Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
14. Berharap Tak Berpisah


__ADS_3

Eryn menatap penampilan dirinya di depan cermin. Luar biasa! Sempurna! Gaun yang dikirimkan Black sangat pas di tubuh Eryn. Tapi tetap saja Eryn tidak nyaman memakainya karena terlalu terbuka. Gaun itu tanpa lengan memperlihatkan punggung mulus Eryn. Berwarna hitam dan diatas lutut.


"Astaga! Dia memang sudah gila! Mana mungkin aku memakai gaun seperti ini!" sungut Eryn dan ingin melepas gaun yang telah dipakainya.


Sejenak ia berpikir. "Jika aku tidak memakainya, pria itu akan tetap memaksaku untuk memakainya. Menyebalkan!"


Meski kesal, Eryn tetap memakai gaun yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Darah asia didalam dirinya membuat Eryn memiliki kulit putih mulus yang indah tanpa harus melakukan perawatan berlebih.


Ponsel Eryn berdering. Sebuah panggilan dari Santa.


"Halo, Santa."


"..........."


"Baik. Aku akan segera kesana."


Eryn menghela napas kemudian memakai sepatu heels nya yang tidak terlalu tinggi.


Eryn membuka pintu kamar dan terbelalak karena melihat Black berdiri disana.


"Tu-tuan Black?" Eryn terkejut.


Black tersenyum. Sebuah senyum yang tak pernah ia perlihatkan selama Eryn tinggal di mansionnya.


"Kau memakainya?" tanya Black.


Eryn memandangi tubuhnya yang terlalu terbuka. Ia merasa risih dengan penampilannya kali ini. Selama menjadi istri Eric, ia tak pernah berpenampilan seterbuka ini.


"A-aku harus segera pergi ke ballroom," ucap Eryn gugup karena Black terus memandanginya.


"Tunggu dulu, Nyonya."


Black melangkah maju dan membuat Eryn melangkah mundur.


"Ka-kau mau apa?" tanya Eryn takut.


Entah kenapa tubuh Eryn terasa membeku saat Black ada didekatnya. Black memeluk Eryn. Kali ini pelukannya terasa hangat.


"Terima kasih karena kau mau menurut," ucap Black.


Setelah beberapa lama memeluk Eryn, Black melepaskannya. Pria itu menatap Eryn lekat-lekat.


"Kau cantik. Sama seperti dulu. Aku berharap malam ini tidak segera berakhir, Nyonya. Besok kau akan kembali ke tempat asalmu."


"Eh?" Eryn mendadak bingung dengan sikap Black yang tiba-tiba menghangat.


"Maaf atas yang kemarin. Kali ini aku akan melakukannya dengan lembut."


Black mengusap bibir Eryn yang kemarin terluka karena ulahnya.


"A-apa maksudmu, Tuan?"


Tanpa menjawab, Black langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Eryn. Wanita itu tentu saja ingin menolak, namun logikanya telah hilang dengan sikap hangat Black.


Kali ini Black melakukannya dengan lembut. Eryn memejamkan mata merasakan lembutnya sapuan bibir Black di bibirnya.


"Tidak, Eryn! Jangan lagi!" batinnya meronta.


Eryn segera mendorong tubuh Black.


"Kau sudah bertunangan! Dan aku ... sudah menikah! Jangan lakukan lagi, Eldric!" Eryn menatap pria itu dengan berkaca-kaca.


Black hanya terdiam mendengar penuturan Eryn.


"Jangan lakukan lagi, Tuan. Kau sudah memiliki Rose di sampingmu. Sebaiknya kau keluar dari kamarku!" usir Eryn.

__ADS_1


Black hanya diam kemudian keluar dari kamar Eryn. Eryn bernapas lega karena ternyata pria itu tidak marah padanya atau mengancamnya.


Eryn segera berganti baju dengan kaus dan celana jeans panjang. Setelan yang sama dengan yang timnya kenakan. Ia tak ingin ada perbedaan antara dirinya dan anggota timnya.


......***......


Pesta pun dimulai. Semua tamu undangan adalah rekan-rekan bisnis Black. Pria itu menyalami satu persatu para tamu yang hadir bersama Rose disampingnya.


Dari kejauhan, Eryn memandangi pria itu yang terus tersenyum bahagia. Dibalik wajah dinginnya ternyata Black masih bisa tertawa.


Entah kenapa ada rasa tidak rela saat melihat Black bersama Rose. Eryn memegangi dadanya. Ingatannya beberapa menit yang lalu saat Black datang ke kamarnya dan memeluknya dengan hangat tidak bisa ia lupakan.


"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, El?" batin Eryn bertanya-tanya.


Eryn kembali fokus pada pekerjaannya. Ia memastikan semua masih aman terkendali hingga pesta usai.


Tiga jam telah berlalu, Eryn dan timnya merasa puas karena mereka melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik.


"Bersulang!" ucap Bernard dengan mengangkat gelasnya. Mereka berpesta di bar hotel.


Eryn tersenyum puas melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah timnya.


"Terima kasih. Kalian adalah tim terbaikku," ucap Eryn.


"Kamilah yang harus berterimakasih pada Nyonya. Hanya Nyonya yang mau mempekerjakan orang-orang seperti kami," balas David.


Eryn menatap mereka sendu. Tujuh pria muda itu adalah mantan penjahat jalanan yang akhirnya bertobat dan ingin hidup dengan baik. Beruntung Eryn bersedia menerima mereka dan mengajari cara mengatur acara.


"Jika tidak ada kalian, aku juga tidak akan bisa berada di titik ini," ucap Eryn.


"Nyonya, besok kita akan kembali ke Meksiko. Apa kita tidak berlibur dulu setelah lelah mengatur acara?" usul Santa.


"Eh? Yang benar saja?" Eryn memelototkan matanya.


"Benar juga apa yang dikatakan Santa, Nyonya." Caesar ikut menimpali.


"Ayolah, Nyonya!" rengek ketujuh pria dan ditambah satu gadis muda.


"Astaga! Kalian!" Eryn memegangi kepalanya.


"Turuti saja keinginan mereka, Nyonya!" Sebuah suara membuat mereka menoleh kearahnya.


Itu adalah Black dan Carlos. Dan suara itu berasal dari Black.


"Aku bisa menyediakan fasilitas untuk kalian. Anggap saja sebagai bonus karena kalian sudah berhasil membuat pesta yang meriah untukku," lanjut Black.


Eryn terdiam dan menunduk. Satu sisi dirinya tidak ingin berpisah dengan pria ini, namun sisi lainnya ia juga merindukan Noah. Eryn menghela napas. Tentu saja ia tidak bisa menolak tawaran Black dan juga rengekan timnya.


"Baiklah. Kita akan berlibur," putus Eryn.


"Yeay!" Semua orang bersorak gembira.


Eryn hanya tersenyum kecut melihat kebahagiaan anggota timmya.


"Baiklah. Sekarang kalian beristirahat saja. Besok Carlos akan membawa kalian berkeliling," ucap Black.


"Eh? A-aku?" Carlos menunjuk dirinya sendiri dengan rasa terkejut.


Black melotot kearah Carlos. Dengan ragu pria itu menyetujui perintah tuannya.


......***......


Eryn membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Malam ini ia tidak bisa memejamkan matanya. Semua kenangannya bersama Eldric kembali mengganggunya.


"El, apakah ini memang kau? Kau benar-benar belum meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Lalu siapa yang sudah melakukan semua ini pada kita?"

__ADS_1


Eryn memaksakan diri untuk memejamkan matanya. Ia harus bugar karena besok ia dan timnya akan berkeliling kota Sao Paulo yang dipenuhi tempat-tempat bersejarah.


Sementara di kamar lain, Black menyesap wine ditangannya perlahan. Ia merasakan manis dan pahit sekaligus. Sama seperti yang hatinya rasakan saat ini.


"Kau sengaja menahannya disini, dengan memberikan bonus liburan untuk mereka?" Suara Rose membuyarkan lamunan Black.


Black tidak menjawab dan menambahkan wine kedalam gelasnya.


"Jika kau masih mencintainya kenapa kau harus melakukan ini, El? Lupakanlah balas dendammu!"


PRANG!


Black membanting gelas ditangannya. "Jangan ikut campur urusanku, Rose! Jika kau tidak ingin membantuku maka kau tidak perlu datang lagi padaku!" ucap Black dengan mata memerah. Ia mulai mabuk dan juga dikuasai amarah.


"Bukan begitu, El. Aku hanya..."


"Sudah, cukup! Hanya karena kau dan ayahmu telah menolongku, bukan berarti kau berhak untuk mengaturku!" bentak Black lalu melangkah pergi meninggalkan Rose yang masih mematung.


Black berjalan sempoyongan menyusuri lorong-lorong hotel miliknya. Matanya mulai meredup namun emosinya tidak bisa lagi ia tahan. Ada sesuatu yang tertahan juga di dalam dirinya.


Hingga akhirnya ia tiba di depan sebuah kamar. Itu adalah kamar Eryn. Ia menekan bel berulang kali berharap jika Eryn akan membukakan pintu untuknya.


"Buka pintunya! Eryn!" teriak Black.


Black terus menekan bel dan tak berniat menyerah. Hingga akhirnya Eryn membukakan pintu untuknya.


"Tuan Black?" Eryn menutup mulutnya tak percaya jika pria ini akan mengganggunya lagi.


"Apa yang Tuan lakukan disini? Ini sudah malam!" sungut Eryn.


Tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Eryn, Black masuk ke kamar Eryn dan menutup pintu kamar itu.


"Apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam atau akan kupanggil security!" ancam Eryn.


Tentu saja Black tidak takut dengan ancaman Eryn. Hotel ini adalah miliknya. Ia bebas melakukan apa pun sesuka hatinya.


Black berjalan sempoyongan kearah Eryn.


"Kau mabuk, Tuan Black!" Eryn menyadari itu. Dan akan menghindari pria itu. Namun lagi dan lagi gerakan Black lebih cepat secepat angin.


Black berhasil menarik tubuh Eryn dan menekan tengkuknya. Ia mendaratkan sebuah ciuman yang bergairah untuk Eryn. Wanita itu tidak bisa menolaknya. Tubuhnya mengikuti apa yang dikatakan hatinya. Ia mulai membalas ciuman itu.


Black berhasil menguasai Eryn. Ia merebahkan tubuh wanita itu keatas ranjang. Sejenak mereka saling menatap dengan posisi tubuh Black yang sudah diatas tubuh Eryn.


"Eldric..." lirih Eryn. Pria yang selama ini dirindukannya kini kembali.


Dengan tatapan sayunya Black menatap Eryn lekat. "Kau adalah milikku, Eryn. Hanya milikku..." ucapnya parau.


Eryn merasa jika kekasihnya telah kembali. Ia mengusap rahang kokoh Black. Sesuatu yang sering ia lakukan di waktu dulu. Ia memejamkan mata ketika Black kembali mencumbunya.


...B e r s a m b u n g...


*waduh waduh, apakah Eryn akan melakukan kesalahan satu malam bersama Black? Lantas gimana sama Rose? Lalu Eric? 😒😒😒


*genks, sedikit cerita kalo aku membayangkan visual utk kisah ini. Utk seorang Eryana Kim, sejak awal aku kepikiran dgn Yoon Eun Hee. Entah kenapa wajah sayunya, menghiasi pikiranku ketika menulis cerita ini.



Utk visual Eldric, aku terpikir Alejandro Speitzer, yg tatapannya dingin namun pasti membuat wanita bergairah πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†



Lalu utk Eric, entah kenapa setelah menonton film yg ia bintangi, aku jadi kepikiran dia πŸ˜…πŸ˜… Luke Evans. Kupikir cocok dgn visual Eric yg kubayangkan.


__ADS_1


Hehehe. Itu hanya khayalan emak aja. Terserah kalian mau bayangin mereka kek apa.


...Thank U for the support😘😘...


__ADS_2