Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
127. Kekecewaan Blue


__ADS_3

Ilena terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya yang berdenyut kencang. Ia mengerjapkan matanya perlahan.


Tak lama, Ilena mulai membuka matanya sempurna. Ia terkejut karena dirinya berada di kamarnya.


"Hah?! Kenapa aku bisa ada disini? Bukannya semalam aku..." batin Ilena bertanya tanya.


Ilena masih bingung dengan yang terjadi. Seingatnya semalam ia tak bisa memejamkan mata lalu keluar menuju dapur dan bertemu dengan Red. Ia masuk kedalam kamar Red, dan...


Ilena menutup mulutnya. "Apa aku dan Red...?"


Ilena memeriksa seluruh bagian tubuhnya. Tak ada yang terjadi semalam. Bahkan bagian intinya juga tidak terasa sakit. Bukankah orang-orang bilang akan terasa sakit jika melakukannya untuk pertama kali?


Ilena yang masih dengan kebingungannya tiba-tiba mendapat kejutan lainnya. Sweety masuk dan menghampiri Ilena dengan tergesa.


"Astaga, Baby! Akhirnya kau bangun juga!" seru Sweety.


"A-ada apa, Sweety?" tanya Ilena yang masih tidak mengerti.


"Kau berada dalam masalah, Baby! Cepatlah bersiap! Blue sedang menunggumu!" ucap Sweety.


"Hah?!" Ilena yang masih tak paham dengan apa yang terjadi hanya menuruti perintah Sweety.


Lima belas menit kemudian, Ilena dan Sweety datang ke sebuah ruangan yang sudah ada Red, Blue, Grey, dan tentu saja Madam Jane. Usai mengantar Ilena, Sweety pamit undur diri.


Ilena melihat tatapan tak biasa dari Blue terhadapnya. Dengan suara yang tercekat, Ilena bertanya.


"A-ada apa ini, Blue? Kenapa kau memintaku kemari?"


Blue menghampiri Ilena dan melemparkan beberapa foto ke wajah Ilena.


"Kau lihat saja sendiri! Aku tidak menyangka jika kau serendah ini, Baby!" marah Blue.


Ilena memunguti satu persatu foto yang tercecer itu. Ia membulatkan mata melihat foto dirinya bersama Red semalam.


Ilena menatap Red tak percaya. Ia menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ini ... tidak seperti yang kau pikirkan, Blue. A-aku bisa menjelaskan semua ini!" jelas Ilena dengan suara bergetar. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi dengannya setelah ini. Tidak akan ada lagi yang membelanya karena Blue kini malah mencecarnya.


Blue memutar rekaman suara Ilena dan Red semalam. Terdengar jelas jika Ilena meminta Red menyentuhnya.


"Ini yang kau sebut menjelaskan? Mau jelaskan apa lagi, hah?! Jelas-jelas kau meminta kakakku untuk menyentuhmu! Dan kau mengakui jika kau mencintai kakakku! Apa aku salah?"


Ilena meremaas bajunya. Ia sudah terpojok sekarang.


"Kau pikir aku akan tertarik dengan perempuan sepertimu!"


Ilena tahu siapa yang bicara. Dia adalah Red.


Ilena menatap Red tak percaya. Pria yang menunjukkan kehangatan padanya nyatanya hanya ingin menjebaknya saja.


Air mata Ilena mengalir tanpa disuruh. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya.


"Adikku sangat mencintaimu dan kau malah mengkhianatinya! Menjijikkan sekali! Berapa banyak pria yang sudah kau rayu, hah?! Kau hanya terlihat polos diluar tapi liar didalam. Aku serahkan semuanya padamu, Blue. Maaf karena aku sempat mengikuti keinginannya. Tapi percayalah! Aku tidak akan segila itu mengkhianati Selena. Kau tahu bukan seperti apa aku memuja Selena? Sekarang semuanya terserah padamu, Blue!" Red menepuk bahu Blue kemudian berlalu dari ruangan itu diikuti Grey.


Ilena menatap Blue meminta pengampunan.


"Cukup! Aku sudah cukup tahu seperti apa dirimu, Baby! Gadis murahan tetap akan menjadi murahan! Penjaga! Bawa dia ke ruang bawah tanah! Itu adalah hukuman untuknya!" ucap Blue kemudian berlalu.


Tangis Ilena makin pilu. Ia menatap Madam Jane untuk meminta pertolongan. Namun apalah daya seorang Madam Jane. Dia juga hanya menuruti perintah Blue saja.


"Maafkan aku, Baby. Sebaiknya kau renungkan kesalahanmu! Aku pergi!"


Ilena menangis terisak. Kedua lengannya dibawa oleh dua orang bertubuh besar untuk menuju ruang bawah tanah. Ruang yang kemarin pernah menjadi tempatnya ketika melakukan kesalahan.


Tempat itu gelap dan lembab. Tak ada kehidupan disana yang bisa bertahan. Beberapa dari mereka yang dihukum disana akhirnya mati dengan sendirinya.


#


#


#

__ADS_1


Blue membanting barang-barang yang ada di ruang kerjanya. Ia berteriak marah dan meneriakkan nama Baby. Hatinya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Ilena terhadapnya.


Blondy datang dan berusaha menenangkan Blue. Gadis itu mengusap punggung Blue yang bergetar.


Sebenarnya Blondy agak ragu dengan semua kejadian ini. Yang ia tahu Baby bukanlah gadis seperti itu. Tapi kenapa semua ini bisa menimpanya?


"Tenanglah, Blue! Jangan membuat dirimu seperti ini hanya karena seorang gadis. Bukankah kau selalu membuat gadis bertekuk lutut padamu? Jangan lemah, Blue..."


Blue terdiam. Ia sudah cukup tenang karena Blondy menemaninya.


"Terima kasih, Blondy!" Blue memeluk Blondy. Rasa kecewanya terhadap Ilena belumlah pudar. Namun setidaknya ia akan mulai melupakan gadis itu mulai dari sekarang.


#


#


#


Satu minggu kemudian,


Ilena duduk meringkuk dengan memeluk kedua lututnya di pojok ruangan. Ruangan itu begitu sunyi dan gelap. Hanya cahaya lampu temaram yang menerangi.


Ilena diam dan melamunkan banyak hal. Ia menyalahkan takdir yang seakan tak pernah berpihak padanya.


"Mungkin memang aku ditakdirkan menjadi gadis yang tidak beruntung. Aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan sampai kapanpun," monolog Ilena dalam hati.


Terdengar langkah kaki mendekat. Ilena masih tertunduk dan tak ingin mengetahui siapa yan datang menemuinya. Untuk apa juga pesakitan seperti dia mendapat kunjungan?


"Bagaimana kabarmu, Ilena Adams?"


Ilena membulatkan mata mendengar nama aslinya disebut. Ia mendongakkan kepala menatap orang yang memanggil namanya.


#


#

__ADS_1


#


__ADS_2