
Satu tahun telah berlalu sejak Ilena pergi dari kehidupan Red. Ilena menjalani hari-harinya dengan senyum yang mulai mengembang. Keceriaan yang hilang ditelan rasa kekecewaan, kini mulai kembali.
White masih mendampingi Ilena dengan sabar. Meski hati Ilena rasanya masih tertutup untuk siapapun yang berusaha memasukinya.
Tiga bulan terakhir adalah yang terberat untuk Ilena. Setelah malam kelam yang dilaluinya bersama Red, Ilena dinyatakan hamil satu bulan setelahnya.
Kondisi psikisnya tak bisa menerima kenyataan hingga White harus bekerja ekstra untuk menenangkan Ilena. Berkali-kali juga Ilena berusaha membunuh bayi dalam kandungannya. Ilena tak ingin ada bagian dari Red yang menyatu dalam tubuhnya.
White seorang dokter, tentu saja dia tidak akan membiarkan Ilena membunuh bayinya sendiri. Bagaimanapun juga anak itu tidak bersalah.
White meyakinkan Ilena jika ia akan menjadi ayah dari bayi Ilena. Tapi gadis itu masih tak ingin bayi itu hidup.
Dan sepertinya semesta mengabulkan permintaan Ilena. Ilena mengalami keguguran yang menyebabkan rahim miliknya harus diangkat. Awalnya Ilena sangat syok dan menyalahkan semuanya. Namun kini ia sudah berdamai dengan masa lalunya.
Ilena sudah hidup lebih tenang meski jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota. Ia sangat berterima kasih pada White meski gadis itu masih belum bisa menerima White di hatinya.
"Dokter White, terima kasih karena sudah memberikan dunia kedua untukku," ucap Ilena ketika mereka sedang duduk di balkon kamar.
White memilih pindah ke daerah dekat pantai agar Ilena bisa lebih tenang dan rileks.
"Hmm, sama-sama. Oh ya, aku sudah menemukan jejak keluargamu."
DEG
Ilena cukup terkejut karena ternyata White mencari tahu tentang kerabat dekat dirinya.
"Ibumu memiliki seorang adik yang kini tinggal di Indonesia," jelas White.
Ilena terdiam.
"Ilena, bukan maksudku ingin mengusirmu. Tapi, akan lebih baik jika kau tinggal bersama dengan adik ibumu. Ini profilnya. Aku sudah mencari data-data tentangnya. Dia tinggal di Bali."
White memberikan selembar kertas pada Ilena.
"Aku harus kembali ke keluargaku karena kakek mencariku. Kau tenang saja, aku tidak akan pernah mengatakan apapun pada Red," ucap White.
Ilena tersenyum. "Terima kasih karena kau sudah menjagaku selama ini. Kau adalah orang baik, Dokter White. Aku berharap kau bisa menemukan gadis baik sebagai jodohmu."
White menarik tangan Ilena lembut. Kini mereka berdiri berhadapan.
"Aku masih berharap kau mau membuka hatimu untukku, Ilena."
Ilena memalingkan wajahnya. Sungguh ia tak sanggup menatap White. Pria yang sudah memberinya kekuatan dan juga cinta.
__ADS_1
Tapi Ilena sadar siapa dirinya. Dia tak pantas bersanding dengan White. Dia adalah wanita kotor yang tak pantas mendapat cinta dari pria manapun. Begitulah pemikiran Ilena.
"Dengar, jangan pernah merasa jika dirimu kotor. Kau adalah wanita berharga, Ilena. Kau harus tegaskan itu di hatimu. Jangan pernah merasa rendah diri karena masa lalumu. Aku yakin kau bisa melakukan itu!" White memegangi kedua bahu Ilena untuk menyemangati gadis itu.
"Terima kasih, Dokter White. Maaf jika aku sudah merepotkanmu selama ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu."
White memeluk Ilena. "Jangan pikirkan soal itu. Melihatmu hidup dengan baik sudah membuatku lega."
Ya, kini Ilena telah banyak berubah. Penampilan lusuhnya sudah berubah sejak White mengurusnya dengan baik. Ilena memang sudah berubah.
Meski kesakitan dan penderitaan selalu menyertainya, tapi sekarang Ilena tidak akan jadi lemah. Ia akan menjadi wanita kuat untuk menatap masa depannya.
"Aku sudah menghubungi bibimu, namanya Lidia. Dia sangat senang karena bisa bertemu denganmu. Sekarang, kau jalanilah hidup dengan baik. Jangan lagi ada air mata yang mengiringi. Kau boleh lakukan yang kau mau. Aku akan selalu mendukungmu."
Air mata Ilena mengalir tanpa di suruh. Sungguh ia sangat berterimakasih pada pria ini. Tapi, dia juga tak bisa menerima perasaan White.
"Sudah, jangan menangis. Bersiaplah! Kau akan bertemu dengan keluargamu!" White menyeka air mata Ilena. Meski berat, ia harus melepas Ilena untuk kembali ke keluarganya.
#
#
#
Blue yang memang memiliki sikap hangat, berubah menjadi sosok ayah yang bertanggung jawab. Yoona yang masih menempuh bangku kuliah, kini melanjutkan pendidikannya.
Lalu di kediaman keluarga Adams, Sorena yang sudah menikah kembali dengan Ralph, kini menikmati pundi-pundi uang yang ditinggalkan Brian untuknya. Tidak ada lagi yang mengingat nama Ilena di rumah itu.
Sementara itu, Selena kini menjadi selebritis terkenal dan sering bepergian ke luar negeri. Ia memutuskan untuk tidak menikah muda seperti yang dulu pernah ia impikan.
Lalu bagaimana dengan Purple yang identitasnya ia curi? Selena sudah tak peduli lagi dengan itu. Red sudah tidak menarik lagi untuk Selena kejar. Selena sudah lama melupakan bayang-bayang Red dari hidupnya.
#
#
#
White mengantar Ilena ke bandara. Gadis itu akan terbang ke Indonesia menemui adik ibunya. Sebenarnya Ilena sangat gugup. Selama ini White adalah keluarganya dan tidak mengenal siapapun lagi.
"Jangan takut! Aku pastikan tidak akan ada yang tahu kemana kau pergi." ucap White selalu meyakinkan Ilena.
Ilena mengangguk. "Iya, Dokter. Aku pergi ya! Jaga diri dokter baik-baik. Jika senggang berkunjunglah ke Indonesia."
__ADS_1
"Pasti, Ilena. Aku pasti akan merindukanmu." White memeluk Ilena sebelum gadis itu bersiap pergi.
White melambaikan tangan ketika burung besi itu mulai lepas landas. Secercah doa dan harapan selalu ia sematkan untuk Ilena.
"Terbanglah yang jauh, Ilena. Kau harus menemukan kebahagiaan disana," gumam White.
White meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo..."
"........."
"Ilena sudah pergi ke Indonesia."
".........."
"Tolong jaga dia untukku, Steven."
"........"
"Terima kasih."
#
#
#
Red sedang rapat bersama dengan anak buahnya untuk membahas pekerjaan ilegal mereka. Kini Red telah menjelma menjadi mafia kelas atas yang sangat berpengaruh.
Penjualan senjata api ilegal dan rakitan lalu obat-obatan terlarang kini menjadi bisnis utamanya. Klub malam miliknya kini dikelola oleh Blue.
Lalu bagaimana dengan perasaan Red terhadap Ilena? Tidak ada yang tahu seperti apa perasaan seorang Red saat ini. Karena yang ditampilkannya adalah sikap dingin dan tak tersentuh sama seperti dulu.
Red tidak lagi memikirkan soal wanita dan hanya memikirkan satu hal yaitu memperbesar jaringan bisnisnya.
Meski kadang kesunyian melanda hidupnya ketika ia pulang ke rumahnya sendiri. Ya, Red memilih apartemen untuk mengistirahatkan dirinya dari pekerjaan. Ia ingin hidup tenang karena di rumah terdengar suara tangis bayi putri Blue.
Di malam ini, Red memilih kesendirian dan ditemani sebotol anggur berusia 100 tahun. Semakin tua semakin nikmat rasanya, begitulah pikir Red.
"Ilena... Dimana kau sekarang? Bahkan dendamku luruh setelah aku kehilanganmu."
Red menyesap anggur dalam gelasnya. Ia menyukai anggur yang rasanya terasa manis seperti bibir milik Ilena.
__ADS_1
#bersambung...