
Eryn menatap nanar langit-langit kamarnya. Bayangan akan kesedihan di masa lalu kembali menyeruak. Dirinya takut jika harus menghadapi dunia sendirian lagi.
Eryn mengelus perutnya yang rata. Ingatan tentang pertanyaan Eleanor kembali menguar.
Hamil? Ya dirinya tengah hamil. Sebelum berangkat ke Meksiko, Eryn sempat mengecek lewat alat tes kehamilan. Ia dan Eldric berharap bisa memberi Noah adik. Dan ternyata firasatnya benar. Dua garis tertera di testpack itu. Tapi, Eryn belum memberitahu Eldric soal ini. Rencananya ia ingin memberi tahu Eldric usai pernikahan Elza dan Luiz. Namun rencana tetaplah menjadi rencana.
Buliran bening itu mengalir tanpa diminta. Eryn tersedu dalam diam. Sekali lagi ia hamil tanpa Eldric di sisinya. Apa yang Tuhan rencanakan untuknya? Sebuah rencana indah di akhirkah? Atau deraian kesedihan yang tak kunjung usai?
#
#
#
Elza menghubungi ponsel Luiz. Hingga saat ini mereka bertiga belum juga kembali ke rumah. Tentu saja hal itu membuat semua orang merasa cemas.
Rose juga menghubungi Carlos. Namun sekali lagi tak ada yang menjawab panggilan mereka
"Bagaimana Kak Rose?" tanya Elza.
Rose menggeleng. "Carlos juga tidak menjawab panggilan dariku."
"Apa terjadi sesuatu disana?" celetuk David.
Santa memukul lengan suaminya. "Jangan bicara sembarangan!"
Tiba-tiba ponsel Agli bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Agli menyingkir untuk menjawab panggilan masuk itu. Firasatnya mengatakan jika yang meneleponnya adalah salah satu dari ketiga orang yang sedang dibicarakan.
Eleanor memanggil seorang dokter untuk memeriksa kondisi Eryn. Ia mengantarkan dokter wanita itu menuju kamar Eryn.
Pintu pun diketuk. Tak ada sahutan dari dalam tapi Eleanor tahu jika Eryn ada didalam.
"Nak, bibi panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu. Mari dokter!"
Dokter itu menghampiri Eryn. Ia mengambil stetoskop dari dalam tasnya dan memeriksa tubuh Eryn.
__ADS_1
"Apa ada keluhan, Nona?" tanya dokter kandungan itu. Eleanor sengaja mendatangkan dokter kandungan agar kondisi janin Eryn bisa terkontrol dengan baik.
Eryn hanya menggeleng pelan.
"Tadi pagi saat aku menyiapkan makanan untuknya, dia merasa mual," jelas Eleanor.
"Itu wajar untuk kehamilan awal. Saya akan resepkan obat anti mual dan juga vitamin. Sebaiknya Nona jangan terlalu banyak pikiran. Tolong pikirkan kondisi janin Anda, Nona."
Eleanor ikut memberikan semangat untuk Eryn. "Dengarkan itu, Nak. Kau harus pikirkan Noah dan bayimu. Kau harus yakin jika Eldric masih hidup."
Buliran bening itu kembali menetes ketika mengingat tentang Eldric. Eleanor mengusap puncak kepala Eryn dengan penuh kasih sayang. Kini wanita yang dulu membenci Eryn, berubah jadi amat peduli dengannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Nyonya," ucap dokter wanita itu.
"Terima kasih banyak, Dokter. Mari kuantar!" Eleanor keluar dari kamar dan membiarkan Eryn kembali beristirahat.
#
#
#
Caesar sudah bisa menemukan dimana titik jatuhnya pesawat. Dari pada mereka menunggu kabar dari pihak terkait, lebih baik mereka yang mencari keberadaan Eldric di bantu dengan bala bantuan dari Dixon.
Para wanita melepas kepergian dua pria yang akan menyusul ketiga pria lainnya. David berpamitan dengan Santa. Mereka berpelukan cukup lama.
Entah kenapa rasanya seperti mengantar pria yang dicintai untuk pergi berperang. Santa enggan melepas pelukannya.
"Ehem!" Seperti biasa Agli selalu menggoda Santa dan David.
"Aku pergi dulu ya!" ucap David.
"Jangan lupa kabari kami jika kalian telah tiba disana." Santa amat sedih karena harus ditinggalkan David, suaminya.
Mobil yang membawa Agli dan David mulai menjauh dari pandangan. Terukir doa untuk orang-orang yang sedang berjuang menemukan sahabat mereka.
__ADS_1
"Ayo masuk, Nak!" ajak Eleanor. Ia merangkul bahu Santa untuk segera masuk ke dalam rumah.
#
#
#
Tiba di bandara, Agli dan David disambut oleh Carlos, Luiz dan Caesar. Juga telah tiba Dixon dan timnya. Helikopter juga sudah disiapkan oleh pihak Dixon.
"Maaf karena harus merepotkanmu lagi," ucap Carlos pada Dixon.
"Tidak masalah, Bung. Black adalah kawanku juga. Ayo berangkat!"
Penelusuran di lakukan oleh anak buah Dixon. Mereka mengudara dengan masih mencari titik jatuhnya pesawat.
Caesar tak henti memainkan jari lentiknya. Ia harus bisa menemukan Eldric sekarang.
"Bagaimana?" tanya Luiz.
"Aku masih mencari dimana sinyal kotak hitam itu berada," jawab Caesar.
"Jangan terburu-buru, kawan. Kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita salah langkah," timpal Dixon.
Caesar mengangguk. Ia kembali fokus ke layar datarnya. Sabar, teliti dan fokus. Helikopter masih membawa mereka menuju Panama.
Caesar menyeka keringat yang mulai membasahi pelipisnya. Dengan kekuatan doa yang di berikan dari rumah, Caesar berhasil menemukan titiknya.
"Berhasil! Aku menemukannya!" seru Caesar gembira.
Rasanya ini adalah pekerjaan terberatnya setelah banyak ujian menerpa kehidupan mereka setahun silam.
Mata semua orang berbinar serasa merasakan sebuah kemenangan yang tidak terkira.
#
__ADS_1
#
#