
Selena menatap pantulan dirinya di cermin yang tingginya sama dengan tinggi badannya. Balutan dress warna merah maroon melekat pas di tubuhnya yang ramping dengan tinggi 175 cm.
Ia membuka kotak perhiasannya dan mengambil kalung berlian juga anting yang akan mempercantik penampilannya malam ini. Ia sangat yakin jika Red pasti akan menyukai penampilannya malam ini.
Seulas senyum terbit di bibir tipis Selena kala mengingat awal pertemuannya dengan Red enam bulan yang lalu. Ia tak pernah menyangka jika dirinya bisa melangkah sejauh ini untuk bisa mendapatkan cinta Red.
Saat itu agensinya mengadakan sebuah pesta kecil di klub malam Red Devil. Selena yang tidak begitu suka dengan suasana klub malam hanya bisa diam mengikuti kebiasaan teman-temannya.
Tiba-tiba mata Selena tertuju pada sosok pria tampan yang sedang berjalan melewati mejanya. Ada empat pria disana. Namun hanya satu yang menarik perhatian Selena.
Ia bertanya pada manajernya, Pacito.
"Siapa pria itu?" bisik Selena.
"Yang mana?"
"Yang memakai setelan warna merah."
"Oh, Selena sayang. Kau tidak mengenal siapa dia?" tanya Pacito dengan gaya gemulainya.
Selena menggeleng.
"Dia adalah Red. Dia pemilik klub malam ini."
"Benarkah? Aku baru tahu." Selena nampak berbinar senang.
"Kau tahu, banyak para wanita memujanya dan menginginkan jadi penghangat ranjangnya, tapi hingga sekarang tidak ada yang berhasil menaklukkan hatinya. Bahkan para j4lang di klub ini juga tak ada yang berani mendekatinya."
Selena menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Lalu siapa yang ada disebelahnya?"
__ADS_1
"Pria yang lebih muda darinya adalah Blue. Dia adalah adik Red. Mereka sama-sama memiliki pesona yang mematikan. Blue dikenal lebih ramah dari kakaknya."
Selena mulai penasaran dengan sosok Red. Senyum seringai menghiasi wajahnya.
Dan ternyata keberuntungan memang berpihak pada Selena. Saat keluar dari toilet wanita, sayup-sayup Selena mendengar perbincangan beberapa pria di sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.
"Maaf, Grey. Kami belum bisa menemukan jejak gadis yang di cari Red," lapor seorang pria pada Grey.
Selena membulatkan mata. "Jadi, Red sedang mencari seseorang?" batinnya.
Grey nampak frustasi.
"Sudahlah, Grey. Kakakku itu memang sudah tidak waras. Dia memintamu mencari seorang gadis hanya dengan memberi sedikit petunjuk. Gadis itu menyukai warna ungu. Berapa banyak gadis di kota ini yang menyukai warna ungu? Apa kau akan menanyai satu persatu gadis yang kau temui? Lalu sebuah buku harian berwarna ungu dan juga gereja tua dekat panti asuhan? Apa itu? Gereja tua itu sudah ditutup sejak 20 tahun lalu, apa mungkin ada gadis yang datang kesana. Lagi pula itu sudah 10 tahun berlalu, kenapa Red sangat terobsesi menemukan gadis itu?" Blue menggeleng pelan dengan permintaan kakaknya itu.
"Tapi aku harus tetap menemukan gadis itu, Blue." Grey bersikukuh.
Selena yang menguping pembicaraan para pria itu sangat syok karena semua hal tentang gadis yang dicari Red mengarah pada Ilena, adik tirinya. Ilena menyukai warna ungu, dan dia juga selalu membawa buku harian yang berwarna ungu. Lalu soal gereja tua?
Sejak kecil Ilena tinggal di panti asuhan yang dekat dengan lokasi gereja tua itu. Pernah suatu waktu Ilena akan dijemput untuk kembali ke rumah keluarga Adams, namun dia tidak ditemukan dimanapun dan malah ia berada di sebuah bangunan tua terbengkalai yang dulunya adalah gereja.
Selena menggeleng cepat. Jika memang benar gadis yang dicari Red adalah Ilena, maka Selena tidak akan membiarkan Red menemukan Ilena.
Selena kembali ke rumahnya dan menuju kamar Ilena. Ia menggeledah kamar adiknya dan mencari buku harian yang di maksud Blue tadi.
Karena mendengar suara berisik di kamarnya, Ilena yang sedang tertidur akhirnya terbangun. Ia kaget melihat kakaknya sedang mengobrak abrik kamarnya.
"Kakak?! Apa yang kakak lakukan di kamarku?"
"Diam kau! Cepat katakan dimana kau simpan buku harianmu?" tanya Selena dengan nada mengancam.
__ADS_1
"Bu-buku harian? Buku harian yang mana?"
"Buku harian milikmu yang berwarna ungu!" tegas Selena.
"Itu..."
"Cepat katakan!" Selena menarik rambut Ilena dan menyuruhnya untuk menunjukkan dimana buku harian itu.
Sudah sangat lama Ilena tidak pernah lagi menulis di buku harian itu. Ia sudah menutup lembaran masa lalunya.
Dengan terpaksa Ilena menyerahkan buku harian itu pada Selena.
"Apa yang akan kakak lakukan dengan buku harian itu?" tanya Ilena.
"Jangan banyak tanya! Jika kau ingin selamat, sebaiknya jangan katakan apapun pada Ayah atau siapapun. Mengerti?"
Ilena mengangguk paham. Selena menghempaskan tubuh Ilena ke lantai kemudian ia berlalu dari kamar Ilena.
Di dalam kamarnya, Selena membaca lembar demi lembar apa yang Ilena tulis disana. Ia cukup terkejut karena memang benar jika adik tirinyalah yang sedang di cari oleh Red.
"Tidak! Tidak akan kubiarkan Red menemukan Ilena. Red adalah milikku. Dan aku akan menjadi Purple untuk Red."
Selena tersenyum penuh kemenangan. Setelah ini ia akan mengatur rencana agar Red bisa menemukan dirinya.
#
#
#
__ADS_1