Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
21. Test DNA


__ADS_3

Eleanor tak memiliki pilihan lain selain membiarkan Eryn menggantikan posisi putranya untuk memimpin perusahaan. Sebenarnya dalam banyak hal ia kalah dari Eryn. Eryn memang wanita pekerja keras. Selama ini dia menghidupi dirinya sendiri tanpa mendapat bantuan dari Eric.


Ya, Eleanor melarang Eric untuk memberikan uang bulanan kepada Eryn, karena dirinyalah yang akan mengatur keuangan di keluarga Evans. Eric hanya menurut dan menaati perintah ibunya.


Seiring berjalannya waktu, semua mulai terbongkar. Eleanor tak pernah memberikan uang pada Eryn. Dan Eryn pun tidak pernah memintanya pada ibu mertuanya itu. Lalu secara diam-diam akhirnya Eric tetap memberikan uang bulanan kepada Eryn.


Eryn masih menyimpannya karena ia pikir itu biaya sekolah Noah nantinya. Eryn sendiri tidak pernah berpikir akan terus menjadi keluarga Evans. Suatu saat dia harus keluar dari keluarga itu. Karena sudah bertahun-tahun pun, Eleanor sama sekali tidak menunjukkan rasa sukanya pada Eryn.


Kini Eryn duduk bersama dengan Elenaor, Elza dan juga Erica. Ia ingin memberitahu perihal yang terjadi hari ini.


"Kita akan menjual cabang perusahaan yang ada di Kolombia," ucap Eryn.


"Kau gila! Bagaimana bisa? Itu adalah hasil kerja keras Eric!" Baru saja bicara, Eleanor sudah mulai naik darah.


"Dengarkan aku dulu, Bu. Kita tidak punya pilihan lain. Atau ... kita punya uang untuk menutupi semua kerugian perusahaan?" lanjut Eryn.


"Kenapa tidak kau jual saja kantormu itu? Kantormu juga cukup besar!" ketus Eleanor lagi.


"Kantorku sudah disita juga, Bu. Entah kenapa mereka melakukannya. Padahal aku membeli tempat itu dengan uang sisa hasil penjualan rumahku."


"Tentu saja itu karena uang itu juga uang Eric kan? Kau hanya menyamarkan sebagai uang hasil penjualan rumah." Eleanor masih tak mau kalah.


"Cukup, Ibu! Kak Eryn disini untuk membantu kita. Kenapa Ibu selalu menyudutkannya?" Elza berani membantah Eleanor.


"Aku sudah dengar itu dari kak Santoz. Lalu, sekarang bagaimana? Apakah sudah ada yang bersedia membeli cabang Kolombia? Kudengar sudah ada yang menawarnya," lanjutnya.


"Elza!" kesal Eleanor.


"Kita tidak punya pilihan, Ibu! Atau begini saja, kita jual semua perhiasan yang kita miliki. Aku akan menjual milikku, dan Ibu juga Bibi harus menjual semua perhiasan kalian!" usul Elza yang membuat Eleanor makin meradang.


"Mana bisa begitu? Kenapa kau jadi membawa-bawaku?" protes Erica.


"Selama ini Bibi tinggal disini dan makan disini. Kak Eric juga yang membiayai hidup Bibi. Apa tidak ada rasa kasihan sedikit saja dihati Bibi? Kak Eric sedang kesulitan dan kalian tidak mau membantunya!" kesal Elza.


"Sudahlah, Elza. Kita tidak perlu menjual perhiasan Ibu dan Bibi. Karena aku sudah sepakat dengan pembelinya," sahut Eryn.


"Eh? Yang benar, Kak?" Elza tak percaya.


"Bagaimana bisa kau mendapat pembeli secepat itu? Pengusaha mana yang memiliki kekayaan melebihi kita? Atau kau ... melakukan hal lain, hah?!" cibir Eleanor.


"Ibu tidak perlu tahu! Yang terpenting sekarang kita pikirkan cara untuk membebaskan Eric!" tutup Eryn kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Dasar tidak tahu diri! Aku belum selesai bicara dia sudah pergi!" kesal Eleanor.


Eryn masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan memukuli dadanya. Ia berusaha tetap tenang dan tidak menangis.

__ADS_1


Ingatan bagaimana tadi ia melawan Black kembali menguar.


"Aku tidak akan meninggalkan Eric! Dia adalah suamiku! Meski kau membunuhku aku tidak akan pernah meninggalkannya!"


Entah keberanian dari mana Eryn mengatakan itu di depan Black. Meski ia tidak mencintai Eric. Namun pria itu sudah menolongnya saat dulu dia terpuruk. Tidak mungkin Eryn meninggalkan Eric di saat pria itu kini sedang terpuruk. Anggap saja itu sebagai balas budi. Eryn akan lakukan apa pun agar Eric bisa bebas kembali.


...🌺🌺🌺...


"Aku tidak mau makan!" gerutu Noah ketika Matilda akan menyuapinya makan.


"Tuan kecil, ayolah makan! Jangan seperti ini. Nanti kalau sakit, bagaimana?" bujuk Matilda.


"Tidak mau!" Noah kukuh tidak mau makan.


"Aku ingin Daddy, Bibi! Daddy dimana? Kenapa Daddy tidak pernah pulang? " Bocah kecil itu mulai menangis terisak.


"Mommy juga selalu sibuk. Semua orang di rumah ini tidak peduli padaku, hiks hiks."


"Ssst! Jangan bicara begitu Tuan Kecil. Semua orang disini menyayangi Tuan Kecil." Matilda memeluk Noah dan mengusap punggungnya.


Eleanor yang melihat pemandangan itu mulai tersentuh. Ternyata cucunya itu sangat menyayangi Eric.


"Duh, cucu Nenek kenapa menangis? Sini sama Nenek!" Eleanor menghampiri Noah.


"Nenek! Apa Nenek akan pergi juga seperti Daddy?" Noah memeluk Eleanor dan mengadu padanya.


"Tidak! Nenek tidak akan meninggalkanmu. Daddy sedang sibuk bekerja, sayang. Kau jangan khawatir. Sebentar lagi Daddymu pasti pulang. Tapi, Daddy tidak suka jika ada anak yang menolak makanan. Sini, kau harus makan dulu. Biar Nenek suapi ya!" Eleanor meminta piring makan Noah pada Matilda.


Dengan patuhnya Noah menurut pada Eleanor.


"Anak pintar!" Eleanor membelai puncak kepala Noah.


Dilihatnya menu makanan Noah yang penuh dengan kacang-kacangan.


"Kau suka kacang, sayang?" tanya Eleanor.


"Suka, Nek. Itu adalah sup kacang kesukaanku," jawab Noah sambil tersenyum senang.


Tiba-tiba ekspresi wajah Eleanor berubah. Ia kembali memberikan piring itu pada Matilda.


"Kau lanjutkan makanmu! Nenek tinggal sebentar!"


Eleanor melangkah pergi dan menuju kamarnya. Hatinya bergemuruh.


"Kenapa selama ini aku tidak memperhatikan anak itu? Bagaimana bisa dia tidak mengalami alergi seperti yang dialami Eric. Eric alergi kacang. Dan dokter bilang itu bisa bisa menurun jika dia memiliki anak. Lalu kenapa?"

__ADS_1


Eleanor mondar mandir di dalam kamarnya sambil memegangi kepalanya.


"Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin!"


Eleanor menggeleng cepat. Ia duduk di tepi ranjang dan memikirkan banyak hal. Ingatan saat pertama kali Eryn datang ke rumahnya lalu menikah dengan putranya kembali memutar di otaknya.


"Wanita itu! Apa dia sengaja melakukan semua ini?"


Eleanor mengepalkan tangannya.


"Aku akan melakukan tes DNA pada anak itu. Jika terbukti dia bukanlah anak Eric, maka ... bersiaplah kau j4lang!" ucap Eleanor dengan kilatan amarah dimatanya.


...🌺🌺🌺...


Sudah beberapa hari ini, Eryn terus berkutat dengan pekerjaannya di Evans Grup. Meski ia tidak begitu paham dengan bisnis, namun Santoz selalu membantunya. Rencana pembelian cabang Kolombia oleh Black juga berjalan dengan baik.


Entah apa yang dipikirkan pria itu hingga ia menyetujui untuk tetap membeli aset Eric itu meski Eryn menolak untuk meninggalkan suaminya. Kini Black juga berada di gedung Evans Grup bersama pemegang saham lainnya yang sedang mengadakan rapat.


Eryn memimpin rapat dengan baik. Hingga satu jam berlalu dan rapay telah usai. Eryn berjalan keluar dari ruang rapat tanpa mempedulikan tatapan Black yang sedari tadi terus tertuju padanya.


"Dasar wanita j4lang!" Eleanor menampar Eryn tepat setelah Eryn keluar dari ruang rapat.


"Ibu? A-ada apa ini?" tanya Eryn dengan memegangi pipinya.


"Kau masih berani bertanya? Lihat ini!"


Eleanor melemparkan beberapa kertas ke wajah Eryn.


"Berani sekali kau menipu kami selama bertahun-tahun! Anak itu bukanlah anak Eric!"


Eryn sangat terkejut mendengar penuturan Eleanor.


"Ibu... Tunggu dulu!" Eryn memegangi tangan Eleanor seraya meminta maaf.


"Lepaskan tanganmu, j4lang!" Eleanor menghempaskan tubuh Eryn hingga terjatuh di lantai.


"Kau akan lihat apa yang bisa kulakukan pada putramu itu!" Eleanor melangkah pergi meninggalkan Eryn.


"Ibu! Tidak! Jangan sakiti Noah!" seru Eryn namun tidak mendapat respon dari Eleanor yang terus melangkah.


...B e r s a m b u n g...


*Huaaa huaa, 😭😭ada bombay disini, hiks hiks.


Kira2 apa yg akan dilakukan Eleanor ya? Lalu, apakah Black mendengar semua keributan itu?

__ADS_1


__ADS_2