
Dharma merutuki dirinya sendiri karena sudah terburu-buru mengambil keputusan. Sejak awal Ilena memang sangat memikat hatinya. Gadis rapuh yang ingin sekali ia lindungi. Namun ia sadar jika Ilena memiliki trauma cukup berat dalam hidupnya, sama seperti dirinya yang juga pernah terluka.
Kekerasan yang dilakukan oleh keluarga Ilena dulu dan juga Red, yang adalah sahabat Dharma saat remaja dulu.
Dharma mencari keberadaan Ilena yang keluar rumah dan tak kunjung pulang juga. Ia sudah mencari namun belum juga ia temukan.
Hari sudah berganti gelap dan Dharma memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia melihat lampu rumah yang sudah menyala. Ia langsung berlari dan melihat Ilena sudah berada disana.
"Nona Ilena!" seru Dharma yang membuat Ilena terkejut.
Gadis itu sedang menyiapkan makan malam.
"Duduklah! Kita makan bersama," ucap Ilena datar.
"Nona Lena, aku minta maaf..."
Ilena diam. Ia duduk di kursi dan menyuruh Dharma untuk ikut duduk juga.
"Nona Lena, katakan sesuatu. Kumohon!" pinta Dharma.
"Aku tidak marah, Dharma. Aku hanya masih belum bisa menerima semuanya. Semua hal di masa lalu tiba-tiba datang menghantui ketika kau menyentuhku tadi. Aku yang harusnya minta maaf."
Dharma tersenyum.
"Terima kasih karena kau tidak marah padaku."
"Sudahlah, sebaiknya kita makan dulu saja." Ilena mengambilkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring untuk Dharma. Ilena bersikap layaknya seorang istri bagi Dharma.
"Terima kasih," ucap Dharma menerima piringnya.
"Apa kau sudah mulai terbiasa dengan makanan Indonesia?" tanyanya.
"Ya lumayan. Masakan disini memiliki bumbu yang khas. Dan aku masih belum hapal untuk mengingat semua namanya."
Ilena bercerita dengan antusias bagaimana dia belajar memasak dari asisten di rumah Lidia. Tawa Ilena kembali mengembang.
Dharma bahagia melihat Ilena tertawa. Sebuah tawa yang membuat hatinya sejuk. Sudah sejak lama hatinya sepi setelah ditinggalkan oleh orang yang dicintai.
"Jadi, kau pernah menikah?" tanya Ilena cukup kaget saat mereka mengobrol santai di teras rumah.
Dharma mengangguk. "Iya, sudah lima tahun berlalu."
"Maaf. Apa dia sakit?"
"Begitulah."
Ilena mengusap punggung Dharma lembut.
"Pantas saja kau adalah pria yang hangat, Dharma. Kau pasti suami yang sangat baik dan perhatian."
Dharma tersenyum. "Kau pikir aku begitu?"
Ilena mengangguk.
"Nona Lena, jika kau harus dihadapkan dengan masa lalumu, apakah kau bersedia menghadapinya atau justru menghindarinya?"
__ADS_1
DEG
"A-apa maksud dari pertanyaanmu itu?" Ilena merasa ada yang tidak beres disini.
"Kau pernah bertanya, dari mana asalku, bukan? Jika ternyata kehidupan masa laluku terhubung juga dengan masa lalumu, apa kau bersedia menghadapinya?"
Ilena menelan ludahnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan!" tegas Ilena. Ia tak bisa lagi harus main kucing-kucingan seperti ini.
"Aku berasal dari Rio, Nona. Sama sepertimu..."
"Hah?!" Ilena tertegun.
"Aku juga mengenal White dan juga Red. Kami teman satu gengster saat remaja," aku Dharma.
Ilena masih diam. Ternyata dunianya memang tak bisa jauh dari seorang Red. Semua berputar putar tentangnya saja.
"Aku memutuskan pergi kemari dan bertemu dengan bibimu. Aku bekerja padanya. Kami mengganti nama kami agar tidak dikenali. Nama asliku Steven Howard. Dan bibimu bernama Lucia Matthews. Kami menyesuaikan diri disini dan membaur dengan penduduk disini. Dan ternyata aku jatuh cinta dengan tempat ini."
Ilena menghela napasnya.
"Maaf jika kenyataan tidak sesuai yang kau harapkan, Nona."
Ilena terdiam cukup lama. Memikirkan jika semua yang pijak akan kembali pada pusat yang sama yaitu Red.
"Ada apa dengan takdirku dan Red?" batin Ilena.
"Sudah malam, Nona. Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah," ajak Dharma.
#
#
#
Pagi hari itu, Ilena terbangun karena mendengar suara benda keras yang beradu. Ia melirik jam di kamarnya dan ini masih pukul enam pagi.
"Apa semua orang disini selalu bangun pagi?" gumam Ilena.
Lalu ia bangkit dan segera membersihkan diri. Ia harus menyiapkan sarapan untuknya dan Dharma.
Ilena mendengar suara kayu dipotong dari arah belakang rumah. Ternyata memang berasal dari rumah Dharma. Ilena pikir itu suara dari rumah tetangga.
Secara teknis rumah Dharma memang agak jauh dari rumah yang lain. Ia pernah bercerita jika menyukai ketenangan dan kesunyian sejak kepergian istrinya.
Ilena menghampiri Dharma yang sedang memotong kayu bakar. Tubuh bagian atas Dharma terekspos oleh mata Ilena. Tubuh liat dan kekar tanpa sehelai benang menutupinya menjadi pemandangan indah di pagi ini untuk Ilena. Keringat yang bercucuran menandakan jika Dharma sudah melakukan kegiatan ini sejak tadi.
Ilena yang masih melongo akhirnya membuat Dharma menyadari kehadiran gadis itu.
"Kau sudah bangun?"
Ilena terkesiap. Ia salah tingkah karena ketahuan menatap Dharma sejak tadi. Ilena hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"A-aku akan siapkan sarapan!" ucap Ilena gugup dan segera berbalik badan.
__ADS_1
"Tunggu, Nona!" cegah Dharma.
Dharma membawa beberapa kayu bakar. "Akan lebih sedap jika kita memasak dengan api secara langsung."
"Heh?!"
"Kau siapkan saja bahan-bahannya, aku akan membersihkan diriku dulu."
Ilena menatap punggung lebar itu yang mulai menjauh.
"Astaga, Ilena! Apa yang kau pikirkan?!" Ilena menggeleng cepat. Ia menepuk kedua pipinya agar kembali sadar ke alam nyata.
Sepuluh menit kemudian, Dharma kembali dengan memakai kaus ketat yang menempel pas di tubuhnya. Ilena kembali menelan ludahnya.
"Kenapa dia sangat menggoda? Sadar, Ilena! Dia sangat mencintai mendiang istrinya. Kejadian hari itu hanya ketidaksengajaan saja! Jangan berpikir jika dia menyukaimu! Kau akan kembali terluka jika kau berharap lebih!"
"Nona Lena!"
"Hah?!" Ilena terlonjak kaget.
"Semua bahannya sudah siap?" tanya Dharma yang melihat Ilena sudah menyiapkan daging dan sayuran.
"Ayo!" Dharma menarik tangan Ilena lembut dan membawanya ke halaman belakang.
"Kita akan memasak disini?" tanya Ilena bingung.
"Iya. Aku terbiasa memasak sendiri menggunakan tungku. Rasa makanannya akan lebih lezat."
"Benarkah?" Ilena masih tak percaya.
"Kau akan lihat nanti, Nona!"
Dharma memulai acaranya memasaknya. Ilena masih memperhatikan dengan seksama.
Hingga beberapa menit berlalu, dan Dharma meminta Ilena untuk ikut memasak juga. Dharma mengajari Ilena dengan telaten.
Sesekali mereka saling melempar candaan ketika kepulan asap menyerang dan membuat wajah mereka berdua menghitam.
Dengan lembut Dharma membersihkan noda hitam di wajah Ilena dengan tisu. Ilena gugup karena posisi mereka yang sangat dekat.
Ilena juga mengambil tisu dan membersihkan wajah Dharma yang juga dipenuhi keringat. Dharma bisa merasakan jika Ilena masih mengalami traumanya. Ia merasakan jika tangan Ilena bergetar saat menyentuh wajahnya.
Tangan Dharma menghentikan tangan Ilena yang mengusap wajahnya. Ia menggenggam tangan Ilena yang bergetar dan berkeringat.
"Perlahan saja, Nona!"
Dharma menatap manik indah dan teduh milik Ilena. Ia menatap bibir Ilena yang juga bergetar.
"Berusahalah menghalaunya perlahan!" ucap Dharma yang kini tubuhnya begitu dekat dengan Ilena.
Bahkan deru napas Dharma bisa Ilena rasakan menerpa wajahnya. Mereka sama sama sedang menghalau kesakitan yang pernah mereka rasakan.
#bersambung
*Jangan lupa tinggalkan Like, komen dan hadiah kaliyan ya kesayangan 😘😘
__ADS_1