Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
93. Hati yang Damai


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang penting bagi sepasang insan yang akan mengikat janji suci pernikahan. Semua persiapan telah selesai dilakukan. Eryn memastikan semuanya terlihat sempurna.


Santa adalah sahabat dan juga saudari untuknya. Eryn ikut bersuka cita dengan kebahagiaan Santa. Ia berharap David akan menjadi pasangan seumur hidup untuk Santa.


Rombongan mempelai pria mulai memasuki altar bersama dengan para pengiring prianya. Semua tamu yang hadir bertepuk tangan melihat David yang terlihat tampan hari ini.


David berdiri menanti mempelai wanitanya memasuki altar. Terdengar suara musik khas pernikahaan menggema di area outdoor itu.


Santa berjalan pelan saat memasuki altar. Dilihatnya sang mempelai pria sudah menunggu kedatangannya.


Santa tersenyum pada David. Ia melangkahkan kakinya semakin mendekat pada David.


Pria itu mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Santa. Mereka berdiri di depan semua orang lalu mengucap janji pernikahan mereka.


Setelahnya pesta pun dimulai. Semua orang menari dengan gembira. Para sahabat Santa dan David datang untuk memberi mereka selamat.


Eryn senang melihat kegembiraan di wajah semua orang. Ia memastikan segala sesuatunya berjalan lancar hingga pesta usai.


Beruntung langit pagi ini cerah. Membuat suasana hati juga ikut hangat. Tawa riang mengisi kekosongan hati yang hampa. Tak terasa hari mulai beranjak, dan para tamu mulai berpamitan satu persatu.


Pesta yang memang sengaja dibuat sehari penuh itu masih menyisakan secercah harapan untuk kedua mempelai yang menginginkan sebongkah kebahagiaan dan sejumput doa dari semua orang terdekat.


Eryn duduk di satu kursi dan memijat tangannya yang terasa lelah.


"Kak Eryn!" sapa Elza lalu ikut bergabung dengan Eryn.


"Hai, Elza."


"Kakak pasti lelah sudah menyiapkan pesta yang meriah untuk kak Santa."


"Aku senang melakukannya, Elza." Eryn mengulas senyumnya. "Oh ya, apa kau tahu bagaimana kabar Lolita?"


"Kak Loli pernah datang menemui Ibu. Tapi, seperti biasa ibu tidak menyambutnya dengan baik," jelas Elza dengan gurat penyesalan.


"Lalu, dimana Lolita sekarang?" tanya Eryn mulai cemas. Entah kenapa ia merasa iba dengan sahabatnya itu. Meski Lolita pernah menoreh luka untuk Eryn, tapi tetap saja Eryn tidak membenci Lolita. Perasaan kecewa pasti ada, namun sudah ia tepis karena kini ia telah merasakan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya.


"Dia kembali ke Kolombia, Kak. Dia bilang ingin tinggal bersama dengan ibunya disana."


Eryn mengangguk paham. Entah kenapa dia ingin sekali menemui Lolita. Mereka sudah bersahabat sejak masih SMA, dan rasanya semua kenangan itu tak bisa Eryn hilangkan begitu saja.


"Hai, sayang. Kau disini?" sapa Luiz memeluk Elza posesif.


Eryn mendelik melihat tingkah Luiz yang kini menjadi budak cinta bagi Elza.


"Jangan pernah menyakitinya, Luiz. Atau kau akan berurusan denganku dan juga Eldric," ancam Eryn.


"Hahaha, baiklah boss. Tenang saja. Ayo, sayang. Kita pergi dari sini. Lama-lama tubuhku berlubang jika terus diberikan tatapan membunuh olehnya seperti itu," ucap Luiz lalu membawa Elza pergi dari sana.


"Kak, aku pergi dulu ya!" pamit Elza.


Eryn mengangguk. Ia melihat betapa Luiz sangat mencintai Elza.


"Eric, aku sudah menepati janjiku untuk menjaga keluargamu. Kini Elza telah bertemu dengan pria yang tepat. Kuharap kau tenang disana. Doakan kebaikan dan kebahagiaan selalu menyelimuti Elza dan Luiz."


Eryn memejamkan mata seraya berdoa untuk kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya. Ia kembali membuka mata dan melihat Eldric sedang berjalan kearahnya.

__ADS_1


Eryn tersenyum dan merentangkan tangannya menyambut pelukan hangat Eldric. Pria itu juga mengembangkan senyumnya. Ia juga ikut merentangkan tangannya untuk memeluk Eryn.


Tubuh keduanya bertemu dan saling merapat. Eryn mendekap erat tubuh prianya yang terasa hangat. Eldric membalas dekapan Eryn dengan sama eratnya.


"El..."


"Hmm."


"Bagaimana kalau kita kembali ke Kolombia?"


"Heh?!"


"Aku ingin mengulang kisah kita disana."


Eldric merenggangkan pelukannya. "Kau yakin ingin pindah?"


"Iya. Aku merasa rindu dengan suasana disana." Eryn mengerlingkan matanya dan berharap Eldric menyetujuinya.


"As you wish, my love..."


Eryn tersenyum lebar dan kembali memeluk Eldric.


"Terima kasih, El. Terima kasih..."


#


#


#


Namun semua itu membuat Eryn dewasa. Ia memahami jika semua yang terjadi dengannya membuat hatinya lebih kuat. Semua kesakitan itu tidak ada artinya dengan kebahagiaan yang ia rasakan sekarang.


Eryn memasuki halaman rumah lama keluarga Albana yang kini kembali menjadi miliknya. Semuanya masih terasa sama.


Eryn menatap Eldric penuh rasa syukur.


"Terima kasih karena sudah membawaku kemari," ucap Eryn.


Eldric membalas dengan sebuah senyum.


"Daddy, Mommy, ini rumah siapa?" tanya Noah penasaran.


"Sayang, ini rumah kita. Dulu Mommy dan Daddy tinggal disini," jelas Eryn.


"Benarkah?"


Eldric mengangguk. "Ayo masuk!"


Eldric menggenggam kedua tangan orang yang dicintainya. Banyak hal yang memang sudah dilaluinya. Kehilangan demi kehilangan yang tak akan pernah kembali.


Kini mereka akan menyongsong masa depan yang lebih indah dari sebelumnya.


#


#

__ADS_1


#


Eryn mendatangi rumah Lolita yang terlihat sepi. Ia mengetuk pintu beberapa kali dan masih tak ada jawaban. Ia menghubungi nomor Lolita yang terakhir ia dapat dari Santa, namun juga tidak aktif.


"Kemana dia?"


"Hei, Nona! Apa kau mencari pemilik rumah ini?" Seseorang menghampiri Eryn dan bertanya.


"Iya, Bi. Ini rumah Lolita kan?"


"Iya, tapi mereka sudah pindah dari sini."


Eryn terdiam sejenak. "Kemana mereka pindah?"


"Entahlah. Tidak ada yang tahu kemana mereka pindah. Sejak suaminya dihukum mati di Meksiko, semua orang disini mulai mejauhinya." Wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan Eryn.


"Pergi kemana dia?" gumam Eryn.


Dengan langkah gontai Eryn meninggalkan rumah Lolita. Padahal ia sangat ingin bertemu dengan Lolita hanya untuk berdamai dengan dirinya. Ia tak ingin ada lagi kebencian diantara mereka.


Eryn menghubungi Eldric dan meminta seseorang untuk melacak keberadaan Lolita.


"Halo, El..."


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Apa aku bisa minta bantuanmu?"


"Apa?"


"Tolong minta anak buahmu untuk mencari keberadaan Lolita."


"Memangnya dia kemana?"


"Tetangganya bilang dia pindah rumah bersama ibunya. Aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana." Eryn menghela napas kasar.


"Baiklah. Kau jangan cemas. Aku yakin dia baik-baik saja."


"Tunggu, El! Sepertinya aku melihat Lolita. Aku tutup dulu teleponnya!"


Eryn memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia mempertajam penglihatannya untuk memindai setiap orang yang ia lihat disana.


"Itu dia! Lolita!" seru Eryn lalu berlari mengejar sosok yang ia yakini adalah Lolita.


"Lolita, tunggu!" teriak Eryn yang mendapat tatapan bingung dari setiap orang yang melihatnya.


Sosok yang ia kejar ternyata makin menghilang. Eryn mengatur napasnya.


"Kenapa kau lari, Lolita? Aku hanya ingin bicara denganmu," lirihnya dengan napas yang terengah.


"Eryn..."


Eryn membulatkan mata saat mendengar suara dari arah belakang tubuhnya. Ia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan sosok yang ia cari.


#tobecontinued

__ADS_1


*tak terasa sudah di penghujung episod ya 😢😢


__ADS_2