Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
96. Menunda Pernikahan


__ADS_3

...Aku berada di padang rumput yang hijau....


...Sunyi...


...Tak ada siapapun disini...


...Aku berteman sepi...


...Aku menantimu disini...


...Aku berjalan untuk menemukan hatiku yang hilang...


...Semakin jauh hanya rumput mengering yang kulihat...


...Apa ini?...


...Apakah aku memang tak bisa menemukanmu lagi?...


...Akankah kisahku berakhir indah?...


...Atau semua hanya bayang semua semata......


...***+++***...


Eryn mulai membuka mata. Pandangannya masih kabur. Tidak ada yang terlihat olehnya. Hanya bayang hitam yang terlihat.


"Kak..."


Suara lembut itu memanggilnya. Suara yang diiringi isakan tangis itu membuatnya sadar. Jika semua yang ia dengar adalah nyata.


Semua hal yang ia rasakan adalah nyata. Ia kembali kesepian. Sunyi kembali menyapa.


Pandangan mata Eryn kosong. Ia hanya berteman dengan masa lalu yang semu. Semua tidak akan berakhir indah seperti yang selalu ia bayangkan.


"Kak..."


Suara itu kembali memanggil. Eryn menoleh. Hanya tatapan hampa Yang Elza dapatkan.


"Sebaiknya biarkan Eryn istirahat dulu," ucap Eleanor.


Semua orang yang ada di kamar itu satu persatu menghilang. Hanya ada Eryn saja disana. Sayup-sayup ia mendengar percakapan dari balik pintu.


"Bagaimana?"


"Carlos, Luiz dan Caesar sedang menuju ke bandara. Mereka akan mencari informasi tentang kebenaran beritanya."


"Lalu bagaimana dengan kak Eryn?"


"Kita biarkan saja dia sendiri dulu. Kita awasi dengan baik. Jangan sampai dia berbuat nekat."


Buliran bening itu tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.


"Nekat? Apa aku harus berbuat nekat seperti dulu? Tidak! Ada benih yang harus kujaga. Aku tidak bisa jadi lemah sekarang. Aku yakin kau hanya pergi sebentar, El. Aku yakin itu..."


Sementara itu di bandara internasional kota Meksiko, Luiz, Carlos dan Caesar tiba di posko informasi mengenai kecelakaan pesawat yang terjadi di daerah kota Panama. Banyak keluarga penumpang yang sudah berada disana untuk mencari informasi.


Suasana penuh sesak itu dipenuhi dengan suara isak tangis dari para keluarga korban. Luiz dan Carlos saling pandang. Mereka tidak ingin berpikiran buruk tentang Eldric.


"Caesar, coba kau retas kamera pengawas di bandara Bogota," perintah Carlos.


"Siap!" Caesar segera membuka layar datarnya dan menggerakkan jari-jari lincahnya di keyboard.


Luiz dan Carlos ikut mengantri untuk mencari tahu apakah ada penumpang atas nama Eldric Albana yang berada di pesawat itu. Suasana makin tak kondusif ketika ada keluarga penumpang yang mengamuk. Tentunya mereka tidak ingin percaya semua ini benar terjadi.

__ADS_1


Luiz meminta Carlos untuk menghampiri Caesar saja. Percuma saja jika harus menunggu konfirmasi dari pihak maskapai penerbangan.


"Carlos! Luiz! Lihat ini!"


Caesar memperlihatkan rekaman video kamera pengawas. Terlihat disana sosok Eldric memang ada di bandara dan akan masuk ke dalam pesawat.


Mereka bertiga menghela napas. Sudah bisa dipastikan jika Eldric benar menaiki pesawat itu.


"Bagaimana? Apa yang harus kita katakan pada Eryn?" Luiz mengusap wajahnya.


Carlos bungkam. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidup Eryn dan Noah setelah ini.


"Sebaiknya kita menunggu konfirmasi dari pihak maskapai," usul Caesar.


Ya, ada benarnya juga mereka menunggu disini. Jika mereka pulang, pasti semua orang akan bertanya panjang lebar pada mereka. Dan itulah yang tidak sanggup mereka lakukan. Memberitahukan sebuah kebenaran tidak semudah saat kita berbohong. Bahkan jika ingin berbohong pun, mata mereka tetap tak bisa berbohong.


#


#


#


Malam mulai datang. Ketiga pria yang pergi ke bandara hingga saat ini masih belum kembali. Para wanita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Eldric.


Rose terus menemani Eryn di kamarnya bersama Santa. Mereka tak ingin Eryn merasa sendiri di saat seperti ini.


"Aku sudah siap menerima kemungkinan terburuknya, Rose," lirih Eryn pasrah. Sudah cukup ia menangis sedari siang tadi. Kini ia hanya berharap semuanya tidak mungkin terjadi. Tapi nyatanya semua ini memang benar terjadi.


"Jangan bicara begitu. Semuanya masih belum pasti. Kita tunggu kabar dari Carlos dulu." Rose memeluk Eryn dan menguatkan hati ibu satu anak itu. Meski dalam hatinya, Rose juga sangat takut terjadi sesuatu dengan kakaknya.


Sementara di luar kamar, Elza berjalan menuju taman belakang yang sudah disulap menjadi altar pernikahan yang sangat cantik dan indah. Elza sudah tak sabar ingin memakai gaun pengantinnya.


Namun sekali lagi ia tak bisa egois. Saat ini Eryn sedang dalam masalah. Kembali ujian menerpa hidupnya dan Eldric. Elza tak bisa berbahagia diatas penderitaan orang lain.


"Ibu... Kurasa aku tidak bisa melakukannya."


Eleanor membelai puncak kepala putrinya. "Lakukanlah apa yang menurutmu baik, Nak. Ini adalah masa depanmu. Ini adalah pernikahanmu."


"Aku tidak bisa menikah di saat kak Eryn sedang mengalami masalah. Sebaiknya aku tunda dulu pernikahan ini."


Eleanor menghela napas. "Ibu akan mendukung apapun keputusanmu. Sebaiknya kau masuk. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu."


"Iya, Bu."


#


#


#


Keesokan harinya,


Eryn keluar dari kamar dan tak ada keramaian apapun di sekitaran rumah. Eryn menuju taman belakang rumah namun disana juga tak ada siapapun. Ia mengerutkan kening heran.


"Kemana semua orang?" gumam Eryn.


Eryn melihat seorang karyawan yang sedang membersihkan area sekitar taman.


"Maaf, kemana semua orang? Bukankah seharusnya hari ini adalah hari pernikahan Elza dan Luiz?" tanya Eryn.


"Maaf, Nona. Pernikahannya ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan."


"Hah?! Bagaimana bisa?" Eryn segera berlarian mencari keberadaan Elza.

__ADS_1


"Elza!" teriak Eryn.


Eryn tak bisa lagi menahan kemarahannya.


"Elza! Dimana kau?" Eryn kembali berteriak.


Elza yang sedang berkumpul bersama teman-teman Eldric segera keluar dari ruang keluarga.


"Kak Eryn?! Ada apa, Kak?" tanya Elza bingung.


"Kenapa kau membatalkan pernikahanmu? Apa demi aku? Untuk apa kau melakukan itu?" tanya Eryn dengan mata memerah.


"Kak... Sungguh aku tidak apa. Toh ini hanya sebuah pernikahan. Aku dan Luiz bisa menikah kapanpun, Kak," jawab Elza berusaha menenangkan Eryn.


"Tidak bisa begitu, Elza..." Eryn nampak putus asa. Ia tak ingin menjadi penghalang antara Luiz dan Elza.


"Nak, jangan merasa bersalah. Kami tidak apa melakukan ini untukmu. Lagipula Elza tidak akan bisa bahagia jika melihatmu bersedih begini." Eleanor ikut memberi pengertian.


"Bibi..." Eryn memeluk Eleanor. Ia menangis disana. Pelukan hangat seorang ibu adalah yang paling ia butuhkan saat ini.


Eleanor mengantar Eryn kembali ke kamarnya. "Jangan pikirkan apapun ya! Ada kami disini untukmu."


Elza datang dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Eryn. "Kak, makanlah dulu. Dari kemarin kakak tidak makan dengan teratur."


"Dimana Noah?" tanya Eryn karena tak melihat putranya itu.


"Kak Rose membawanya untuk pergi bermain."


Eryn mengangguk paham. Ia sendiri juga tak ingin putranya melihat dirinya yang kembali terpuruk.


Elza menyodorkan piring berisi makanan untuk Eryn. "Ayo dimakan dulu, Kak!"


Eryn menerima piring itu. Namun saat ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia merasakan mual saat hidungnya mencium aroma makanan.


Eryn meletakkan piring dan segera berlari ke kamar mandi. Elza dan Eleanor hanya saling pandang.


Eleanor menghampiri Eryn di kamar mandi.


"Nak, kau baik-baik saja?" tanya Eleanor cemas.


Eryn mengangguk. "Iya, Bi. Aku baik-baik saja. Hanya merasa mual saja saat mencium bau makanan."


Eleanor sepertinya paham apa yang terjadi dengan Eryn.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?"


Eryn menggeleng. "Tidak perlu, Bi. Aku akan istirahat saja. Nanti juga sembuh."


Eryn keluar dari kamar mandi. Eleanor memapah Eryn dengan hati-hati kembali ke tempat tidur. Eleanor meminta Elza untuk membereskan piring dan makanan. Ia menyuruh Elza untuk membuatkan jus saja untuk Eryn.


Eleanor menatap Eryn yang kini telah merebahkan dirinya di ranjang.


"Nak, kalau boleh bibi tahu..."


Eleanor menjeda kalimatnya. Eryn menatap Eleanor. Ia menunggu kalimat selanjutnya.


"Apa mungkin kau ... sedang hamil?" tanya Eleanor ragu.


Mendengar pertanyaan Eleanor, seketika Eryn memalingkan wajahnya. Matanya menghangat menciptakan sebuah embun disana. Ia tak sanggup menjawab. Namun ia juga tak sanggup menolak jika apa yang dikatakan oleh Eleanor itu benar.


#


#

__ADS_1


#


__ADS_2