Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
58. Bantuan Lain


__ADS_3

Black telah tiba di Rio de Jeneiro, Brasil. Sebuah kota yang cukup ramah untuk orang-orang sepertinya. Rombongan Black disambut oleh Rayshard, kawan lama Black dan juga Dixon. Ray memberikan mereka tempat tinggal selama mereka menetap di Rio.


Mansion besar itu membuat Santa cukup terkagum-kagum. Apalagi setelah melihat wajah tampan Ray yang memang sudah tak lagi muda namun masih memancarkan aura maskulin yang kental.


Black berterimakasih karena Ray bersedia membantunya.


"Aku tidak menyangka kau memiliki rumah yang besar, Ray. Apa gajimu di ISS itu sangat besar hingga kau bisa mengumpulkan pundi-pundi kekayaan?" ucap Black asal.


Ray malah tertawa. "Kau ini! Silakan kalian beristirahat saja dulu. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu katakan saja padaku."


Ray menjelaskan secara singkat tentang tempat tinggalnya yang memang ia sendiri yang merancangnya.


"Wah, pria tampan memang memiliki aura yang berbeda ya?" gumam Santa yang didengar oleh Agli.


"Kurasa semua pria selalu kau sebut tampan."


Santa mendelik. "Tapi kau tidak! Sudah ah, aku lelah. Aku akan menuju ke kamarku saja. Ayo Lucy!" Santa meraih tangan Lucy dan membawanya dari sekumpulan pria yang masih asyik berbincang.


Keesokan harinya, Ray menyiapkan sarapan pagi untuk tamunya. Ray adalah orang Indonesia, maka dari itu ia ingin mengenalkan makanan khas negaranya kepada para tamunya.


"Wah, sepertinya sangat lezat!" Agli menatap meja makan dengan penuh hasrat lapar.


"Mari silakan! Ini adalah nasi kuning, ada tempe orek, telur dadar, lalu daging rendang. Aku tahu kalian biasanya tidak terbiasa dengan makan berat. Maka dari itu ini kusediakan kue surabi. Kalian bisa menyebutnya dengan pancake," jelas Ray.


Black hanya manggut-manggut. Mereka semua makan dengan lahap makanan yang sedikit berbeda dengan lidah mereka. Ray memang sengaja membawa koki dari Indonesia agar kerinduan pada negaranya bisa terobati dengan makanan-makanan khasnya.


"Kau sudah lama tinggal di Rio?" tanya Dixon.


"Ya sudah beberapa tahun ini. Aku mengejar pembunuh berantai yang disinyalir ada di kota ini," jawab Ray.


"Kenapa kau sampai membeli rumah disini? Kau terbiasa berpindah-pindah tempat, bukan?" tanya Black.


"Aku jatuh cinta dengan kota ini." Ray tersenyum. "Jadi, apa rencana kalian hari ini?"


"Kami akan menyelidiki pemasok senjata yang selama ini di bayar oleh Eric. Caesar akan mencari profilnya setelah ini," terang Black.


"Jika kalian butuh mobil, kalian bisa memilihnya di garasi. Dan juga untuk merakit senjata, aku juga punya rekan yang cukup hebat. Dia adalah Isabella."


Seorang wanita cantik menghampiri Ray. "Selamat pagi, Sir."


"Pagi, Bels. Kita kedatangan tamu. Kuharap kau bisa membantu mereka jika diperlukan."


"Oke, tenang saja, Sir." Isabella duduk di samping Santa.


"Halo, namaku Santa." Santa mengulurkan tangannya.


Isabella tidak menggubris sama sekali. Santa berdecak kesal.


Usai sarapan pagi, mereka semua berkumpul untuk menunggu informasi dari Caesar. Pria itu memang amat genius dalam hal seperti ini.


"Black! Aku menemukannya!" seru Caesar.


"Namanya Sebastian. Dia seorang genius yang membuat senjata untuk kelompok Eric," jelas Caesar.


"Oke! Siapa yang akan mendatanginya?" tanya Black.


Dixon menunjuk Agli, David, Santa dan Lucy untuk pergi menemui Sebastian. Ke empat orang yang ditunjuk langsung menyetujui keputusan Dixon.


...#...


...#...


...#...

__ADS_1


Tiba di tempat Sebastian, ke empat orang itu memperhatikan terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan oleh pria itu. Mereka melihat Sebastian sedang menguji coba senjata yang dibuatnya.


Suara dentuman keras terdengar di tempat terbuka itu.


"Wow! Luar biasa! Itu adalah senjata yang hebat!" Santa tercengang.


"Untuk tugas seperti ini haruslah wanita yang turun tangan. Ayo, Santa!" Lucy berjalan maju bersama Santa.


Mereka menghampiri Sebastian yang memicingkan mata ketika melihat dua wanita cantik berjalan kearahnya.


"Halo, Sebastian!" sapa Lucy.


"Halo, Nona-nona. Apa yang kalian lakukan disini? Kurasa aku tidak memanggil wanita panggilan di hari yang masih siang ini," ucap Sebastian meremehkan Santa dan Lucy.


Santa yang geram dengan sikap Sebastian segara mendekat dan memelintir tangan pria itu. Lalu mendorong tubuh Sebastian hingga tersungkur ke tanah.


"Dasar brengsek! Kami datang baik-baik dan kau meremehkan kami!" sungut Santa yang makin menekan tubuh pria itu ke tanah hingga Sebastian meringis kesakitan.


"Kami perlu sedikit informasi darimu, Tuan!" ucap Lucy.


Santa mengangkat tubuh Sebastian dan membawa pria itu ke ruang kerjanya.


"Apa kau yang membuatkan senjata rakitan untuk Erci Evans?" tanya Santa.


"Jika iya, kalian mau apa?" tanya Sebastian tersenyum seringai.


"Cepat katakan semua rahasia Eric! Jika tidak kau akan mati di tangan kami!" ancam Lucy.


Sebastian menuju ke komputer miliknya dan mengutak atik sesutu disana.


"Ini! Ini semua adalah pesanan Eric," ucap Sebastian.


Di saat Lucy dan Santa sedang menatap layar datar itu, Sebastian menekan sebuah tombol untuk meminta pertolongan dari Eric. Santa yang merasa sudah mendapatkan semua data segera menyalin data itu kedalam flashdisk yang dibawanya.


Sebuah suara mobil mendekat kearah mereka. Santa yang masih belum menyadari kedatangan anak buah Eric, masih santai menyalin. Hingga terdengar suara tembakan beruntun barulah Santa sadar jika mereka sedang diserang.


Lucy segera mengambil senjata dan membalas tembakan beberapa orang yang menaiki mobil itu.


"Kau! Kau memanggil anak buah Eric, huh?!" Santa mendelik kearah Sebastian.


"Santa, cepat pergi dari sini!" seru Lucy.


Agli dan David yang melihat kedua wanita itu diserang langsung bergerak dan menolong mereka. Adu tembak pun terjadi.


Namun anak buah Eric yang menyerang lebih banyak dan membuat keempat orang itu kewalahan. Santa menarik tubuh Sebastian yang akan mereka bawa sebagai sandera. Secara tak terduga anak buah Eric sengaja menembak tubuh Sebastian.


"Oh, sial!" umpat Santa. "Hei, bangun! Bertahanlah! Kau tidak boleh mati!"


"Santa, ayo cepat!" Sebuah mobil mendatangi Santa.


Ketiga orang lainnya sudah masuk kedalam mobil. Santa berlari cepat masuk kedalam mobil. Mobil anti peluru itu melesat pergi dari area yang kini telah dihancurkan oleh anak buah Eric. Sepertinya Eric tidak akan membiarkan siapapun mengetahui rencananya.


...#...


...#...


...#...


Black dan Dixon menyilangkan kedua tangannya sambil berpikir. Kini mereka tidak bisa melacak rencana Eric. Meski Santa sudah mendapatkan sedikit data tentang senjata rahasia Eric, namun itu masih belum cukup.


"Beruntung anak buahmu masih bisa menyelamatkan diri, Black. Kalian harus lebih berhati-hati lagi." Ray berusaha menguatkan Black dan timnya.


"Terima kasih, Ray," balas Black.

__ADS_1


"Aku akan membuatkan senjata untuk kalian," celetuk Isabella.


Wanita cantik ini memang cukup berbahaya dalam menghadapi musuh. Kecerdasannya merakit senjata tak perlu di ragukan lagi.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Aku bahkan lebih mahir dibanding Sebastian yang akan kalian culik itu!" kesal Isabella.


Santa mencibirkan bibirnya. "Dasar sombong! Jangan karena dia cantik dia bisa menggoda semua pria disini," gumam Santa.


"Kurasa dia bukan tipe perempuan penggoda. Lagi pula mana ada yang mau dengannya. Dia begitu berbahaya," bisik Agli.


"Kalian bisa percaya pada Isabella. Dia sangat ahli di bidang ini," sahut Ray.


"Oke! Kalian bisa percaya padanya," jawab Dixon.


Dengan cekatan, Isabella memperlihatkan keahliannya di depan anak buah Black. Mereka semua tercengang melihat kecepatan tangan Isabella dalam merakit senjata.


"Yah, lumayan!" Santa masih belum terima jika wanita ini lebih unggul darinya.


Satu senjata telah siap dan Isabella akan menguji cobanya di lapangan belakang rumah Ray.


Suara dentuman keras keluar dari senjata api yang dipegang Isabella. Semua orang bertepuk tangan dengan keberhasilan Isabella.


Carlos nampak mengagumi kemampuan Isabella. Dan lagi-lagi Santa dibuat cemburu dengan hal itu.


Sementara di sisi Rose, malam ini matanya enggan terpejam. Baru beberapa hari kakaknya pergi dan rasanya ia sudah mulai cemas.


Rose bangun dari tempat tidur dan meraba dinding untuk keluar dari kamar. Sayup-sayup ia mendengar dua orang pria sedang berbicara. Suasana rumah sudah sepi karena memang sudah larut.


Rose mendatangi sumber suara. Ternyata itu adalah suara Bernard dan Frans.


"Sepi sekali disini," ucap Bernard.


"Ini adalah perkampungan, Ben. Bahkan tak ada klub malam disini," timpal Frans.


"Entah kenapa kita malah terjebak disini, Frans. Kupikir kita akan ikut melawan Eric Evans."


"Ya sudahlah! Mau bagaimana lagi. Kita harus menjaga nona Rose dan juga keluarga Santoz."


"Bahkan pria culun bernama Santoz itu tak bisa melakukan apa pun. Kenapa Black malah memilihnya?"


Frans terkekeh geli. "Dia punya semua rahasia yang disembunyikan Eric. Dia adalah orang penting. Kau tahu itu?" Frans menepuk bahu Bernard.


"Maaf..."


Sebuah suara membuat kedua pria itu menoleh kaget.


"Nona Rose?" ucap mereka bersamaan.


"Maaf karena aku kalian jadi ada disini."


"Eh? Nona, bukan begitu. Kau jangan salah paham!" Frans berusaha menjelaskan.


"Tidak apa! Aku tahu aku adalah penghalang untuk kakakku. Jika saja aku tidak buta, pasti aku bisa membantu kalian juga," sesal Rose.


"Jangan bicara begitu, Nona. Aku tidak bermaksud bicara begitu." Bernard menyesal sudah membuat Rose menyalahkan dirinya.


"Nona, ini sudah malam. Sebaiknya Nona istirahat saja." Frans membawa Rose kembali masuk ke dalam rumah.


#tobecontinued


*Yg mau tahu kisahnya detektif Ray hingga akhirnya jadi anggota ISS, yuk kepoin di RaKhania 👇👇👇👇


__ADS_1


*Suka dengan kisah mendebarkan romansa dewasa, bisa mampir ke Raanjhana 👇👇👇



__ADS_2