
Eryn menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Kegiatan ini membuat Eryn menjadi lebih dekat dengan Noah dan juga Tuan Kim, ayah Eryn.
Ia mulai menikmati perannya sebagai ibu dan juga seorang putri bagi ayahnya. Semua masalah yang sempat menghampirinya sebisa mungkin ia tepis hanya untuk membuat putranya bahagia.
Noah begitu dekat dengan Joon. Maka Eryn mencoba membuka hatinya untuk Joon. Namun sepertinya semua tidak akan mudah bagi Eryn, karena Ga Eun yang diduga mantan kekasih Joon kembali hadir.
"Mommy, masak apa?"
Suara Noah membuat Eryn kembali ke alam nyata.
"Sayang, kau sudah siap berangkat sekolah ya?" Eryn mencium kedua pipi Noah.
"Iya, Mommy."
"Duduklah dan tunggu kakek datang ya!" perintah Eryn yang diangguki oleh Noah.
Tak lama Tuan Kim datang berjalan dengan tongkat yang dipegangnya.
"Pagi sekali kau bangun, Nak," ucap Tuan Kim.
"Iya, ayah. Aku ingin setiap hari memasak untuk ayah dan Noah."
"Jangan memaksakan dirimu. Kau juga pasti lelah setelah bekerja kemarin."
"Tidak apa, Ayah. Aku justru senang melakukannya. Ayo duduklah, Ayah. Kita akan makan bersama."
Suasana hangat begitu tercipta di meja makan itu. Tuan Kim tersenyum lega karena putrinya sudah mulai melupakan masa lalu.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah harus melakukan ini demi kebaikanmu," batin Tuan Kim.
Saat sarapan sedang berlangsung, Kang Joon datang menghampiri Eryn, Tuan Kim dan Noah.
"Selamat pagi semuanya," sapa Joon.
"Daddy!" Noah berteriak gembira memeluk Kang Joon.
"Halo, sayang." Joon langsung membawa Noah dalam gendongannya.
"Ikutlah sarapan bersama kami, Nak," ajak Tuan Kim.
Joon mengangguk lalu duduk dengan masih memangku Noah.
"Noah, kau duduklah sendiri, Nak," ucap Eryn.
Sejak Kang Joon datang, Eryn sama sekali tidak menyapanya. Tuan Kim tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengan Eryn dan Joon.
"Noah, kau sudah menghabiskan sarapanmu?" tanya Tuan Kim.
"Sudah, Kek."
"Kalau begitu ayo ikut dengan kakek. Ada sesuatu yang ingin kakek tunjukkan padamu," ajak Tuan Kim.
"Wah, apa itu Kakek? Mommy, Daddy, aku ikut dengan kakek dulu ya." Noah turun dari kursinya lalu menggandeng tangan Tuan Kim.
Kini tinggalah Eryn dan Kang Joon. Mereka masih sama-sama diam. Tiba-tiba Kang Joon beranjak dari kursinya dan melangkah pergi. Eryn bingung dengan sikap Kang Joon. Namun ia masih diam.
Beberapa detik kemudian Kang Joon kembali dan membawa seikat buket bunga yang ia bawa untuk Eryn. Mata Eryn membulat menerima buket bunga dari Joon.
"Aku minta maaf," ucap Joon.
Eryn beranjak dari kursinya. Ia meletakkan bunga pemberian Joon diatas meja makan.
__ADS_1
"Eryn!" Joon menghentikan langkah Eryn.
"Ada apa? Aku harus bersiap untuk pergi ke kantor," sahut Eryn ketus.
"Kau marah padaku?" tanya Joon.
"Tidak! Kenapa aku harus marah?"
Joon menghela napas. Ia menggenggam kedua tangan Eryn.
"Aku tahu sikap Ga Eun pasti membuatmu terluka. Aku akan bersikap lebih tegas padanya," jelas Joon.
Eryn menepis tangan Joon. "Aku tidak keberatan jika kau dekat dengannya atau mungkin masih memiliki hubungan dengannya."
"Kenapa kau bicara begitu? Bukankah kita sudah sepakat untuk memulai hubungan?"
Eryn menatap Joon.
"Entahlah, Joon. Sepertinya ada yang belum selesai antara kau dan dia."
"Ini bukan tentangku, Eryn. Tapi kau! Kau selalu terikat dengan masa lalumu. Tidak bisakah kau menatap masa depan tanpa harus dibayang-bayangi masa lalumu?"
Eryn terdiam. Memang ini bukan hanya tentang Joon tapi dirinya. Ia masih penasaran dengan pria yang dilihatnya kemarin. Pria yang memiliki suara mirip dengan seseorang yang ia kenal.
"Maaf... Sebaiknya kita bicarakan hal ini lain kali saja. Aku harus pergi ke kantor. Permisi!"
Eryn meninggalkan Joon yang masih mematung. Pria itu hanya menatap Eryn tanpa ingin mengejarnya.
"Mungkin sebaiknya aku berikan waktu untuk Eryn. Aku tidak boleh terlalu memaksanya. Jika tidak, dia bisa pergi dari sisiku," batin Joon.
#
#
#
Eryn mencari kartu nama yang kemarin diberikan oleh supir mobil yang ia tabrak.
"Se-Kang Grup?"
Eryn berpikir sejenak. "Sebaiknya aku menemui pemilik mobil dulu sebelum ke kantor. Aku tidak ingin dicap tidak bertanggungjawab."
Eryn memberi perintah pada maps di mobilnya untuk menuju ke alamat Se-Kang Grup.
Tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi, Eryn sempat tertegun. Ternyata perusahaan Se-Kang hampir sebesar Grup JK milik ayahnya.
Eryn turun dari mobil dan menemui resepsionis.
"Permisi, aku ingin bertemu dengan pimpinan Se-Kang Grup," ucap Eryn.
Resepsionis itu mengerutkan dahi. "Ada perlu apa ingin bertemu dengan pimpinan kami? Apa Nona sudah membuat janji?"
"Aku belum membuat janji. Tapi kemarin aku diberi kartu nama ini. Aku diminta datang kemari untuk menyelesaikan insiden kecelakaan semalam." Eryn menyerahkan kartu nama pada si resepsionis.
Resepsionis menghubungi seseorang melalui telepon di mejanya.
"Nona, silakan naik ke lantai 18. Disana Nona bisa menemui pimpinan kami."
"Oh, begitu ya. Terima kasih."
Eryn membungkuk sebelum pergi melangkah menaiki lift menuju lantai 18.
__ADS_1
Sementara di ruang CEO, seorang pria memperhatikan rekaman video kamera pengawas yang ada didalam lift. Ia memperhatikan seorang wanita yang kini sedang menuju ke lantai 18 untuk menemuinya.
"Akhirnya kau datang juga," gumam pria itu dengan mengusap dagunya.
TING
Suara lift berhenti dan pintu terbuka. Eryn keluar dari dalam lift dan mencari ruangan pimpinan. Terdengar langkah kaki mendekati Eryn.
"Selamat pagi, Nona. Saya Kim Beom, saya adalah asisten dari pimpinan Grup Se-Kang. Silakan, Nona sudah ditunggu oleh pimpinan kami." Seorang pria bicara panjang lebar dengan Eryn.
"Ah, iya."
Eryn mengikuti langkah pria bernama Kim Beom itu. Sebuah pintu yang cukup kokoh menjadi penghalang antara seorang bos dan karyawannya.
Kim Beom mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruangan yang cukup besar itu.
"Tuan, ada tamu untuk Tuan. Resepsionis bilang jika dia ingin membahas soal kecelakaan semalam."
"Hmm, kau boleh keluar!"
Suara pria itu terdengar tegas dan berat. Pria yang masih duduk di kursi kebesarannya itu membelakangi Eryn. Sehingga membuat Eryn harus mengatakan sesuatu.
"Permisi, Tuan. Saya kemari untuk mengganti rugi kerusakan yang dialami oleh mobil Tuan," ucap Eryn dengan hati-hati.
"Hmm, saya tahu Nona Eryana Kim."
Pria itu bangkit dari duduknya dan berbalik badan menghadap Eryn.
Sejenak Eryn tertegun menatap pimpinan Se-Kang Grup. Pria itu tersenyum penuh arti saat menatap Eryn.
#
#
#
Di tempat berbeda, Carlos berhasil mendapatkan nomor kontak Eryn dan langsung memberitahu Rose. Istri Carlos itu langsung berbinar bahagia mendapat kontak yang bisa menghubungkannya dengan Eryn.
"Itu adalah nomor kantor Eryn. Ternyata disana dia juga membuka usaha perancang acara," jelas Carlos.
Rose memeluk Carlos. "Terima kasih, sayang. Aku akan langsung menghubungi nomor ini."
Dengan semangat membara, Rose menghubungi nomor kontak kantor Eryn. Namun kekecewaan harus diterima Rose ketika mendengar jika Eryn sedang tidak ada ditempat.
"Can I have her phone number?" tanya Rose.
"No, Miss. We're not allowed to do that. Please call back later, Miss."
"Okay, thank you so much."
Panggilan berakhir. Rose menghela napas. Ia menggeleng menatap Carlos.
"Sudahlah, yang penting kita sudah tahu jika Eryn baik-baik saja disana," ucap Carlos sambil menenangkan Rose.
#tobecontinued
*waaahh, siapa yah bos Grup Se-Kang? Misterius sekalih, hehehe
Kalian penasaran gak nih?
Aku juga, ha ha
__ADS_1