dimiliki oleh orang lain."
Eryn tersenyum. Melihat senyum yang indah itu, Black kembali meraih candunya.
"Aku tidak pernah menjadi milik orang lain, El. Aku selalu menjadi milikmu," bisik Eryn.
Black menjelajahi semua hal yang menjadi 'miliknya' itu. Ia mengabsen setiap inci tanpa ada yang terlewat.
Eryn memeluk erat tubuh liat itu dan menghirup aromanya dalam-dalam ketika ia merasakan sesuatu mulai memasuki dirinya. Sedikit terpekik karena merasakan sakit, namun Eryn tak menghiraukannya. Ia merasa senang karena 'El' nya telah kembali.
Black menggenggam erat tangan Eryn ketika dirinya mulai bergerak beraturan dan berirama. Malam itu menjadi hangat dengan suara mereka berdua yang saling bersahutan.
...πΏπΏπΏ...
__ADS_1
Pagi telah kembali menyapa, Eryn membuka mata dan mengerjapkannya perlahan. Sepertinya ia terlambat bangun lagi hari ini. Ia tersenyum bahagia mengingat malam hangat yang ia lalui bersama Black semalam.
Eryn memperhatikan sekeliling lalu mengernyitkan dahinya.
"Ini dimana? Ini bukan kamar El."
Eryn memperhatikan penampilannya yang sudah memakai piyama. Seingatnya semalam ia masih tak mengenakan pakaian ketika matanya terpejam.
Eryn segera turun dari tempat tidur dan menyadari sesuatu.
"Aku sedang ada di dalam pesawat?" Eryn terperangah.
Eryn keluar dari kamar itu bermaksud mencari keberadaan Black. Telinganya menangkap suara orang sedang berbincang.
Eryn mengintip dan melihat Black sedang berbincang dengan beberapa pria. Dua diantaranya adalah yang dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Carlos dan Enrique.
Black menyadari kehadiran Eryn dan segera menghampiri gadis itu. Black melemparkan senyum terbaiknya. Senyum yang amat jarang ia tampilkan didepan banyak orang.
"Selamat pagi, sayang. Kau sudah bangun?" sapa Black. Ia mencium bibir Eryn sekilas.
"El? Ini dimana?" tanya Eryn.
"Kau ada di pesawat jet pribadiku, sayang. Kita akan pergi ke Italia."
"Hah?!" Eryn terkejut.
"Mulai sekarang kau akan ikut kemanapun aku pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi."
Ada secuil kebahagiaan ketika mendengar itu dari mulut Black. Namun ada juga sedikit kekhawatiran yang dirasakan oleh Eryn. Setelah ini ia pasti tidak akan bisa bergerak bebas seperti dulu. Akan ada mata-mata Black yang selalu mengawasinya 24 jam penuh.
"Perjalanan masih panjang. Kau kembalilah beristirahat. Atau kau ingin mengulang yang semalam?" ucap Black dengan kerlingan mata yang menggoda.
"El! Kau menyebalkan!" balas Eryn ketus dengan wajah yang merona.
"Aku mencintaimu, Eryn..."
Eryn memeluk Black erat dan mengucap rasa syukur yang dalam.
"Terima kasih karena kau telah kembali..."
Eryn mengurai pelukannya kemudian menatap Black. "Bagaimana hubunganmu dengan Rose?"
Wajah Eryn berubah sendu jika mengingat tentang Rose. Black malah tertawa mendengar pertanyaan Eryn.
"Aku dan Rose tak memiliki hubungan apa pun. Kami hanya berteman."
Dahi Eryn berkerut. "Lalu, pertunangan itu?"
"Aku yang mengatur semuanya untuk membuatmu cemburu."
"Apa?!" Mata Eryn melotot tak percaya dengan kejujuran Black.
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...
*Jiyeeee, keinginan kalian terkabul ya genks πππ