Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
109. Duka Ilena


__ADS_3

Red menyesap puntung rokoknya sambil menatap langit malam yang semakin pekat. Ia melihat tubuh Selena yang kini tertidur pulas di ranjang miliknya.


Tak terjadi apapun dengan mereka karena Red berhasil menguasai dirinya. Entah kenapa tatapan mata yang Selena berikan nampak berbeda dengan yang dulu ia berikan.


Red mengusap wajahnya kasar. Ia mulai meragukan Selena. Ia ragu jika Selena adalah gadis di masa lalunya. Ia harus menyelidiki semua ini dari awal lagi. Dan dari mana Selena bisa mendapatkan buku harian milik Purple.


Red menghubungi orang-orang terbaiknya untuk mencari informasi mengenai gadis masa lalunya. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah tergesa-gesa mengambil keputusan.


"Jika kau bukan Purple, lantas dimana Purple yang asli? Apa kau sengaja menyembunyikannya dariku?" batin Red bertanya-tanya dengan menatap Selena.


.


.


.


Pagi kembali menyapa. Ilena terbangun dari tidur panjangnya. Baru kali ini ia bisa tertidur nyenyak tanpa ada gangguan dari kakaknya. Ilena segera membersihkan diri dan menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya.


Saat Ilena akan melangkah ke dapur, langkahnya terhenti karena Sorena memanggilnya. Gadis itu segera menghampiri ibu tirinya.


"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya Ilena sopan.


"Bersihkan kamar kakakmu. Cepat!" perintah Sorena.


"Iya, Bu. Tapi, apa kakak tidak marah jika aku masuk ke dalam kamarnya?"


"Selena tidak ada di kamarnya. Dia menginap di tempat Red. Cepat bersihkan sebelum kakakmu pulang!"


"Ba-baik, Bu. Umm, begini, Bu. Apa hari ini aku boleh ke panti asuhan? Sudah lama aku tidak mengunjungi anak-anak disana." Ilena meminta izin dengan hati-hati.


Sorena tersenyum seringai. "Kau memang cocok tinggal disana. Seharusnya kau tinggal saja disana terus. Pergilah jika kau ingin pergi," jawab Sorena kemudian berlalu.


Ilena tahu jika ibu tirinya pasti akan pergi seharian dan pulang larut malam.


"Terima kasih, Bu."


Ilena menuju kamar Selena. Ia melihat jika kamar itu cukup berantakan. Tidak ada yang boleh membersihkan kamar Selena selain Ilena. Itulah yang di perintahkan Sorena dan Selena.


Ilena menghela napas kemudian memulai pekerjaannya. Kembali matanya tertuju pada foto Selena dan Red. Sungguh ia iri dengan nasib kakaknya yang selalu berakhir baik. Tidak seperti dirinya yang seakan tidak beruntung.


Usai membersihkan kamar Selena, Ilena menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Ilena tahu jika ayahnya pasti lelah karena acara semalam. Jadi, dia berinisiatif untuk membawakan sarapan ayahnya ke dalam kamar.


Ilena melihat ayahnya sedang duduk bersandar di sandaran ranjang.


"Ayah, ayo kita sarapan dulu!" ucap Ilena dengan mengembangkan senyum.


"Sayang, kau tidak perlu melakukannya. Ayah bisa ke ruang makan, Nak."


"Tidak, Ayah. Aku tahu Ayah pasti lelah karena semalam ayah pulang larut malam. Biar aku suapi ayah ya!"


"Terima kasih, Nak. Kau adalah putri ayah yang baik."


Ilena tersenyum. Dengan telaten ia menyuapi ayahnya hingga makanan itu tandas. Ia menyiapkan air putih untuk minum ayahnya.


"Ayah, setelah ini aku akan ke panti asuhan. Apa Ayah mengizinkanku?"


Brian menganggukkan kepala. "Kau sudah izin dengan ibumu?"


"Sudah, Ayah."


"Oh ya, Nak. Ini ada sedikit uang untuk anak-anak di panti." Brian menyerahkan sebuah amplop uang pada Ilena.


"Ayah..."


"Ayah sangat berterimakasih pada Amelia karena sudah bersedia merawatmu dengan baik. Semoga dia tenang disana." Brian mengenang sosok Amelia, pemilik panti asuhan. Sebulan yang lalu Amelia meninggal dunia karena sakit yang dideritanya.


"Terima kasih, Ayah. Anak-anak panti pasti senang. Aku akan membelikan makanan dan juga mainan untuk mereka."


"Iya, Nak." Brian mengusap lembut rambut Ilena yang selalu terkuncir rapi. Meski penampilannya sering lusuh karena Selena tak mengizinkan Ilena memakai pakaian yang bagus, namun aura kecantikan Ilena masih tetap terpancar.


"Kau sangat mirip dengan ibumu, Nak. Semoga kau bisa bernasib baik setelah ini. Maafkan ayah karena tidak bisa menjagamu," batin Brian kembali menangis melihat Ilena yang kini sudah keluar dari kamarnya.


...###...

__ADS_1


Ilena berdendang senang menuju ke panti asuhan. Sebelumnya ia mampir ke sebuah pasar untuk membeli bahan makanan.


Usai berbelanja, Ilena kembali menaiki taksi untuk menuju ke oanti asuhan. Hatinya sudah berbunga menantikan reaksi anak-anak panti ketika dirinya datang nanti.


Ilena turun dari taksi dan membayar ongkosnya. Ilena berjalan cepat karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan adik-adiknya.


Namun Ilena sangat terkejut ketika melihat Johan, suami Amelia sedang di pukuli oleh dua orang berbadan besar. Dengan berani Ilena melerai mereka.


"Hentikan! Siapa kalian? Kenapa memukuli Tuan Johan?" Ilena memegangi tubuh Johan yang sudah babak belur.


"Harusnya kami yang bertanya, siapa kau? Kami tidak punya urusan dengan gadis kecil sepertimu. Sebaiknya kau pergi saja!"


"Kalian yang harusnya pergi. Ini panti asuhan kami!" ucap Ilena lantang.


"Oh, jadi kau juga anak panti asuhan sini, huh?! Baiklah, akan kami jelaskan. Pria ini berhutang pada cassino milik tuan kami. Jadi, kami kesini untuk menagih hutangnya. Dia kalah dalam berjudi dan meninggalkan hutang!" jelas seorang pria bertubuh besar dan bertato itu.


Ilena memperhatikan wajah kedua pria bertubuh besar itu. Wajahnya sama persis. Mereka adalah saudara kembar.


Ilena tertegun dengan penjelasan salah satu pria itu. Ia menatap Johan yang masih meringis kesakitan.


"Tuan! Apa benar apa yang mereka katakan?"


Johan menunduk tak berani menatap Ilena. "Iya, aku memang berjudi dan kalah."


Tubuh Ilena seakan lemas. Ia merasa marah pada Johan. Namun ia juga tak tega karena tubuh pria itu juga penuh luka.


"Baiklah. Berapa hutang Tuan Johan pada kalian?" tanya Ilena pasrah.


"Lima ribu Real."


Ilena kembali terbelalak. Ia menatap tak percaya pada Johan. Ilena merogoh sakunya. Sisa uang yang diberikan ayahnya ia berikan pada kedua orang itu.


"Ini, aku hanya ada uang sebanyak ini. Sisanya akan kubayar besok," tegas Ilena.


Kedua pria itu menghitung jumlah uang pemberian Ilena. "Baiklah. Besok kami akan datang lagi!"


Ilena bernapas lega karena kedua orang itu sudah pergi. Ilena menghampiri Johan.


"Ayo masuk, Tuan. Aku bawakan makanan untuk anak-anak." Ilena berjalan masuk dengan langkah gontai. Rencananya ingin membeli mainan menjadi urung karena uang itu digunakan membayar hutang Johan.


"Maafkan aku, Ilena. Aku tidak sengaja. Kau tahu, aku sangat kehilangan Amelia dan itu membuatku depresi. Aku khilap, Ilena! Tolong maafkan aku!" Johan memohon pada Ilena.


"Baiklah. Tapi tolong jangan ulangi lagi, Tuan. Pikirkan nasib anak-anak ini. Nyonya Amelia pasti sedih jika Tuan seperti ini."


"Sekali lagi terima kasih Ilena. Aku yakin kau bisa menjaga anak-anak ini jika aku tidak ada."


"Tuan Johan!" sentak Ilena. Ia menatap Johan sengit. "Sudahlah, kita pikirkan lagi nanti masalah itu. Aku akan siapkan makan siang untuk Tuan dan anak-anak panti."


...###...


Di kediaman keluarga Adams, Brian sedang menikmati sore harinya dengan menonton berita di televisi setelah ia memantau pekerjaan Ralph. Seorang asisten rumah tangga datang menghampirinya.


"Permisi, Tuan."


"Ada apa?" tanya Brian.


"Ini Tuan. Saya menemukan ini di tumpukan baju kotor milik nona Selena. Saya takut ini adalah benda yang penting milik nona, makanya saya simpan lebih dulu," jelas si asisten.


"Baiklah, biar aku simpan." Brian menerima sebuah buku harian milik Selena. Si asisten langsung pergi setelah menyerahkan buku itu.


Brian cukup terkejut karena sepertinya ia mengenali buku harian itu.


"Ini kan... milik Ilena?" Brian memanggil si asisten dan memastikan jika buku ini ada di tumpukan baju Selena. Dan si asisten yakin jika ini ada di barang milik Selena.


Brian masuk ke dalam kamarnya dengan membawa buku harian itu. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak setelah melihat buku harian lama milik Ilena.


Brian membuka buku harian itu. Ia membaca lembar demi lembar yang tertulis disana. Itu adalah tulisan Ilena waktu berusia 10 tahun.


Brian menutup mulutnya tak percaya. Lalu bagaimana bisa buku harian itu ada di tempat Selena? Brian memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Samar-samar Brian mengingat tentang apa yang dikatakan Red saat makan malam dirumahnya.


"Selena adalah gadis dari masa laluku. Aku beruntung bertemu dengannya lagi. Sepertinya kami memang berjodoh."

__ADS_1


Dada Brian makin sakit. Ia berjalan menuju kamar Selena dengan langkah tertatih.


Ia duduk di tepi ranjang dan menatap foto Selena bersama dengan Red. Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja.


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" gumam Brian.


"Gadis yang harusnya bersama dengan Red adalah Ilena bukan Selena."


Brian merasa sangat bersalah pada putri bungsunya. Kakaknya telah merebut kebahagiaan yang harusnya menjadi milik Ilena.


Di tengah kesedihannya, Selena yang sudah kembali ke rumah, sangat terkejut melihat Brian ada di kamarnya.


"Ayah?! Apa yang Ayah lakukan di kamarku?" tanya Selena.


"Kau masih ingat ini?" tanya Brian dengan menunjuk buku harian Ilena.


Selena syok melihat buku harian itu ada ditangan Brian.


"Kembalikan! Itu adalah milikku!" seru Selena.


Brian menggeleng. "Tidak, Nak. Ini bukan milikmu, ini adalah milik Ilena!" seru Brian.


Selena menggeleng. Ia juga murka karena ayahnya selalu membela Ilena.


"Benar! Itu adalah milik Ilena. Lalu kenapa? tapi gadis dekil itu tidaklah cocok untuk bersanding dengan Red. Jadi, biarkan saja Red bersama denganku. Lagipula kami sudah bertunangan dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi, ayah jangan mengacaukan semua ini jika ayah masih ingin melihat Ilena!" ancam Selena di akhir kalimatnya.


"Tidak, Nak! Kau tidak seharusnya mengambil apa yang menjadi hak Ilena!"


"Cukup! Ini adalah hukuman untuknya karena ibunya telah merebut ayah dari ibuku! Apa ayah tidak sadar jika semua ini terjadi karena ayah! Ayah yang sudah membuatku jadi begini. Ayah yang harus menanggungnya!" seru Selena dengan napas memburu.


Brian terlihat melemah. Ia terus memegangi dadanya yang makin sakit. Tubuhnya limbung lalu tak sadarkan diri.


Selena panik melihat tubuh ayahnya yang tak sadarkan diri. Ia menghubungi ibunya agar segera pulang ke rumah.


"Bagaimana ini? Ayah! Ayah, bangunlah!" Selena mencoba menyadarkan Brian. Namun nihil. Brian sama sekali tak bergerak.


...###...


Malam ini adalah malam duka bagi Ilena. Ketika kembali ke rumah, ia sudah mendapati ayahnya terbujur kaku didalam sebuah peti.


Ilena menghampiri peti itu dan melihat tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. Tubuh Ilena luruh ke lantai. Ia menangis meraung-raung merasakan kesedihan yang begitu dalam.


Monica datang dan memapah tubuh lemah Ilena. Kini tak ada lagi tumpuan dalam hidupnya. Ia menangis memeluk Monica.


"Bersabarlah, Nona. Tuan sudah tenang disana," bisik Monica menguatkan Ilena. Ia mengusap punggung Ilena yang bergetar hebat.


Semalaman Ilena terus berada di samping jasad ayahnya. Ia tak ingin beranjak dari sana. Air matanya telah kering namun hatinya masih terasa pilu.


Pagi harinya, jenazah Brian langsung di semayamkan di pemakaman. Beberapa kolega bisnisnya datang untuk memberikan penghormatan untuk pria yang pernah berjaya dalam berbagai bisnis.


Di deretan paling depan terdapat Sorena, Selena dan juga Ilena. Tubuh lemah Ilena terus dipegangi oleh Monica. Gadis itu begitu rapuh saat ini.


Red yang juga sebagai tunangan Selena, datang untuk menguatkan hati gadis itu. Ia datang bersama Grey.


Satu persatu para pelayat mulai pergi dari area pemakaman. Sorena dan Selena saling berpelukan dan melangkah meninggalkan tempat peristirahatan terakhir suaminya.


Ilena masih betah berada disana. Rasanya ia tak ingin beranjak dari sana.


"Nona, ayo kita pulang!" bujuk Monica.


"Aku masih ingin disini. Tinggalkan aku sendiri, Bi..."


"Tidak, Nona. Ayo kita pulang." Monica memapah tubuh lemah Ilena.


Ilena berjalan dengan menundukkan wajahnya. Ia melewati tubuh Red yang masih berada di area pemakaman.


Entah kenapa ada getaran aneh ketika Red bersinggungan dengan Ilena. Red menatap Ilena yang masuk ke dalam mobil keluarga Adams.


"Siapa dia, Grey?" tanya Red.


"Siapa apanya?" tanya Grey tak paham.


"Gadis itu! Siapa dia?"

__ADS_1


"Entahlah. Mungkin salah satu kerabat Tuan Adams," jawab Grey enteng.


"Jika hanya kerabat, kenapa dia menangis sangat sedih? Dan dia juga enggan pergi dari makam tuan Adams," batin Red mulai bertanya-tanya.


__ADS_2