
Pagi itu, Eryn sudah bersiap untuk pergi mencari Noah. Ya, saat ini tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mencari putranya itu. Eryn mendengar dari Matilda jika Eleanor membawa Noah ke sebuah panti asuhan yang jauh dari kota. Meski akhirnya Noah berhasil kabur.
Eryn yakin jika putranya ada di sekitar daerah panti asuhan. Ia berpamitan pada Santa yang akan berangkat kerja. Saat ini Santa telah bekerja di sebuah toko roti.
"Aku doakan semoga Nyonya menemukan Noah."
"Iya, Santa. Terima kasih. Saat ini hanya Noah saja yang kumiliki. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hati-hati, Nyonya."
Eryn memanggil sebuah taksi dan melesat pergi dari rumah Santa. Wanita itu tak menyadari jika dirinya tengah diikuti oleh sebuah mobil dibelakang taksinya.
Satu jam perjalanan, Eryn tiba di area panti asuhan. Ia melihat sekeliling. Ia berpikir kemana kira-kira putranya akan berlari.
"Kalau kesana sepertinya tidak mungkin. Disana hanya ada pepohonan. Apa dia berlari kearah sana? Disana masuk ke area pertokoan dan juga pasar." Eryn membawa sebuah peta agar tidak tersesat.
"Baiklah. Kita jalan kesana saja."
Eryn berjalan memasuki area pertokoan. Ia bertanya pada setiap pedagang kaki lima dengan membawa foto Noah. Masih belum ada titik terang dimana keberadaan Noah.
Hingga hari mulai siang dan Eryn sudah berputar-putar di area itu. Tubuhnya lelah. Ia terduduk di sebuah bangku panjang. Ia menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Dimana kau, Nak?" Mata Eryn berkaca-kaca mengingat anak sekecil itu harus berada di luar rumah dengan banyaknya kejahatan yang bisa saja mengintainya.
...πΏπΏπΏ...
Eric menggeram kesal karena melihat wanita yang sudah menghancurkan hidupnya datang menemuinya di kantor kejaksaan. Ia hanya menginginkan Eryn dan entah kenapa malah Lolita yang datang menjenguknya.
"Aku tidak butuh perhatianmu. Sebaiknya kau jangan datang lagi kemari," ketus Eric.
"Ada apa denganmu, Eric? Aku kemari karena anak kita ingin bertemu dengan ayahnya."
"Kau! Kau sengaja menjebakku, hah?"
Lolita tersenyum getir. "Menjebakmu? Apa kau tidak ingat kau begitu sangat menginginkan aku saat itu? Ya, meski kau hanya menyebut nama Eryn. Tapi setidaknya kau masih sadar jika aku bukanlah Eryn."
Eric mengacak rambutnya.
"Kalian sudah berpisah secara resmi, dan sebentar lagi kita akan menikah begitu kau keluar dari sini."
"Apa katamu?!"
"Dia tidak pernah mencintaimu, Eric. Harusnya kau sadar soal itu. Untuk apa kau mempertahankan hubungan yang tidak didasari cinta?"
"Tutup mulutmu!" geram Eric.
__ADS_1
"Ibumu menyetujui pernikahan ini. Jadi, jangan coba-coba untuk mengelaknya. Lagi pula, bukankah ini suatu hal yang bagus? Setidaknya kau memiliki pewaris dari darah dagingmu sendiri."
Lolita beranjak pergi setelah mengatakan semuanya pada Eric.
...πΏπΏπΏ...
Hari sudah mulai gelap. Sepanjang hari Eryn terus mencari Noah, namun ia tidak mendapatkan hasil. Suara petir mulai bergemuruh menandakan jika hujan akan segera turun.
Eryn berjalan gontai dengan air mata yang sudah mengalir sejak tadi. Tubuh lelahnya tidak ia hiraukan. Ia hanya ingin segera menemukan Noah.
"Anakku... Dimana kau, Nak? Noah..." lirih Eryn dengan langkah yang semakin lemah karena kini hujan telah turun membasahi bumi.
Sebuah mobil melintas dan memperhatikan Eryn yang kini tengah berjalan di bawah guyuran hujan. Seorang wanita cantik turun dari mobil dan menghampiri Eryn.
"Eryn! Apa yang kau lakukan disini? Kau kehujanan. Ayo ikut denganku!" ucap wanita itu.
"Kau?" Eryn mengernyitkan dahi.
"Ayo ikutlah! Kau bisa sakit jika kau berdiri di bawah guyuran hujan begini."
Wanita itu memapah tubuh lemah Eryn dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Di sebuah mobil lain yang sedari tadi mengikuti Eryn, penumpang di dalamnya menggeram kesal karena ternyata ada yang menolong Eryn.
"Tuan, kita mau kemana lagi?" tanya si supir.
Mobil yang diikutinya menuju masuk ke sebuah mansion yang pastinya tidak asing bagi si tuan majikan. Siapa lagi yang sedari tadi mengikuti Eryn kalau bukan Mr. Black.
Black menggerutu karena Rose membawa Eryn ke dalam mansionnya. Ya, wanita yang menolong Eryn adalah Rose. Kebetulan Rose baru saja mengecek butiknya yang ada di pinggiran kota. Sejak mengikuti Black untuk pindah ke Meksiko, Rose akhirnya membuka cabang butiknya di kota ini juga.
Rose membawa Eryn ke dalam sebuah kamar tamu. Ia meminta Eryn berganti baju lalu beristirahat. Tubuh Eryn mengalami demam. Dengan telaten Rose mengobati Eryn.
"Sebaiknya kau menginap dulu disini. Kau sedang sakit, Eryn. Sebenarnya apa yang kau lakukan disana? Bukankah itu jauh dari tempatmu tinggal?"
Eryn terdiam. Kesedihan jelas tergambar di wajah cantiknya yang pucat.
"Ada apa? Kau bisa bercerita padaku!" Rose memegang kedua tangan Eryn.
"Apa ini adalah rumah Tuan Black?" tanya Eryn.
Rose tersenyum. "Dia tidak akan berani berbuat macam-macam denganmu selama ada aku."
"Tapi..."
"Sudahlah. Kau istirahat saja. Jika besok kau sudah baikan, kau bisa bercerita padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu."
__ADS_1
"Terima kasih, Rose." Eryn merebahkan diri dan mulai memejamkan mata.
Rose keluar dari kamar Eryn dan bertemu Black di depan pintu.
"Kau! Kenapa kau menolongnya?" tanya Black dingin.
"Kenapa memangnya? Aku hanya menolong orang yang sedang kesusahan, El. Kau sendiri? Kau sudah mengikutinya sejak pagi tapi kau tidak melakukan apa pun saat dia kesusahan. Sebenarnya kau peduli padanya kan, El? Hanya saja kau tidak mau mengakuinya."
"Rose!" geram Black dengan mengepalkan tangan.
"Sudahlah. Aku lelah. Aku akan istirahat. Jika kau ingin melihat kondisinya silakan masuk saja. Kurasa dia sudah tertidur." Rose berlalu meninggalkan Black yang masih mematung di depan kamar Eryn.
Langkah kaki Black ingin menuju masuk ke dalam kamar itu. Namun sekali lagi, ego dalam dirinya tidak ingin ia melakukan itu.
"Jika Tuan khawatir, masuk saja!" Sebuah suara mengejutkan Black. Itu adalah Carlos.
"Dia kehilangan putranya. Dan kini ia hanya tinggal sendiri. Sungguh malang nasibnya."
"Itu adalah balasan atas apa yang sudah ia perbuat, Carlos! Jangan membelanya!" Black berlalu meninggalkan Carlos.
Sementara Carlos hanya menggeleng pelan melihat tingkah tuannya yang selalu sok tidak peduli.
...πΏπΏπΏ...
Malam kian larut, namun mata pria itu tidak mampu terpejam. Ia memutuskan untuk menyesap minuman hangat nan memabukkan itu untuk menenangkan dirinya.
Matanya mulai memerah. Antara ingin peduli dan tak peduli. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui jika dirinya peduli pada wanita itu.
Beberapa gelas telah tandas. Ia mengatur napasnya lalu keluar dari kamarnya. Langkah kakinya menuntunnya pada sebuah kamar tamu yang baru saja ditempati oleh seorang wanita.
Tangannya terulur membuka knop pintu kamar itu. Antara ragu dan gengsi, akhirnya langkah kakinya tetap masuk kedalam kamar itu.
Dilihatnya seorang wanita sedang tertidur di ranjang. Ia mulai mendekat. Tangannya kembali terulur untuk meraba kening si wanita.
"Masih demam," gumam pria yang tak lain adalah Black.
Ia melepas kain kompres yang ada di kening Eryn. Ia akan menggantinya dengan yang baru. Sadar jika ada seseorang yang berada di tempat tidurnya, Eryn pun membuka matanya.
Dilihatnya pria itu tengah memeras kain kompres. Eryn merasa aneh dengan pemandangan itu.
"Tuan Black?" lirih Eryn.
Black tertegun mendengar suara Eryn yang terbangun.
...B e r s a m b u n g ...
__ADS_1
*si Black ketauan deh perhatian sm Eryn π π π