Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
116. Trauma Ilena


__ADS_3

"Siapa kau sebenarnya?"


Ilena berusaha tetap membalas tatapan dingin Red meski dirinya sudah kesakitan dengan cengkraman kuat tangan kokoh pria itu. Pertanyaan Red sama sekali tidak Ilena jawab. Untuk apa ia menjawab pertanyaan itu? Toh mereka tidak saling mengenal, pikir Ilena.


Tak mendapat jawaban dari Ilena, Red melepaskan tangannya dari bahu gadis itu. Ia memberi kode pada para penjaga untuk membawakan senjata andalan Red yaitu sebuah cambuk berwarna merah menyala.


Mata Ilena membulat sempurna ketika Red berjalan kearahnya dengan mengayunkan cambuknya. Ilena menggeleng dengan kuat. Sudah sejak lama ia tak melihat alat yang sudah membuat banyak luka di tubuhnya.


"Tidak! Jangan lakukan!" teriak Ilena.


"Kau rasakan ini, huh! Kau sudah berani melawanku!" Red mulai mendekat. Dan Ilena mundur perlahan menghindari Red.


"Akh!" Ilena menjerit ketakutan.


"Jangan, Ibu! Jangan lakukan! Aku akan menuruti ibu! Jangan!" teriak Ilena dengan memeluk tubuhnya. Ia meringkuk di pojok ruangan.


Red tertegun karena ia belum melakukan apapun. "Ada apa dengan gadis ini?" batin Red.


Sementara itu, Blue baru kembali dari luar kota setelah mendapat tugas dari Red untuk membantu Luiz. Ia langsung mencari keberadaan Ilena karena sangat merindukannya.


Entah kenapa hatinya begitu tertancap dengan sosok Ilena yang masih lugu dan polos. Ia mendatangi kamar Ilena dan bertemu Sweety.


Sweety bercerita jika Ilena dibawa ks ruang bawah tanah karena mendapat hukuman dari Red. Dengan amarah yang memuncak, Blue datang ke ruang bawah tanah.


Tiba disana, Blue mendengar teriakan Ilena. Ia berlari menghampiri suara teriakan itu.


"Baby!" seru Blue dan merengkuh tubuh Ilena. Ia memeluk dan menenangkan Ilena yang masih berteriak.


"Baby, ini aku! Jangan takut! Ada aku disini!"


Tangis Ilena mereda. Ia menatap wajah Blue. Tangisnya kembali pecah kemudian tubuhnya ambruk.


"Baby! Baby! Bangun!" Blue menepuk pelan pipi Ilena kemudian mengangkat tubuhnya.


Blue menatap tajam kearah Red. "Kau harus menjelaskan ini padaku, Red!" ucap Blue dengan mata memerah.


Blue segera membawa tubuh Ilena ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh lemah Ilena dan segera menghubungi dokter.


Tak berselang lama, dokter Andrew White, atau yang lebih dikenal dengan panggilan 'White' segera memeriksa Ilena. Disana ada Blue dan juga Red yang memperhatikan White ketika memeriksa Ilena.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Blue.


"Aku tidak melakukan apapun padanya, Blue. Dia berteriak sendiri!" bela Red pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kau harus jelaskan padaku kenapa kau membawa Baby ke ruang bawah tanah. Itu adalah tempat untuk orang yang melakukan kesalahan fatal. Apa yang sudah Baby lakukan hingga kau membawanya ke ruangan itu, hah?" Blue sudah dikuasai amaeah saat ini.


"Dia sudah berani melawanku!" balas Red tak mau kalah.


"Sejak awal sudah kuberitahu jika Baby adalah milikku. Dan kau tidak berhak mengusiknya tanpa seizin dariku!"


"Wah, jadi kau sudah terjerat cinta si pel4cur kecil ini, hah?!" sarkas Red.


"Tutup mulutmu!" Blue menarik kerah baju Red.


"Cukup! Hentikan!" White melerai kakak beradik yang sedang berseteru itu.


"Apa yang terjadi dengan kalian? Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kalian terus bertengkar! Biarkan aku memeriksanya dengan tenang." White kembali memeriksa Ilena.


Kakak beradik ini akhirnya diam sambil menunggu keterangan dari White. Mereka masih saling bertatapan dengan sengit ketika White sudah selesai memeriksa Ilena.


"Ada apa dengan mereka? Baru kali ini mereka bertengkar hanya karena wanita. Dan ditambah lagi dia adalah wanita penghibur disini. Apa dia begitu istimewa hingga membuat kakak beradik ini berseteru?" batin White kemudian menatap wajah pucat Ilena.


"Dia cantik juga. Tapi sayang, sepertinya dia menyimpan trauma yang dalam di masa lalunya," lanjut White membatin.


"Ehem!" White menginterupsi Blue dan Red.


"Kondisi gadis ini baik-baik saja. Dari pengamatanku sekilas, dia memiliki trauma mendalam di masa lalunya. Apa yang tadi kalian lakukan hingga membuat trauma gadis ini kembali?" tanya White.


Blue menatap Red. "Apa yang kau lakukan, Red?"


"Aku belum melakukan apapun. Aku bersumpah!" ucap Red sungguh-sungguh.


"Baiklah. Kali ini aku percaya. Mulai sekarang Baby ada dalam pengawasanku. Dan kau tidak berhak ikut campur urusanku bersama Baby," tegas Blue.


Red segera keluar dari kamar Blue diikuti oleh White yang sebelumnya telah memberikan resep obat kepada Blue.


Red menuju ke bar dan meminta segelas wine pada bartender. White ikut duduk di samping Red.


Dokter tampan itu memperhatikan ekspresi wajah Red yang nampak kesal karena kalah dari Blue.


"Apa ada hal yang aku lewatkan? Aku baru tahu jika kalian saling berebut gadis penghibur di klubmu sendiri," ucap White sambil menggeleng pelan.


"Tutup mulutmu, White!" Red kembali menyesap wine-nya.


"Aku ingin tahu seistimewa apa gadis itu hingga kalian memperebutkannya," batin White kemudian menyesap segelas wine miliknya.


Di kamar Blue, Ilena mulai membuka matanya. Rasa takut karena mendengar suara cambuk yang diayun membuat tubuhnya kembali bergetar.

__ADS_1


Blue menghampiri Ilena. "Hei, jangan takut. Ini aku!" ucap Blue dengan suara lembutnya.


"Blue? Kau sudah kembali?" tanya Ilena.


"Iya. Maaf karena aku meninggalkanmu terlalu lama. Setelah ini tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu! Tenanglah! Kau aman bersamaku!" Blue membawa tubuh Ilena dalam dekapannya.


Gadis itu merasa lebih tenang saat Blue memeluknya erat. Ia merasa terlindungi dengan adanya Blue disisinya.


"Malam ini tidurlah disini! Aku akan menjagamu."


Ilena mengangguk pelan. Ia tak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan Blue. Ia yakin jika Blue sangat berbeda dengan Red yang begitu dingin dan kasar.


Keesokan harinya, Ilena mulai membuka mata dan merasakan hembusan napas seseorang yang begitu dekat dengannya. Ilena memperhatikan wajah Blue yang begitu damai ketika tertidur.


Ternyata Blue tidak melakukan apapun padanya. Pria ini benar-benar melindunginya. Ilena mengulas senyumnya.


Entah apa yang terjadi dengan Ilena, tiba-tiba saja tangannya terulur dan mengusap rahang kokoh Blue. Ia merasakan sebuah kehangatan dari wajah Blue yang terpejam.


"Selamat pagi!" ucap Blue tiba-tiba yang membuat Ilena segera menarik tangannya.


"Ma-maaf..." lirih Ilena dengan menundukkan wajahnya.


"Kenapa kau selalu menundukkan wajahmu? Sudah kubilang kau harus berani jika kau tidak bersalah. Aku sudah tahu semua ceritamu dengan Red. Aku tidak menyangka kau seberani itu pada kakakku. Kenapa kau lebih membela anak-anak itu daripada nyawamu sendiri? Kau tahu bukan, Red bisa saja menyiksa dan membunuhmu."


"Mereka sangat penting bagiku. Aku melakukan pekerjaan ini karena mereka. Aku tidak ingin mereka hidup menderita," ucap Ilena sendu.


Blue menghela napasnya. "Baiklah. Aku akan pastikan mereka baik-baik saja."


"Benarkah?" Ilena berbinar senang. Refleks ia memeluk tubuh Blue yang masih bersama dirinya di tempat tidur.


Tersadar dengan apa yang dilakukannya, Ilena segera menarik diri. "Ma-maaf..."


"Kenapa kau selalu meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan."


Ilena diam. Rasanya semua mulai menjadi canggung.


"Apa kau bersedia memberitahuku apa yang terjadi denganmu di masa lalu? Dokter White bilang kau memiliki trauma yang kembali muncul karena ulah Red."


Ilena masih diam. "Aku tidak ingin mengingatnya lagi, Blue."


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Blue beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi.


"Blue!" panggil Ilena.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah menolongku," lanjutnya.


Blue tersenyum. "Ucapkan terima kasih dalam bentuk yang lain."


__ADS_2